
Pagi yang cerah di kota menyiratkan untuk bersemangat. Berbanding terbalik dengan suasana hati kebanyakan murid yang bersekolah di SMA Alpenia, yang berisikan rangkaian materi yang bergulung bagai benang kusut.
Tak ada jalan lain! Untuk ujian kali ini, saatnya menggunakan jurus andalan yang sering digunakan. Pertama, jangan lupa berdoa. Dan kedua, biarlah keberuntungan dari jawaban asal-asalan, atau dari hasil melempar dadu yang dibuat dari penghapus karet yang menentukan hasilnya nanti.
Berbeda dengan Naya, yang telah belajar sangat giat di sela kesibukan dunianya. Ia mengerjakan soal-soal yang tersedia itu dengan santai, berusaha untuk tak membuat kesalahan sedikit pun. Meski pikirannya sedang amburadul dengan masalah kemarin, ia tak ingin membuat masalah baru dengan membahayakan statusnya di sekolah ini sebagai siswa penerima beasiswa yang akan dicabut jika nilainya mengalami penurunan.
Dengan sisa waktu ujian yang tinggal tiga puluh menit, Naya mengumpulkan hasil ujiannya, setelah membacanya untuk kedua kali, dan sudah mantap dengan jawabannya. Semoga saja hasilnya tak mengecewakan.
Gadis itu pun keluar kelas dan menunggu di sebuah bangku kayu panjang yang berada di taman sekolah. Ia beristirahat sambil membaca materi yang akan diujiankan di jam berikutnya.
"Jika matahari bersinar membara pagi ini, berbanding terbalik dengan hatiku yang kini padam dan layu."
Suara lantang nan dramatis pemuda di belakangnya membuat Naya terganggu. Ia pun menoleh ke arah Faisal, si pemuda pembuat kekacauan.
"Ternyata, karena kamu yang mengisi di dalamnya sedang bersedih, wahai bidadari ku," lanjut Faisal sambil duduk tanpa meminta izin pada Naya.
"Apaan sih?"
"Apanya yang apaan? Gue lagi baca puisi di postingan instagram." Pemuda itu memperlihatkan layar ponsel di tangannya tepat ke hadapan wajah Naya.
Naya menelan ludah, dirinya terlalu geer barusan. Ia pikir, Faisal ingin menggombalinya lagi, "puisinya gak jelas!" selanya berusaha menyembunyikan rasa malu.
Faisal tertawa samar, "hehe, iya juga. Ini akun sok puitis tapi gak bisa buat yang benar, postingannya pada jelek semua. Dasar si Kancah Karya!" Ia merutuki si penulis postingan yang baru saja dibacanya.
"Eh, lo jangan gitu, dia udah berusaha semampunya. Lo sendiri bisa gak puitis?" sergah Naya tak setuju dengan pendapat Faisal. Namun, ia menyadari bahwa dirinya baru saja membuat kesalahan dengan berbicara dengan Faisal. Jika sudah diberi umpan, pasti Faisal akan keterusan berbicara. Apalagi, Faisal jagonya menggombal, bahkan tak jarang menggunakan kata-kata puitis.
"Bisa. Nih ya--," Faisal hendak berbicara namun dihentikan oleh Naya yang tak mau mendengar pemuda itu mengoceh.
"Udah. Gak usah. Entar keterusan," ketus Naya. "Dan, ngapain lo duduk disini?"
"Mau bilang pengen deketin lo, takut marah. Jadi, gue akan bilang, ini kan fasilitas sekolah, bukan milik lo pribadi," gerutu Faisal yang selalu membuat Naya sebal sendiri.
Naya memutar bola matanya. Benar dugaannya, Faisal pasti selalu siap mengeluarkan rayuan mautnya. Ia berusaha tak menghiraukan, dan memilih untuk kembali fokus pada bukunya.
"Hai Nay!" Sapa Annisa yang baru saja menyelesaikan ujiannya.
Mendengar suara Annisa, suasana hati Naya pun makin berantakan. Jika hanya Faisal saja yang mengganggunya, ia tak keberatan. Namun Annisa, agaknya itu hal lain yang tak dapat diterimanya. Ia pun pergi tanpa berkata apa-apa pada dua orang yang sedang memperhatikannya itu.
__ADS_1
Faisal mulai menatap Annisa tak mengerti. Kemudian gadis yang sedang ditatapnya itu ikut pergi dari dekatnya dengan wajah murung.
Akhirnya, Faisal bingung sendiri.
Naya menuju tempat lain, kantin menjadi tujuannya. Ia mencoba menenggelamkan diri dalam keramaian, disana bahkan ada Renaldi yang sedang menggoda Intan tak henti-henti, ssetelah ditolak mentah-mentah oleh gadis kaya raya itu ratusan kali.
Harapan Naya belum terkabul, rasanya masih sama, hatinya masih terasa ngilu melihat mereka berdua bermesraan. Apalagi kali ini, disaat ia sedang bersedih.
"Hey," Iswanti menyapa sambil duduk di hadapan Naya dengan menjatuhkan setumpuk buku di atas meja.
Naya membalas sapaan temannya itu dengan senyuman hambar.
"Lihat. Gue udah minjem ini semua dari perpus barusan. Buku-buku ini berbau fantasi atau misteri. Meskipun kebanyakan cuma novel ataupun cerita rekaan lainnya," jelas Iswanti tanpa berbasa-basi.
"Gue tahu, lo penasaran dengan kejadian kita waktu di hutan dan mencoba mencari titik terang. Tapi, lo yakin bisa baca buku sebanyak ini?" tanya Naya pesimis, apalagi mereka semua sedang disibukkan oleh ujian tengah semester.
"Gue suka membaca. Lagipula, kalau hal yang kita cari gak ada dalam salah satu buku ini, masih lumayan, seenggaknya gue dapat hiburan," balas Iswanti santai. Seringkali ia mencari hikmah atau pelajaran yang dapat diambil dari segala sesuatu.
"Gak salah tuh?" suara pemuda yang kebetulan lewat di depan meja mereka, langsung mengambil posisi duduk di sebelah Iswanti. Ia mengacak buku itu, dengan tak merasa bersalah tangannya membuat buku itu berantakan.
"Aduh, Salman! Apaan sih? Kok malah diacak-acak?" protes Iswanti kesal.
"Hmmm... Bisa jadi. Gue sih suka semua jenis bacaan," terang Iswanti.
"Bukan, kalau lo mau referensi lain, di rumah gue juga banyak buku-buku sejenis ini," lanjut Salman sambil memukul buku-buku yang telah di bereskannya itu.
"Beneran? Mau dong!" jawab Iswanti girang, membuat Naya yang memperhatikan makin heran.
"Ini aja udah banyak. Serius mau ditambah lagi?" sergah Naya sambil menghitung jumlah buku yang Iswanti pinjam dari perpustakaan itu. Terbilang ada sepuluh buku dengan judul yang berbeda.
"Iyalah. Sebanyak mungkin!"
"Oke. Besok gue bawa bukunya, ya!" pungkas Salman.
***
Ujian untuk hari ini telah berakhir. Semua siswa berhamburan keluar gerbang dengan perasaan lega tak lega. Lega karena berhasil melewati hari ini meskipun dengan menjawab soal hanya mengandalkan dari bisikan tiba-tiba di kepala, dan tak lega memikirkan pusingnya ujian yang masih akan dihadapi esok hari.
__ADS_1
Dengan langkah pelan, Naya terkejut dengan kedatangan seorang pria yang sangat dibencinya. Aji--ayahnya Annisa yang sepertinya siap menjemput sang anak di dekat gerbang sekolah.
"Anak manja udah dijemput aja," sindir Naya pada Annisa, yang dari tadi diabaikannya meskipun berjalan berdampingan. Ia mempercepat langkah, meninggalkan gadis itu yang mematung dan menelan ludah.
Annisa tiba-tiba menjadi pusat perhatian, ketika ayahnya datang mendekatinya. Bagaimana tidak, sang ayah yang telah tersohor dengan gelar koruptor di sekolah ini, kini datang dengan santai memasuki gerbang. Meskipun sudah dinyatakan tak bersalah, tetapi siswa-siswi sekolah ini tak bodoh. Mereka menganggap Aji telah membeli dan mencurangi keadilan dengan uang.
Annisa menatap sekeliling orang-orang memandanginya remeh. Ia merasa, seolah dirinya yang bersalah disini.
Sang ayah yang mencoba meraih tangan putrinya itu kehilangan kesempatan, setelah Annisa dengan cepatnya berlari keluar gerbang. Gadis itu tak kuat dengan tatapan jijik dan hinaan yang dapat ia dengar dengan jelas di telinganya.
Ia bahkan menabrak Naya, membuat keadaan kian tak bersahabat.
Namun, kali ini Naya dapat menahan dir. Hatinya sedikit tak tega melihat Annisa dengan mata berkaca-kaca.
"Apakah gue salah? Keterlaluankah sikap gue kemarin?" tanya Naya pada diri sendiri ketika melihat Annisa yang kembali berlari menjauh.
"Ayo, Nay!"
Lamunan Naya terhenti karena terkejut dengan suara berat dan tepukan di pundaknya dari belakang.
Gadis itu mengepal dan menaikkan tangannya, hendak memukul pemuda yang seringkali membuatnya kesal itu tepat di wajah, tetapi tak jadi. Terlalu barbar jika ia sampai berbuat demikian.
"Ayo kemana?" sahut Naya kesal sambil melangkah maju.
"Pulang lah," balas Faisal mengekor.
Naya memutar bola matanya, "apaan sih, rumah kita gak sejalan. Lagipula, mana motor lo?"
"Gue tinggalin di parkiran. Malam itu, kan lo sendiri yang gak mau semotor sama gue, harus jaga jarak," terang Faisal.
"Lo bego apa gimana, sih? Kalau lo nganterin gue, nanti lo harus balik lagi kesini ngambil motor, emangnya gak cape? Udah capek, buang waktu lagi. Lagian, ini bukan tengah malam kayak waktu itu," gerutu Naya.
"Gue gak buang waktu. Gue berusaha membuat waktu gue lebih berharga bareng lo. Gue gak capek, nanti habis nganterin lo, gue bakalan lari kesini buat ngambil motor, lumayan hitung-hitung olahraga. Selain keteguhan hati, butuh kekuatan fisik yang besar juga buat mendapatkan lo!" Kekeh Faisal dengan melancarkan aksi menggunakan senjata andalannya.
Ada yang aneh dengan Naya di kesempatan kali ini. Perkataan Faisal barusan sama sekali tak membuatnya mual seperti biasanya. Malahan, ia merasakan ambigu.
Satu sisi Naya berpikir, mengapa seringkali ia bersikap kasar pada pemuda yang jelas-jelas sangat menginginkannya itu?
__ADS_1
Di sisi lain, gadis itu memikirkan perasaannya yang sepertinya tak mungkin berlabuh pada Faisal, karena Renaldi selalu menjadi nomor satu dihatinya.
Dan jangan kira ia melupakan bahwa Faisal adalah anak dari salah satu orang yang membuat keluarganya terpuruk.