ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
(Tik-Tok) Semakin Dikejar Waktu


__ADS_3

"Nay! Tenggat waktunya sembilan hari lagi," bisik Sandi pada Naya yang terlihat tenggelam dalam lamunan.


Naya terhenyak, semua jelimet yang ada di kepalanya barusan, seolah menghilang untuk sejenak. Ia tak dapat menjawab pertanyaan Sandi yang kelimpungan dengan tugas dari pesan misterius yang menerornya selama beberapa waktu terakhir.


"Andai gue punya kekuatan buat jadi anak kecil, mungkin gue bakal nyerahin diri buat diculik pura-pura sama bang Sandi," batin Naya. Ketidakmasuk akalan yang terjadi di hidupnya membuat pikirannya bercabang, meliar kemana-mana.


"Teman lo datang, tuh!" Sandi menunjuk ke arah pintu kafe yang baru saja terbuka, seraya membuang napas panjang. Ia memaklumi sikap Naya yang enggan menjawab pernyataannya. Gadis itu pasti sedang sangat pusing juga mencari cara.


Naya segera menghampiri Annisa yang terduduk di kursi salah satu meja yang masih lengang. "Ada kabar terbaru apa?" tanyanya dengan mengesampingkan ketegangan dan perselisihan yang tengah terjadi antara mereka berdua.


"Gue rasa, ayah gue emang dalang dari penculikan itu," ujar Annisa yang makin mantap dengan dugaannya.


Naya membelalakan matanya untuk sekejap. Bukan karena terlejut, tapi karena dirinya telah menyangka bahwa hal ini akan tiba. Ia telah mencurigai Aji Atmaja sedari lama.


"Dan kita udah tau dimana tempat persembunyiannya," sahut Naya seraya menyidekapkan tangan di depan dada.


Annisa menganggukan kepala. Namun, ia merasa ada hal yang mengganjal. "Kalau benar markas ayah gue di hutan Alpenia, terus apa yang dia pake buat ngelindungin kebusukannya itu? Lo ingat kan waktu itu, kita semua gak bisa tembus buat masuk ke dalam buat menyelidiki."


Naya menggelengkan kepalanya. "Gak semuanya. Gue, Ulfa sama Iswanti gak terpengaruh, kan?"


"Ya. Lo benar. Tapi itu tetap aja aneh."


"Lo punya kekuatan ajaib?" tanya Naya tiba-tiba.


Annisa mengernyitkan dahi, "maksud lo?"


Naya mengira jika perisai yang melindungi kejahatan Aji Atmaja bukanlah sesuatu yang biasa. Mungkin ada kekuatan atau energi asing berperan dalam hal itu. Makanya, ia menanyakan Annisa jika punya kekuatan ajaib diluar nalar, yang siapa tahu merupakan keturunan dari ayahnya?


"Lupain perkataan gue," ralat Naya seraya menggelengkan kepala. Ia benar-benar kebingungan. Masalahnya seolah datang bertubi-tubi, tanpa adanya penyelesaian yang pasti.


Annisa pun menganggukan kepala. "Terus, gimana perkembangan lo? Udah nemuin cara buat nyelesain masalah bang Sandi?" tanyanya sambil mengarahkan tatapan pada Sandi yang sedang berdiri di belakang meja kasir. Ia juga melambaikan tangan seraya tersenyum hangat.


"Gue buntu banget, Nis. Mungkin dari awal, langkah gue udah salah, karena nyuruh dia nyebur terlalu dalam. Harusnya, gue cegah dia buat ketemu sama orang misterius itu. Tapi, gue malah ngedorong dia," terang Naya dengan rasa penyesalan yang amat sangat.

__ADS_1


"Semua udah terjadi, Nay. Gak ada gunanya menyalahkan diri sendiri. Sekarang, lo cuma harus yakin, kalau jalan keluar itu akan lo temui nanti," saran Annisa.


"Tapi gimana? Gue takut ngehancurin kehidupan orang lain, Nis! Masa gue harus cari anak yang rela buat diculik pura-pura sama bang Sandi? Selain kejam, itu juga berbahaya banget." Naya memegangi keningnya yang terasa sangat panas. Mungkin sebentar lagi akan meledak.


"Ya. Itu berisiko banget, Nay." Annisa mengangguk menyetujui perkataan Naya.


"Apalagi bang Sandi malah mengatakan ide yang lebih gila lagi. Masa dia mau jadiin adiknya sendiri sebagai umpan?" Naya lagi-lagi hanya dapat geleng-geleng kepala. Ia merasa menjadi orang paling bodoh dan jahat di dunia.


Annisa menepuk bahu Naya yang duduk di depannya. "Sabar Nay!" Tiba-tiba sebuah ide menyeruak di kepalanya. Ia menyadari, jika gagasan itu sama gilanya dengan semua penjelasan Naya. Namun, memang semua hal yang berkaitan dengan hal ini akan terasa sangat gila dan berbahaya.


"Gue rasa, gue nemu ide, Nay!"


Naya yang sedang menundukan kepala, lantas langsung mendongak dengan mata membelalak bergelora. "Apa?"


"Tapi gue gak yakin!" jawab Annisa.


"Bilang aja!" desak Naya.


Naya mengangguk. "Jadi, lo mau kita menipu orang misterius itu dengan membawa orang dewasa sebagai anak kecil, bukan anak-anak asli seperti yang mereka mau?"


Annisa membuang napasnya dengan kasar. "Gue gak tau. Cuma, Eksa itu orangnya emang baik banget. Gue gak mau jadi orang jahat yang terkesan memanfaatkan kebaikan dia."


Naya mengangguk paham. Ia melihat kekhawatiran di wajah Annisa. "Lo benar! Gue udah ngerasain betapa beratnya penyesalan yang gue tanggung, karena menyeret orang baik ke dalam masalah ini. Lo jangan mengulangi kesalahan yang gue buat, Nis," ujar Naya sembari menolehkan kepalanya menatap Sandi yang memberinya sebuah senyuman gamang.


"Tapi, lo bilang, kalau bang Sandi gak memenuhi syarat itu, dia sama keluarganya dalam bahaya. Apa kita mau menyia-nyiakan kemungkinan yang bisa ngebantu mereka?" Annisa sungguh merasa kebingungan sekarang. Di satu sisi, dirinya merasa kasihan pada Sandi, tapi dirinya juga tak dapat mengorbankan Eksa yang belum tentu mau jika dimintai bantuan.


Naya akhirnya hanya dapat bungkam, tak ada komentar lagi untuk menanggapi ucapan Annisa barusan. Makanya, ia memilih untuk memindahkan topik. "Ada satu lagi kekhawatiran gue. Apa kita benar-benar mampu melawan ayah lo? Gue takut, ketika kita udah mengorbankan bang Sandi, kita malah tetap kalah."


Annisa membelalakan mata. "Hey! Lo itu Naya! Gadis paling pemberani di antara gue dan teman-teman yang lain. Kenapa sekarang nyali lo malah ciut gini?"


Naya juga tak mengerti apa yang terjadi padanya. Setelah kekuatannya terungkap, bukannya makin berani, dirinya seolah berubah menjadi penakut.


"Lo tenang aja. Kita lihat, apakah nanti ayah gue akan tega menyakiti gue—putrinya sendiri?" jelas Annisa yang berharap perkataannya akan meringankan kegelisahan Naya.

__ADS_1


"Tapi, lo benar-benar gak punya kekuatan ajaib, kan?"


Annisa kembali terheran. Ia menautkan alisnya makin lekat. "Kenapa lo nanyain hal itu lagi? Gue manusia biasa, Nay! Atau jangan-jangan, lo yang punya kekuatan super?"


Naya menganggukan kepalanya perlahan-lahan. Ia menatap Annisa dengan serius.


"Hah? Beneran?"


Naya mengedarkan pandangannya kesana-kamari, memastikan keadaan cukup aman untuk membuktikan perkataannya pada Annisa. Karena hanya segelintir orang yang mengetahui keanehan yang terjadi dalam dirinya itu.


Sore ini, pengunjung kafe terbilang sangat sepi. Hanya ada dua meja di pojokan yang terisi. Sedangkan, satu lagi diisi oleh Naya dan Annisa. Keadaan itu dirasa cukup menguntungkan bagi Naya.


"Lihat ke kolong meja!" suruh Naya pada Annisa.


Mata Annisa makin membola setelah menuruti permintaan Naya. Ia melihat telapak tangan temannya itu memancarkan cahaya berwarna putih. Merasa penasaran, ia pun menyentuh lengan temannya itu, meskipun dengan tangan gemetaran.


"Dingin banget!" Annisa segera menarik tangannya kembali, setelah mendapati tangannya berubah menjadi sedingin es setelah bersentuhan dengan cahaya tersebut.


Naya mengedikkan bahu. "Itu kadang dingin kadang panas," jelasnya. Ia menyadari semburat dari tangannya itu bersuhu tinggi saat menyerang preman-preman yang menyerang Faisal saat perjalanan kemari belum lama tadi. Dan saat mengobati luka Renaldi saat di sekolah, serta Faisal yang terjatuh dari motor, cahaya itu terasa sangat dingin.


"Lo takut?" tanya Annisa memastikan, setelah melihat ekspresi wajah Naya yang berubah murung.


"Lo sendiri takut sama gue, gak?" Naya membalikkan pertanyaan.


Annisa menggelengkan kepala. "Gue udah mengalami hal yang lebih menakutkan. Lo lupa, kalau gue pernah diserang sama Iswanti yang kesurupan arwah leluhurnya Ulfa pas di perpustakaan waktu itu?" jelasnya diiringi tawa.


"Jadi, gue gak takut sama sekali dengan kekuatan lo itu. Lo harusnya senang. Kekuatan itu datang pasti dengan maksud tertentu!"


"Gimana kalau maksud itu adalah hal yang jahat?" tanya Naya. Sebenarnya, itulah yang paling dirinya takuti dari kekuatan aneh yang dimilikinya.


"Maka lo sendiri yang telah membuat pikiran lo jadi jahat, Nay. Lo harus yakin, itu semua datang dengan maksud yang baik. Percaya itu!" tegas Annisa.


Naya merasa perbincangannya dengan Annisa kali ini sangat berguna. Ia bahkan dapat menilai sikap gadis itu yang ternyata memiliki rasa peduli tinggi. Bahkan, dirinya dapat melupakan kekesalannya pada Annisa yang memang tak memiliki kesalahan apapun padanya.

__ADS_1


__ADS_2