ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Pelajaran Sejarah


__ADS_3

Baru saja sampai di gerbang sekolah, telinga Naya dan Renaldi sudah terpenuhi oleh bisik-bisik berita tak menyenangkan.


Apalagi ketika mereka masuk ke kelas, berita tersebut kian jelas terdengar ketika Intan meneriakannya lantang.


"Hah? Anak guru matematika kita diculik?" pekik Intan heboh. "Ini bukan hoax, kan?"


"Ada apa sih ini?" tanya Naya pada Annisa ketika duduk di kursinya.


Renaldi, Iswanti, dan Ulfa ikut berkumpul bersama mereka berdua.


"Setiap berangkat sekolah, gue lewatin rumah Bu Nidha, kan? Nah, tadi pagi pada heboh disana. Bu Nidha nangis, para warga berdatangan. Ternyata, Anaknya hilang," jelas Annisa serius.


"Miris banget tahu. Katanya, anaknya itu cuma di tinggalin mandi sama Bu Nidha. Anaknya lagi nonton TV, dan tiba-tiba hilang gitu aja!" lanjutnya.


"Warga yakin kalau anaknya diculik, sama seperti empat anak yang hilang di kota akhir-akhir ini."


Mereka berempat dengan seksama mendengarkan. Hingga Iswanti berasumsi beberapa hal berdasarkan yang ia amati. Menjadi kutu buku tak begitu buruk, kan?


"Terakhir kejadian seperti ini, adalah dua tahun lalu. Sampai ada lima belas anak yang hilang di kota ini," ujar Iswanti mengingat-ingat.


"Benarkah?" sahut Annisa sedikit terkejut. "Ibu gue juga bilang. Waktu jamannya, sampai ada tujuh belas anak yang hilang, sampai akhirnya ditemukan dalam keadaan karena mati kehabisan darah."


"Tapi, dua tahun lalu, anak-anak itu ditemukan dalam keadaan sehat kok. Enggak mati. Malahan mereka semua pulang sendiri ke rumahnya masing-masing," bantah Iswanti sambil menaikan alis.


"Tunggu dulu. Gue lurusin, maksud kalian, bakalan ada anak-anak yang terus hilang setelah kejadian Bu Nidha ini?" tanya Renaldi mengerutkan dahi.


"Pasti! Karena kota ini terkutuk!" timbrung Intan tiba-tiba.


Naya dan kawan-kawan wanitanya heran. Sejak kapan Intan mau bicara pada mereka? Sedangkan, Renaldi senang karena Intan ikut bergabung.


"Apaan sih lo, main nimbrung aja?" ketus Naya kesal.


"Gue gak nimbrung bareng kalian. Gue cuma ngejawab pertanyaan Reno," jelas Intan, masih salah menyebutkan nama seperti biasa.


"Renaldi," bisik Ulfa yang berdiri di sebelah Intan.


"Terserah! Renaldi sama Reno, deket kan?"

__ADS_1


"Tauk!" ucao Naya sambil mengerlingkan mata.


"Bel masuk sudah berbunyi, semua kembali ke tempat duduknya masing-masing!" teriak seorang guru pria sembari menutup pintu.


"Pak Pandi, Nay. Calon ayah tiri lo!" ejek Renaldi terkekeh geli, dibalas dengan pukulan di lengan oleh Naya. Lalu, ia pergi ke bangkunya di belakang.


"Hari ini saya akan sedikit memberitahukan kabar duka terlebih dahulu."


Pak Pandi menjelaskan tentang kejadian yang menimpa rekannya, Bu Nidha. Kejadian yang lebih detil daripada yang diceritakan oleh Annisa.


Selesai dengan cerita itu, pak Pandi berpindah ke topik pembelajaran. Pelajaran sejarah. "Kejadian itu akan kita hubungkan dengan pelajaran sejarah kita hari ini. Sebelumnya, saya ingin bertanya. Tahun berapa kota ini ditemukan?"


"1907," teriak Intan dengan lantang.


"Saya bilang ditemukan, bukan tahun berdiri!"


"Pada tahun 1899, sepasang penjelajah berhenti di sebuah hutan belantara. Mereka tak bisa keluar dari hutan tersebut. Selama dua tahun mereka hidup bagai Adam dan Hawa, hingga akhirnya ada enam orang lain lagi yang tersesat di sana. Selama tiga tahun, mereka semua membangun rumah dari bahan-bahan yang dapat mereka temukan di dalam hutan. Setahun kemudian, sepuluh orang kembali tersesat di hutan itu. Sampai akhirnya, orang-orang yang tersesat itu merubah hutan menjadi sebuah perkampungan. Orang-orang luar mulai mengetahui keberadaan tempat itu dan mulai berpindah karena penjajah yang mulai mendatangi negara kita, Antirtana. Dan, hanya tempat itu yang aman dari jajahan. Hingga pada akhirnya, di tahun 1907 terbentuk lah sebuah kota kecil, dan diresmikan di tahun yang sama dengan nama Alpenia." Iswanti menjelaskan secara detil dengan suara pelan dari bangku belakang. Membuat seluruh mata tertuju padanya. Tak sia-sia hobinya yang gemar membaca. Dan sejak memiliki teman, nampaknya dia jadi sedikit berani.


"Bagus. Tepat sekali jawaban kamu! Dan, kita akan membahas hal-hal yang terjadi di kota selama ini. Dari awal, hingga saat ini!" ungkap Pak Pandi memulai.


"Kita mengetahui Alpenia adalah sebuah kota kecil dengan sejuta hal di dalamnya. Kejahatan bukanlah hal baru. Namun, hal yang sedang kita coba hubungkan disini adalah kasus hilangnya anak-anak. Kalian tahu, hal itu telah terjadi dari masa lampau?"


"Selama delapan belas tahun selanjutnya kota ini aman. Namun pada akhir tahun 1939, tujuh belas anak kembali menghilang. Kejadian seperti itu berulang di tahun 1966. Dan tahun 1991 adalah terakhir kalinya hal sama terjadi," perlente pak Pandi merinci tahun-tahun gelap di kota itu.


"Pada tahun 2020 lalu, saya mengira hal sama akan terulang. Namun setelah lima belas anak menghilang, saya merasa lega. Mengetahui anak-anak tersebut pulang ke rumahnya masing-masing dengan selamat. Meskipun dengan keadaan aneh, anak-anak itu bilang mereka bermain di dunia peri," lanjutnya sambil tertawa di bagian akhir.


"Dan sekarang dengan tiba-tiba, anak-anak kecil itu menghilang lagi satu-persatu. Semoga mereka yang menghilang, dapat pulang dengan selamat. Meski mungkin dengan pikiran liar, mereka akan bilang selama menghilang, mereka bermain bersama alien," kekeh Pak Pandi mencoba membuat jam pelajarannya sedikit ceria. Murid-murid tertawa kecil dengan lelucon guru paruh baya itu.


"Sekarang tugas kalian, membuat esai tentang kejadian ini berdasarkan informasi yang saya jabarkan barusan. Boleh mencari sumber tambahan di perpustakaan. Silakan!" akhir kata dari Pak Pandi yang memberikan tugas, membuat anak-anak protes, meracau dalam hati mereka masing-masing.


Semua anak berhamburan keluar kelas, untuk menuju perpustakaan pada awalnya. Tapi, masih ada juga yang malah melipir ke kantin, dan ke tempat lainnya.


***


Naya mencari-cari buku dengan judul sejarah kota Alpenia atau judul apapun yang setipe dengan tema di rak buku yang bejibun.


"Nah. Ketemu!" batinnya.

__ADS_1


Namun pemuda tengil itu sudah terlebih dahulu mengambilnya, ketika Naya hendak menyentuh buku tersebut.


"Hey!" dengus Naya kesal.


"Apa? Siapa cepat, dia dapat!" ledek pemuda menyebalkan itu, "mau buku ini?" lanjutnya menanyakan hal yang sudah diketahui jawabannya.


Naya mengerlingkan mata. Hendak pergi, namun tangannya dipegang sekuat mungkin oleh pemuda dengan tampilan urakan, bak tak di ajarkan aturan berpakaian.


"Lepasin!"


"Nih, bukunya, ambil!"


Naya membalikkan badan. Jikalau bukan karena rasa malas untuk berkeliling lagi hanya untuk mencari satu buku, ia tak mau menerima tawaran dari orang yang dibencinya.


"Tapi ada syaratnya," lanjut pemuda itu menyembunyikan buku yang dipegangnya di sebalik punggung.


"Apa? Cepetan, keburu habis waktu pelajaran pak Pandi nih!" sahut Naya kesal.


"Bilang iya dulu."


"Buat?" Naya tak mengerti.


"Jadi cewek gue!"


"Mimpi lo!" tolak Naya langsung di depan wajah.


"Kalau gitu, jadi cewek cinta satu malam gue gimana?" tanya pemuda itu merendahkan.


Naya meradang, tangannya langsung ia daratkan di pipi tirus itu. Membuat suara cukup keras, mengisi kesenyapan di ruangan ini. "Kurang ajar!"


Pemuda itu tersenyum miring, sekaligus menutupi rasa malu karena menjadi pusat perhatian siswa-siswi lain.


"Miskin aja sombong lo! Inget, nyokap lo punya utang sama bokap gue! Gue bisa minta bokap gue ngeringanin hutang nyokap lo, kalau lo mau melakukan salah satu syarat yang gue sebutin barusan," bisik pemuda itu geram.


"Itulah sebabnya. Karena ibu gue punya utang ke rentenir kayak bokap lo, gue gak akan pernah mau punya hubungan sama lo. Gue muak sama orang-orang yang nyusahin keluarga gue!" cerocos Naya menggebu-gebu. Rasa kesal dan marah menguasai hatinya.


"Makan tuh buku!" lanjutnya sambil meninggalkan pemuda itu.

__ADS_1


Faisal Adijaya. Pemuda yang sudah menyukai Naya sejak kelas sepuluh. Berbanding terbalik dengan Naya yang selalu membencinya.


Bagaimana tidak, pemuda itu memiliki segudang sifat tidak terpuji yang dapat dijadikan alasan oleh Naya untuk membencinya.


__ADS_2