
Faisal berjalan seorang diri dalam kegelapan malam, untuk kembali ke kafe dan mengambil motornya. Belum jauh dari rumah Naya, ia tersungkur ke aspal setelah seseorang menabraknya dari depan. Pencuri tadi. Ia yakin, karena orang itu memakai pakaian dan tudung wajah hitam.
Seandainya tidak terlalu keras terjatuh, ia pasti akan mengejar. Padahal, pencuri itu juga sempat terjatuh bersamanya. Namun sayangnya, tangannya sakit, berdarah karena tergores bebatuan aspal. bokongnya pun sama sakitnya, hingga butuh waktu untuk berdiri.
Sedangkan pencuri itu terlihat kuat, hingga mampu bangkit untuk kembali berlari kencang.
Setelah beberapa saat, Faisal bangkit, dan berbalik badan, mengikuti arah pencuri itu berlari. Ia melihat lagi ke arah rumah Naya, takut pencuri itu masuk ke dalam sana. Namun untungnya tidak.
Penglihatannya yang kurang jelas jika menatap objek jauh, membuatnya sedikit pusing. Ia seperti melihat pencuri itu masuk ke dalam sebuah rumah atau gang kecil tak jauh dari rumah Naya. Atau mungkin ia hanya berhalusinasi? Dan sebenarnya pencuri itu telah lama menghilang pergi. Ketidakyakinan membuatnya mengabaikan kedua sudut pandang tersebut.
Akhirnya, ia memilih pergi, mengambil motor, lalu pulang ke rumahnya.
***
Sekolah libur. Dan sekarang sudah jam tujuh pagi. Renaldi tak biasa bangun sesiang ini.
Dengan tampilan rambut cepak yang sedikit acak-acakan, dan mata yang masih terkantuk-kantuk, ia langsung pergi ke toilet untuk membasuh wajah.
Setelah itu, Renaldi membuka tudung saji di meja makan kayu, melihat makanan yang sudah siap untuk di santap. Ada goreng tahu, tempe, telur dadar, dan tentunya, nasi hangat.
"Makan Rey!" Ujar seorang pria paruh baya sambil menepuk pundak Renaldi.
"Iya yah. Ayo bareng!" sahut Renaldi sambil mengusap wajah yang sedikit basah.
"Ayah sudah makan tadi. Ayah berangkat kerja dulu ya!" jelas Agung menjelaskan sekaligus undur diri untuk bekerja di perkebunan anggur milik keluarga Wijaya.
"Eh tunggu, itu tangan ayah kenapa diperban?" tanya Renaldi ketika melihat telapak tangan ayahnya di balut perban putih.
"Oh. Gak apa-apa. Telapak tangan ayah kena wajan panas tadi."
"Kok bisa?" kekeh Renaldi sambil menaikan alis.
Agung menoyor kepala putranya pelan, "bagus ya, sudah berani meledek ayah. Sudah, ayah pergi dulu, nanti terlambat," tandasnya sambil meninggalkan putranya setelah mencium tangan.
Renaldi segera menyantap makanan itu. Masakan ayahnya paling juara. Karena memang ayahnya yang selalu memasak.
Di rumah ini, Renaldi hanya tinggal berdua dengan Agung. Sang ibu meninggal dunia ketika melahirkannya, kata ayahnya demikian.
Maka, Renaldi sangat menyayangi ayahnya. Karena pria itu hanya satu-satunya orang tua yang tersisa dalam hidupnya.
***
__ADS_1
Wina sudah mencoba membangunkan Naya beberapa kali. Dari nada lembut hingga berteriak telah ia lakukan.
Tapi, Naya masih tak bergeming juga. Mungkin masih lelah, karena dirinya tak terbiasa terjaga hingga larut malam seperti kemarin.
Akhirnya, Wina menyerah. Ia pun pergi bekerja ke kebun anggur, tanpa pamit kepada putrinya terlebih dahulu. Sebenarnya sudah, tapi sepertinya tak didengar oleh Naya. Ia juga telah memberitahukan bahwa ada makanan di meja makan.
Keadaan rumah sepi. Naya masih berada di alam mimpi. Dan, tiba-tiba ia terbangun hanya karena sebuah notifikasi di telepon selulernya yang diletakkan di atas bantal.
"Ayo kita ke rumah Ulfa!" Terlihat pesan WhatsApp dengan pengirim bernama Rey.
Ia langsung terperanjat, tak sia-sia dirinya membuka mata cepat-cepat. Orang yang diharapkannya, mengirim pesan di pagi hari. Meskipun isinya tak romantis, namun hatinya tetap berbunga-bunga.
Benar kata orang, hal kecil akan lebih indah jika sedang jatuh cinta.
"Ayo!" balas Naya dengan senyuman yang kian melebar.
Ia terus memperhatikan layar ponselnya, tanpa keluar dari aplikasi WhatsApp. Dilihatnya pesan yang baru saja terkirim, telah menampilkan dua centang biru.
Tapi ada yang aneh, centang dua biru itu tak berubah status menjadi mengetik. Dan, pesannya hanya di baca.
"Udah, Gitu aja? basa-basi dikit kek, Rey!" gerutunya kesal sendiri.
Padahal, bisa saja Naya yang memulai basa-basi. Tapi tidak, dia gengsi. Jatuh cinta kadang menyulitkan juga ternyata.
"Nay!"
Seseorang baru saja masuk ke dalam rumahnya tanpa permisi. Otomatis membuat Naya terkaget dari lamunannya. Bahkan, orang itu langsung masuk ke kamarnya.
"Rey, lo ngapain masuk ke kamar gue?" Naya berusaha menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut. Malu jika pemuda itu melihat tampilannya yang berantakan.
Sedangkan Renaldi telah siap dengan setelan kasual dan rambut yang klimis.
"Sorry. Lo gak lagi telanjang, kan?" ujar Renaldi langsung membalikkan badan.
Naya melempar bantal ke pemuda itu, "nggak lah. Jorok banget pikiran lo!"
"Terus kenapa lo dikerumun pake selimut?"
"Gue baru bangun, rambut gue acak-acakan!" teriak Naya. Lalu membuka selimutnya perlahan.
Renaldi akhirnya membalik badan, menatap gadis itu lagi, "yaelah, masalah rambut doang. Tuh iler lo gue tatap, gak malu dia!" guraunya.
__ADS_1
Spontan Naya menyentuh dan menggosok pelan bibir hingga dagunya.
"Bukan disana. Iler lo di pipi tuh sampe telinga!" guyon Renaldi makin terbahak.
"Ngeselin lo. Gue gak pernah ngiler kali!"
Akhirnya, Naya bangkit dan berjalan mengambil handuk yang menggantung, sambil berkata, "gue mandi dulu! Lo tunggu di luar sana!"
Tak butuh waktu lama, Naya akhirnya telah siap, dengan penampilan sederhana, seperti biasa. Ia menghampiri Renaldi yang sedang menunggu di bangku kayu dekat jendela rumahnya. Mereka pun melenggang menuju rumah Ulfa yang lumayan berjarak jauh. Seperti biasa dengan jalan kaki. Biar sehat.
***
Ternyata, Annisa dan Iswanti juga ikut mengunjungi rumah Ulfa, dan telah sampai di sana terlebih dahulu.
"Gimana? Udah ada kabar tentang Hilfa?" Tanya Naya.
Dijawab dengan gelengan kepala oleh tiga gadis yang sedang terduduk di ruang tamu itu.
"Tadi, Intan bilang dia mau kesini. Mau bantu katanya, dia juga udah ngomong sama ayahnya soal ide itu," ungkap Ulfa membuat semua orang terkejut.
Ada yang mulai berpikir bahwa Intan bersungguh-sungguh ingin menolong. Dan ada juga yang kesal jika gadis itu datang.
Naya. Karena artinya, perhatian Renaldi sepenuhnya akan tertuju pada gadis itu. Tak akan ada kesempatan baginya. Tapi, ia kesampingkan dulu alasan tersebut. Karena yang terpenting saat ini adalah bantuan sebanyak mungkin untuk menemukan anak-anak yang hilang.
"Oh.. Baguslah!" sahut Renaldi yang sangat tak keberatan.
"Gue mikir deh. Kalau gak ada juga informasi tentang adik gue, gue harus cari dia sendiri!" tutur Ulfa sambil memelas.
"Tapi lo mau cari kemana?" tanya Iswanti.
"Penculik ini gak ninggalin jejak sama sekali," tambah Naya.
"Itu yang paling gue takutin. Gue takut, kita udah gak ada harapan. Hilfa hilang jejak untuk selamanya!" lirih Ulfa makin khawatir.
Suara knalpot motor yang nyaring terdengar membuat perbincangan terhenti.
Ulfa dengan segera melihat keluar rumahnya lewat jendela. Dilihatnya ada dua motor gede yang berhenti tepat di depan rumahnya. Dengan Intan dibonceng di salah satunya.
Ulfa langsung membuka pintu rumahnya dan melihat Intan tersenyum ramah. Ia pun membalas.
Setelah kedua pengendara itu membuka helmnya, Ulfa pun di buat terkejut. Tak percaya dengan hal yang dilihat matanya. Apa yang dilakukan dua pria pengganggu itu disini.
__ADS_1
Ikbal dan Salman.