ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Sebuah Penguatan


__ADS_3

Annisa dan Ikbal masih belum mendapatkan jawaban yang jelas. Mereka hanya menduga jika tewasnya adik Eksa adalah sebuah petunjuk yang sangat lemah. Karena setelah dua hari berada di rumah singgah itu, mereka tak menemukan sebuah kejanggalan lainnya. Semua penghuninya terlihat aman-aman saja, meskipun memiliki sikap yang sangat jutek.


"Pokoknya, lo harus hubungi gue kalau ada kejadian aneh apapun disini," pinta Annisa pada Eksa. Ia telah memberikan nomor kontaknya yang dapat dihubungi setiap waktu. Bahkan, jika teman barunya itu membutuhkan tempat untuk bercerita, ia akan berusaha ada mendengarkan.


Eksa mengangguk paham. "Iya, pasti. Lagian, itu juga buat informasi ke ayah lo, kan?" tanyanya salah menyangka. Ia mengira, jika kunjungan Annisa kali ini adalah permintaan atau suruhan sang pemilik rumah singgah.


Annisa hanya mengangguk sekali. Ia membiarkan Eksa mengira demikian, agar pemuda itu tak terseret lebih jauh, dan dirinya juga tak dicurigai.


"Gue harap lo main ke Alpenia. Lo bakal selalu diterima di rumah gue," lanjut Annisa seraya tersenyum tulus.


Eksa kembali mengangguk. Pemuda yang berdiri menjulang tinggi di sampingnya yang malah menjawab pertanyaan Annisa.


"Kalau Eksa datang ke rumah lo, maka lo harus bersedia menampung dua orang. Karena, kemana pun dia pergi, gue pasti berada di sampingnya," sambar Candra dengan cengengesan.


Wajah ramah Annisa perlahan memudar. "Ya. Lo boleh datang juga," jawabnya seperlunya.


"Makasih undangannya," sahut Candra.


Annisa mengerlingkan mata. Bukannya tak suka pada Candra, ia hanya sedikit lelah dengan sikap tak serius pemuda itu.


"Okelah. Gue pulang dulu, ya!" Annisa menekuk lututnya, hingga menyentuh rumput hijau di halaman tersebut, untuk menyejajarkan tubuh dengan Eksa. Segera, ia meragkul tubuh kecil itu sebagai salam perpisahan. "Jaga diri baik-baik, ya!"


"Lo juga hati-hati di jalan. Teruslah jadi orang baik. Banyak hati yang akan merasa tersentuh dengan sikap lo itu, Annisa!" balas Eksa.


Annisa melepaskan pelukannya dari Eksa, dan kembali berdiri tegap. Ia mengerutkan dahinya saat melihat Candra yang merentangkan tangan di hadapannya.


"Gue gak dipeluk?" guyon Candra dengan tersenyum nakal.


"Jangan ngarep!" ketus Annisa, lalu membalikkan badan.

__ADS_1


"Jangan macam-macam!" sambung Ikbal santai. Lalu, ia mengikuti langkah Annisa yang berjalan mendahuluinya.


***


Ikbal melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Ia sedikit merasa canggung sekarang. Karena dari tadi, gadis yang duduk di belakangnya hanya menjawab semua pertanyaan dan candaannya dengan dingin dan seperlunya.


Pemuda itu tak tahu harus berkata apa lagi. Sampai, sebuah pemandangan dua pria paruh baya berhasil mengalihkan pandangannya.


Akhirnya, Ikbal menepikan motornya dengan mengerem secara mendadak. Hal itu membuat Annisa yang sedang melamunkan ayahnya akhirnya tertegun, setelah helmnya beradu dengan helm yang dipakai oleh Ikbal.


"Ada apa?" tanya Annisa sedikit kicep.


"Apa itu ayah lo?" tanya Ikbal seraya mengarahkan pandangannya ke arah sebuah kafe outdoor di seberang jalan.


"Ya! Dan ayah lo juga duduk di depannya!" jawab Annisa sambil menganggukan kepala.


Tanpa berbasa-basi lagi, Ikbal langsung melajukan motornya kembali. Bukan untuk pergi, melainkan untuk mencari tempat parkiran cukup aman, agar ayahnya dan ayah Annisa tak memergoki mereka berdua.


Ikbal hanya mengedikkan bahu. Mana mungkin dirinya mengetahui aktivitas dari ayahnya. Mereka bahkan jarang bertegur sapa. Sekalinya berbicara, pasti dengan nada tinggi dan kata-kata menusuk dari ayahnya tersebut yang dirinya selalu dengar.


Ikbal dan Annisa menemukan titik persembunyian yang tepat untuk mereka berdua. Sebuah langkan setinggi dada, pembatas kafe tersebut dengan sebuah toko souvenir, berhasil menyembunyikan tubuh mereka agar tak terlihat oleh kedua ayah masing-masing yang sedang berbincang cukup serius dibalik dinding itu. Mereka mendengarkan secara saksama sambil merunduk.


"Kau tak tahu sifat putriku. Dia akan sangat marah jika hal ini tak terpenuhi," ujar Andi dengan mimik wajah serius. Ia tak mengetahui jika anak lelakinya sedang mendengarkan perkataannya di balik langkan.


"Tapi hal yang kau minta itu cukup pelik, Andi. Aku takut tak bisa melakukannya," jawab Aji seraya menghembuskan napas panjang.


"Kau serius? Selama ini, aku juga membantu bisnismu. Dari yang bersih sampai yang kotor sekalipun, aku tak pernah berpikir dua kali," tutur Andi masih mendesak kawan di depannya itu.


"Aku tahu. Dan, aku pun akan berterima kasih dengan hubungan kerja kita itu. Tapi kali ini, rasanya terlalu melawan prinsipku," jelas Aji.

__ADS_1


Annisa dan Ikbal saling melempar tatapan bingung. Mereka belum mengetahui seluk beluk atau permasalahan apa yang sedang dibicarakan ayah mereka masing-masing. Namun, mereka akan terus memasang kuping untuk mendapatkan penjelasan.


"Kau tega mengabaikanku? Ini semua aku lakukan demi Intan. Aku tahu, kau memiliki anak itu. Biarkan anak itu menjadi hadiah untuk putriku!" jelas Andi masih tak menyerah.


"Aku—aku sungguh tak bisa untuk kali ini," tolak Aji yang masih kekeh dengan pendiriannya.


Andi meradang dengan penolakan yang telah ia terima sebanyak berkali-kali dari orang yang dirinya anggap sebagai teman itu. Padahal, ia kira Aji akan membantunya secara sukarela.


"Kau memang manusia egois! Lihat saja, jika kau membutuhkan bantuan lagi dariku, aku akan langsung memalingkan wajah dan menolakmu seperti yang kau lakukan padaku sekarang," kecam Andi seraya memukul meja. Ia langsung bangkit berdiri, dan meninggalkan Aji di kafe cukup sepi itu.


Annisa dan Ikbal kembali bertatapan. Mereka saling menerka, apakah pikiran di kepala masing-masing kepalanya sama, setelah mendengar percekcokan dari ayah mereka barusan.


Sampai, setelah melihat mobil Aji dan Andi pergi, barulah kedua muda-mudi itu berniat keluar dari persembunyian berisiko mereka. Namun, saat hendak berdiri, kepala mereka malah beradu satu sama lain, karena mungkin terlalu fokus akan pikiran masing-masing.


Annisa dan Ikbal sama-sama mengusap kepala mereka yang sedikit pengar setelah diadu tak sengaja barusan.


"Aduin sekali lagi!" ujar Annisa seraya mengadu kepalanya dengan tempurung Ikbal untuk kedua kalinya. Bedanya, kali ini dengan sengaja.


"Kenapa harus diadu lagi?" tanya Ikbal yang sedikit tak mengerti dengan perbuatan Annisa barusan. Padahal, diadu sekali saja sudah cukup sakit. Gadis itu malah menambah sekali lagi. Meskipun yang kedua tak terasa nyeri.


Annisa mengedikkan bahu. "Gue lupa sebabnya. Tapi, ibu gue pernah bilang, ada pamalinya kalau gak diadu sekali lagi, setelah sekali gak disengaja."


"Aneh banget!" sahut Ikbal heran.


"Udah, sekarang fokus! Apa pikiran kita tentang ayah-ayah kita sama?" tanya Annisa.


Ikbal menganggukan kepala. "Intan pernah cerita sama bokap, kalau dia pengen Hilfa kembali sebagai hadiah ulang tahunnya."


Annisa memikirkan hal yang sama. "Dan dari perkataan ayah lo barusan, terkesan bahwa ayah gue nyimpan Hilfa di suatu tempat, kan? Berarti, ayah gue emang dalang penculikan anak-anak itu selama ini?" terkanya dengan gemetar.

__ADS_1


Ikbal mengembuskan napasnya cukup panjang. "Gue gak tahu, Annisa. Tapi mulai sekarang, kayaknya lo harus lebih hati-hati sama ayah lo, Nis. Gue takut lo kenapa-napa."


Air mata perlahan meluncur dari pelupuk mata Annisa tanpa direncanakan. Namun, sesegera mungkin jemarinya menghapus jejak air itu dengan kasar. Ia tak akan menangisi pria kejam seperti ayahnya lagi. Sekarang, keinginan terbesarnya adalah mendapat keadilan untuk semua pihak. Untuk ayahnya, juga untuk para korban yang sudah dirugikan. Ia akan berusaha menyelidiki lebih keras lagi.


__ADS_2