
Baru saja merasa tenang setelah melewati masa ujian, hati Naya kembali dibuat gelisah. Tak yakin jikalau sekarang, ia akan mengutarakan rasa yang selama ini mengendap di dalam dadanya. Ia telah berani untuk menurunkan egonya untuk mengungkapkan segalanya. Karena dalam pikirannya, biasanya pria terlebih dulu yang menyatakan cinta, bukan sebaliknya.
Naya dengan sengaja mengundang Renaldi untuk datang ke kafe tempat kerjanya. Dan pemuda itu menyanggupi.
Dengan masih memakai seragam kerjanya, Renaldi duduk berhadapan dengan gadis yang wajahnya terlihat tegang itu.
"Tumben. Lo mau traktir gue makan?" canda Renaldi sambil tertawa.
Naya masih memikirkan kemungkinan terburuk, ia takut ekspektasi mematahkan hatinya lagi dan lagi.
"Lo sakit?" Raut wajah Renaldi berubah cemas, ketika menyadari wajah Naya pucat pasi.
Naya menghembuskan napas panjang, "gue mau ngomong sama lo."
Ucapan gadis itu terhenti beberapa saat, membuat pemuda di hadapannya gemas.
"Apa?"
"Gue ... Gue ..." ia menatap serius pemuda itu.
Sedangkan, Renaldi hanya menaikkan alis melihat tingkah tak biasa sahabatnya.
"Gue suka sama lo!" Akhirnya, kata-kata itu keluar dari mulut Naya, setelah sekian lama.
"Oke. Gue juga. Gue udah tahu dari dulu. Kalau kita gak saling suka, mana mungkin kita sahabatan," balas Renaldi, salah memahami kata-kata yang baru saja Naya ungkapan.
"Maksud gue. Gue suka sama lo, lebih dari itu," jelas Naya membuat Renaldi sedikit terkejut.
Cowok itu bingung harus berkata apa. Masalahnya, ia hanya menganggap Naya sebagai sahabat terbaiknya.
Beberapa detik mereka berdua terdiam. Dengan segera Naya menyadari, bahwa perasannya tak terbalaskan. Ingin sekali rasanya ia menangis. Namun selama ini, Renaldi selalu melihatnya sebagai sosok yang kuat. Jadi, biarlah dirinya tetap seperti itu di mata pemuda yang baru saja mematahkan hati sekaligus harapannya itu.
Akhirnya, gadis itu mengutas senyum getir, dan bangkit dari duduknya, "eh, udah ya. Ada pelanggan tuh. Lo balik kerja sana!"
__ADS_1
Renaldi menahan pergelangan tangan gadis itu, dengan mengatakan, "gue sayang sama lo, Nay. Persahabatan kita itu epik. Hubungan kita jika sebagai sepasang kekasih, gak bakalan sespesial itu. Jadi, biarlah kita tetap seperti itu."
Naya tak berani menatap mata pemuda itu, akhirnya hanya menjawab dengan kata sederhana, "iya." Lalu, kakinya memilih pergi meninggalkan Renaldi.
Naya melewati pantry dengan cepat, air matanya telah menumpuk banyak di pelupuk. Dan sesampainya di kamar mandi, butiran itu pun terjatuh dengan sendirinya. Ternyata, cinta pertama yang terbalaskan sakitnya separah itu.
***
"Quaerarirerina, Hilfa."
Itu adalah mantra pencari yang tertulis di buku sihir milik Jatiya. Dengan bibir yang masih belum terbiasa mengecap kata-kata aneh, Ulfa membacanya terbata-bata.
Sekarang, adalah pertama kalinya ia mempraktekkan sebuah mantra. Dengan menyiapkan sebuah hal yang berhubungan dengan adiknya, ia memilih baju favorit milik Hilfa sebagai penghubung. Ia juga menyalakan lilin sebagai pelengkap mantra.
"Jatiya. Gimana kalau tandanya kita berhasil menemukan orang yang kita cari?" ujarnya pada diri sendiri sebenarnya. Karena, tak ada orang lain di kamarnya. Tapi Jatiya masih ada di dalam tubuhnya.
"Ketika lilin itu terbakar habis, kamu akan mendapatkan sebuah pertanda," balas Jatiya berbisik di pikirannya.
Setelah beberapa saat menunggu, dan kesal karena lilin yang belum juga meleleh, Ulfa merasa gemas, "emang harus nunggu lama gini, ya?"
Ulfa mengerutkan dahi, mungkin mantranya gagal karena barusan ia kurang fokus dengan kata-kata yang aneh dan sulit diucapkan. Sehingga tak bisa memalingkan matanya dari buku itu.
Akhirnya, ia memutuskan untuk menghafal mantra pendek itu dan berlatih sampai fasih melafalkannya. Hingga setelah beberapa menit, dan puluhan kali pengucapan, ia pun siap untuk mencoba kembali.
Ulfa memejamkan mata, dengan hati yang masih harap cemas, ia kembali mengucapkan, "Quaerarirarina, Hilfa."
Tiba-tiba, lilin dihadapannya meleleh dalam sekejap, dan membentuk sebuah tanda di lantai kayunya. Ia senang karena mungkin mantranya berhasil, meskipun tak tahu apa arti dari tanda yang dihasilkan lelehan lilin itu.
"Jatiya. Aku berhasil?"
"Ya. Kamu berhasil. Tapi, tanda yang dihasilkan lilin itu berbentuk huruf X. Itu pertanda buruk, ada kemungkinan besar orang yang dicari telah meninggal dunia."
Penjelasan Jatiya membuat Ulfa tersentak, kebahagiaan karena berhasil menguasai mantra pertama, berubah menjadi kesedihan yang siap melahapnya.
__ADS_1
"Tunggu. Gak mungkin, kamu bilang kemungkinan besar kan, tandanya belum tentu. Ada kemungkinan Hilfa masih hidup, kan?" Ia mulai panik, dan merasa ingin menangis.
"Mungkin saja, tapi sangat kecil. Dan jikalau ia hidup, berarti ada kemungkinan lebih buruk lagi. Bisa jadi, ia telah dikuasai oleh sihir jahat!" Terang Jatiya tak membuat suasana hati Ulfa lebih baik.
***
Makan malam telah tersaji mewah di meja makan. Silvia dengan segera memanggil anaknya yang akhir-akhir ini lebih sering mengunci diri di kamar.
Annisa bersedia untuk meninggalkan ranjangnya, ketika ibunya memberitahu bahwa ayahnya tak akan makan malam di rumah bersama mereka.
Dengan duduk manis, mereka berdua menyantap makanan dengan tenang, karena tak ada orang yang membuat risih. Kebetulan, Aji ada urursan pekerjaan di kota tetangga. Maklum, perusahaanya kan berada di sana.
"Ujian kamu udah beres hari ini, kan?" Silvia memulai perbincangan.
"Iya Ma," jawab Annisa sambil mengangguk.
Dan, tiba-tiba pintu apartemen mereka ada yang membuka. Langkah kaki terdengar menggema yang ternyata ditimbulkan dari sepatu Aji yang baru saja masuk.
Mendadak, selera makan dua perempuan itu hilang. Bahkan, Annisa dengan sengaja membanting sendok dengan keras sehingga berbunyi nyaring mengenai piringnya. Ia berniat meninggalkan suasana yang mulai tak menyenangkan ini.
Namun, ibunya mengedipkan mata padanya, mengisyaratinya untuk tak bersikap seperti itu.
"Sayang. Lihat, papa bawa apa buat kamu?" Dengan penuh semangat, Aji mengangkat beberapa paperbag yang berada di tangannya, menunjukkannya pada Annisa.
"Sayang. Urusan kerja kamu udah selesai?" tanya Silvia pada suaminya.
Sedangkan Annisa masih bergeming, menahan kekesalan dengan mengepal tangan yang ia sembunyikan di bawah meja.
"Ayolah, sayang. Mau sampai kapan kamu bersikap seperti ini?" ujar Aji yang melihat wajah putrinya sedang memendam amarah. Ia langsung menurunkan belanjaan dari tangannya ke atas meja.
Annisa berdiri, dengan segera ia menyentuh paperbag itu, dan mengintip apa isi di dalamnya. Setelah itu, dengan santainya ia berkata, "aku gak suka semua ini. Apalagi kalau di beli pakai uang papa."
"Maksud kamu apa?" nada bicara Aji berubah dingin.
__ADS_1
"Ayolah. papa tahu sendiri, maksud aku apa." Akhir kata dari Annisa, dan langsung bergegas kembali ke kamarnya. Pikirnya, lebih baik berkutat dengan sosial media milinya, daripada meladeni kenyataan pahit dari ayahnya.
Aji menggeram, ia mengepalkan tangan dan menggertakkan rahangnya karena kesal. Putrinya benar-benar telah terlalu jauh. Dan, seseorang yang paling pantas disalahkan disini adalah Silvia, istrinya yang telah memengaruhi putri mereka untuk membencinya. Itu menurutnya.