
"Kok ngelamun? Lagi sedih ya?" Ujar Ikbal langsung mengambil posisi duduk di samping Annisa.
Gadis itu hanya membalas dengan senyum hambar, sebagai bentuk keramah-tamahan.
Ikbal pun ikut diam. Memberikan waktu untuk Annisa siap menumpahkan segala hal yang mengganjal hatinya. Ia tak ingin terkesan memaksa dan membuat gadis itu kian merasa rumit.
***
Di tempat lain, ada Naya yang dengan mata sembabnya bersimpuh di samping makam sang ayah--Sahrul. Ia menceritakan rasa sakitnya yang luar biasa, karena tak dapat berbuat apa-apa ketika melihat penjahat yang membuat ayahnya terpuruk semasa hidup hingga meninggal, kini berkeliaran menghirup udara segar, dan bebas dari hukuman yang seharusnya sangat berat.
"Hai, Nay!"
Suara familiar terdengar sedikit lembut di telinganya, membuat Naya membalik wajah untuk melihat si penyapa.
Ekspresi wajah Naya terlihat sedikit malas, ketika mendapati Intan sedang tersenyum manis di hadapannya. Ketika ia bersedih, haruskah gadis di depannya itu tersenyum seperti orang yang menertawakan kegundahannya?
"Kalau cuma mau ngajak ribut, gue gak ada waktu," tolak Naya prasangka buruk, sebelum mengetahui niat Intan sebenarnya yang tiba-tiba menyapanya. Biasanya, Intan hanya akan membuat harinya makin memburuk.
Dengan segera, Intan menepis pikiran buruk Naya dengan ikut duduk berdampingan. Tanpa di sangka, ia mengusap punggung gadis yang sedang menangis di sampingnya itu.
Sikap baik Intan tentu membuat Naya terheran, bahkan ia berpikir jika Intan memiliki kepribadian ganda.
"Gue gak kenal sama ayah lo, tapi gue yakin dia orang baik," lanjut Intan berhasil memancing atensi Naya.
"Jangankan lo, gue sebagai anaknya pun gak mengenal dia. Dan lo benar, dia memang orang yang sangat baik," balas Naya berusaha tersenyum ketika membicarakan laki-laki yang sangat ia dambakan ada dalam kehidupannya.
"Mata lo sembab banget, lo nangis berapa lama?"
"Bukannya lo senang kalau gue sedih?" celetuk Naya asal menjawab.
"Kita sama-sama telah kehilangan orang yang kita sayangi. Gue baru aja ziarah ke makam kakak gue. Kita senasib dalam hal ini, gak mungkin juga kali gue bahagia melihat lo nangis di makam kayak gini," cerocos Intan.
Naya hanya menedikkan bahu. Masih merasa aneh karena melihat sikap Intan yang berubah seratus delapan puluh derajat.
"Nanti kalau lo udah gak sedih, kita musuhan lagi, oke?" lanjut Intan berusaha menghibur Naya.
__ADS_1
***
Setelah beberapa menit terdiam, Annisa tiba-tiba angkat suara. "Lo tahu gak sih, rasanya ketika semua hal yang telah dilakukan untuk berubah menjadi lebih baik, tiba-tiba terasa sia-sia?"
Ikbal menelan ludah, mencoba menerawang pikiran Annisa, "di dunia ini gak ada yang sia-sia. Kecuali waktu yang digunakan buat hal gak berguna."
Annisa membuang napas panjang, tersenyum mendengar kata-kata pemuda di sampingnya sedikit lucu. Seingatnya baru beberapa hari lalu Ikbal masih bertingkah seenaknya, kekanakan, dan mudah tersulut emosi. Namun, pemuda itu kini bersikap seolah orang dewasa, "nyolong kata-kata darimana, tuh?" guraunya berusaha menghilangkan kesedihan.
Ikbal terkekeh, "nah gitu dong senyum. Jangan cemberut mulu, apalagi nangis."
"Siapa yang nangis? Sok tahu!" kilah Annisa yang memang berusaha menyembunyikan air matanya dari berpuluh-puluh menit yang lalu, sebelum Ikbal datang menyapanya.
"Mata lo enggak bisa bohong!"
Annisa merogoh ponsel dari kantong jins-nya, mencoba mengecek wajahnya di layar yang mati, berfokus pada bagian mata. Separah itukah tangisannya tadi? Hingga setelah setengah jam masih terlihat bekasnya. Namun, ia melihat matanya baik-baik saja, tak menyiratkan habis menangis.
Ikbal menahan senyum, "yang biasa bohong kan bibir, bukan mata!"
Rasa sedih yang berada di hatinya seolah pergi, Annisa akhirnya terkekeh dengan candaan garing pemuda itu.
***
Renaldi masih mengendarai motornya, bergegas kembali ke tempat kerja untuk mengambil pesanan pizza yang siap diantar. Namun, perhatiannya teralih pada dua gadis yang sedang berkabung di salah satu makam.
Ia menghampiri dan langsung ikut terduduk. Namun, tak berselang oleh detik panjang, tiba-tiba turun hujan yang melebat sekaligus.
Dengan sigap, Renaldi meraih pergelangan tangan Intan dan membawanya ke dalam mobil mewah milik gadis itu, meninggalkan Naya yang tertinggal di belakang, karena kesulitan membuka payung yang sengaja dibawanya untuk berjaga-jaga.
Melihat pemandangan itu, Naya pun berpikir. Sepertinya, hari ini adalah hari sialnya. Mengetahui keadilan yang tak berpihak, alam pun kini tak bersahabat. Hujan kali ini membuat hatinya makin sakit, melihat Renaldi yang dengan jelas tak memedulikannya jika dihadapkan pilihan dengan Intan. Ia akan selalu menjadi pilihan kedua.
Naya berjalan dengan cepat, berusaha tak memedulikan Renaldi yang masih asyik berbincang dengan Intan melalui kaca mobil. Di bawah hujan, ia berharap, "tolonglah Tuhan, jika Engkau tak mengubah perasaan pemuda itu terhadapku, buatlah perasaanku berubah untuknya," batinnya sambil menahan tangis.
"Nay. Ayo naik motor, gue antar dulu lo pulang sebelum balik kerja!" teriak Renaldi dari balik helm, setelah menyelesaikan urusannya dengan Intan.
"Gak usah. Lo balik kerja aja langsung, nanti bos lo marah lagi," tolak Naya sedingin cuaca hujan saat itu.
__ADS_1
"Ya udah. Kalau gitu, gue balik ke tempat kerja dulu, ya?!"
Entah mengapa, hatinya kian terkikis makin dalam, jawaban Renaldi yang seolah acuh tak acuh padanya itu membuat Naya berpikir, "coba kalau Intan, pasti dibujuk atau dipaksa kalau perlu. Sayangnya, ini cuma gue!"
***
Di tempat lain, Ikbal memutuskan untuk mengantar pulang Annisa sebelum hujan turun, meskipun basah kuyub juga akhirnya, karena hujan terlanjur mengguyur kota, menjegal mereka saat di perjalanan.
Annisa membuka pintu apartemen dengan malas, karena disambut Aji yang sedang menonton televisi.
Melihat putrinya yang menggigil, dengan cekatan Aji mengambilkan handuk dan memberikannya pada Annisa.
Tak menampik, Annisa yang memang sedang membutuhkan handuk, terpaksa mengambilnya dengan kasar, menggagalkan niat ayahnya, yang semula akan membantunya mengeringkan diri.
Setelahnya, gadis itu masuk ke kamar dengan acuh, dan membersihkan diri. Bersiap untuk tidur, berharap semoga mendapat mimpi indah, dan terhindar dari buruknya kenyataan.
***
Hari telah berganti menjadi malam. Ulfa yang masih terbingung dengan dirinya sendiri mulai mencoba untuk memahami.
"Jatiya. Apakah kamu di sini?" Dalam kamarnya, ia berbicara sendiri.
"Iya," suara wanita renta tiba-tiba terdengar memenuhi kepalanya. Atau tepatnya, memang arwah itu berbicara dari dalam diri Ulfa.
Tak dipungkiri, bulu kuduk Ulfa sedikit berdiri. Ia menagkap sebuah kejanggalan, suara wanita tua itu mengingatkannya pada suara Iswanti ketika kesurupan beberapa kali.
"Jangan heran. Memang aku yang merasuki sahabatmu waktu itu, bermaksud mengingatkanmu untuk bersiap-siap. Namun, sahabatmu sangat kuat, jadi sebelum aku menyampaikan niatku, dia telah mengusirku dari tubuhnya."
Satu kebingungannya mulai terjawab. Kini, ada hal dibenaknya yang sangat ingin Ulfa lakukan.
"Jatiya. Apakah dengan sihir, kita dapat melakukan apapun?"
"Tidak semua hal, terlebih bagimu. Kamu harus ingat, jangan sampai menggunakan kekuatan untuk hal yang salah!"
"Aku mengerti untuk hal satu itu. Aku hanya ingin bertanya, adakah mantra untuk mencari orang yang hilang? Aku ingin mencari Hilfa," tanya Ulfa sedikit lirih.
__ADS_1
"Tentu ada. Kamu lihat saja di buku keramat itu. Nanti kamu akan tahu, apa yang kamu butuhkan untuk melakukan mantra itu. Kamu ingat, tak semua mantra mudah dan ringan, kadang kamu harus mengorbankan sesuatu untuk melakukannya. Intinya, kamu jangan menganggap remeh menjadi seorang penyihir."