ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Penyamaran


__ADS_3

Annisa dan Ikbal memantau bangunan berlantai dua cukup besar di depan sana dari balik sebuah pohon yang rindang.


"Lo siap?" tanya Ikbal pada Annisa yang dari tadi nampak ragu-ragu. Bahkan saking ragunya, gadis itu memintanya untuk turut bersembunyi di pohon besar ini. Padahal, tak ada yang perlu ditakuti di depan sana. Rumah itu berisi orang-orang asing yang tak dikenal mereka berdua.


Annisa menganggukan kepala setelah memantapkan niat. Sekarang, ia mengeluarkan kacamata beserta masker dari saku sweaternya.


"Lo emang setakut itu, ya?" tanya Ikbal dengan becanda.


Annisa mengerlingkan mata. "Kalau mau nyamar, gue harus melakukannya dengan maksimal, dong!" jelasnya. Ia dan Ikbal telah mempersiapkan penyamaran yang cukup meyakinkan. Mereka mengenakan baju dan celana lusuh, bahkan terkesan compang-camping agar dapat diterima di rumah singgah remaja dan anak-anak terlantar itu.


Ikbal hanya menganggukan kepala. Tak akan mengomentari lebih jauh sikap berlebihan Annisa kali ini. Bahkan anehnya, ia terhibur dengan sikap gadis itu.


"Ayo!" Setelah memastikan penyamarannya sempurna, Annisa pun memimpin jalan di depan. Kontradiksi dengan tak lama tadi, saat gadis itu paranoid akan hal yang belum tentu terjadi. Saat ia takut ada orang yang mengenalinya.


Ikbal mengikuti Annisa dari belakang dengan langkah santai. Dirinya harus bersikap biasa saja dan tak mencolok, agar tak dicurigai oleh orang-orang.


"Kalian siapa?" tanya seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu halaman cukup luas dari bangungan tersebut.


"Aku Rama, dan ini Olivia," jawab Ikbal tak memberitahukan nama asli mereka berdua.


"Ada urusan apa kalian kemari?" tanya wanita bernama Sarah itu sekali lagi.


"Bukannya ini tempat penampungan remaja yang gak terlantar, bu?" jawab Ikbal dengan pertanyaan pula.


Sarah mengangguk, dan masih menatap kedua orang asing itu dengan penuh selidik.


"Kami kerampokan, semua barang dan uang kami raib. Dan sekarang kami sangat membutuhkan makanan. Sudah dua hari kami luntang-lantung di jalanan. Bisakah kami menumpang di rumah ini untuk sehari dua hari? Hanya untuk menentukan langkah apa yang selanjutnya akan kami ambil. Kami juga sangat kelelahan dan membutuhkan tempat istirahat." jelas Ikbal sangat lancar mengatakan alasan bohong yang sudah dilatihnya tersebut.


Sarah pun mengangguk paham. "Baiklah! Kalian boleh tinggal disini semau kalian. Memang itulah gunanya tempat ini."


"Terima kasih, bu!"

__ADS_1


"Tapi, kalian berkata jujur, kan? Gak berbohong sama sekali?" tanya Sarah yang mencoba berhati-hati. Sebagai pengurus rumah singgah ini, ia tak ingin ada penyusup yang mengancam para penghuninya.


"Tentu saja, bu. Ibu bisa menggeledah saku-saku di pakaian kami jika perlu. Karena memang gak ada hal mencurigakan apapun," tutur Ikbal.


Sarah memercayai perkataan pemuda di hadapannya. Namun, yang membuatnya penasaran adalah gadis yang dari tadi terus diam dan menundukan kepala. Ia seperti mengenali bentuk wajah dan mata dari gadis itu.


"Kamu! Buka maskermu!" suruh Sarah pada Annisa.


Annisa dengan segera menggelengkan kepala. Ia takut, jika dirinya membuka mata, wanita di depannya akan mengenalinya sebagai anak dari Aji Atmaja. Secara, ayahnya adalah atasan dari wanita itu. Pastilah wanita itu sedikitnya mengetahui seluk beluk keluarganya.


"Aku sedang batuk pilek, bu!" kilah Annisa sambil mengeluarkan bunyi bersin palsu.


"Gak apa-apa. Aku cuma ingin mengenali wajahmu," sahut Sarah yang kekeh dengan instingnya.


Annisa kembali menggelengkan kepala sambil menunduk.


"Bu, maaf! Temanku ini gak bisa dipaksa. Dia, punya masalah kepercayaan diri, dan sedikit antisosial," ujar Ikbal berusaha menyelamatkan Annisa.


"Maksudmu?" tanya Sarah sambil mengernyit heran.


"Oh, maaf kalau begitu! Baiklah. Sebaiknya, kalian masuk sekarang. Berkenalan dan bertemanlah dengan anak-anak yang lain. Dan, makanan yang kalian inginkan, dapat diambil dari meja makan. Juga, nanti akan ada yang mengantar kalian ke kamar masing-masing, ya! Istirahatlah yang cukup." Sarah pun percaya dengan kebohongan Ikbal secara mentah-mentah. Ia bahkan dapat dengan langsung melupakan kecurigaannya pada Annisa.


"Sekali lagi, terima kasih, bu! Kami sangat menghargai kebaikan ibu ini." Ikbal pun merangkul tubuh Annisa, dan mengajak gadis itu untuk masuk ke dalam rumah singgah tersebut.


Annisa masih mengerlingkan matanya tak percaya. Ternyata, Ikbal begitu lihai dalam berbohong. "Makasih buat bantuannya. Tapi serius, gue si bibir sumbing?" bisiknya tepat di telinga Ikbal.


Ikbal tertawa kikuk, "maaf, Nis! Tapi yang penting, kita berhasil masuk sekarang."


***


"Intan, mana kakakmu?" tanya Cantika pada Intan yang akhir-akhir ini sering melamun.

__ADS_1


Intan terperangah, dan kembali ke dunia nyata. Lamunan panjangnya berakhir saat suara orang yang baru saja direnungkannya menyapa dengan begitu lembut.


"Dia sudah mati, mama lupa itu?" jawab Intan dengan menatap ibunya datar.


Cantika memgernyit. "Maksud mama bukan Rahma, tapi Ikbal. Kenapa dia belum pulang? Sebentar lagi malam. Kalau ayahmu sampai tahu, pasti Ikbal kena marah lagi nanti."


Intan membuang napasnya secara kasar. "Mungkin Ikbal udah lelah sama semuanya, ma. Maksudku, siapa yang akan betah tinggal di rumah penuh kegilaan ini?"


Cantika menyadari keketusan dari ucapan putrinya pasti disebabkan oleh suasana hati yang sedang sangat buruk. "Kamu lagi ada masalah apa, sayang?" tanyanya yang mulai ikut bersandar di kursi bersebelahan dengan putrinya.


"Mama lah masalahku. Selama ini selalu mama!" jelas Intan makin membuat Cantika bertanya-tanya.


"Maksudmu?" Mimik wajah Cantika nampak berubah. Tak ada lagi air muka yang terlihat berseri penuh kasih sayang, melainkan hanya ada wajah yang terterkuk karena mendengarkan perkataan mengejutkan putrinya barusan.


"Jangan bohong lagi sama aku, ma! Aku tahu, mama selingkuh sama pekerja kebun itu," tegas Intan. Selama beberapa hari, hal itu menjadi ganjalan di hati dan kepalanya. Dan sekarang, dirinya merasa sedikit lega karena telah menyuarakan hal tersebut.


"Ingat batasanmu, Intan!" kilah Cantika masih berusaha membela diri.


"Batasan apa yang mama maksud? Jangan memerintahku, jika mama sendiri telah banyak melewati batasan yang sangat fatal. Katakan padaku, ma! Apa kurangnya papa sampai mama mengkhianati dia?"


"Berhenti!" cetus Cantika yang sekarang mengepalkan tangannya menahan emosi.


"Aku gak akan berhenti! Apa yang mama temukan dari pria miskin itu? Apa dia berhasil memuaskan mama?" cerocos Intan yang sedikit keterlaluan.


"Kurang ajar!" Bersamaan dengan kalimat itu, Cantika juga menampar pipi putrinya sangat keras.


Wajah Intan sampai berpaling akibat pukulan ganas dari tangan ibunya.


Intan menahan rasa sakit yang menjalar di pipinya menggunakan sentuhan tangannya sendiri. Di sebalik rambut panjang yang menutupi wajahnya, gadis itu mulai menjatuhkan butir-butir air dari kelopak matanya.


"Aku salah menilaimu! Aku kira, kamu bisa menjadi seperti Rahma yang baik dan penurut. Tapi ternyata, kamu hanyalah anak gak berguna yang selalu membuat masalah dan kegaduhan," papar Cantika penuh emosi. Segera, ia berdiri dari duduknya, karena sudah muak dengan kelakuan Intan.

__ADS_1


Intan menggigit bibir bawahnya. Ia juga merasakan kemarahan luar biasa dalam dirinya. Ia meradang, karena tak terima ayah terbaiknya dikhianati oleh ibunya sendiri.


"Aku emang bukan Rahma, ma! Dan aku bersyukur dengan hal itu. Kalau enggak, mungkin aku udah mati mengenaskan sekarang!" pungkas Intan mengiringi langkah ibunya yang pergi menjauh.


__ADS_2