ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Kemana Anak-anak Itu Pergi?


__ADS_3

Agaknya lngit masih bersedih.Gumpalan awan hitam menyelimuti seluruh kota, dengan tak henti-henti menurunkan air mata yang kian menderas.


Jam pelajaran telah usai, semua warga sekolah sudah pulang ke rumahnya masing-masing.


Beruntung, semua siswa-siswi selalu sedia jas atau payung sebelum hujan. Kecuali Renaldi, yang selalu menebeng payung Naya. Bukan tak ada atau tak punya, Renaldi selalu meninggalkan jas hujannya di bawah jok motornya untuk bekerja. Ia tak mau ribet, membuka tutup joknya.


"Iswanti kenapa, ya? Udah dua kali kejadian kayak gitu," tanya Renaldi memulai pembicaraan di tengah hujan, tentang kejadian heboh tadi pagi di sekolah.


"Gue juga gak tahu. Tapi yang gak kalah aneh, Ulfa bilang, Iswanti bisikin sesuatu sama dia waktu kerasukan. Nyuruh buat siap-siap karena akan ada yang datang," jawab Naya tak mengerti dengan ucapannya sendiri.


"Kashian Ulfa. Setiap Iswanti kerasukan, dia mulu yang jadi korban ketakutan," kekeh Renaldi.


"Lo kasihan, tapi malah ketawa. Jahat!" dengus Naya kesal.


Mereka berjalan perlahan namun pasti, ditemani cuaca dingin yang meraba kulit.


"Hey, de! Jangan hujan-hujanan, nanti sakit loh," ujar Naya perhatian, ketika melihat seorang anak perempuan yang sedang berlarian di tengah hujan. "Pulang ya, nanti Mama nyariin!" lanjutnya, lalu kembali berjalan meninggalkan anak kecil itu sendiri.


"Wah. Gue gak tahu, kalau lo punya sifat lembut kayak gitu. Gue kira sifat lo keras," pujian sekaligus ejekan Renaldi sambil tertawa.


Naya memukul pelan lengan pemuda itu. "Sekeras-kerasnya cewek, pasti punya sisi lembutnya sendiri!"


Setelah beberapa saat, Renaldi menatap ke belakang, memastikan si anak telah pulang atau masih bermain air hujan.


"Wah, anaknya langsung nurut, dia udah langsung pulang aja tuh!"


Naya menoleh ke belakang. Benar saja, anak itu telah hilang dari tempatnya bermain hujan tadi. "Semua anak-anak pasti tahu kalau gue tulus. Makannya langsung nurut. Lihat aja nanti kalau gue punya anak, anak gue bakalan jadi anak terbaik, paling penurut!"


"Udah jauh aja pikiran lo. Emang udah ada calon?" ujar Renaldi sambil terkekeh.


"Gue maunya lo!" batin Naya menghelas.


"Gue tahu. Si Faisal! Tunggu, kalau lo punya anak, semoga sifatnya gak nurun dari ayahnya!" tutur Renaldi makin terbahak sendirian.


"Ngeselin banget, sih. Lo tau kan gue sebel banget sama dia. Amit-amit, bisa-bisa anak gue pikirannya jorok kayak dia nanti!" racau Naya heboh sendiri. Merasa geli. "Amit-amit pokoknya," lanjutnya tanpa sadar masih membayangkan bagaimana jika hal yang Renaldi sebutkan terjadi.


"Ria?! Ria?!"


Seorang wanita memakai payung hitam berteriak memanggil nama itu. Beberapa meter di belakang Naya dan Renaldi.


"Ada apa bu?" tanya Naya dan Renaldi yang memutar balik kakinya, menghampiri wanita dengan wajah khawatir itu.


"Tadi saya ketiduran sambil nonton TV sama anak saya. Tapi, pas saya bangun, anak saya tiba-tiba gak ada. Saya cari sekeliling rumah, tetap gak ada. Mungkin dia keluar, main hujan," jelasnya terdengar ngos-ngosan.


"Ria! Ria!" teriaknya semakin kencang.


"Ada apa bu?" para tetangga membuka pintu. Bergantian bertanya, penasaran apa yang sedang terjadi.


"Bu. Lihat anak saya?"


"Bu. Ada Ria di rumah ibu?"

__ADS_1


"Anak saya main sama anak ibu?"


Berulang kali wanita itu bertanya pada para tetangga. Namun mendapatkan jawaban sama terus-menerus. Tak ada yang melihat putrinya yang berumur enam tahun itu.


Renaldi dan Naya sedikit tercengang. Teringat bahwa mereka bertemu anak kecil tak lama tadi. "Ciri-ciri anak ibu gimana?"


"Anak itukah yang wanita ini cari?" tanya mereka dalam hati, setelah wanita itu menjabarkan beberapa detil anak kecil yang sedang menghilang.


Masih merasa belum yakin, Renaldi akhirnya meminta foto anak wanita itu.


"Ya, akan ini! Belum lama, kami melihat dia bermain air hujan disini. Lalu, kami menyuruhnya pulang. Kami kira dia langsung pulang, karena dia langsung menghilang ketika kami menoleh," jelas Naya membuat wanita itu bertambah panik.


"Enggak. Dia enggak pulang! Ya Tuhan, Ria kemana kamu?" lirih wanita itu meneteskan air mata.


Seketika, para tetangga mengira, bahwa anak kecil itu telah menghilang secara tak wajar. Sama seperti kejadian yang marak akhir-akhir ini.


***


Annisa memasuki elevator yang terbuka. Hendak menuju apartemennya.


Ia berpapasan dengan lelaki dewasa yang menggendong balita keluar dari lift itu. Bahkan sempat saling melempar senyum.


Ia mengenali balita yang sedang tertidur pulas di pangkuan. Namanya Desi, tetangganya. Namun, selama tinggal di sini, baru sekali dirinya bertemu dengan pria berbadan gagah itu.


"Oh. Jadi itu ayahnya Desi," pikirnya. Mengira pria besar itu adalah ayah kandung Desi yang mungkin jarang pulang ke apartemennya. Sehingga mereka tak pernah berpapasan wajah.


Sesampainya di lantai lima, ada keributan terjadi di sepanjang koridor. Yuli, ibunya Desi menangis sejadi-jadinya. Sedangkan, seluruh tetangga berusaha menenangkan.


"Desi. Dia hilang!" jawab Silvia membuat putrinya terheran.


"Hilang? Aku baru lihat dia kok, barusan. Sama ayahnya," jelas Annisa.


"Kamu jangan bercanda. Ayahnya Desi udah meninggal!" lanjut Silvia dengan berbisik, akhirnya membuat Annisa terhenyak kaget.


Annisa langsung berlari menuju elevator. Dengan cepat memencet tombol bertuliskan lobby. Berusaha kembali ke lantai dasar, karena meyakini yang ditemuinya tadi adalah Desi. Tapi dengan siapa?


Dada Annisa berdegup kencang. Merasa panik.


Telah sampai di lantai dasar, pria tinggi besar itu sudah tak ada. Bahkan sampai dicari keluar gedung dengan sedikit berhujan-hujanan, hasilnya pun sama.


Terlambat!


Desi sepertinya sudah menjadi korban penculikan selanjutnya.


***


Ulfa membaringkan tubuhnya di ranjang, ketika berhasil menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Ia tak ingin diganggu. Hari ini sudah cukup melelahkan, dengan teror Iswanti yang telah kedua kalinya berhasil membuatnya ketakutan.


Namun, seseorang menggebrak pintu kamarnya dengan keras. Membuat matanya yang hendak terlelap kembali terbelalak. Rasa kesal dan marah kini timbul, di lemparkannya sebuah bantal empuk hingga mengenai wajah bocah yang membuatnya sebal itu.


Adiknya.

__ADS_1


"Kak. Aku lapar!" suara cempreng dari anak kecil lucu berusia tujuh tahun membuat telinga Ulfa sakit.


"Aduh, Hilfa. Kalau lapar, ya makan! Ngapain ganggu kakak?" dengus Ulfa pada adiknya, sambil menenggelamkan wajahnya di bantal.


"Gak ada makanan. Ibu gak masak, lagi gak enak badan!" jelas Hilfa dengan suara semakin nyaring.


Ulfa mengumpat dalam hati. Sungguh Malas. Ia hanya ingin melepaskan lelah dengan tidur siang. Sedikitnya dua jam. Maklum, selain makan, tidur adalah hal kesukaannya yang lain. Lihat saja hasilnya, tubuhnya sangat subur.


"Kak, cepetan!" paksa Hilfa dengan manyun.


"Ih. Jangan teriak-teriak, berisik. Katanya, ibu lagi gak enak badan!" tegur Ulfa sedikit berbisik ketika di dekat adiknya, disertai dengan cubitan.


Hilfa hampir menangis setelah tangannya sedikit memerah. Cubitan Ulfa meninggalkan tanda.


"Kalau nangis, gak bakalan kakak Masakin!"


Acaman itu berhasil, adiknya kembali tersenyum. Pura-pura.


Ulfa menuju dapur. Mengambil sebuah telur dari lemari pendingin. Menghidupkan kompor dengan wajan diatasnya yang sudah dilumuri minyak. Lalu memecahkan telur itu dengan ahli. Kalau doyan makan, harus juga jago masak!


Sedangkan, adiknya setia menunggu di depan televisi, menonton acara kartun kesukaannya.


Selama beberapa menit, telur goreng Ulfa akhirnya matang. Sudah ia tumpangkan di atas nasi hangat. Siap diantarkan pada orang yang sedang kelaparan di sana.


"Nih. Jadi!" teriak Ulfa dari dapur.


Ada yang aneh. Adiknya yang biasanya bersikap heboh, kali ini tak menyahut. Ia memeriksa ke ruangan tengah, tempat adiknya menonton. Namun, hilfa tak ada di sana.


"Hilfa. Kamu dimana? Itu makanan kamu udah jadi!"


Ulfa mencari di seluruh sudut rumah dengan meneriakan nama adiknya. Ia kira, Hilfa sedang mengerjainya sekarang. Namun setelah mencari beberapa menit, Hilfa memang tak ada.


"Ada apa, nak?" ujat Syifa, ibunya Ulfa yang dari tadi sedang istirahat. Akhirnya terbangun karena mendengar putri sulungnya berkali-kali berteriak.


"Hilfa gak ada, bu. Tadi aku tinggalin buat masak telur, dia masih nonton TV," jelas Ulfa sedikit khawatir.


"Hah? Kamu sudah mencari di seluruh rumah?" tanya Syifa dengan suara pelan, sedikit lemas.


Ulfa mengangguk mengiyakan.


"Ayo kita periksa di luar!" ajak Syifa pada putrinya. Tiba-tiba seperti melupakan rasa tidak enak badannya.


"Hilfa!"


Ibu dan anak itu berteriak bersahutan. Tak kunjung mendapatkan respons dari orang yang mereka coba temukan. Mereka telah menyusuri jalan setapak cukup jauh, ditemani cuaca dingin karena angin dan hujan yang masih turun. Dengan membawa payung masing-masing, mereka bahkan telah berpencar.


"Hey!" teriak seorang laki-laki yang keluar dari mobil dengan tergesa-gesa, tanpa memakai payung.


"Ayah. Hilfa hilang!" Ulfa menangis ketika pria itu mendekat.


"Feri. Bagaimana ini?" panik Syifa juga ikut menangis dan memeluk suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2