ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Penulis Misterius


__ADS_3

Salman berjalan memasuki ruang hening itu. Ia melihat ada beberapa orang di dalamnya. Jam istirahat begini, kebanyakan siswa-siswi akan jajan di kantin, bukan sepertinya yang harus membaca buku di perpustakaan demi persiapan remedial yang akan ia lewati dua hari lagi. Terima kasih pada nilai rapornya yang baru saja dibagikan seminggu lalu Karena banyak yang merah. Ia terancam tak naik kelas jika nilainya terus di bawah, mengulang lagi kelas 11 untuk satu tahun. Sungguh sebuah mimpi buruk.


Setelah mengambil beberapa buku paket dari sudut-sudut rak yang berbeda, ia lantas menjatuhkannya ketika sampai di salah satu meja. Kali ini, ia akan belajar dengan sungguh-sungguh, semangatnya membara karena terpaksa. Ia pun mulai membaca halaman demi halaman dari buku Sejarah terlebuh dahulu.


"Hai!" Iswanti langsung duduk di dekat Salman tanpa permisi. Pria itu langsung menatapnya sedikit bingung.


Salman mengira jika Iswanti masih marah padanya.


Hanya sebatas sapaan saja, mereka berdua dihadapkan pada situasi yang sangat canggung. Salman yang biasanya curcol, kali ini tak menampakkan sikapnya. Karena, ia sedang berusaha untuk serius.


Sedangkan Iswanti seperti biasa, selalu diam jika tak diajak berbicara terlebih dahulu.


Setelah beberapa menit, Salman merobohkan pertahanannya. Semua usahanya gagal ketika menyadari bahwa sekeras apapun ia mencoba, Iswanti yang biasanya mengisi pikirannya sejak penolakan itu, kini berada di depannya dan tampak baik-baik saja. Ia tak ingin membuang kesempatan untuk membuat keadaan di antara mereka menjadi lebih baik.


"Masih baca buku itu?" Tanya Salman ketika Iswanti terlihat masih membaca buku pemberiannya, yang berjudul "Misteri Kota Hitam".


Iswanti mengerjap kaget. Dari tadi, ia menunggu pemuda di depannya itu memulai percakapan, agar perasaannya lega, dan menandakan bahwa mereka berdua baik-baik saja. Ia pun menjawab ramah, "iya, gue baca buku ini untuk kedua kalinya, karena suka sama penyampaian penulisnya. Tulisannya kayak nyata banget, apalagi latar tempatnya pake kota ini. Jadi, imajinasi gue sinkron aja gitu. Makasih loh, udah mau minjemin gue buku ini."


"Gue udah bilang, itu buat lo. Lagipula gue gak ada waktu buat baca cerita fiksi kayak gitu, baca buku pelajaran aja ogah-ogahan. Dan lihat hasilnya, nilai gue hampir jeblok semua, terpaksa harus baca-baca buat bahan remedial." Cerocos Salman sambil terkekeh sambil menunjuk buku-buku di hadapannya. Berbeda dengan Iswanti yang menanggapi candaan Salman tersebut terlalu serius.


"Oh sorry, gue disini ganggu belajar lo, ya?"


Pria itu menaikkan sebelah alisnya, "kan gue yang ngajak lo ngobrol duluan." Ia kembali tertawa, membuat Iswanti hanya tersenyum bingung.


Kembali hening, dua insan manusia itu kembali berpura-pura tenggelam dalam urusan masing-masing. Karena dalam hati, keduanya saling menyembunyikan perasaan yang tak pasti.

__ADS_1


***


Semseter ini, Naya sedang sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti olimpiade matematika tingkat nasional. Tak ada waktu untuk berleha-leha, setiap hari ia niatkan waktunya hanya dihabiskan untuk belajar dan bekerja. Meski kenyataannya, akhir-akhir ini pikiranya terkacaukan oleh kehadiran ayah Annisa dan misteri kota yang belum usai.


Istirahat kali ini, ia berjalan ke arah belakang gedung sekolah. Sengaja ingin lebih berkonsentrasi dengan bukunya. Karena di dalam area sekolah, hanya ada kericuhan dan kegaduhan yang mengganggu telinga dan pikirannya.


Gadis itu erduduk di sebuah bangku kayu yang terpasung di bawah pohon rindang. Menikmati udara segar, keteduhan dan ketenangan, ia jamin pikirannya akan terfokus pada tujuan.


Namun, perkiraan Naya salah. Di jarak yang tak jauh, ia melihat pemuda yang seenaknya berteriak pada sebuah ponsel yang sedang di hadapkan ke mulut.


Hingga sesaat kemudian, tangan si pemuda terangkat untuk melemparkan benda tipis itu ke udara. Namun matanya teralih pada kecantikan Naya yang sedang terduduk. Hal tersebut membuatnya tersenyum kikuk dan salah tingkah.


Dengan pandangan yang tak terlepas mengikuti langkah Faisal yang kian mendekat, Naya tak membalas senyum dari pemuda yang kadang menyebalkan itu. Ia seolah membuat Faisal seperti orang gila, karena senyam-senyum sendiri.


Faisal malah mengerutkan dahi, mencoba untuk becanda, "siapa yang marah?" perkataan bodoh itu keluar dari mulutnya.


Naya bukan anak kecil yang dapat dibohongi. Ia dengan jelas melihat Faisal meledak-ledak barusan. Baru pertama kali Naya melihat pemuda itu lepas kendali. Karena biasanya Faisal selalu ceria dengan wajah tampan tapi bodoh yang lucu secara bersamaan.


Naya berusaha tak peduli. Namun tanpa sadar, mulutnya seperti terbuka sendiri untuk terus berbicara, "kenapa? Ayo cerita!" Ia mengerjapkan mata terkejut sambil membaca buku, tak sadar dirinya telah keceplosan.


Faisal tersenyum, dan antusias untuk bercerita pada gadis itu. Ia pun mengambil posisi duduk di samping Naya. Mungkin ini kali pertama mereka memiliki perbincangan tanpa melibatkan emosi dari Naya.


"Tadi gue telponan sama anak tiri mama gue. Gue greget banget sama perlakuannya ke mama gue, makanya sampe kebawa emosi," tutur Faisal dengan kehilangan senyuman saat mengakhiri kalimat.


Naya yang awalnya fokus membaca, akhirnya kehilangan konsentrasi. Perkataan Faisal kali ini sepertinya menarik, karena tak melibatkan hal jorok ataupun gombalan seperti biasanya. Alhasil, ia pun menutup buku, dan mulai memberi atensi penuh pada pemuda itu.

__ADS_1


***


Iswanti menggebrak meja, merasa kesal setelah selesai membaca buku itu untuk kedua kalinya. Spontan, semua orang yang ada di perpustakaan menatapnya aneh, dan menyuruhnya untuk diam dan tenang dengan menempelkan telunjuk pada bibir mereka masing-masing.


Salman yang didepannya bahkan sampai terlonjak kaget, dan terheran hingga memutuskan untuk bertanya, "kenapa?"


Gadis itu tersenyum kikuk. "Gue greget sama ending buku ini, gantung banget," tuturnya dengan berbisik.


"Gantung?" Salman menatap mata gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


Iswanti yang merasa aneh, berusaha untuk tetap bersikap normal.


"Iya. Kayak mau dibikin sequel gitu. Gue udah bilang kan, kejadian di dalam buku ini persis seperti yang kita alami akhir-akhir ini. Anak hilang, hutan, penculikan. Makanya gue nunggu lanjutannya. Tapi sampai sekarang, penulisnya belum juga lanjutin buku ini, padahal buku ini terbit tahun 1990, loh!" cerocos Iswanti.


"Gue sampai cari di internet mengenai kapan buku ini berlanjut, tapi gak ketemu. Bahkan anehnya penulisnya hilang kabar setelah buku ini terbit, gak ada satupun artikel tentang dia setelah itu," lanjut Iswanti makin serius.


Salman mengambil buku yang sedang dipegang Iswanti itu. Ia menelaah kover buku tersebut untuk sesaat, "Jatnika Wijayanti? Di kota kecil ini, gue belum pernah mendengar nama itu."


"Mungkin penulisnya bukan asli Alpenia," sela Iswanti dan mengambil kembali buku dari tangan Salman.


"Tapi lo bilang. Dia menggambarkan kota ini seperti nyata banget. Berarti, besar kemungkinan dia orang sini yang sudah tahu seluk-beluk kota." Salman mengeluarkan asumsinya. Mendadak, ia menjadi tertarik akan hal ini, karena kemungkinan bersangkutan dengan kasus yang sedang berusaha dipecahkan.


"Mungkin juga. Mungkin itu cuma nama penanya." Iswanti setuju dengan dugaan Salman.


Di tengah perbincangan yang mulai serius, mereka terhenti karena bel berbunyi, menandakan jam istirahat telah usai. Alhasil, mereka harus masuk ke kelas, "nanti kita lanjutkan!" Ujar Salman sambil berjalan beriringan dengan Iswanti.

__ADS_1


__ADS_2