ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Ketidakpercayaan


__ADS_3

Sandi sedikit tak mengerti dengan ucapan Naya barusan. Tapi keheranan tersebut segera menghilang saat gadis itu menjernihkan maksud dari perkataannya.


“Mungkin orang yang meminta lo buat menculik, ada hubungannya dengan penculikan akhir-akhir ini yang terjadi di kota. Ini bisa dijadikan jembatan buat menemukan anak-anak hilang itu," jelas Naya.


Sandi mencerna kata-kata Naya dengan baik, namun ekspresi wajahnya sedikit murung, “kalau dengan menjebak penculik aslinya, akan membantu lo, bagaimana hal itu dapat membantu gue? Lo tahu gue butuh banget uang, dan ..." Sandi menggantungkan ucapannya.


Naya mengerti keadaan pria di depannya itu. Tapi ia tak akan menyerah untuk meyakinkan Sandi agar tak menempuh jalan salah dalam menghadaapi segala persoalan. Karena pada akhirnya, hal salah tak akan dapat menjadi benar.


“Semua pasti akan ada jalannya. Lagipula, lo harus percaya jika seseorang melakukan hal baik, pasti kebaikan pula yang akan menjadi balasannya. Pun sebaliknya, kejahatan akan melahirkan kejahatan.”


Perkataan Naya membuat Sandi terdiam. Yang dikatakan gadis itu sangat benar, ia menyesal sempat mempertimbangkan pekerjaan kotor itu. “Oke, gue akan berpura-pura menyetujui pekerjaan dari orang gak dikenal itu.”


Naya tersenyum sumringah. “Kalau begitu, sekarang mending lo masuk kerja aja dulu, nanti pas jam istirahat kita bicarakan lagi mengenai rencananya. Lo juga butuh uang buat keluarga di rumah kan, bang?”


Sandi mengangguk, ia merasa sedikit tenang sekarang. Bahkan ia merasa senang karena Naya selalu berhasil mengarahkannya ke jalan yang benar. Bukan hanya sekali ini, dirinya seringkali mendapat wejangan dari gadis yang belum genap berusia tujuh belas tahun itu. Sungguh sebuah ironi, harusnya dirinya yang menjadi contoh yang baik, pasalnya ia lebih tua empat tahun dari Naya.


***


Intan menghubungi nomor Renaldi berkali-kali. Namun, pemuda itu tak kunjung menjawab panggilannya. Alhasil, dengan terpaksa dirinya mengunjungi rumah Renaldi. Ia merasa hal yang sedang berputar di pikirannya, harus segera di sampaikan.


Baru saja sampai di halaman depan rumah kayu tujuannya, Intan bukannya disambut oleh Renaldi, melainkan oleh orang yang menjadi pusat kekesalannya.


"Intan? Kamu main kesini? Tumben!" tanya Agung yang teralih perhatiannya saat hendak membuka pagar kayu rumahnya, setelah sebuah mobil berhenti di tepi jalan kecil depan rumahnya.


Indah menyilangkan tangan di depan perut. "Om disini rupanya. Bagaimana mamaku? Apa dia hebat dalam bercumbu?" sergap Intan tanpa basa-basi. Ia langsung menuduh pria yang dicurigainya di depan mata.


Ekspresi wajah Agung yang awalnya tersenyum ramah, sekarang berubah terlihat menegang. Ia terkejut, karena Intan mengetahui tindakannya dan Cantika tak lama tadi.

__ADS_1


Tak mendapat jawaban jelas, Intan akhirnya menyimpulkan sendiri jika kecurigaannya memanglah benar adanya. Ibunya memang telah mengkhianati ayahnya dengan cara yang kejam dan murahan.


"Aku gak nyangka om dapat berbuat serendah itu. Aku kira, anak om menjadi pemuda hebat, karena didikan dari om. Tapi sekarang, pandanganku sepenuhnya berubah." Intan menggelengkan kepalanya. Dan sekarang, rasa bencinya pada sang ibu justru mulai kembali muncul.


"Ayah udah pulang ternyata! Dari tadi, aku nyariin. Kemana aja? Dan Intan, lo kesini? Tumben! Nyariin gue?" Renaldi tiba-tiba hadir diantara ketegangan yang terjadi antara Intan dan Agung. Namun, ia memasang wajah ceria karena tak mengetahui apa yang sedng terjadi.


Kontras dengan ekspresi wajah Intan, yang kini datar. Bahkan, matanya mulai berkaca-kaca dengan kehadiran Renaldi.


"Ada apa, Tan? Lo nangis? Apa itu karena gue mngabaikan lo tadi?" berondong Renaldi mulai merasa cemas, makanya ia menyelipkan candaan di kalimatnya untuk menghibur Intan.


"Oh, plis. Jangan terlalu percaya diri jadi orang. Gue mau bilang sama sesuatu lo. Hari ini, gue baru aja mengetahui kalau orang tua kita, maksudnya ibu gue dan ayah lo, mereka melakukan itu!" Indah segera menghapus sebutir air mata yang lolos darì pelupuknya. Dan, kembali menjadi dirinya sendiri yang kuat dan tak ragu-ragu akan hal apapun.


"Melakukan apa?" Renaldi menaikan sebelah alisnya karena tak mengerti.


"Mereka punya hubungan gelap," tegas Intan.


"Ketika lo pergi dari perkebunan rumah gue, mereka baru selesai melakukan hal terlarang itu, di ruangan kerja bokap gue. Gue gak dapat membayangkan secara detail sejauh mana mereka melakukan pelanggaran itu." Intan terus menatap Agung dengan sinis, membuat lelaki paruh baya itu merasa terintimidasi, hingga terus menundukan kepala.


"Ayah gue orang baik. Kenapa lo bilang gitu? Padahal, gue selalu menyangka kalau lo gak sekejam ini sampai berani membuat fitnah, tapi sekarang gue benar-benar kecewa sama lo." Renaldi menggelengkan kepalanya, merasa tak terima jika ayahnya disudutkan.


Intan sedikit tertegun dengan jawaban Renaldi. Ia kira, jika pemuda itu akan memercayainya. Padahal, ia mengira sikap manis Renaldi selama ini, akan membuat pemuda itu membelanya.


Namun, Intan bukanlah gadis lemah yang meminta apalagi mengemis pembelaan. Ia akan tetap berdiri tegap dengan kakinya sendiri.


"Oke, kalau lo gak percaya. Mulai sekarang, jangan pernah ganggu gue lagi!" Intan merajuk, dan memilih untuk pergi dari tempat itu dengan perasaaannya yang sedikit terluka.


"Gak akan!" teriak Renaldi agar terdengar oleh Intan yang sudah sudah duduk di mobil merahnya. Bagi Renaldi, ayahnya lebih penting daripada mengejar cinta Intan yang sama sekali tak pasti.

__ADS_1


Namun, sebelum kendaraan itu melaju, Renaldi terus menatap Intan yang juga menatapnya dengan ekpresi wajah sulit dijelaskan. Ada amarah dan kesedihan yang ditunjukan dari wajah cantik itu.


"Tolong katakan kalau yang dikatakan Intan barusan gak benar, yah! Ayah gak mungkin kan tega merusak keluarga seseorang?" tanya Renaldi pada ayahnya yang masih menunduk.


Berbeda saat dikonforntasi oleh Intan tadi, kali ini Agung langsung mendongakkan kepalanya. "Gak. Teman kamu cuma salah sangka!" Sangkalnya dengan berbohong.


***


Salman yang sedang berbaring dan bersantai sambil membayangkan interaksinya dengan Iswanti tadi siang, tiba-tiba terperanjat saat mendengar suara klakson mobil ayahnya baru saja memasuki gerbang rumah.


Segera, ia mengambil buku "Misteri Kota Hitam" yang tergeletak di atas nakas. Dirinya meminjam buku itu dulu dari Iswanti, untuk mengonfirmasi pada ayahnya.


"Yah!" Salman berteriak sambil menuruni anak tangga. Baru kali ini dirinya sangat bersemangat menyambut kepulangan sang ayah, karena biasanya dirinya sedikit cuek.


Susi yang baru saja mengambil tas suaminya, lantas merasa terheran juga dengan kelakuan putranya tersebut. Ia meyakini, jika Salman sangat menyukai Iswanti. Buktinya, anaknya itu sampai sangat bersemangat dalam mencari kebenaran yang diinginkan oleh Iswanti.


"Kenapa teriak-teriak?" tanya Egi sama bingungnya.


"Ayah tahu tentang buku ini?" Salman berhenti tepat di jarak lima cm dari ayahnya dengan napas sedikit terengah. Ia mengangkat buku di tangannya ke hadapan wajah lelah ayahnya.


Egi mengerutkan dahi. Meskipun ia bukan tipe pria yang suka membaca dari dulu, tetapi dirinya merasa mengingat buku yang sedang nampak oleh matanya saat ini. Tapi, hanya sedikit.


"Ya! Ayah mendapatkan buku itu ketika seusiamu dulu. Lebih tepatnya, ayah menemukan buku itu di ..."


"Dimana?" tanya Salman penasaran dengan kalimat ayahnya yang menggantung.


"Hei, ini sedikit lucu. Ayah sama sekali lupa dimana tempat menemukannya. Mungkin karena faktor usia, ya?" Egi tertawa karena merasa konyol. Namun, ia merasa sedikit aneh, harusnya ada sedikit ingatan samar-samarnya tentang buku itu, bukan tak ada sama sekali. Seolah, otaknya dibuat lupa dengan hal-hal yang berkaitan dengan buku misterius tersebut.

__ADS_1


__ADS_2