
Sepulang sekolah, Salman mengajak Iswanti ke rumahnya. Mereka hendak bertanya pada ibunya yang mana merupakan pemilik buku yang telah Salman berikan pada Iswanti.
Sesampainya di rumah yang baru pertama kali dikunjungi, Iswanti merasa sangat senang karena mendapat perlakuan hangat dari ibunya Salman. Ternyata wanita bernama Susi itu adalah teman ibunya dahulu ketika mereka duduk di bangku SMA.
"Jangankan mengetahui tentang seluk-beluknya, mama bahkan tak ingat mempunyai buku ini," terang wanita bernama Susi itu pada putranya yang telah bertanya mengenai buku yang sama sekali tak ada dalam ingatannya.
"Masa sih, ma? padahal aku menemukan buku ini dari laci di kamar mama," balas Salman membuat mata ibunya melotot.
Susi terkejut mengetahui anaknya berani mengobrak-abrik isi lemari di kamarnya. "Kamu mencuri?" Ia menjewer kuping Salman gemas sambil menahan tawa, membuat Iswanti yang melihatnya ikut terkekeh geli.
"Iya maaf ma, itu kan waktu aku masih SD. Aku belum tahu yang benar dan salah," alibi Salman sambil meringis karena mendapati kupingnya panas ketika sang ibu melepaskan jemari dari daun telinganya.
"Kebiasaan nakal!" Susi mengalihkan perhatian pada Iswanti yang duduk di hadapannya, "kalau dia berbuat nakal, kamu lapor aja ke tante, ya! Apalagi kalau dia sampai selingkuh dari kamu, nanti akan tante beri pelajaran anak ini," ujarnya tanpa ragu.
Iswanti terhenyak. Maksudnya, ibu Salman ini menganggapnya sebagai pacar putranya? Ia pun hanya menatap Salman yang mengatupkan bibir dengan wajah jahilnya. "Aduh Salman, lo udah cerita hal apa aja sama nyokap lo?" Batinnya aneh, ada rasa sebal, tapi bercampur senang. Wajahnya kini merona karena merasa malu.
"Ma, kita kesini untuk menanyakan tentang buku ini, bukan untuk menggoda calon menantu Mama," Sahut Salman sambil menunjuk buku yang tergeletak di atas meja. Perkatannya kembali membuat Iswanti menelan ludah kasar.
Sebenarnya, apa tujuan Salman membawa Iswanti kesini? Untuk mendapatkan info tentang buku atau memang ada maksud terselubung lain? Pasalnya, ia merasa sedang di serang dari kedua belah pihak. Jatungnya kini berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Mama bilang gak tahu!" tegas Susi untuk kedua kalinya.
Dengan wajah yang masih merah, Iswanti memberanikan diri untuk menatap Salman, sebagai reaksi heran karena ibunya Salman tak mengetahui telah memiliki buku yang sudah berumur lebih dari tiga puluh tahun itu. Salman pun demikian.
"Kalau buku ini bukan punya mama, apa mungkin punya papa?" tanya Salman mendapati opsi lain hadir di pikirannya.
__ADS_1
"Mungkin. Tapi aneh, papa kamu mana pernah baca buku."
Salman menghela napas panjang, dan menghembuskannya dalam waktu beberapa detik. "Ya udah kalau mama benar-benar gak tahu, nanti biar aku tanya sama papa." Pungkas Salman sambil berdiri dan meninggalkan ruang tamu, lalu membuka pintu untuk ke luar. Nanti akan ia tanyakan pada ayahnya setelah pulang bekerja.
Iswanti hendak mengikuti, ia terlebih dahulu menyalimi tangan wanita di hadapannya.
"Tak ada sopan santun jadi anak! Lihat calon menantu mama, kalau mau pergi keluar, pamit dulu!" Teriak Susi sampai terdengar oleh putranya yang sudah berada di halaman depan rumah.
Iswanti termangu sekejap sampai akhirnya memberikan senyuman kikuk. Ia pun berlalu dan keluar hanya untuk kembali merasakan gejolak di hatinya ketika bertatapan dengan Salman.
***
Dengan langkah perlahan, Annisa berusaha untuk memasuki babak pertama dalam misi mencari kebenaran tentang ayahnya. Ia menyelusup masuk diam-diam pada ruang kerja pribadi sang ayah. Sekarang merupakan kesempatan bagus untuk diambil, karena ayahnya masih berada di Belisia sejak dua hari lalu.
Ketika di dalam ruangan, sekejap ia termangu ketika matanya mendapati banyak sekali foto dirinya yang terpajang hampir di seluruh dinding ruangan.
Berlanjut dalam misi, gadis itu mulai menyisir seluruh sudut ruangan. Lemari dan laci yang ada di sana ia buka satu-persatu. Setelah beberapa menit, tak ada hal yang berkaitan dengan penculikan itu. Ia pun berpikir, mana mungkin penjahat menyimpan barang bukti yang memberatkannya di tempat yang mudah terjamah. Itu merupakan hal yang bodoh.
Ia pun hendak keluar, tentunya setelah membereskan kekacauan dari dokumen-dokumen yang baru saja ia periksa satu persatu. Ketika hendak keluar, betapa terkejutnya ketika dirinya mendapati sang ayah yang hendak memegang daun pintu. Tubuh Annisa pun sedikit gemetar, alasan apa yang harus ia berikan?
Tiba-tiba, ia memeluk sang ayah cukup erat. "Aku mau minta maaf, sikap aku akhir-akhir ini keterlaluan, maaf pa." Terpaksa, dirinya berbuat hal itu.
Aji membalas pelukan putrinya dengan senyuman senang. Ia mengira bahwa putri kecilnya telah kembali, tanpa mengetahui bahwa itu adalah salah satu siasat Annisa untuk mencapai tujuannya.
***
__ADS_1
Sore ini, kafe tak ramai seperti biasanya. Sejak sejam lalu saat sif kerjanya dimulai, Naya merasa bosan karena hanya ada tiga orang pengunjung yang datang. Bosan itu bertambah karena ia lupa membawa buku pelajaran dan ponselnya. Pun Sandi, teman yang biasanya ia ajak bicara, sudah dua hari tak masuk kerja. Lengkaplah sudah.
Ketika melamun untuk mengusir rasa bosan, ia merasa senang ketika mendengar lonceng di depan pintu kafe berbunyi. Pertanda adanya pelanggan yang baru saja masuk. Naya pun berjalan menghampiri orang yang baru saja duduk dan mengisi sebuah meja. Dengan memasang ekspresi wajah ceria, ia siap untuk melayani segala kebutuhan dua pria cukup berumur itu.
"Mau pesan apa pak?" Senyum Naya luntur ketika mendapati orang itu adalah ayahnya Faisal--Hermawan, orang yang membuat kehidupannya dan ibunya susah, karena memberi bunga yang sangat besar pada uang kecil yang dipinjam ibunya di masa lalu.
Hermawan menatap gadis di depannya dengan remeh sekejap, sebelum akhirnya berpindah menatap teman yang dibawanya sambil tersenyum.
Naya mengetahui bahwa itu adalah sebuah senyum untuk mengejek dan merendahkannya. Tapi, ia berusaha untuk tak menggubris, dan bersikap profesional, "pesan apa pak?" tanyanya sekali lagi dengan sabar. Karena dua pria itu terus tertawa setelah Hermawan berkata, "Ternyata orang kecil selalu ditakdirkan menjadi budak."
Naya menggertakan gigi karena kesal. Setelah berdiri hampir tiga menit, ia pun memilih untuk pergi, merasa lelah karena dianggap seperti tak punya harga diri.
Namun, Hermawan tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Naya dengan kasar, "aku saja menunggu ibumu bayar utang sabar setelah sepuluh tahun tak dilunasi, tapi kamu baru nunggu sebentar sudah gak sabaran."
Naya meringis kesakitan, ia ingin melawan dan meronta. Namunx tangan pria itu terlalu besar dan kuat, sampai-sampai ia pun tak dapat bergerak bebas.
"Bilang ke ibumu, untuk bersikap baik pada anakku, atau aku akan berlaku sama padamu, aku bisa lebih jahat dari ini," ancam Hermawan. Ternyata, perkataan Faisal tempo hari begitu memengaruhinya. Karena setelah diperingatkan oleh putranya itu, ia masih saja melabrak dan mengganggu ketenangan keluarga Naya.
Bagai pahlawan yang siap menyelamatkan, tiba-tiba Faisal datang dengan mencengkeram lengan sang ayah yang masih kuat menahan pergelangan Naya. "lepasin!" Faisal menarik paksa lengan sang ayah, membuat cengkeraman ayahnya pada Naya terlepas.
Gadis itu sedikit tertarik ke belakang, dan punggungnya membentur dada bidang pemuda yang menyelamatkannya.
Faisal mengangkat pergelangan tangan kanan Naya tepat ke hadapan wajahnya, untuk melihat tanda yang tertinggal jelas sangat merah di pergelangan berkulit putih itu. Ekspresi wajah pria itu berubah menjadi sedikit murung, "maaf," bisiknya tepat di telinga Naya.
"Jangan minta maaf sama orang rendahan seperti dia," ujar Hermawan penuh emosi, membuat Faisal menatapnya tajam.
__ADS_1
Sedangkan Naya berlari dari tempat itu. Napasnya terasa sesak, matanya tiba-tiba sangat perih. Pantaskah ia mendapatkan hinaan seperti itu? Dan mengapa hari ini dirinya begitu lemah? Padahal, Naya adalah gadis yang sangat kuat.