
Lima menit sebelumnya
Pusing di kepalanya tak kunjung hilang, suhu tubuhnya naik turun tak karuan, dingin dan panas bergantian bersamaan.
Penyebabnya, Iswanti melihat makhluk aneh lewat tepat di hadapannya. Makhluk yang tak jelas tepatnya apa. Yang tertangkap oleh pandangannya adalah bentuknya besar, setengah hewan, tepatnya kakinya seperti kuda dan setengah bagiannya lagi manusia.
Tak hanya berlalu, tiba-tiba makhluk itu berbalik dan menyentuh keningnya.
Setelah itu, Iswanti merasakan kepalanya sakit dan berat sekali, seolah sedang memikul sebuah batu besar di atasnya.
Lalu, gadis berkacamata itu pun tak sadarkan diri.
Kedelapan temannya siaga membawa tubuh Iswanti untuk disandarkan pada tunggul pohon beringin yang ditunjukkan Salman.
"Plis.. Jangan kesurupan lagi," tutur Intan kesal dan ketakutan.
Ulfa berusaha menyadarkan Iswanti dengan mengguncang tubuh mungilnya.
Sedangkan Iswanti. Dia memang terbangun, namun seolah berada di alam berbeda, ia melihat sebuah tempat yang tak asing namun terasa asing. Sendirian. Tak ada teman-temannya. Seperti mimpi, namun terasa nyata.
Ia menatap sekeliling, terlihat suasana hutan lindung Alpenia yang lebih mencekam. Lebih gelap, berkabut, dan dingin melebihi yang ia rasakan tadi. Juga aura merah di dekat pertigaan depan sana membuat dirinya bergidik.
Ia berjalan sendirian, tak ada teman yang siap untuk memberikan dukungan. Tak dipungkiri, dirinya sekarang dikendalikan ketakutan.
"Hey guys! kalian dimana?" teriaknya dengan jantung yang berdegup kencang, hanya kesunyian yang ia rasakan.
Semakin jauh, ia merasakan ada kehadiran seseorang. Benar saja, matanya menangkap seorang pria dalam jubah hitam, yang pernah mendatanginya berkali-kali. Namun, ada yang berbeda, kali ini ia tak ketakutan, dikarenakan pria itu tersenyum berseri padanya, tak seperti biasanya dengan tatapan kosong tak berekspresi.
"Akhirnya, kamu tiba di sini," ujar pria itu lembut. "Selama ini, saya menunggu momen ini. Saya telah lama menunggu, setelah kejadian ibumu yang gagal dalam menjalankan tugasnya," lanjutnya membuat Iswanti terheran tak mengerti.
"Maksudnya?"
"Kamu dan sebagian teman-temanmu adalah orang yang spesial," lanjut pria itu masih tak menjelaskan apa-apa, " kalian semua dapat menyelamatkan kota ini!"
__ADS_1
Mata Iswanti terbelalak, makin tak mengerti ucapan pria tinggi di depannya.
Tiba-tiba, seorang anak kecil muncul di sebelah pria berjubah hitam itu.
"Kakek, ayo main!" paksa anak perempuan itu sambil menarik lengan pria dengan wajah berseri-seri itu.
Iswanti menatap wajah anak itu, sepertinya ia mengenalnya. Tapi siapa dan dimananya? Ia tak ingat sama sekali.
"Ade. Tunggu ya!" pinta Iswanti baik-baik, mengabaikan pikirannya tentang anak itu, karena masih penasaran dengan perkataan pria di hadapannya yang menurutnya penuh teka-teki.
Ia hendak meminta pria itu untuk memperjelas, namun tiba-tiba, makhluk berkaki kuda dan berabadan manusia tadi menabraknya sangat keras. Hingga ia merasakan kepalanya kembali berat, dan dirinya kembali pingsan.
***
Dalam beberapa detik, Iswanti seakan hilang dari kehidupan, sampai teriakan dari teman-temannya membuat gadis itu kembali siuman.
Iswanti kembali ke dunia nyata. Sayangnya, tak membawa jawaban yang jelas dari perjalanan singkatnya tadi. Bahkan, ia malah bingung dengan segala teka-teki yang belum terpecahkan.
Iswanti menggeleng kepala, "kepala gue pusing!"
"Bisa gak sih lo gak usah buat kita semua parno, kutu buku?" cerca Intan sedikit emosi.
"lo enggak pengertian banget sih, dia baru aja siuman, jangan marah-marah dong!" sela Annisa kesal dengan keegoisan Intan.
"Bantu gue berdiri!" pinta Iswanti pada Ulfa sambil mengulurkan tangan.
Dengan kepala yang terasa masih sakit, gadis itu menyempurnakan tubuhnya untuk tegap berdiri. Ia meminta Ulfa untuk melepaskannya, berusaha bertahan di pijakannya sendiri.
Dengan segera, Salman memberikan sebuah roti yang disimpannya dalam saku jaketnya pada Iswanti. Beruntung, dirinya selalu siaga membawa roti isi kacang hijau kesukaannya, karena ia jarang sarapan di rumah. Roti tersebut asli buatan pabrik milik keluarganya, "lo belum sarapan?"
Iswanti menolak dengan lembut, "gue udah sarapan kok."
"Terus kenapa lo pingsan?" Tanya Renaldi.
__ADS_1
"Dan, kenapa barusan lo bicara sendiri?" Faisal juga bersuara.
Untuk sejenak, gadis berambut panjang itu termangu, mencoba merangkai kata untuk menjelaskan hal yang ditutupinya selama ini, karena takut akan terdengar aneh jika dibeberkan pada orang-orang di sekelilingnya, "gue belum pernah cerita sama kalian. Ini mungkin akan terdengar konyol, tapi sebenarnya, gue punya indera keenam," terang Iswanti sedikit ragu, namun membuat semua orang terkejut, kecuali Intan.
"Gue udah berpikir kayak gitu ketika lo kesurupan di sekolah, dan gue gak merasa hal itu konyol," sahut Intan santai sambil menyilangkan tangan di depan perut.
"Terus barusan, gue melihat hal yang super aneh. Gue melihat manusia setengah kuda!" lanjut Iswanti membuat semua orang berjengit, sedikit tak percaya dengan ucapan gadis itu.
"Iswan. Lo yakin baik-baik aja?" tanya Ulfa makin heran, menunjukkan ketidakpercayaan.
"Kayaknya lo mimpi deh," tambah Annisa mendukung Ulfa.
"Gak mungkin ada makhluk kayak gitu!" Naya juga ikut menimbrung.
"Dia bilang punya indera keenam kan. Apa yang bisa dilihatnya beda sama yang kita lihat. Mungkin yang dia katakan memang benar. Ayolah, apa sih yang enggak mungkin di kota terkutuk ini?" tutur Intan memberikan dukungan pada Iswanti seorang diri.
"Gue udah bilang, ini akan terdengar konyol, tapi gue yakin sama yang gue alami tadi, itu bukan mimpi. Kalian semua gak ada, gue sendirian, melihat makhluk manusia setengah kuda itu, dan bertemu dengan pria berjubah hitam yang selalu mengganggu gue," rinci Iswanti berusaha meyakinkan.
Semua orang saling melempar tatapan, masih tak percaya, kecuali Intan yang menatap Iswanti biasa saja.
"Dan kalian tanya, kenapa tadi gue bicara sendiri. Gue lagi bicara sama pria itu. Dia bilang, kota ini butuh diselamatkan. Dan, kita bisa menyelamatkan kota ini!" lanjut Iswanti makin menerangkan tentang kejadian yang dialaminya tadi.
Baiklah. Semua orang berusaha untuk percaya. Meskipun harus berpura-pura.
"Menyelamatkan kota, dari apa?" tanya Naya.
"Gue gak tahu. Gue belum sempat nanya, karena keburu kembali ke sini. Kalian tahu, di sana itu menakutkan banget, kayak lagi berada dunia lain!" terang Iswanti membuat semua orang kembali enggan mempercayainya.
"Oke. Gue satu-satunya orang yang percaya sama lo disini. Kita pikirkan, menurut pria itu kita bisa menyelamatkan kota. Kita hubungkan dengan kejadian saat ini. Penculikan anak-anak, mungkin," Intan berasumsi.
"Penculikan anak apa hubungannya sama kota. Itu kan personal. Lihat, hanya kita disini yang peduli untuk menemukan mereka. Penduduk kota malah acuh tak acuh," sela Ikbal tak menyetujui pendapat saudari kembarnya.
"Tepat. Pria itu bilang, cuma kita yang bisa menyelamatkan kota. Mungkin aja yang dikatakan Intan benar. Karena cuma kita yang peduli buat menggali lebih dalam tentang hilangnya anak-anak akhir-akhir ini," tandas Iswanti mencoba memecahkan teka-teki yang akhirnya mendapat sedikit titik terang.
__ADS_1