ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Mimpi Janggal Naya


__ADS_3

Tempat ini terasa aneh baginya. Bahkan, pepohonan dan bunga-bunganya pun terlihat sangat lain dari yang pernah dirinya lihat selama seumur hidupnya. Namun, mereka telihat sangat indah. Sangat menenangkan mata. Bahkan, saat tangannya menyentuh batang pohon tersebut, ia merasakan senasi yang sangat lembut bak kapas, bukan keras seperti batang pohon pada umumnya. Ia juga menyukai aliran sungai dengan air berwarna merah jambu yang terlihat sangat menggemaskan di depannya.


"Selamat datang!"


Naya menoleh pada suara yang sangat asing di telinganya. Matanya langsung berkaca-kaca saat menatap sosok tampan di hadapannya. Pria yang selalu diidam-idamkannya seumur hidupnya, kini nampak sangat nyata.


Naya terharu. Ia langsung memeluk tubuh pria yang selama ini hanya dapat dirinya pandangi melalui bingkai foto besar yang tergantung di dinding kamarnya.


"Apakah kamu nyata?" tanya Naya yang masih larut dalam tangis bahagianya. "Kamu ayahku?" Naya sekali lagi dengan mendongakkan wajah dan menatap sosok itu dengan saksama.


Sosok pria itu tersenyum pada Naya dengan sangat hangat. "Aku memang ayahmu, nak!"


Air mata Naya makin tak tertahankan. Rasa senang dan haru di dalam dadanya kian menggebu-gebu saling berebutan. "Aku sangat ingin bertemu denganmu. Sungguh lucu, karena aku selalu merindukanmu meskipun kita belum pernah bertemu secara langsung."


Pria itu tertawa kecil. "Sekarang kamu bertemu dengan ayahmu ini, nak! Apakah kamu senang?"


"Melebihi dari senang! Rasa bahagiaku gak dapat diungkapkan dengan kata-kata," jelas Naya yang makin sesenggukan.


Sedangkan, pria bernama Sahrul itu terus mengusap punggung putrinya yang sesenggukan. Dalam pelukannya, ia merasakan kasih sayang Naya untuknya begitu besar.


Naya enggan melepaskan pelukannya dari sang ayah. Ia menunggu momen berharga ini begitu lama. Dirinya tak ingin kehilangannya dengan begitu mudah.


"Kenapa ayah meninggalkanku?" tanya Naya dalam tangisnya.


"Aku selalu berada di sisimu, nak. Aku selalu mengawasimu. Dan yang terpenting, aku selalu ada di dalam hatimu," jawab Sahrul masih mengelus lembut punggung putrinya.


"Tapi, aku ingin ayah benar-benar berada di sisiku. Menemaniku menghadapi segala suka dukaku," sela Naya sembari menggelengkan kepala.


"Kamu telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan tangguh. Kamu telah melalui banyak rintangan dengan sangat tegar meskipun tanpaku di sisimu, nak. Aku sungguh bangga padamu!"


"Aku sangat menyayangimu, ayah!" ungkap Naya dan makin mengeratkan pelukannya pada sang ayah.


Namun, Sahrul malah melepaskan dekapannya dari tubuh Naya. Segera, ia menatap putrinya lamat-lamat. "Aku lebih menyayangimu lebih dari segalanya."


Tangis Naya makin pecah. Kata-kata indah dari suara berat itu, selalu diharapkannya selama seumur hidupnya. Sekarang, ia sangat merasa damai.

__ADS_1


"Dengarkan aku, putri kecilku! Kamu adalah gadis pemberani. Aku selalu tahu, kamu akan melakukan hal besar dalam hidupmu. Dan sebntar lagi adalah waktunya, sayang!" Sahrul menjelaskan dengan mata yang berbinar-binar sambil memegang kedua tangan putrinya.


Naya mengerutkan dahi tak mengerti. "Apa maksudmu, ayah?"


"Lihat tanganmu! Tangan ini akan kamu gunakan untuk menyelesaikan banyak masalah!" lanjut Sahrul masih memberi teka-teki di pikiran Naya.


Namun, pikiran gadis itu berubah ketika melihat keanehan yang terjadi. Ada pancaran sinar putih yang berpendar di kedua telapak tangannya secara perlahan. Hal itu membuatnya sedikit bergidik ketakutan.


"Apa yang terjadi, ayah? Kenapa tanganku seperti itu?" tanya Naya yang tubuhnya kini gemetaran.


"Itulah dirimu, nak! Kamu harus menerimanya dengan sepenuh hati," terang Sahrul dengan senyuman yang mulai pudar.


"Tapi—"


"Jaga dirimu baik-baik. Ayah akan mendatangimu lain kali," pungkas Sahrul. Sebelum akhirnya, sosoknya perlahan memudar. Seolah angin yang berhembus membuat partikel penyusun tubuhnya ikut terhempas menjauh. Hingga lenyap dari pandangan.


Naya menggelengkan kepalanya tak terima. Baru saja dirinya mencicipi kebahagiaan dengan bertemu ayahnya, kini sosok itu kembali menghilang. "Ayah! Kemana kamu pergi?" pekiknya entah pada siapa. Suaranya mungkin hanya terdengar oleh alam yang sama sekali asing di penglihatan dan pendengarannya.


Berkali-kali, Naya memanggil ayahnya. Namun, pria itu benar-benar telah pergi meninggalkannya lagi. Bahkan hingga suaranya habis dan tubuhnya merasa kelelahan karena mencari di setiap sudut, Naya tak kunjung menemukan ayahnya.


Dan akhirnya, Naya pun terbangun dari lelapnya. Ia mendapati tubuhnya bermandikan keringat, bahkan sampai membasahi ranjang tempatnya terbaring sekarang.


Naya juga mulai memerhatikan telapak tangannya, memastikan tak ada keanehan yang terjadi. Misalnya, seperti ada cahaya yang terpancar dari sana? Dan, untunglah hal itu tak terjadi. Keanehan tersebut hanya ada di dalam mimpinya tadi.


Naya pun akhirnya dapat bernapas lega. Bunga tidurnya kali ini sungguh pelik. Dan yang makin aneh adalah, mengapa mimpinya tadi terasa seperti nyata?


***


"Udahlah! Mimpi lo gak berarti apa-apa. Menurut gue, itu cuma implementasi dari rasa rindu lo yang sangat besar sama ayah lo," ujar Renaldi setelah mendengar cerita lengkap mengenai mimpi Naya tadi malam.


"Ya. Gue juga berpikir begitu. Tapi gue heran, kenapa mimpinya bisa random banget kayak gitu!" kilah Naya.


"Udah! Gak perlu dipikirin lagi. Kita masih punya hal lebih penting yang harus dipikirin. Kita belum nemuin jalan keluar dari masalah Sandi, Nay!"


Naya menganggukan kepala paham. Ia benar-benar harus melupakan mimpi anehnya tadi malam. Apalagi, bukan hanya masalah Sandi yang menjadi pikirannya sekarang. Melainkan Faisal yang masih tak masuk sekolah hari ini, juga membuatnya khawatir.

__ADS_1


"Rey! Rey! Rey!"


Naya dan Renaldi kompak menoleh ke arah teriakan pemuda yang berada cukup jauh dari tempat mereka berdiri. Pemuda itu nampak tunggang langgang menghampiri mereka.


"Hey!" ujar Salman dengan napas tersengal, karena aktivitas berlarinya barusan hanya untuk menyusul langkah Renaldi.


"Apa?" tanya Renaldi dengan menaikan alis. Ia sedikit heran dengan semangat yang terlihat dari wajah Salman hanya untuk mengejarnya. Itu sungguh bukan hal yang biasa.


"Ayo kita nongkrong!" ujar Salman berbasa-basi.


Renaldi makin menautkan alisnya kebingungan. Sikap Salman benar-benar aneh. Mereka bahkan jarang berbicara. Dan sekarang, Salman malah mengajaknya bergaul.


"Ayo! Tapi lo tahu kan, setelah pulang sekolah kayak gini, gue harus kerja?" Renaldi menyetujui. Lagipula, dirinya dan Salman sudah menjadi teman. Dan memang seharusnya mereka berinteraksi lebih sering agar makin akrab. Namun, Renaldi benar-benar tak bisa menyempatkan waktu untuk saat ini. Dirinya memiliki kewajiban yang harus ditunaikan.


Naya menyipitkan matanya. Ia juga merasakan keanehan dari sikap Salman saat ini. "Lo aneh banget! Mana Iswanti? Biasanya kalau gak ada dia, lo gak mau nimbrung kita berdua," tanyanya berterus terang.


"Dia udah pulang duluan. Makanya, gue cari teman baru," kilah Salman sedikit konyol.


Naya dan Renaldi hanya dapat menggelengkan kepala. Tak ingin menggubris Salman yang kadang memang bersikap seperti itu.


"Omong-omong soal teman. Kemana teman setia lo, si Faisal?" tanya Naya dengan ekspresi wajah biasa saja. Ia tak ingin menampakan kecemasannya tentang Faisal di hadapan Renaldi ataupun Salman.


Salman menaikan bahunya. Ia juga tak mendapat kabar dari Faisal selama berhari-hari. "Gue kira, dia masih ngehubungin atau ngirim pesan sama lo, Nay. Dia kan terobsesi sama lo."


"Jangan salah fokus! Lo cukup jawab, lo tau dia dimana atau enggak!" cetus Naya.


"Enggak! Mungkin dia lagi males pergi sekolah aja, Nay!" tukas Salman yang sedikit peduli tak peduli tentang keadaan Faisal. Sebab, ia mengenal temannya itu, kalau sedang malas sekolah, maka Faisal tak akan masuk.


Naya merasa hatinya makin khawatir. Bahkan pada teman terdekatnya, Faisal tak mengatakan apapun. Dimana pemuda itu sebenarnya?


"Okelah, Rey! Kabarin gue kalau lo ada waktu! Gue punya sesuatu yang sangat penting buat dibicarain!"


"Kalau emang penting banget, kenapa gak dibicarain sekarang?" tanya Renaldi.


"Enggak! Ini bakal membutuhkan banyak waktu!" pungkas Salman dan langsung kembali berlari meninggalkan Naya dan Renaldi. Lebih baik, ia membicarakan tentang buku Misteri Kota Hitam itu disaat waktu luang. Dan harus langsung pada Renaldi serta ayahnya.

__ADS_1


Naya dan Renaldi saling melempar tatapan aneh, lalu menggelengkan kepala bersamaan.


"Pantas Iswanti selalu mikir-mikir kalau mau nerima cinta Salman. Orang dianya aneh kayak gitu!" ujar Naya sambil tergelak. Itu adalah upayanya dalam menyembunyikan pergolakan batinnya yang sedang memikirkan Faisal.


__ADS_2