
"Darimana aja kamu dua hari terakhir?" tanya Andi pada putranya, dengan nada tak bersahabat seperti biasanya.
"Aku dari Hexia. Jenguk teman aku yang sakit. Mama pasti udah cerita sama papa, kan?" jawab Ikbal dengan lancar mengatakan kebohongannya.
Andi tersenyum miring. Ia merasa telah dibodohi oleh putranya yang ingusan itu. "Mamamu memang sudah memberi tahu papa. Makanya papa merasa konyol sekarang."
"Maksud papa?" tanya Ikbal seraya menaikkan alis tak mengerti.
"Papa lihat kamu di Belisia tadi. Dan, kamu bilang Hexia? Kamu mau coba bohongi papa? Dua kota itu bagai kanan dan kirinya Alpenia. Jarak keduanya sangat jauh," jelasnya dengan tertawa getir, tetapi wajahnya terlihat merah sangar.
Jantung Ikbal seolah berhenti berdetak. Ia takut, penguntitannya dengan Annisa ketahuan.
Namun, Andi hanya melihat anaknya menumpang lewat di jalan raya yang lengang saat dirinya sedang mengopi bersama Aji di kafe. Tak lebih dari itu.
"Kenapa diam sekarang? Mau alasan bohong apa lagi yang kamu pakai? Hah?" cecar Andi dengan nada bicara yang mulai meninggi.
Ikbal bungkam. Ia hanya dapat menundukan kepala.
"Dua hari kamu bersama gadis? Siapa gadis di boncenganmu itu? Jawab!" lanjut Andi yang makin tersulut. Darahnya seolah sangat cepat mencapai ubun-ubun.
Ikbal pun menaikan pandangannnya, setelah ayahnya berkata seperti barusan. Jika ayahnya tak mengetahui gadis yang bersamanya adalah Annisa, berarti penyamaran dan penyelidikannya tadi aman-aman saja. Tak ada ancaman apapun.
"Jawab!" pekik Andi sekali lagi. Kali ini, tangannya ia gunakan untuk melepas ikat pinggang yang dikenakannya.
Gesper itu mungkin sudah akan terkena salah satu bagian tubuh Ikbal, jika saja Cantika tak menghentikan tangan suaminya untuk melakukan hal tersebut. "Jangan, mas! Sabar! Sabar!"
"Aku akan sabar jika anak ini menggunakan mulutnya untuk menjawab pertanyaanku. Dia tidak bisu!" balas Andi masih dapat meredam emosinya.
__ADS_1
"Jawab pertanyaan papamu, nak! Jujur saja untuk kali ini," pinta Cantika dengan suara lembut pada putranya.
Sedangkan Ikbal, ia tak ingin membongkar semua usahanya bersama Annisa. Ia akan menjawab, meskipun dengan mengatakan kebohongan lainnya. "Aku memang ke Belisia bersama pacarku."
Intan hanya dapat menepuk dahi. Sebenarnya, ia ingin menyelamatkan saudara kembarnya, dengan mengatakan kejujuran. Namun nampaknya, Ikbal mengetahui apa yang harus dilakukan, dan tak memerlukan bantuannya.
"Pacar? Masalah masa depan saja kau tak tentu. Semua nilai mata pelajaranmu jelek. Tapi, kau malah sibuk pacaran selama dua hari, dan mengabaikan sekolah?"
"Iya," jawab Ikbal dengan sedikit ogah-ogahan. Dan karena sikap sedikit tak sopannya itu, akhirnya paha kirinya mendapat sabetan dari ikat pinggang yang dipecutkan oleh ayahnya. Ia hanya dapat merasakan sakit yang menjalar di sana. Perlahan tapi pasti, seluruh tubuhnya juga ikut merinding.
"Apa yang kau lakukan selama dua hari? Kau sudah berani merusak anak orang sekarang? Bagaimana kau akan bertanggung jawab jika sampai terjadi kecelakaan? Kau bahkan tak bisa bertanggung jawab atas dirimu sendiri," cecar Andi masih menjadikan Ikbal sebagai pusat kemarahannya.
Intan seolah dapat merasakan sakit yang dialami oleh saudara kembarnya. Bahkan, saat ikat pinggang itu melayang barusan, dirinya hanya dapat menutup mata lekat-lekat.
"Tolong katakan, Cantika! Kenapa kita dapat memiliki anak yang begitu tak berguna seperti dia?" retorik Andi pada istrinya seraya mengacak rambutnya.
Ikbal merasa lelah dengan semua cacian serta siksaan fisik dan mental yang dirinya terima. Kali ini, ia akan membalas dengan melukai harga diri ayahnya yang ternyata sama kejamnya seperti ayah Annisa. Sebab, ia mengira jika ayahnya mengetahui jika Aji Atmaja melakukan bisnis illegal seperti perdagangan manusia, tapi tetap memilih bungkam dengan hal itu.
"Biar aku kasih tahu ke papa. Bagaimana cara anak gak berguna ini bisa lahir. Itu bukan salah siapapun, melainkan salah papa sendiri. Mungkin, benih milik papa sendiri yang memiliki kualitas buruk, sampai anak gak berguna ini tumbuh kayak sekarang," tutur Ikbal seraya mengeraskan tulang rahangnya.
"Kurang ajar!" Andi kembali memecut putranya beberapa kali. Ia tak memberi ampun sedikit pun.
Ikbal hanya menggigit bibirnya menahan rasa sakit. Matanya memang tak mengeluarkan air mata. Namun, percayalah, selain dikuasai kekesalan, hatinya juga dikelilingi awan hujan yang menderas tiap detiknya.
"Udah? Segitu aja?" sarkas Ikbal tak gentar menatap mata nanar milik ayahnya setelah pecutan gesper bertubi-tubi itu berhenti. "Sikap papa barusan, benar-benar menunjukan bahwa perkataanku gak salah. Aku bisa lihat, kebringasan papa bahkan melebihi hewan. Papa benar-benar orang tua yang buruk!"
Andi hendak membungkam putranya itu dengan sebuah tamparan keras. Namun, lengannya berhenti di udara ketika melihat putrinya melindungi sasarannya.
__ADS_1
Intan meloncat, menutupi tubuh Ikbal agar tak lagi disakiti oleh sang ayah. "Lewati aku dulu, pa!" jelasnya dengan tangisan yang deras. Ia benar-benar merasa iba dengan apa yang terjadi pada Ikbal.
Andi tak dapat bergerak. Tubuhnya seolah membeku. Ia hanya dapat merasakan rahangnya yang mengeras karena menahan emosi. Ia tak berdaya jika putri tersayangnya sudah menghalanginya seperti demikian. "Minggir, Intan!"
"Papa boleh tampar Ikbal, setelah papa menampar aku," kecam Intan tak gentar. Ia meyakini, rasa sayang ayahnya padanya, melebihi amarah ayahnya pada Ikbal.
Akhirnya, Andi pun menyerah. Ia tak mungkin tega mendaratkan pukulan pada Intan. Itu hal yang tak akan pernah dirinya lakukan seumur hidupnya. Pria itu pun melenggang pergi menahan amarahnya, dan akan menyalurkannya pada hal lain.
Intan akhirnya dapat membuang napas lega. Segera, ia merangkul tubuh kakaknya dengan peduli.
"Aww!" keluh Ikbal karena merasakan tubuhnya tertekan oleh pelukan saudarinya yang terlalu erat. Lukanya kali ini nampaknya begitu parah. Seluruh tubuhnya merasakan nyeri luar biasa.
"Maaf! Maaf!" Intan segera melepaskan pelukannya, masih dengan tangisan yang belum berhenti.
"Makasih udah nyelametin gue," ujar Ikbal seraya tersenyum. "Lo jangan cengeng, cerewet!"
Intan menggelengkan kepalanya. Segera, ia menghapus air matanya. Meski dengan cara yang tak mudah. Air itu meluncur lagi dan lagi, tanpa diinginkannya.
"Makasih ma, karena telah membela aku seperti biasanya," sarkas Ikbal pada ibunya. Ia sedikit terheran. Jika ibunya begitu menyayanginya, mengapa wanita itu tak pernah melindunginya dari kemarahan sang ayah?
Cantika hanya mengatupkan bibir. Tubuhnya masih gemetaran karena kejadian mengerikan yang terjadi di hadapannya barusan. "Biar mama bantu!" Tangannya hendak memapah Ikbal yang tampaknya begitu lesu untuk berjalan.
Namun, Intan dengan segera menyambut tangan Ikbal terlebih dahulu ke bahunya. "Biar aku aja!" Ketus Intan dengan memberikan delikan tajamnya pada sang ibu. Ia segera membantu saudaranya itu untuk berjalan ke kamarnya di lantai dua.
"Padahal gue baik-baik aja, gak perlu dipapah gini," ujar Ikbal.
"Diam lo! Kalau jalan sendiri, takutnya nanti lo jatuh dari tangga. Malah makin ribet ceritanya," sela Intan yang telah berhasil menghapus seluruh tangisnya. Agar Ikbal juga menjadi lebih kuat.
__ADS_1