ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Intan Dan Kisah Sedih


__ADS_3

Mobil mewah itu berhenti di sebuah rumah paling megah di Alpenia.Rumah bak istana karena ukurannya yang benar-benar besar dan menjulang tinggi. Suasana bertambah indah dan asri dengan perkebunan anggur seluas lima puluh hektar yang menghampar di samping kanan kiri rumah hingga ke belakang.


Selamat datang di kediaman keluarga Wijaya. Orang terkaya dan berpengaruh di kota ini. Intan turun dari mobil itu dengan memakai kacamata hitamnya. Berjalan dengan percaya diri, memasuki pintu utama yang sangat besar.


"Intan!" teriak seorang wanita paruh baya, ketika melihat Intan hendak menaiki tangga.


Intan mengacuhkan panggilan itu. Dengan santai, ia menaiki anak tangga pertama menuju kamarnya, berpura-pura tak mendengar sesuatu.


Wanita yang tadinya sedang menikmati secangkir teh dengan pemandangan langit senja itu, tiba-tiba menghampiri Intan dengan rasa kesal karena ucapannya tak di dengar.


Ia berjalan terburu dan mencengkeram lengan putrinya sedikit keras. Membuat Intan nyaris terjatuh karena tertarik dari tiga anak tangga yang sudah ia pijak.


"Kamu dari mana?" tanya wanita bernama Cantika itu sedikit ketus.


" Habis main lah," jawab Intan ceria. Gadis enerjik harus selalu menjaga senyum, kan?


"Mama perhatikan kamu jarang ada di rumah. Kemana aja kamu?"


"Serius? Sekarang Mama bersikap seolah-olah peduli sama anak?" senyum di bibir Intan memudar, tergantikan oleh raut wajah muram.


Cantika tak dapat menjawab. Bibirnya bungkam, diam seribu bahasa.


"Jangan lupa ma, aku masih curiga kalau Mama ada hubungannya dengan kematian Rahma!"


Mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Intan, tanpa aba-aba, Cantika mendaratkan telapak tangannya di pipi putrinya. Membuat kulit putih bak salju itu memerah seketika. "Kurang ajar!"


Intan tersenyum menyembunyikan kesakitan, "aku makin yakin sekarang!" ungkapnya sembari meninggalkan ibunya, lalu menaiki menaiki tangga dengan bersenandung.


Inilah kisah hidup Intan yang sebenarnya. Terjebak dengan orang yang ia curigai sebagai penyebab kematian kakaknya.


**


...Dua tahun lalu, pada sebuah pesta piyama di rumah Amora....


"Truth or dare!" teriak Amora pada Intan sambil tertawa.


"Dare," jawab Intan bahagia.


"Oke. Gue tantang lo buat nelepon cowok yang ngejar-ngejar lo itu. Bilang kalau lo mau jadi pacar dia!" ujar Amora.


"Siapa?" Sahut Intan sedikit lupa-lupa ingat. "Roman? Seriusan? Anak kampung itu?"


"Nama dia Renaldi!" ucap Rima terbahak.


"Dare gak boleh di tolak!" lanjut Amora.


"Oke. Lagipula gue bukan pengecut," sanggup Intan lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di meja nakas. Hendak menunaikan tantangan yang diberikan itu. Namun, ia teralihkan oleh berpuluh-puluh panggilan tak terjawab dari kakaknya, Rahma.


"Tunggu dulu, guys! Kakak gue missed call nih dari tadi. Gue telepon dia dulu ya!" ucap Intan meminta izin.


"Ah, alasan lo!" kompak Rima dan Amora mengejek.


"Sshhtt," Intan menempelkan benda tipis itu di telinga, mencoba menelepon saudarinya.


"Gak dijawab!"

__ADS_1


"Udah. Dare dulu aja!" desak Rima menarik tangan Intan.


"Tunggu, tunggu, tunggu." Ponselnya tiba-tiba berdering, menampilkan nama 'sister' di layarnya. Intan pun menjawab panggilan itu gesit.


"Intan. Pulang sekarang!" suara Rahma sedikit hadir-lenyap di telepon itu.


"Hah? Ada apa sih? Suara lo putus-putus, kak!" sahut Intan tak paham.


"Pulang sekarang, bantuin gue! Mama kita jahat, dia--" panggilan itu tiba-tiba lenyap.


Intan mengernyit heran. Ibu mereka jahat? Dari yang dia ingat, ibunya adalah perempuan terbaik di dunia.


Namun, nada bicara Rahma yang penuh ketakutan membuatnya khawatir.


"Guys, gue harus pulang!" ujar Intan cemas.


"Hah? Ini hampir tengah malam!" ujar Amora sambil menatap jam dinding yang telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


"Pesta piyama kita gagal, dong!" sambung Rima sedikit egois.


"Gue harus pulang, sekarang!" lanjut Intan dengan berteriak. "Sekarang, kalian mau nemenin gue atau enggak?"


Mereka berdua setuju, mengikuti langkah Intan yang terburu-buru.


Mereka bertiga berjalan kaki ke rumah Intan. Karena tak mungkin Amora membangunkan ayah atau ibunya untuk mengantar mereka. Tak akan diberi izin.


Intan pun sudah mencoba menelepon supir pribadinya untuk menjemput, namun tak diangkat. Mungkin karena sudah tertidur pulas.


Memakan waktu sekitar sepuluh menit untuk mereka bertiga tiba di rumah Intan.


Pemandangan mengerikan itu membuat Intan berteriak sekencang-kencangnya. Nyaris menyebabkan kehilangan suara.


Ayahnya yang baru saja tiba setelah mendengar lengkingan Intan, langsung memanggil ambulans setelah menurunkan putrinya yang menggantung mengenaskan ke ranjang.


Sedangkan Cantika ikut menangis bersama Intan. Begitupun Amora dan Rima yang setia memeluk sahabatnya dengan tubuh gemetar.


"Hubungi Ikbal! Dia menginap di rumah Faisal," perintah Cantika pada Andi, suaminya. Berteriak sambil terus menangis.


**


Semalaman Intan mengingat kejadian itu. Memutar ulang berkali-kali memori mengerikan dalam hidupnya. Sungguh menyakitkan, melihat saudari yang sangat ia sayangi mati dengan cara demikian.


Di sisi lain, ia penasaran, hal apa yang hendak dikatakan saudarinya di telepon malam itu. Sampai saat ini, hal tersebut masih menjadi tanda tanya besar di benaknya.


Hal itu juga yang membuat hubungannya dengan ibunya tak baik-baik saja sampai sekarang.


***


Malam berganti pagi. Dengan senyum cerah, Naya menghirup segarnya udara. Semangat untuk menjalani harinya.


Naya dengan kebiasaan barunya. Menguntit Renaldi setiap hendak pergi sekolah. Namun, tak pernah ada kemajuan, semuanya masih normal.


Naya dengan hatinya yang setia menunggu perasaaannya terbalas. Dan Renaldi yang tak peka, tak menyadari perubahan sikap sahabatnya itu.


Namun sekarang, Naya merasa memiliki sedikit peluang. Karena kemarin, Renaldi mengatakan di hadapan banyak orang, dia tak akan lagi mengejar-ngejar gadis sombong itu. Hatinya terasa sedikit lega.

__ADS_1


Pemuda di seberang sana tiba-tiba membuka pintu rumahnya, membuat Naya yang sebelumnya bersembunyi di sebalik Batang pohon menghampiri.


"Hai!" Sapa Naya sambil menjitak kepala pemuda itu pelan.


"Nay!" sahut Renaldi sedikit kaget. Awalnya, ia akan marah, jika saja yang menoyornya itu bukan sahabatnya.


"Sekolah?" tanya Naya keceplosan. Kacau. Prinsip untuk tetap bersikap normal yang Naya tanamkan di pikirannya mendadak hilang kendali. Sudah tahu mereka berdua akan pergi sekolah.


"Gue pake seragam, kan? Berarti mau kondangan lah," jawab Renaldi sedikit heran setelah mendengar pertanyaan Naya. "Lo baik-baik aja?" lanjutnya meraba kening sahabatnya dengan punggung tangan. Bergurau.


"Hahahaha," Naya tertawa palsu setelah diam selama beberapa detik ketika candaan Renaldi dilontarkan. Sibuk bergelut dengan isi kepalanya. "Bagus sekali Naya. Kentara banget grogi lo!"


"Oke. Mungkin ini saat yang tepat. Beritahu yang sebenarnya, bahwa lo suka sama dia. Kapan lagi ada kesempatan bagus?" Ide gila namun bagus itu tiba-tiba muncul di kepala Naya. Gadis menyatakan rasa suka pada laki-laki terlebih dahulu? Cukup gila menurutnya.


"Gue mau bilang sesuatu sama lo!" ucapnya berancang-ancang.


"Bilang apa?" sahut Renaldi siap mendengarkan.


"Gue--,"


"Aduh, gue belum bilang hal ini sama lo," potong pemuda itu seenaknya.


"Oke Naya. Hal ini dapat menunggu beberapa detik lagi," batin Naya meskipun merasa tak sabar.


"Apa Rey?"


"Kemarin, gue ketemuan sama Intan. Gak sengaja sih, tapi sedikit romantis," ungkap Renaldi membuat semangat Naya tiba-tiba layu.


"Dan, disinilah tempat lo Naya. Hanya menjadi tempat cerita sahabat yang lo suka, menceritakan seseorang yang disukainya. Lagi dan lagi," cerocos Naya di kepala.


"Tapi, bukannya lo bilang, lo udah nyerah sama dia?" Euforia yang Naya rasakan sebelumnya, sekarang telah berubah menjadi kesedihan. Tak ditunjukkan ekspresi bahagia di wajahnya. Karena jelas, sekarang hatinya diselubungi awan hujan yang menderas.


"Gue gak serius kemarin. Cuma gertak aja kok, lo sendiri yang bilang, benerin sikapnya kalau gue cinta sama dia. Dan kemarin itu adalah salah satu strateginya," jelas Renaldi dengan senang hati menumpahkan segala perasannya.


Berbeda dengan Naya yang sedih hati menerima pernyataan menyakitkan itu.


"Dan coba tebak, sikap Intan kemarin sore tiba-tiba berubah sedikit baik sama gue. Saran lo berhasil! Makasih Nay," pemuda jangkung itu makin menggebu-gebu.


Naya tersenyum, untuk menutupi kesedihaannya yang mulai terlihat, karena matanya sudah berkaca-kaca. "Oh, baguslah kalau berhasil. Itu kan gunanya sahabat? Nanti traktir makan ya!"


Renaldi merangkul pundak Naya. "Siap!"


"Lo tadi mau ngomong apa?" Tanya Renaldi sambil melangkah, masih merangkul sahabatnya yang disayanginya.


"Oh. Gue mau nyeritain hal lucu. Masa tadi pagi, ibu gue ngelihat pak Pandi telanjang dada pas lagi ganti baju lewat jendela kamarnya," ungkap Naya membatalkan niat awalnya. Ia malah menjual nama ibu dan tetangganya untuk menutup segala kesakitannya.


"Terus ibu gue bilang, pak Pandi itu sexy, masa?" lanjut Naya berusaha tertawa.


"Ibu lo puber kedua? Kayaknya ada yang bakalan dapat ayah baru, nih. Gak apa-apa tau, ibu lo janda, pak Pandi juga duda, cocok lah!" ujar Renaldi terkekeh, membuatnya mendapatkan toyoran di kepala.


"Gue gak kasih restu!"


Untuk kesekian kali, Naya hanya bisa menahan diri. Entah sampai kapan dirinya mampu begini.


Haruskah sampai perasaan di hatinya menghilang?

__ADS_1


Pertanyaan terbesarnya, dapatkah rasa itu menghilang dengan sendirinya?


__ADS_2