ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Masalah Hati


__ADS_3

Intan masuk ke kamar saudara kembarnya dengan membawa nampan berisi makanan yang ia rebut dari salah satu pelayan ketika ingin mengetuk pintu kamar Ikbal.


"Hai kak" sapa Intan lembut. Dibalas Ikbal dengan senyum hambar.


"Nih makan, ya!" Intan meletakan nampan itu di atas nakas.


"Tadi gue dengar ayah marah-marah, lo gak apa-apa?" tanya Intan ragu, karena Ikbal sering naik darah ketika membicarakan sang ayah.


Ikbal menggelengkan kepalanya, dengan santai berkata, "untung yang tadi dilempar ke kepala gue cuma patung kayu, kalau patung batu mungkin gue amnesia sekarang."


"Hah?" pekik Intan terkejut sekaligus khawatir. "Kenapa sih papa selalu kayak gitu? Padahal gue udah minta dia buat bersikap lebih baik sama lo!"


"Udahlah, Tan. Gue juga tahu sikap mama sama lo masih gak berubah setelah gue minta dia lebih menyayangi lo. Dari hal ini kita belajar, orang tua kita ternyata gak bisa menurunkan ego mereka. Makanya, kota harus lebih baik dari mereka. Dan yang terpenting adalah kita saling menyayangi satu sama lain," tutur Ikbal membuat hati Intan menghangat.


Intan dan Ikbal adalah kesatuan utuh yang tak dapat dipisahkan. Meski kadang tak akur dan tak sependapat, tetapi mereka akan baik-baik saja pada akhirnya.


***


Di meja kantin, Salman menjatuhkan buku-buku yang dengan sengaja ia bawa dari rumah untuk diberikan kepada Iswanti.


Nampak senyuman tergurat dari bibir gadis berkacamata itu. Buku-buku tersebut adalah santapan serta asupan nutrisinyanya untuk beberapa waktu ke depan.


"Lo suka baca buku? Ini banyak banget loh!" tanya Iswanti sedikit tertegun. Padahal, selama ini ia mengenal Salman sebagai siswa pemalas, yang suka mencontek saat ujian.


"Iya. Gue suka, terutama genre fantasi, horor, atau misteri," jawab Salman sedikit ragu.


"Kok grogi?"


"Enggak. Gue masih segan aja sama lo. Kemarin-kemarin kan gue nyebelin, terus pas gue berusaha buat ngobrol sama lo, lo malah acuh," jelas Salman.


Gadis itu mengernyit. Otaknya bertanya-tanya apakah, apakah ia sedang berbicara dengan orang yang berbeda? Salman yang dikenalnya sangat heboh dan bahkan tak pernah bersikap canggung sedikitpun. Tapi, sudahlah. Melihat kelakuan pemuda itu yang sudah menjadi lebih baik, sudah cukup untuknya.

__ADS_1


"Cieee berduaan. Pacaran ya? Hati-hati Salman, nanti ketularan aneh!" Salah seorang siswa dengan santai mengejek Iswanti.


"Lo yakin bisa nanganin dia ketika kesurupan?" lanjut siswa lainnya dengan kekehan.


Iswanti menunduk malu. Ia pikir, dengan berubahnya Salman, Faisal, Ikbal, dan Intan menjadi lebih baik, akan membuat hidupnya sedikit tenang. Namun ia terlupa, jika masalah tak pernah berhenti dalam menjalani kehidupan.


Dengan cepat, Salman mencoba membangkitkan percaya diri di dalam hati gadis itu, dan mencoba menghiburnya, "lo tahu, mereka yang bicara seperti itu mengingatkan gue, pada diri gue yang dulu. Ternyata nyebelin, ya?" ungkapnya sambil tersenyum getir.


"Orang kayak gitu pengen gue pukul. Tapi, gue belum berani mukul mereka, karena gue juga belum dipukul sama orang-orang yang pernah gue sakiti," lanjut Salman.


"Jadi, sekarang gue mau nyerahin diri gue sama lo, siapa tahu bersedia jadi orang pertama yang membalas kesakitan lo sama gue dulu? Supaya, ketika ada yang ganggu lo lagi, gue bisa leluasa ngehajar mereka!" cetus Salman sambil menggertakkan rahang.


Gadis itu mendongak, "gue gak perlu mukul lo. Gue juga gak mau lo mukulin orang lain demi gue. Karena gue percaya, kekerasan gak akan menyelesaikan masalah. Lagipula, gue udah biasa menghadapi situasi kayak barusan. Dan lo lihat, pernahkah selama ini gue nangis?"


"Tapi kan, gue mau melindungi lo!"


Iswanti mulai keheranan dengan arah pembicaraan ini nantinya. Selama ini, Salman mencoba menyakiti dan menjatuhkannya. Namun dengan perubahan sikap pria itu yang baru terjadi beberapa hari, sedikit tak mungkin jika Salman langsung ingin berlaga seperti pahlawan yang selalu melindungi sang putri raja.


Akhirnya, Iswanti mengetahui obrolan itu dibawa kemana. Kesana, lagi. "Bagus Salman. Gue pikir lo udah berubah. Tapi, perkataan lo barusan membuat gue sadar, gak ada manusia yang berubah secepat kilat. Udah cukup lo main-main sama gue. Pikiran sama perasaan gue mulai lelah!"


Tanpa pikir panjang, Iswanti pergi dengan meninggalkan setumpuk buku yang tadi hendak diberikan padanya. Ia sendiri merasa aneh, karena perasaannya kini terasa kalut. Ia merasa dipermainkan lagi.


Salman terdiam dengan reaksi mengejutkan dari Iswanti. Ia tak menyangka akan mengatakan hal yang diucapakan barusan. Hal yang dirasakannya sejak minggu lalu ketika menatap gadis itu di perpustakaan dengan wajah dingin. Hal yang disebabkan perlakuan gadis itu ketika dirinya dibuat tersadar dan ingin berubah dari sikap buruknya.


***


Ujian hari kedua telah usai. Dengan langkah terburu, Naya melewati gerbang berupaya untuk menghindari Annisa dan Ulfa yang berjalan tepat di depannya. Ia masih marah, tapi tak ingin memperburuk keadaan.


"Naya. Buru-buru banget!" Ulfa menyadari pergerakan temannya itu, dan langsung menegurnya halus.


"Oh hai," jawab Naya sambil tersenyum pada keduanya. Ia berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja, dan memutuskan untuk menyejajarkan tubuh dengan berdiri di samping Ulfa.

__ADS_1


"Hai para gadis!" Renaldi yang baru bergabung, langsung menyergap pundak Naya, membuat gadis itu bergidik karena terkejut.


"Hai Rey. Baru nyapa kita sekarang. Sibuk godain Intan sih dari tadi," canda Ulfa diberi senyum oleh Annisa, berbeda dengan Naya yang memberikan sebuah pukulan pelan di perut pemuda itu karena kesal.


Renaldi terkekeh, "itu ada bidadari gue di depan. Mau gue samperin lagi," tandasnya sambil menunjuk seorang gadis yang tak terpaut jarak jauh dengannya. Matanya langsing teralih setiap kali menatap Intan yang selalu nampak sempurna.


Naya menatap langkah kaki Renaldi yang dengan semangat berlari menghampiri saingannya. Semakin kaki itu menepis jarak antara dua insan manusia itu, hatinya pun semakin dekat pada jurang kesakitan yang akan membuatnya terjatuh semakin dalam.


"Nay!" suara pelan Ulfa menyadarkan Naya yang sedang melamun sambil melihat Renaldi.


"Lo mau sampai kapan memendam rasa?"


Pertanyaan itu membuat Naya terkejut. Ia tak pernah membocorkan rahasianya pada siapapun. "Maksud lo?" Ia berpura-pura tak paham.


"Udahlah, Nay. Gue tahu lo suka sama Rey. Annisa juga, dan mungkin semua orang tahu."


Naya menghela napas panjang, "kalau semua orang tahu, terus kenapa dia enggak?" Matanya masih tertuju pada pemuda yang sedang asyik berbincang dengan Intan.


"Gue salah ngomong lagi." Ulfa menggigit lidah. "Maksud gue, mungkin Rey belum tahu, kalau lo enggak ngasih tahu duluan."


Gadis berambut sebahu itu kembali termangu.


"Lo mau terus nahan sakit, ketika lihat cowok yang lo suka lebih merhatiin orang lain?" lanjut Ulfa.


"Maksud lo, gue harus bilang yang sebenarnya sama dia?"


"Annisa. Coba lo jelasin sama dia. Gue takut salah ngomong. Gue kan belum pernah pacaran, jadi gak banyak paham urusan asmara," ujar Ulfa meminta Annisa untuk mengambil alih.


Annisa tertegun. Ulfa tak mengetahui bahwa hubungan dirinya dan Naya sedang tak baik-baik saja. Namun sebagai teman yang baik, Annisa akan memberikan sebuah saran yang dapat membantu. Setidaknya, mencoba untuk tak memperparah keadaan. Meskipun, ia merasa pesimis, Naya akan mendengarkan ucapannya.


"Iya. Ketika perasaan lo telah terluapkan, lo enggak akan merasa terbebani lagi. Masalah dia memiliki rasa yang sama atau enggak, itu resiko yang harus diambil. Syukur kalau dia nerima lo, kalaupun enggak, lo akan sadar bahwa hati lo memang bukan ditakdirkan buat dia. Meskipun sakit, lo akan sembuh seiring berjalannya waktu, dan bisa melanjutkan hidup tanpa beban. Hingga akhirnya, lo menemukan orang lain yang tepat buat hati lo," jelas Annisa dengan keraguannya.

__ADS_1


Meskipun dengan rasa kesal yang masih membelenggu hatinya, Naya merasa perkataan Annisa sangat benar. Dan, ia pun memutuskan untuk mencoba.


__ADS_2