
Annisa dengan hebohnya berlari tanpa mengatakan sepatah katapun. Otomatis kawan-kawannya mengikuti dari belakang dengan terheran.
Sedangkan, pria yang menjadi incaran Annisa menyadari bahwa dirinya menjadi sasaran. Merasa memiliki kesalahan, ia pun lari terbirit-birit, membelah kerumunan orang-orang yang tengah berjalan santai.
Sekelompok remaja itu terus mengejar dan mengejar laki-laki berpakaian serba hitam itu yang sangat lihai dalam menangani keadaan, tubuhnya sangat lincah bergerak menghindari orang-orang yang mengincarnya. Ia melaju ke arah pabrik terbengkalai, sebab suasana gelap membuatnya berkamuflase dengan warna pakaiannya.
Annisa mengelap keringat yang mengucur di keningnya. Rasa kesal menyelimuti hatinya karena telah gagal menangkap orang yang dapat dijadikan jembatan untuknya menemukan anak-anak yang hilang di kota ini.
"Ada apa, sih?" Geram Intan yang telat tiba di pabrik itu sambil menjingjing sepatu hak-nya, karena tak memungkinkan dipakai untuk berlari. Alhasil, ia menyeker selama beberapa menit tadi. Amora dan Rima setia di belakangnya dengan napas yang juga tersengal.
"Gue lihat orang yang menculik Desi," terang Annisa membuat amarah Intan reda.
"Terus, dia di mana sekarang?" balas Intan dengan memelototkan mata karena terkejut.
Annisa menggelengkan kepala tanda tak tahu.
"Kalau benar penculik itu kesini, ayo kita berpencar. Siapa tahu dia masuk ke dalam bangunan?" Ikbal mencetuskan sebuah ide.
Semua orang menyetujui kecuali Iswanti, "gue tunggu disini, gerbang ini jalan keluar satu-satunya, harus ada yang jaga. Kalau enggak, nanti penculiknya berhasil kabur."
Mereka mulai bergerak, memastikan seluruh sudut gedung terjamah. Namun, Iswanti merasa tak nyaman dengan keberadaan Salman dan gadis yang dibawanya karena tak ikut menelusuri gedung. Meskipun begitu, ia mencoba untuk bersikap biasa saja, dengan menjaga jarak.
"Kak, boleh bicara?" Suara lembut itu membuat Iswanti terkejut, karena sebelumnya ia sedang melamun.
Gadis yang dibawa Salman dengan tiba-tiba menghampirinya. Ingin beramah-tamah, Iswanti pun mengiyakan. Meski dalam hatinya, ia merasakan hal yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
"Oh kenalin, gue Helen." Gadis berambut sepinggang itu mengulurkan tangan sambil tersenyum lebar.
"Iswanti," balasan yang diberikan Iswanti sedikit dingin, meskipun dibarengi senyuman.
"Kakak cantik," lanjut Helen membuat Iswanti mengerutkan keningnya. "Pantesan kakak gue suka!"
__ADS_1
"Tunggu. Maksudnya?" tanya Iswanti tak mengerti.
"Dia, sepupu gue, tapi gue udah anggap kayak kakak sendiri," Helen menunjuk ke arah Salman yang sibuk memeluk dirinya sendiri karena kedinginan di jarak yang cukup jauh dengan Iswanti dan Helen.
Iswanti menatap Salman sambil merasa tak enak karena telah berburuk sangka. Hingga pada akhirnya, mata mereka bertemu dan bertatapan dalam kurun waktu beberapa detik. Ia hanya cengo ketika Salman memberikan senyum paling tulus.
"Aku tahu kakak udah nolak kak Salman. Gak bisa nyalahin kakak sih, kalau mau memilih orang yang lebih baik dari dia. Tapi, gue jamin, setiap hari kak Salman berusaha untuk berubah menjadi lebih baik, hanya untuk mendapatkan kakak," terang Helen yang mengetahui seluk-beluk kehidupan Salman. Karena mereka berdua begitu dekat, bagaikan saudara.
Iswanti mengalihkan pandangannya ke arah Helen dan tak dapat berkata apa-apa. Perihal perasaan ataupun asmara, ini adalah pertama kali dalam hidupnya. Jadi, ia bingung harus berkata atau berbuat apa.
"Pikirin lagi ya, kak. Kak Salman masih mau kok memperjuangkan kakak."
Akhir kata dari Helen sebelum menghampiri Salman benar-benar membuat Iswanti berpikir tajam.
***
Ikbal, Annisa, dan Ulfa mencari di bagian kiri gedung. Mereka telah berkutat di area yang cukup luas itu selama beberapa menit. Namun, penculik itu tak ada di sana.
Giliran Faisal, Naya dan Rima yang memilih untuk mencari di lantai dua. Dengan hati-hati, mereka menginjakkan kaki di atas beton dan lantai yang sudah sedikit rapuh itu.
Naya mengarahkan senter ponselnya ke seluruh sudut, dan tiba-tiba ia mendapatkan penglihatan. Seorang pria yang sedang bersembunyi di balik satu sisi tembok membuat Naya bergerak cepat untuk menangkap pria yang kini panik karena ketahuan.
Sayangnya ketika berlari, kakinya terperosok pada sebuah lubang, sehingga menyebabkan dirinya gontai dan berakhir terjatuh. Faisal dengan segera menolongnya, Rima yang kelabakan tak tahu harus berbuat apa, akhirnya berteriak, ia tak mampu jika harus melawan pria besar itu sendirian, "pria itu ada disini!"
Orang-orang di bawah dengan segera berlari menghampiri. Langkah kaki mereka terdengar nyaring menggema di seluruh area gedung.
Kini, penculik itu tak bisa berkutik, ia dikepung dari segala sudut. Akhirnya, ia melakukan perlawanan dan mulai mengeluarkan kemampuan bela dirinya.
Renaldi, Faisal, dan Ikbal pun mulai menggencarkan serangan untuk mengancam posisi pria yang tubuhnya dua kali lebih besar dari mereka. Mereka saling baku hantam menentukan siapa yang akan menang. Kebaikan atau kejahatan?
***
__ADS_1
Salman, Iswanti, dan Helen yang mendengar teriakan kencang Rima akhirnya menyusul untuk memberikan tambahan bantuan. Mereka berlari ke lantai dua secepat mungkin.
Terlihat teman-teman mereka masih berjuang sambil mencak-mencak, berusaha menumbangkan orang jahat itu.
Dan tiba-tiba, gadis di sebelah Iswanti berteriak kencang, "AYAH!" Diikuti Salman yang sama terkejutnya, "OM!"
Para gadis yang tak ikut berkelahi memandang Salman dan Helen kaget. Selama ini, orang yang mereka cari tenyata adalah orang yang sangat dekat dari jangkauan mereka. Meskipun mereka tak mengenal pria yang tak lain dan tak bukan adalah paman dari Salman.
Pria itu melihat mata putrinya yang menangis, membuatnya tak sanggup lagi melanjutkan pertarungan.
Helen tak percaya, jika selama ini ayahnya adalah orang yang telah membuat hati banyak orang bersedih dan risau. Yang ia tahu, ayahnya berada di luar kota setelah perceraiannya dengan ibunya.
Gadis itu menghampiri sang ayah dengan lemas, merasa terluka. Ia berlutut dan menatap sang ayah yang kini tengah menunduk malu menghadapi kenyataan akan kekecewaan yang pasti dirasakan putrinya.
Renaldi, Faisal, dan Ikbal memberi ruang untuk dua orang yang saling terkejut itu.
"Benarkah ayah yang menculik anak-anak itu? Kenapa ayah melakukan itu semua?" tanya Helen lirih dengan terus-menerus mengucurkan air mata.
Tak ada yang dapat dilakukan pria itu selain menggelengkan kepalanya dan menangis malu dalam beberapa saat.
"Om. Om harus jujur!" Tekan Salman dari kejauhan.
"Om terpaksa. Om melakukan itu karena--," hendak membalas ucapan keponakannya, namun tiba-tiba, "DOR!" Suara pria itu terputus berbarengan dengan suara nyaring dari tembakan pistol dan peluru yang tiba-tiba menembus kepalanya.
Helen berteriak histeris, kaget dan ketakutan mendapati sang ayah yang langsung terkulai ke dalam pangkuannya. Ia mwrasa ngeri dengan lubang yang terbentuk did kepala ayahnya yang berdarah-darah.
Sedangkan yang lain, dengan ketakutan yang sama besarnya, mereka mengalihkan perhatian ketika melihat si penembak dengan memakai jubah serta tudung hitam dari atap pabrik yang sudah berlubang cukup besar itu berlari di atasnya.
Orang misterius itu langsung pergi dengan cara melompat ke atas tanah, tanpa memedulikan jarak yang tinggi. Layaknya seorang ninja, ia bahkan berguling lenting ketika tangannya menyentuh permukaan.
Semua orang kecuali Helen dan ayahnya, mengambil langkah cepat untuk memerhatikan orang aneh yang kini berlari kencang melewati gerbang dan berangsur menghilang bak ditelan gelapnya malam.
__ADS_1