
Naya menunggu di sebuah bangunan terbengkalai bersama Ulfa, Iswanti, Salman, dan juga Renaldi. Sebuah rumah kecil yang hangus terbakar itu menjadi saksi mereka dalam upaya mencari kebenaran.
Mereka sedang menunggu Sandi yang sekarang ikut dalam pencarian. Pemuda itu dengan beraninya mendatangi tempat yang sudah ditentukan oleh si pengirim pesan misterius, untuk melakukan kesepakatan.
Tak jauh dari tempat kelompok Naya, Sandi pun memandangi pondok kayu yang nampak tak terurus. Jauh dari keramaian kota, tempat tersebut seolah terlupakan.
"Kamu sudah sampai?"
Sandi membaca pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya. Ia celingukan kesana kemari saat baru saja masuk ke dalam pondo tersebut. Ia menatapi betapa berantakannya barang-barang yang sudah tak terpakai lagi di dalam sana. Debu-debu yang bejibun dan berterbangan berhasil membuat hidung dan tenggorokanya kegelian hingga bersin dan terbatuk beberapa kali.
Bukan tanpa alasan Sandi sampai celingukan. Ia sedang mencari sosok orang yang sudah menyuruhnya datang ke tempat ini. Setidaknya, jika ingin membuat kesepakatan, maka mereka harus bertatap muka. Pikirnya.
"Kamu dimana?" Sandi berhasil mengirimkan balasan pesan tersebut.
"Kamu gak perlu tahu aku dimana. Yang penting, kalau kamu setuju dengan kesepakatan ini, maka aku akan tahu segala gerak-gerikmu." Pesan dari nomor tak dikenal tersebut kembali masuk ke dalam ponsel Sandi.
Sandi pun menelan ludah. Tak dipungkiri, nyali besarnya tadi perlahan sedikit menciut. Selama hidupnya, ia tak pernah berurusan dengan hal-hal kriminal. Dan, jika ia menyetujui jalan hitam ini meskipun hanya pura-pura, apakah dirinya akan tetap terancam?
Akhirnya, Sandi malah mengirimkan pesan kepada Naya. Ia mengatakan semua pesan yang dikirimkan oleh orang misterius yang belum dirinya ketahui keberadaannya.
"Nay, gimana ini? Di pondok ini gak ada siapa-siapa. Tapi, orang itu bilang, dia bisa ngawasin gue, kalau gue ikut dalam kesepakatan itu," ketik Sandi.
Naya dan keempat kawannya, bersamaan membaca pesan yang baru diterima dari Sandi. Mereka saling melempar tatapan, mencoba mengukuhkan pendapat tentang balasan apa yang akan dikirimkan.
"Bilang aja ke dia buat ikutin kemauan orang misterius itu," cetus Renaldi dengan segera.
"Tapi Rey! Gue kasihan sama bang Sandi. Gimana kalau dia kena masalah karena hal ini?" ujar Ulfa.
"Atau, gimana kalau kita lapor polisi? Buat jaga-jaga. Semoga, polisi bisa ngeback-up kita," sahut Iswanti.
__ADS_1
"Gue setuju!" timbrung Salman.
Naya mengerutkan dahi. "Gue juga pengennya begitu. Tapi, gue belum bilang sama kalian, kalau tawaran yang datang ke bang Sandi itu dibarengi ancaman. Kalau sampai bang Sandi lapor polisi, maka keselamatan ibu sama adiknya terancam."
"Jadi, gak ada jalan tengah terbaik? Bang Sandi emang harus meneruskan hal gila ini?" berondong Ulfa yang mulai pasrah. Sebenarnya, ia tak ingin nyawa orang lain menjadi taruhan karena membantunya.
Akhirnya, Naya pun mengirimkan balasan singkat pada Sandi. "Lakukan keinginan mereka, bang!"
Sandi kembali celingak-celinguk setelah mendapat balasan dari Naya. Ia berharap, orang misterius itu tak menyadap ponselnya, hingga mengetahui isi perbincangannya dengan Naya di seberang sana.
"Kenapa kamu mengetik lama sekali?" Tiba-tiba, pesan dari nomor misterius itu muncul lagi di layar ponsel Sandi.
Sandi hampir saja menjatuhkan gawainya dari genggamannya yang sedikit gemetar. Namun, pesan barusan seolah mengisyaratkan jika ponselnya memang aman, tak terkena bajak.
"Baiklah. Aku akan melakukan kemauanmu." Balas Sandi.
"Bagus. Sekarang, kamu lihat gentong besar di pojok ruangan? Di dalam sana ada sejumlah uang sebagai pembayaran awal. Nanti, kalau tugasmu sudah selesai, maka kamu akan mendapatkan lebih banyak lagi."
"Semoga uang itu cukup untuk mengobati adikmu. Ibumu juga. Dan kamu tahu sendiri, jika sampai macam-macam, maka nyawa mereka terancam."
Sandi menelan ludahnya kasar setelah mendapatkan pesan itu. Sekarang, ia benar-benar merasa ketakutan. Baru kali ini, dirinya tak bahagia karena mendapatkan banyak uang!
***
Annisa telah sampai di tempat tujuan. Sebuah kafe yang tak jauh dari rumahnya, menjadi tempatnya menunggu seseorang kali ini. Dua gelas susu kocok di mejanya terus ia pandangi, dengan pikiran yang sangat kalut.
Tak lama, pemuda yang ditunggunya pun menampakan batang hidungnya, sambil mengulas senyum bahkan dari jarak yang terbilang masih cukup jauh.
"Hai! Tumben ngajak ketemuan di kafe kayak gini." Ikbal langsung duduk di hadapan Annisa. Ia membenarkan posisi rambutnya yang sedikit acak-acakan sehabis mengenakan helm barusan.
__ADS_1
Annisa masih terlihat gugup. Ia memainkan jemarinya, karena ragu menceritakan kecurigaan sangat buruknya terhadap sang ayah pada pemuda yang belum lama dikenalnya tersebut.
"Gue mau minta tolong sama lo," ujar Annisa. Entah mengapa, ia merasa Ikbal adalah salah satu sosok yang paling dekat dengannya saat ini. Makanya, ia berani untuk meminta bantuan.
"Oke. Lo tahu gue ada disini. Tapi, minta tolong buat apa?" Ikbal pun menyanggupi, meski belum mengetahui secara spesifik jenis bantuan apa yang diinginkan Annisa.
"Gue udah punya petunjuk tentang ayah gue. Gue takut, kecurigaan kita benar tentang dia," jelas Annisa. Ia tak tahu, mengatakan hal ini ternyata membutuhkan kekuatan yang sangat besar juga.
"Dan, apakah itu?"
Annisa pun menceritakan tentang rumah singgah milik ayahnya dengan detail, beserta pikiran liar yang dimilikinya kepada Ikbal.
"Jadi, gue mau minta bantuan lo buat nganter gue selidiki rumah singgah yang ada di Belisia itu, Bal," jelas Annisa.
Ikbal yang masih menganga dengan cerita Annisa tentang ayahnya, hanya dapat mengerjapkan matanya berkali-kali. Namun akhirnya, ia menganggukan kepala menyanggupi.
Sekarang, Annisa hanya dapat mengatupkan bibirnya. Ia sedang merasakan pergolakan batin yang sangat membingungkan. Di satu sisi, ia bersemangat untuk mencari kebenaran. Namun, di sisi lainnya, ia takut kebenaran itu akan membuat relung hatinya terluka jika kecurigaannya tentang ayahnya adalah sebuah fakta.
"Lo kenapa?" tanya Ikbal yang menyadari perubahan ekspresi wajah Annisa.
Annisa mengembuskan napasnya cukup panjang. Ia berusaha menguatkan tekadnya yang terkadang sangat labil.
"Gimana kalau ayah gue ternyata seburuk itu?" tanya Annisa yang sekarang netranya terlihat berkaca-kaca.
Ikbal sempat ragu untuk menjawab, karena takut salah bicara. Namun, bagaimana pun ia ingin membuat perasaan Annisa lebih baik.
"Maka, lo melakukan hal yang benar dengan berusaha mengungkap kebenarannya."
Annisa tersenyum. Dirinya merasa tak salah karena memilih Ikbal untuk membantu rencananya. Pria itu bahkan memiliki pikiran yang sama sepertinya. Seolah, otak mereka terkoneksi dengan sangat sinkron.
__ADS_1
"Bantu gue buat lewatin semua ini, ya!" ujar Annisa masih mengulas senyuman. Berusaha menghibur diri sendiri.
"Gue akan bantu semampu gue, Nis!" balas Ikbal yang sama tulusnya.