ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)

ALPENIA (Kota Kecil Yang Kejam)
Ketakutan Iswanti


__ADS_3

Hutan Alpenia terlihat makin gelap dari biasanya. Suara berbagai jenis burung yang berkicau dari segala arah, membuat kepala gadis itu mendongak kesana-kemari.


Apalagi, bunyi aneh lain yang bergaung di kepalanya semakin mengganggu konsentrasinya. Ada tawa, tangis, dan juga teriakan yang membuat Iswanti bergidik ngilu. Napasnya memburu, dengan keringat yang mengucur di pelipis hingga pipinya.


"Tolong!"


"Pergi dari sini!"


"Kau harusnya membantu kami!"


Iswanti menutup kupingnya, karena suara samar tadi kini terdengar sangat jelas. Segera, ia berlari berusaha menjauh dari keanehan tersebut. Namun, semakin jauh kaki kurusnya melangkah, Iswanti tetap kembali lagi ke sudut yang sama. Ia seolah diputarkan untuk selalu mencapai tunggul pohon beringin cukup besar tempatnya dari tadi berdiri.


Iswanti sudah tak kuasa, tubuhnya yang gemetar kini mulai menyerah dan kelelahan. Sekarang, ia hanya dapat ambruk di aspal berlubang yang menjadi pijakannya. Hanya air mata yang dapat menyuarakan emosi yang bercampur aduk di hatinya saat ini.


"Kenapa kamu menangis? Kamu diciptakan bukan untuk menangis! Kamu adalah sosok yang kuat. Kamu harusnya menyelamatkan kota ini, Iswanti. Tapi, aku mohon, percepatlah! Waktumu serta teman-temanmu makin menipis. Selamatkan kota ini dari iblis-iblis jahat itu."


Iswanti yang semula menyembunyikan wajah di lututnya, lantas mendongak setelah mendengar suara yang tak asing itu. Pria berjubah hitam itu datang lagi, sejak terakhir kali dirinya mengunjungi hutan ini.


"Kamu! Siapa kamu? Cobalah menyebutkan maksudmu dengan jelas, biar aku mengerti. Aku dan teman-temanku juga sedang berusaha! Kami gak diam aja," terang Iswanti merasa sedikit tenang. Karena di tengah gelapnya hutan ini, ia akhirnya dapat menemukan sesorang untuk berbincang.


"Maka, berusahalah lebih keras. Naya--"


Ucapan pria itu langsung terhenti saat sesosok makhluk aneh menyeluduk tubuhnya hingga terpental.


Sosok manusia berkaki kuda itu juga kembali lagi, menampakan diri pada Iswanti.


"Aku sarankan, lebih baik kau mundur dari semua ini, jika tak mau celaka. Bukan hanya dirimu, tapi teman-temanmu akan jadi korbannya." Kecam sosok itu dengan wajah marah. Bahkan, sekarang matanya terlihat mengeluarkan api yang berkobar-kobar.


Iswanti membelalakan netranya ketakutan. Ia mundur merangkak menggunakan tangan dan bokongnya, saat sosok itu menyemburkan api dari mulutnya.


Sebelum merasakan panas menerpa kulitnya, Iswanti terlebih dulu tak sadarkan diri. Tiba-tiba, ia mendapati dirinya sendiri ketakutan di atas ranjang dengan napas tersengal.


Iswanti hendak percaya bahwa hal yang berusan menimpanya adalah sebuah mimpi, tapi batinnya menolak. Sebab, mimpi buruk tersebut terasa begitu nyata. Ia merasa, itu semua adalah pertanda.

__ADS_1


Satu hal yang menjadi pikirannya sekarang, sosok pria tua tadi mennyebutkan nama Naya dalam mimpinya. Apa maksudnya?


***


Malam telah berlalu, berganti dengan pagi hari yang nampak masih gelap. Sebab, kota Alpenia selalu dikelilingi awan hitam. Jika tak hujan, berarti berkabutlah keaadannya.


Naya baru saja sampai di sekolah. Seperti biasa, gadis itu selalu memiliki semangat yang menggebu-gebu. Apalagi, ditambah nanti sore dirinya memiliki rencana dengan Sandi.


"Nay! Gue mau bicara sama lo!" Iswanti langsung mencegat Naya di depan pintu kelas dengan ekspresi wajah serius.


"Apa?" tanya Naya yang langsung timbul penasaran, karena melihat wajah Iswanti.


"Ada hal aneh yang terjadi sama lo, gak?"


Naya mengerutkan dahi, tak mengerti dengan ucapan Iswanti. "Hah? Maksud lo?"


"Lo ingat, ketika kita masuk hutan waktu itu, cuma gue, Ulfa, sama lo yang gak kedistraksi sama hal aneh yang menimpa teman-teman lain. Gue kira, itu berarti sesuatu, kan?" Iswanti menjelaskan maksudnya. Dari semalam, hanya Naya yang menjadi pusat pikirannya.


Naya menaikan pandangannya, sambil menimbang-nimbang perkataan Iswanti yang ada benarnya juga. "Ya. Gue juga berpikir kayak gitu. Tapi, hal aneh yang lo maksud itu apa? Gue gak paham!"


Naya tertawa getir. "Gak. Gue cuma manusia biasa, Is. Lagian, kenapa lo tiba-tiba mikir kayak gitu?"


"Gue gak mikir tiba-tiba, Nay. Sejak kejadian di hutan, gue udah mikirin hal itu. Apalagi tadi malam, pria berjubah hitam itu datang lagi ke mimpi gue. Dia nyebut nama lo juga," terang Iswanti.


Naya menganggukan kepala. Ia memikirkan hal yang lebih masuk akal daripada dengan dugaan Iswanti yang menyangkanya sebagai manusia yang memiliki kekuatan. "Mungkin, maksud pria itu adalah Sandi, Is. Sebenarnya, gue mau cerita sama kalian hari ini."


"Cerita apa?"


"Jadi, Sandi dapat pesan anonymous gitu dari sesorang, berisi tentang tawaran untuk menculik anak. Nah, gue sama dia berencana mau ngikuti permainan orang misterius itu. Buat nyari petunjuk," papar Naya sangat antusias.


Iswanti membelalakan matanya. "Itu ide bagus, Nay!"


"Apa jangan-jangan mimpi lo tadi malam adalah pertanda, Is. Pria itu mungkin mengisyaratkan bahwa gue akan menjadi jembatan untuk sesuatu baik yang akan datang, karena rencana sama Sandi itu. Mungkin, anak-anak itu sebentar lagi ketemu, Is!" ujar Naya makin percaya diri, jika rencananya akan berhasil.

__ADS_1


Iswanti membuka mulutnya, tetapi ragu-ragu untuk berkata. "Gue harap begitu, Nay. Tapi--"


"Tapi apa?"


"Gue juga dapat peringatan dari sosok makhluk setengah manusia setengah kuda," jawab Iswanti.


Naya mengerutkan dahi meminta kejelasan.


"Dia bilang, kita harus berhenti menyelidiki. Atau enggak, kita semua bakal celaka," terang Iswanti dengan menundukan kepala.


Naya menggelengkan kepala dengan cepat. "Dan lo mau nyerah gitu aja? Lo mau lihat Ulfa terus bersedih dan bertanya-tanya dimana Hilfa? Gue gak akan mundur, Is."


"Hey! Ada apa ini?" Ulfa yang baru saja datang, tiba-tiba menimbrung.


"Seru nih, ikutan dong!" Annisa juga baru hadir. Ia langsung merangkul pundak Ulfa.


"Permisi! Ada kehebohan apa yang terjadi? Kenapa kalian buat lingkaran, dan mengepung Iswanti?" Intan yang tadinya hanya meneleng setelah memasuki pintu, kini juga tertarik untuk ikut bergabung.


"Lo akan tetap melanjutkan ini atau enggak, Is?" tanya Naya pada Iswanti yang masih termangu.


"Melanjutkan apa?" tanya Intan mewakili teman-temannya yang belum mengetahui arah perbincangan yang sedang terjadi.


"Iswanti bilang, kalau kita tetap nekat melanjutkan pencarian terhadap anak-anak, maka kita akan celaka!" jelas Naya.


"Hah?" Intan memegang dadanya karena terkejut.


"Apa lo juga takut kayak Iswan, Tan?" tanya Naya.


Intan mendelik tajam. Ia kira, dirinya tak memiliki apapun lagi jika kemungkinan terburuk itu terjadi. Tak apa jika dirinya celaka, sebab kehidupannya sudah runyam dan menyedihkan. Keluarganya kacau, Re.aldi juga sudah mulai mengabaikannya.


"Gue gak takut sama sekali, gadis gembel!" tegas Intan.


"Percaya, Is! Niat kita baik, pasti hasilnya akan baik juga. Kalaupun kita celaka, seenggaknya kita udah melakukan hal mulia." Sambung Annisa yang sama sekali tak gentar. Ia benar-benar ingin menjadi gadis yang baik.

__ADS_1


"Kita butuh lo, Is. Gue butuh lo!" ujar Ulfa meyakinkan.


Setelah mendapat kekuatan yang cukup dari teman-temannya, perlahan rasa takut dalam diri Iswanti pun memudar. Sekarang, keyakinannya telah kembali. Ia siap untuk berperang.


__ADS_2