Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 10-Komplikasi


__ADS_3

“Mbak, istri keduanya Mas Aksara, 'kan?”


Pertanyaan itu terlontar dari mulut seorang wanita yang asing di mata Kintan. Tamu yang bahkan belum sempat ia ajak masuk ke dalam rumah, sekaligus mengganggu acara memasaknya. Namun, anak kecil yang bersama wanita itu membuat Kintan mengernyitkan dahi.


“Mm ... benar,” jawab Kintan, meski ia merasa perih karena sebutan 'istri kedua' yang bahkan tidak pernah ia impikan. “Saya Kintan.”


“Oh. Saya Ningsih, adik Mas Aksara. Mohon maaf, kemarin enggak datang ke ijab kabul kalian,” sahut wanita bernama Ningsih itu, yang ternyata adalah adik kandung Aksara.


“Tak masalah. Bukan pesta besar yang mengharuskan kedatangan tamu undangan, apalagi kebahagiaan.”


“Saya tahu itu sulit.”


“Enggak! Selama pernikahan ini mampu memancing kesembuhan sahabat saya, pasti akan jauh lebih mudah untuk dilalui.” Kintan menghela napas dengan berat. “Silakan masuk.”


Namun alih-alih memasuki rumah itu, Ningsih justru menggelengkan kepala. “Saya enggak berniat mampir, Mbak,” katanya kemudian menurunkan pandang ke arah anak kecil yang sejatinya adalah Gibran. “Saya mau titip Gibran, lantaran Mbak Kintan sudah menjadi ibunya.”


“Dengan senang hati.”


Kintan meluruhkan badan, kemudian menangkup wajah gembul milik bocah kecil itu. Rasa prihatin menyeruak ke dalam hatinya. Tanpa terasa, bulir air mata pun meluruh menodai salah satu pipinya. Kintan sedih, dan dalam waktu yang bersamaan, ia memahami bagaimana sedihnya seorang anak yang tidak bisa bertemu sang ibu, sebab ia sendiri memang pernah mengalami.


“Tante Kintan, ya?” ucap Gibran ketika mengenali wajah tak asing yang sudah beberapa kali ia temui.


Kintan mengusap air matanya, kemudian tersenyum dan menjawab, “Iya, Sayang. Sama Tante dulu, yuk!”


“Mama di mana? Mama enggak sama Tante Kintan?”


Pertanyaan Gibran kali ini terasa menusuk kejam jantung Kintan maupun Ningsih. Kedua wanita dewasa itu tidak dapat berkata-kata. Tentu saja, bagi Ningsih yang sudah menjadi seorang ibu dan bagi Kintan yang pernah kehilangan seorang ibu, pertanyaan polos Gibran di keadaan Nila yang sedang koma benar-benar terdengar memilukan. Pada akhirnya, kedua wanita itu memutuskan untuk terdiam. Belum saatnya Gibran tahu, setidaknya sampai ada kepastian dari keadaan Nila yang di ambang hidup dan mati.


“Ayo, main ke dalam yuk sama Tante Kintan.” Kintan lantas berdiri. Tanpa menjawab pertanyaan dari Gibran, ia segera memandu anak sambungnya itu untuk masuk ke dalam rumah.


Sesaat setelah Gibran masuk ke dalam dan tampak menghampiri sebuah kotak mainan, Kintan mendatangi Ningsih lagi. Adik dari suaminya itu masih berdiri dan memang masih menunggu Kintan keluar lagi.

__ADS_1


“Saya hendak ke rumah sakit. Saya ... mm, saya tahu ini berat buat Mbak Kintan. Saya sudah mendengar kondisi kalian dari ibu saya, termasuk mengenai pernikahan itu,” ucap Ningsih.


Kintan menunduk. “Saya harap enggak terlalu sulit, bagi saya maupun bagi keluarga besar kalian. Saya juga berharap dengan pernikahan ini, Nila bisa tenang dan enggak khawatir. Dengan begitu dia bisa berjuang untuk sembuh tanpa hambatan,” jawabnya.


“Amin. Saya titip keponakan saya, Mbak.”


“Tentu, oh! Mau ke rumah sakit, 'kan? Saya titip bekal makan buat Aksa ... mm, Mas Aksara.”


“Boleh. Akan saya sampaikan.”


Kintan tersenyum semringah, meski sebenarnya ia ingin sekali menjenguk Nila. Namun pertengkaran dengan Aksara membuatnya enggan untuk bertemu pria itu lagi, dan kehadiran Ningsih cukup membantunya dalam memberikan kotak susun berisi makanan. Karena akan lebih buruk, jika Aksara berkomentar pedas pada masakannya dan kembali memicu perdebatan, jika ia sampai datang. Jika hal itu terjadi tentu keadaan di rumah sakit akan bertambah runyam.


Kedatangan Ningsih saat ini bak malaikat penolong bagi Kintan. Selain tidak akan melihat wajah Aksara untuk sementara, beberapa masalah yang pasti akan terjadi dapat dicegah terlebih dahulu.


***


Beberapa menit setelah naik taksi, Ningsih akhirnya sampai di rumah sakit. Dan kini, ia sudah berada di samping Aksara sembari menyerahkan bekal titipan dari istri kedua kakaknya itu.


“Ini sampah bukan makanan,” celetuk Aksara sampai membuat Ningsih kaget.


“Hus!” Ningsih menepuk bahu kakaknya itu. “Istrimu sudah berjuang bikin ini, Mas!”


“Dia bukan istriku, dia hanya pengganti.”


“Kamu terlalu jahat, Mas!"


“Itu faktanya, Ning.”


Ningsih tak mau menyahut lagi. Ia paham betul mengenai sifat Aksara jika Aksara benar-benar membenci orang lain. Apalagi, dari cerita yang ia dengar dari ibunya, Kintan pulang lebih awal dan membuat Nila tak punya tumpangan. Mungkin karena faktor itu juga, Aksara menjadi bengis pada sang istri kedua. Namun memperingatkan Aksara di situasi seperti sekarang hanya akan sia-sia, sehingga Ningsih tak banyak bicara lagi.


Setelah memberantaki isi tempat bekal itu, dengan terpaksa Aksara menyantapnya. Tidak enak, itu kesan pertama yang ia berikan pada hasil masakan istri keduanya. Sangat jauh jika dibandingkan dengan masakan buatan Nila. Namun apa boleh buat, ia harus maklum lantaran masakan itu hasil pertama dari jerih payah seorang gadis kaya.

__ADS_1


“Pak Aksara.” Seorang perawat menghampiri Aksara dengan terburu-buru. “I-istri Bapak—”


“Ni-nila!” Aksara berdiri, sementara makanan itu terjun bebas ke lantai karena ia mendadak bangkit tanpa banyak memperhatikan keadaan dan benda sekitar.


“Dengan berat hati, saya mengatakan bahwa ibu Nila mengalami komplikasi dan gagal jantung, Pak, dan saat ini sedang ditangani oleh dokter kami.”


Seketika itu juga, Aksara tidak dapat berkata apa-apa. Lidah, bahkan sekujur tubuhnya menjadi kaku. Bagaimana tidak, jika Nila tengah mengalami komplikasi. Saat ini para staf medis sedang berusaha mengembalikan detak jantung Nila yang tidak beraturan, bahkan nyaris hilang.


Dari dinding transparan, Aksara hanya bisa menatap. Hatinya hancur, perasaan sedihnya tentu semakin membesar. Nestapa yang menyerang tiba-tiba meruntuhkan kepingan asa yang sempat Aksara kumpulkan. Dalam keterpakuan itu, Aksara menangis sesenggukan. Air matanya meluruh dan nyaris membasahi seluruh area pipi, sampai membentuk genangan di lantai karena ia tidak mengusapnya sama sekali.


Makanan yang Aksara santap saja menjadi terbengkalai. Padahal ia sudah berusaha menyantap hidangan tak enak yang dibuat susah payah oleh istri keduanya itu. Namun sayang, ia harus mengabaikannya lantaran Nila mendadak kejang-kejang.


“Mas, berdo'a saja, Mas. Yang kuat, Mas,” ucap Ningsih sembari mengusap pundak kakaknya.


Aksara tak menyahut. Lidahnya terlalu kelu, bahkan telinganya tak mampu mendengar suara Ningsih lantaran terlalu terpaku pada kondisi istrinya.


Ningsih menjadi prihatin. Ia tidak dapat berbuat apa-apa. Padahal, ia datang untuk mengunjungi kakak ipar pertamanya itu, berharap ia mendapatkan kabar keadaan Nila yang semakin baik-baik saja. Namun belum ada satu jam berada di sana, kabar mengejutkan justru datang membuat Ningsih hanya bisa turut pasrah.


Nila ... sedang di ujung maut.


“Nila ... Sayang, kamu harus kuat.” Sekian menit mempertahankan kokohnya kaki dalam berdiri, pada akhirnya Aksara jatuh lemas. Ia tidak berdaya.


Ningsih pun sama, air matanya juga membanjiri pipi. Namun dengan segenap energi, ia mencoba menguatkan hati kakaknya itu. Do'a-do'a terus ia panjatkan di dalam hati. Ningsih juga mencoba menguasai diri agar tidak tumbang, sebab ini pertama kalinya ia melewati momen menegangkan yang berkaitan dengan nyawa seseorang.


Sementara di tempat lain yang merupakan rumah Aksara, Gibran menangis meraung-raung. Kintan bingung, pasalnya momen itu merupakan kali pertama bagi dirinya dalam mengurus anak. Dan tanpa sebab apa pun, anak yang ia asuh rewel serta sulit ditenangkan.


“Kenapa, Sayang? Ada apa? Bilang sama Tante Kintan, Gibran.” Kintan panik, tetapi masih berusaha memeluk atau mengusap lembut wajah anak itu.


“Ayo, Gibran mau apa? Tante belikan, mau ke mana? Ayo kita pergi pakai mobil bagus. Mau ya?” Kintan masih mencoba. “Mau makan? Mau ice cream? Atau mainan? Tante belikan semuanya buat Gibran.”


Namun, sayang, usaha Kintan sia-sia. Gibran enggan berbicara, dan justru terus meraung. Tidak mau apa pun yang ditawarkan oleh Kintan. Hal itu memicu firasat buruk di hati wanita itu. Mungkin saja ada perasaan yang berkaitan dengan kondisi Nila saat ini dan Gibran tengah merasakannya. Entah, anggapan itu bisa dipercaya atau tidak. Namun, hati seorang anak biasanya jauh lebih peka, terlebih jika menyangkut ibunda mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2