
Ismi kembali mampir ke rumah milik putranya itu, dan sudah berkali-kali ia mampir setelah kepergian menantu pertamanya. Bukan tanpa sebab, melainkan demi mewanti-wanti agar Kintan tidak meninggalkan Aksara. Dua bulan memang sudah berlalu sejak peristiwa itu, dan setiap hari Ismi terus saja merasa gelisah. Ia takut jika Aksara benar-benar memberikan talak pada Kintan dan berencana menduda selama-lamanya.
“Ibu mampir lagi, Nak,” ucap Ismi sesaat setelah mendapati Kintan di balik pintu yang baru saja dibuka oleh menantunya itu. “Enggak apa-apa, ‘kan?” tanyanya sungkan.
Sama seperti biasanya, Kintan mengulas senyuman. Dengan santun Kintan mengangguk kemudian meraih tangan mertuanya itu dan lantas mengecupnya. “Enggak apa-apa, Ibu,” jawabnya lembut. “Justru bagus, lantaran Gibran sering rindu sama neneknya, tapi sekarang malah masih tidur. Mari masuk, Ibu.”
Dengan gemulai lembut, Kintan mengajak Ismi untuk segera memasuki rumah itu. Kemudian, Kintan mengantarkan sang ibu mertua agar dapat duduk di kursi tamu dengan nyaman. Detik berikutnya, Kintan hendak pergi ke dapur demi menyiapkan minuman berupa teh hangat yang biasanya Ismi sukai.
Namun, belum sempat melangkah, tangan Ismi mencengkeram lengan Kintan. Dan tentu saja, Kintan menjadi kaget sekaligus heran. Seiring munculnya kerutan di dahi, ia pun menoleh kembali.
“Ibu enggak akan lama, Nak, enggak usah repot-repot,” jelas Ismi menolak rencana Kintan yang sudah ia sangat hafal.
“Tapi, Bu, ini hanya minum teh buat menghangatkan badan Ibu. Terlebih, suasana hujan terus sejak tadi pagi,” jawab Kintan.
Ismi menggeleng, ia tetap menolak. “Ibu hanya ingin memastikan saja kalau kamu masih di rumah ini, Nak.”
Terenyuh tumbuh di hati Kintan. Pasalnya, sudah dua bulan semenjak Nila meninggal dunia, ibu mertuanya masih saja didera ketakutan. Meski ia hanya dijadikan sebagai tameng untuk melindungi Aksara, tetap saja Ismi begitu lembut bersikap padanya. Kintan justru bersyukur lantaran Ismi mampu mengobati rasa rindu perihal kasih sayang dari seorang ibu yang tidak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.
Kemudian, dengan sopan Kintan melepaskan cengkeraman tangan ibu mertuanya itu dari lengannya. Detik berikutnya, ia menggenggam lembut dan mengajak Ismi untuk kembali duduk.
“Kintan akan tetap di rumah ini, Ibu,” ucap Kintan sembari berharap agar Ismi berangsur tenang.
Ismi menghela napas. “Tapi, Aksara masih saja kaku dan enggak mau membuka hati buat kamu, Nak. Ibu juga enggak mau kalau kamu justru melewati bahtera rumah tangga yang enggak bahagia,” jawabnya.
Kintan terdiam. Benaknya membayangkan sikap Aksara selama ini. Aksara selalu dingin, sering marah-marah tak jelas, tidak pernah puas dengan segala upayanya dalam bertugas sebagai ibu rumah tangga, sekaligus enggan untuk menatap matanya. Kepergian Nila masih saja menghantui hati suaminya itu. aksara menjadi pribadi yang tertutup dan terus diselimuti kabut sendu. Atau, apakah hanya ketika bersamanya saja?
__ADS_1
Kintan masih tidak mengerti. Seharusnya meskipun Aksara tidak mampu mencintainya, setidaknya pria lebih bisa menghargainya. Namun sayang, pria itu justru memiliki sifat egois yang besar. Tidak mau mengalah meski hanya sekali saja. Kintan menjadi serba salah. Padahal, ia rela meninggalkan kariernya demi menjadi istri sekaligus ibu yang sempurna, dan demi amanat istri pertama suaminya. Dan kalau saja bukan karena Gibran, Kintan sudah tidak sanggup!
“Ibu.” Kintan menguatkan genggamannya. “Kintan akan berusaha,” ucapnya mantap sembari menatap manik mata sang ibu mertua.
“Kamu yakin? Sudah dua bulan sejak saat itu, Nak, rasanya ibu juga hampir menyerah saat mendesak suamimu. Ibu tahu, bahkan sangat malu sama kamu, lantaran memanfaatkan kamu demi anak ibu agar enggak hidup menduda. Tapi, sungguh, Ibu juga tulus menyayangi kamu, Kintan. Hanya saja, ... ketika harus membayangkan bagaimana sulitnya kamu, Ibu jadi enggak tega,” jawab Ismi.
Kintan tersenyum. “Kintan lebih kuat dari bayangan Ibu. Tenang saja, Ibu.”
“Terima kasih, terima kasih banyak, Kintan. Ibu juga enggak tahu mau Ibu itu bagaimana, tapi, Ibu berharap kamu berhasil.”
Senyum Kintan bisa membohongi ibu mertuanya, hanya saja mata Kintan ternyata tidak sanggup. Beberapa kali ia mengerjap-ngerjap, menandakan jika dirinya sedang menutupi luka di hatinya. Dan memang benar, Kintan terluka. Ia juga tidak tahu apakah ia sanggup meluluhkan hati suaminya. Sejujurnya, ia sendiri sama sekali belum mencintai Aksara, hanya saja ada amanat serta dua orang yang harus ia tenangkan, terutama putra sambungnya—Gibran.
Lantaran tidak mau terjebak dalam suasana muram terlalu lama, Kintan membujuk Ismi untuk minum teh sebentar. Karena usaha menantunya itu, Ismi mau tidak mau menerimanya. Tak ada salahnya, apalagi suasana sedang kelam karena sang surya enggan bersinar hari ini.
***
Lantas, benarkah Aksara menikah karena sudah mendua sejak lama? Kepergian sang istri apakah telah menjadi menjadi kesempatan besar bagi Aksara untuk mencari wanita lain? Namun, mengapa Aksara selalu memasang wajah sendu hampir setiap hari?
“Apa aku tanya saja? Aku rasa itu hanya gosip enggak benar, tapi ...,” gumam Mergi.
Perlahan, Mergi memundurkan kursi kerjanya, sebab ia tidak mau mengganggu para rekan yang masih sibuk dengan pekerjaan. Kemudian, dengan hati-hati, Mergi melangkah untuk menghampiri Aksara yang termenung.
“Aksa?” ucap Mergi pelan, nyaris berbisik.
Aksara tersentak. Detik berikutnya, ia menatap wajah wanita tanpa suami itu. “Ya, Mbak?”
__ADS_1
“Bisa bicara sebentar? Kamu sudah beresin kerjaan, ‘kan?”
Dahi Aksara mengernyit. “Boleh,” jawabnya kemudian berdiri.
Mergi dan Aksara meninggalkan ruang kerja itu. Bahkan, tanpa memedulikan tatapan rekan yang lain. Mungkin mereka hanya akan berpikir jika kebersamaan Mergi dan Aksara masih berkaitan dengan pekerjaan. Lagi pula, jam kerja juga hampir sampai di penghujung batas waktu operasional, sehingga tidak ada yang perlu dicemaskan lagi.
Di tempat yang cukup sepi, Mergi menghentikan langkah kaki. Pun pada Aksara yang melakukan hal serupa. Kemudian, mereka saling berhadapan, lebih tepatnya bertatap muka. Seketika itu juga, mata Mergi bergetar lantaran wajah tampan cenderung manis milik pria itu terlihat dengan jelas tanpa penghalang. Mergi menelan saliva, merasa takjub dan terpana. Aksara sungguh sempurna!
“Mbak?” ucap Aksara sampai sukses membuat Mergi tersentak. “Ada masalah?”
“Mm ....” Mergi salah tingkah. “Be-begini, ... Aksara, ada yang perlu aku tanyakan sama kamu.”
“Soal?”
“Mohon maaf kalau sekiranya lancang, atau bahkan sampai merusak privasimu. Hanya saja, aku penasaran. Mm ... enggak, lebih tepatnya merasa miris kalau kabar itu ternyata salah kaprah.”
“Kabar? Kabar mengenai apa, Mbak? Aku malah belum dengar apa pun.”
“Soal kamu, Aksa.”
“Aku?” Aksara mengernyitkan dahi. “Aku kenapa? Sedih, galau, dan enggak ceria berkepanjangan semenjak istriku meninggal? Ya, itu benar.”
Mergi menggeleng cepat. “Bukan itu!” tandasnya. “Soal pernikahan rahasia kamu, Aksa, dan kabar ini sudah didengar rekan-rekan kita. Jadi, ... apa kamu benar-benar sudah menikah, Aksara?”
Aku mohon jawab belum, Aksara. Setidaknya anggapanku padamu enggak salah. Dan juga, aku ... aku masih bisa memiliki kesempatan untuk menggantikan istri tercintamu, Aksara.
__ADS_1
Mergi tidak dapat menahan perasaannya pada pria itu untuk dirinya sendiri. Pun meski ia sendiri tidak sanggup mengungkapkannya sedari lama pada Aksara. Namun, entah bagaimana Aksara akan menjelaskan padanya perihal kabar yang sedang santer dibicarakan. Mergi tetap berharap kabar itu hanya khayalan orang lain saja.
***