
Sore ini turun hujan, tetapi wanita berambut sebahu itu masih tetap ingin melanjutkan rencananya. Dingin yang menyergap tubuhnya seolah tak berasa. Atau angin berembus membawa percikan air, tak ia pedulikan. Di bawah payung yang mengembang menutupi setidaknya kepala hingga setengah badan, ia tetap berjalan dengan rasa penasaran.
Perihal Aksara yang tidak datang hingga jam istirahat habis, membuat wanita itu, melainkan Mergi merasa tidak terima. Dan kini, sehabis pulang dari kantornya, ia bergegas menuju rumah pria itu dengan dalih ada pekerjaan yang perlu dirundingkan.
Sesampainya di depan gerbang rumah Aksara, Mergi mendapati mobil berwarna hitam legam yang mengkilap. Jendela dari kabin penumpang yang terbuka, tampak wajah asing bernetra biru begitu menyilaukan. Sepertinya pria itu merupakan turis atau mungkin hanya blasteran.
“Siapa dia? Kenapa menatap rumah Aksara dengan begitu serius, bahkan tampak sendu?” gumam Mergi dengan heran. Kemudian, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku nggak punya waktu buat mikirin orang asing, yang bisa saja salah alamat.”
Mergi menepis rasa herannya pada pria bule itu, kemudian memilih melanjutkan langkahnya demi bertamu ke rumah Aksara.
Sementara sang pria bule yang ada di mobil itu berangsur menutup kaca jendela mobilnya, lantaran melihat sosok wanita yang hendak memasuki rumah di mana Kintan tinggal. Ia tidak ingin ketahuan, jika saat ini tengah menatap sendu pada kediaman Kintan yang ia ketahui dari seorang informan kepercayaan.
“Kintan? Aku masih yakin suatu saat kamu akan kembali,” gumamnya. Kemudian ia menatap sang sopir pribadi. “Jalan, Pak,” titahnya.
“Baik, Mr. David,” jawab sopir tersebut. Detik berikutnya, ia mulai menyalakan mesin mobil kemudian melajunya dengan kecepatan sedang.
***
Aksara mendudukkan Kintan di kursi tamu, setelah sebelumnya memapah istrinya itu dari kamar tamu sehabis berganti baju. Kintan mengalami flu sebab ia ajak hujan-hujanan. Lebih tepatnya, ketika mereka berdua menghabiskan sisa waktu di sebuah taman dan hujan justru turun tanpa disangka-sangka.
“Kamu cuma judes doang, Tan. Tapi, daya tahan tubuhnya lembek banget!” ucap Aksara sembari mengusap kepala Kintan dengan handuk.
Kintan kembali bersin. Ia mengusap hidungnya menggunakan sapu tangan. Baru setelah itu menjawab, “Aku anak orang kaya, Mas!”
“Iya. Makanya manja begini, beda sama Nila.”
“Ck, jangan samakan aku dengan Nila. Dia terlalu sempurna, Mas.”
Aksara menghela napas. “Ya. Kamu benar. Tapi, Nila enggak sesempurna itu, nggak ada manusia yang sempurna.”
“Setidaknya, dia jauh lebih baik daripada aku, Mas. Aku hanya anak tanpa ibu dan tentu saja sifatku terlalu buruk sebagai seorang wanita. Aku judes, angkuh, dan kerap melawan ucapanmu. Berbeda dengan Nila.”
Aksara terdiam, juga pada aktivitas tangannya. Ia menelan saliva sembari menatap Kintan dengan gusar. Wanita itu menyadarinya. Entah atas kesadaran sendiri atau sikap Aksara selama ini. Pasalnya, sebagai seorang suami, Aksara kerap membanding-bandingkan Kintan dengan mendiang Nila. Bahkan, sampai menganggap Kintan sebagai istri pertamanya.
__ADS_1
Rasa bersalah mencuat dari dalam diri Aksara. Ia mengambil napas, kemudian meluruhkan badan di hadapan Kintan. Tentu saja sikapnya itu membuat Kintan tersentak, sampai melebarkan mata.
“Maaf,” ucap Aksara.
Kintan mengerjabkan matanya. “Ma-maaf?” tanyanya. “Maaf buat apa? Tumben?”
“Ya, aku sering membandingkan kamu dengan Nila, Tan.”
“Ck, aku pikir apaan! Hal itu sudah biasa kali! Tumben banget minta maaf?”
Meski menganggap ucapan Aksara seperti sebuah lelucon, pada kenyataannya Kintan merasa tengkuk dan sekujur wajahnya menjadi hangat. Dari mata Aksara, wajahnya yang ayu itu tampak memerah. Kintan merasa malu, haru, dan tentu saja tidak percaya.
Bukan hanya dari segi kalimat yang diucapkan oleh Aksara, melainkan bagaimana suaminya itu bertutur kata lebih lembut dan menjadi hal langka selama hidup bersama. Kintan justru berharap Aksara tidak mengubah sikap yang galak. Ia menyesal telah meminta suaminya menghilangkan sifat tersebut. Wanita memang sangat membingungkan, bukan?
“Aku serius, Tan,” ucap Aksara lembut. “Karena aku, kamu harus kehilangan diri kamu sendiri.”
“Ke-kenapa aku sampai kehilangan diriku, Mas?” balas Kintan.
Bunyi pintu dan salam yang tiba-tiba terdengar terpaksa membuat Aksara memotong ucapannya. Ia menatap pintu utama, kemudian beralih pada Kintan. Istrinya itu hanya menggedikkan kedua pundak beserta tangan, menandakan jika ia tidak tahu-menahu perihal siapa yang datang.
Aksara menghela napas. Dengan malas ia bangkit dari posisi sebelumnya. Sebelum bergegas menuju pintu itu, ia menatap Kintan dengan sendu. Pasalnya, baru akan mendapat momen keakraban justru ada seseorang yang menganggu.
“Kamu istirahat dulu sana. Nanti aku bikinin teh hangat sama air hangat buat mandi,” ucap Aksara.
Kintan yang salah tingkah hanya bisa mengangguk.
“Jangan khawatir sama Gibran, di sana ada Ibu, Ayah, sama Ningsih. Kamu harus sehat dulu.” Aksara mengacak rambut Kintan. “Minum obat, jangan tulari putraku!”
“Huh! Iya, iya.”
“Bisa jalan sendiri?”
“Bisa, Mas! Aku nggak semanja itu.”
__ADS_1
“Sip!”
Aksara segera membantu Kintan untuk bangkit. Tadinya, ia ingin agar wanita itu berjalan menuju kamarnya. Namun, Kintan justru bergegas ke kamar tamu. Belum lagi langkah wanita itu justru sempoyongan dan terhenti beberapa kali, sampai membuat Aksara berangsur iba.
“Tidur di kamarku, kamu 'kan sudah pindah. Lagipula di sana lebih hangat!” omel Aksara sembari merengkuh kedua lengan Kintan dan memapahnya. “Jangan bandel buat kali ini saja. Aku nggak mau kamu sakit.”
“Ke-kenapa?” tanya Kintan.
Aksara salah tingkah. “I-itu, aku nggak punya banyak uang buat bawa kamu ke rumah sakit. Dan lagi, kalau Papa tahu aku bisa kena omel lagi, Tan!”
“Aku pikir kamu khawatir sama aku, ternyata tetap buat diri sendiri.”
“Te-tentu saja.”
Tanpa menghiraukan tamu yang sudah berulang kali mengatakan salam, Aksara membawa Kintan terlebih dahulu. Ia tidak peduli jika sang tamu akan pergi karena terlalu lama. Namun, jika orang itu masih salah satu keluarganya mungkin akan mengerti dan lantas menunggu.
Setelah membantu Kintan berbaring di tempat tidur, Aksara menutup tubuh istrinya itu dengan selimut tebal. Aksara menatapnya sesaat, menyentuh dahinya, kemudian menghela napas.
“Tidur dulu, setelah terima tamu, aku cariin obat,” ucap Aksara.
“Iya, Mas. Mm ... terima kasih,” jawab Kintan.
“Ya ya ya.”
Tak lama setelah itu, Aksara bergegas meninggalkan kamarnya. Ia berjalan lebih cepat daripada sebelumnya. Namun benaknya masih membayangkan bagaimana lemahnya Kintan di atas pembaringan. Jika tidak ada tamu yang datang, sudah pasti ia akan merawat istrinya itu dengan cepat. Aksara hanya tidak mau direpotkan oleh orang sakit dalam kurun waktu yang lama.
“Mbak Mergi?” Betapa terkejutnya Aksara pasca membuka pintu. Tampak Mergi di sana dengan keadaan basah, di bagian blazer bawah sampai kaki. “K-kok di sini?”
Mergi tersenyum. “Aku dengar kamu minta izin pulang cepat karena sesuatu hal. Aku pikir ada beberapa hal yang perlu kita diskusikan karena kamu enggak hadir di rapat tadi siang,” jelasnya.
Aksara memicingkan mata, curiga. Rapat? Memangnya hari ini ada rapat? Begitu pikirnya. Bahkan sekalipun ada, diskusi dan penjelasan lebih rinci bisa dijelaskan esok hari. Jika tiba-tiba datang layaknya Mergi saat ini, bukankah terlalu aneh?
***
__ADS_1