Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 51-Cara Terhormat


__ADS_3

Satu bulan kembali berlalu. Banyak sekali masalah yang datang meski hanya disebabkan oleh dua orang. Dan perjuangan Kintan untuk naik tahta akhirnya tercapai. Sudah seminggu ini ia menjabat sebagai seorang CEO di perusahaan Chandra, meski masih sebatas wakil ketua.


Hal lain yang lebih mengejutkan adalah kepergian Mergi dari perusahaan Gupta. Entah bagaimana kronologinya sampai janda satu anak itu tiba-tiba saja memutuskan untuk mengundurkan diri. Sebagai seorang kawan sekaligus partner kerja, Aksara diam-diam merasa penasaran. Beberapa kali ia mencuri kesempatan demi mencari alasan di balik keputusan mendadak dari sahabatnya itu. Namun, sampai saat ini ia sama sekali tidak mendapatkan jawabannya. Yang ada justru kena omel istrinya, karena masih mengkhawatirkan musuh bebuyutan. Di sisi lain, Aksara cukup menaruh curiga pada Kintan sebagai penyebab mundurnya Mergi dari perusahaan Gupta.


“Apa Kintan melakukan sesuatu pada Mbak Mergi? Kalau benar, bukankah ini cukup keterlaluan? Sama saja dia mematikan rezeki orang. Ck, itu sangat mengeri—” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba suara benda jatuh terdengar di telinga Aksara.


Saat pria itu menoleh ke arah sumber suara, tampak istrinya sudah berdiri di ambang pintu kamar dan suatu berkas tergeletak di lantai. Melihat Kintan, Aksara menelan saliva. Ia lupa dengan pintu kamarnya yang belum tertutup secara sempurna. Sudah pasti Kintan mendengar gumam bibirnya barusan.


Duh! Mati aku!


“Kamu bilang apa tadi, Mas?” tanya Kintan sembari berkacak pinggang. Tak lama kemudian, ia berjalan menghampiri Aksara dengan wajah yang diliputi kemarahan. “Kamu masih penasaran sama wanita itu?!”


“En-enggak, Sayang. Mas cuma—”


“Cuma apa?!”


Aksara menghela napas, kemudian tertunduk pasrah. “Ya, mau gimanapun dia pernah bantuan pekerjaanku, Kintan. Makanya aku khawatir kalau kamu sampai matiin mata pencahariaannya. Itu saja, nggak lebih.”


“Kamu nggak percaya sama aku dan menuduhku berbuat hal seburuk itu? Apa bagimu Mergi memang jauh lebih berharga di pikiranmu? Tak bisakah kamu mikirin aku yang tunggang langgang demi menyelesaikan semua masalah?”


Aksara merasa bersalah. Ia mencoba menarik pinggang Kintan dan memberikan pelukan istrinya itu. Sampai kemudian, Kintan bersedia duduk di sampingnya. Wanita itu berangsur tenang, meski belum sepenuhnya lega.


“Maaf, maaf. Aku salah, maaf. Jangan marah, ya?” ucap Aksara.


Kintan menghela napas. “Aku bukan seseorang yang sekejam itu, Mas,” jawabnya


“Maaf, Sayang. Ya, aku juga khawatir kalau kamu sampai gelap mata saking takutnya kehilanganku.”


“Haa? Enggak setakut itu. Kupikir justru kamu yang lebih takut kehilanganku.”


“Oke, iya, iya. Aku yang lebih takut kehilangan kamu.”


Kintan tersenyum. Sedikit kata rayu saja sudah mampu meredam kekesalan di hatinya. Ia pun berangsur memeluk tubuh Aksara. Namun, ... senyuman Kintan yang sempat terulas manis kini menjadi sinis. Tanpa se-pengetahuan Aksara, ia memasang wajah bengis seolah baru selesai menyiksa manusia.

__ADS_1


Jengah saling berpelukan, Kintan dan Aksara kompak saling melepaskan. Wajah sinis Kintan pun kembali berubah biasa saja. Sementara, Aksara kian asyik dalam menatap paras cantiknya yang seolah enggan menua.


“Gimana urusan kantor? Apa ada hal berbahaya yang mengancam kamu? Mengingat jabatanmu, kurasa keamananmu perlu ditingkatkan lagi, Sayang,” ucap Aksara.


Kintan menghela napas lagi. “Ya, benar. Entah kenapa banyak awak media yang tiba-tiba saja datang meliput pergantian diriku. Dan kamu tahu, Mas? Sosial media yang bahkan sudah jarang aku buka tiap hari pengikutnya bertambah. Tepatnya setelah sebuah artikel memuat pemberitaan tentang pergantian pimpinan,” ungkapnya.


“Itu wajar. Kamu cantik. Zaman sekarang, yang namanya viral itu cukup mudah. Bahkan bagi mereka yang mengandalkan sensasi. Apalagi kamu sudah cantik, pintar lagi, kurasa ada seorang jurnalis yang tertarik padamu. Lalu, memuat beritamu dan justru meledak di masyarakat.”


“Mm ... maybe. Tapi, aku sangat terganggu. Aku nggak senang. Pekerjaanku jadi terkendala banyak hal. Bahkan, Papa sampai mengirimkan dua pengawal, di samping satu asisten pribadiku. Dan ....” Kintan menekan rahangnya. “Dua pengawal itu ada di depan rumah kita.”


“A-apa katamu?!”


“Maaf, bukan mauku. Ini mau Papa, kata Papa kalau mau tanpa pengawal katanya suruh pindah ke rumah Papa saja.”


Aksara mendengkus. “Aku rasa pemberitaan dan para wartawan justru ada kaitannya dengan ayahmu. Dari awal bukannya Papa minta kamu pindah? Dan ini caranya agar kamu pindah.”


“Kok kamu nuduh Papa begitu, sih?”


“Kamu sendiri, apa nggak ada dugaan kayak gitu dengan otak kamu yang seencer air pegunungan?”


Tiba-tiba saja Aksara mencengkeram jemari istrinya. Ada beberapa hal yang menjadi perdebatan di dalam batinnya. Terutama masalah tempat tinggal yang sangat sederhana dan kurang layak bagi orang se-terkenal istrinya. Tampaknya, meski berat, ia tetap harus memberikan jalan keluar.


“Kalau memang sudah risih dan sangat terganggu, kembali saja ke rumah Papa,” ucap Aksara.


“Kamu bersedia memangnya?” tanya Kintan.


Aksara menggertakkan gigi. “Bukan aku, tapi kamu.” Ia membelai salah satu pipi Kintan. “Sebab, keberadaan awak media juga bisa dimanfaatkan oleh David, Kintan. Kalau kamu tetap di sini akan banyak masalah yang datang lagi.”


“Aku nggak mau pisah sama kamu. Dan soal David, aku sudah mencoba merayu Gupta. Dia bersedia menyediakan waktu bertemu denganku. Kamu tenang saja.”


“Aku nggak akan bisa tenang kalau keamananmu menjadi ancaman. Belum lagi adanya teror dari pengusaha lain.”


“Aku kuat kok! Aku tetap mau di sini! Mana ada suami dan istri pisah rumah.”

__ADS_1


“Sayang, kita kan masih bisa bertemu. Lagipula, jika aku ikut pindah harga diriku akan terluka. David akan semakin memandang rendah padaku, menyangka kalau aku hanya ingin hartamu. Yang ada, dengan kesimpulan itu David semakin gencar merencanakan bermacam hal.”


Kintan terdiam. Hatinya merasa tidak tenang. Nyatanya menghadapi David tidak semudah ekspetasinya. Ia sudah berjuang selama dua minggu demi bertemu dengan Gupta. Namun sampai sekarang hal itu sulit terealisasikan. Paa yang ia katakan perihal Gupta pada Aksara pun hanya sebuah kebohongan, supaya ia tidak didesak pulang ke rumah ayahnya.


Sebenarnya, berapa banyak dana yang diberikan David pada Gupta? Apa mereka sedang mempermainkanku? Kenapa pula surat pembatalan kerja sama juga nggak disetujui oleh ayahnya David?


“Aku nggak bisa, Mas. Kita nggak boleh saling melepaskan meski hanya sebatas cara,” ucap Kintan dengan ekspresi yang tegas. “Aku janji, aku akan selesaikan semuanya sebelum tiga bulan. Aku yakin bisa mengunci David agar tidak bisa berada di perusahaan Gupta lagi, bahkan ke Indonesia.”


Aksara menghela napas. “Aku rasa ada cara lain yang bisa membantumu.”


“Cara lain?”


“Aku akan adu domba mereka.”


“A-adu domba?”


“Ya. Jika tuan muda memiliki satu kebencian pada Mr. David, maka hubungan mereka akan renggang. Lagipula, perjanjian mereka hanya sebatas tiga bulan. Jika caraku berhasil, kamu harus menarik hati tuan muda atas nama bisnis. Cari cara yang menguntungkan kedua belah pihak perusahaan dengan syarat tak ada lagi ikatan dengan Mr. David.”


“I-itu terlalu beresiko untukmu, Mas. Kalau sampai ketahuan kamu bisa dituntut atas pencemaran nama baik, atau bahkan penipuan.”


“Setidaknya itu merupakan cara terbaik daripada memanfaatkan status hubungan kita.”


“Maksud kamu?”


Aksara menundukkan kepala. “Rumor perceraian ....”


Kintan terkesiap. Meski agak terkejut, ia tetap tahu apa yang dimaksud oleh Aksara. Namun rumor perceraian adalah cara tak bermartabat. Ia tidak mau, apalagi saat ini awak media tengah menyorot dirinya. Jika muncul rumor tersebut, yang ada jatuhnya drama, nama baiknya bisa tercoreng dan perusahaannya terancam turun kinerja.


“Baiklah,” ucap Kintan. “Kita ambil cara terhormat saja. Tapi, kumohon, kamu hati-hati, ya?"


Aksara hanya tersenyum. Detik berikutnya, ia merengkuh tubuh istrinya. Mereka yakin dapat melewati segala masalah dengan baik. Cinta yang sudah kuat akan mampu memberikan bantuan paling besar demi mempertahankan pernikahan.


***

__ADS_1


Like komenya ya.


__ADS_2