Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 27-Rencana


__ADS_3

Gibran menatap ayah dan bundanya secara bergantian. Kemudian, bocah kecil itu mengerucutkan bibir serta mengerutkan kening. Ia tengah merasa bingung perihal apa yang tengah terjadi di antara kedua orang tuanya. Pasalnya, Aksara dan Kintan sejak tadi hanya diam. Sementara wajah mereka tertunduk dan sering melakukan kesalahan dalam bertindak di meja makan.


Gibran berlagak seperti orang dewasa, ia menghela napas dalam-dalam. Tak lama kemudian, ia menatap ayahnya dengan curiga.


“Ayah marah-marah sama Bunda lagi, ya?!” Suara khas anak kecil itu mengarah pada Aksara. Wajahnya yang imut justru sukses membuat sang ayah menggeragap.


“E-enggak kok, Ayah nggak marah-marah sama Bunda lagi,” jawab Aksara.


Mendengar suaminya menyebut dirinya sebagai bunda di hadapan Gibran, hati Kintan terenyuh. Pasalnya, selama ini Aksara selalu melarangnya mengakui Gibran sebagai seorang putra. Tak ingin Aksara mendapati gurat takjub di wajahnya, Kintan segera menepis perasaan itu.


“Ayah,” ucap Gibran kemudian memegangi baju Aksara yang berada di samping. “Giblan mau Ayah sama Bunda baikan. Nanti ... Bunda Nila enggak suka. Kata Bunda Nila, belantem itu dosa.”


“Te-tentu saja, Sayang,” jawab Aksara gelagapan. Ia menyentuh pipi gembul putranya itu kemudian berkata, “Ayah sudah baikan sama Bunda, kok.”


“Tapi, kenapa Ayah sama Bunda diam saja dali tadi?”


Aksara melirik Kintan. “I-itu karena ....”


Aksara tidak kuasa berucap lagi, ketika bayangan romantisme tadi malam justru muncul di benaknya. Betapa ia sangat malu, lantaran lagi-lagi kehilangan kendali atas kendalinya. Ia telah menyentuh Kintan untuk kedua kalinya. Memang, pada dasar hukum dan agama hal tersebut tidak masalah. Hanya saja ... soal hati dan kesetiaannya pada mendiang istri pertama nyaris rusak karena hasrat tak diundang.


Apa aku salah memintanya pindah kamar? Mata Aksara bergetar. Ia menghela napas lalu tersenyum pada sang putra yang masih menunggu jawabannya. Dan kali ini pun ia semakin tidak kuasa menahan malu, ia tidak sanggup menatap wajah Kintan yang ayu.


Terdengar dehaman yang Kintan lakukan. Namun suara deham itu tidak menggoyahkan hati Aksara untuk mengalihkan fokusnya. Sementara Kintan mencoba tidak peduli. Ia segera merengkuh Gibran agar cepat-cepat menyelesaikan sarapan dan lantas pergi ke sekolah.


“Habisin sarapannya dulu. Ingat 'kan kata Bunda Nila, kalau makan nggak boleh?” ucap Kintan.


“Nggak boleh banyak bicala!” sahut Gibran cepat dan lantang.

__ADS_1


Tak lama kemudian, anak dan ibu sambung itu mulai asyik menikmati sisa nasi goreng di piring masing-masing. Juga pada Kintan yang mulai lupa akan perasaan malu sekaligus canggung yang sejak tadi pagi menerpa hatinya. Senyum dan tawanya kerap kali menghiasi bibirnya. Suara lembut yang kontras sekali ketika sedang berbicara dengan Aksara pun terdengar bersenda gurau bersama putranya.


Lambat-laun sikap Aksara mulai berubah. Ia yang sejak tadi menghindari kontak mata dengan sang istri, perlahan justru menatap takjub. Indah sekali. Kintan mampu mengisi posisi yang Nila tinggalkan. Wanita itu sangat menjaga amanat dan mungkin dengan sepenuh hati. Meski belum menjadi istri yang sempurna, setidaknya Kintan bisa menjaga Gibran penuh dengan kasih sayang.


Apa ini yang membuat Nila memilihnya? Ketulusannya pada putra kami?


Aksara berdeham. “A-aku harus berangkat, mm, Kintan,” ucapnya ragu-ragu.


“O-oke,” jawab Kintan tak kalah ragu. Matanya pun masih enggan menatap wajah suaminya itu. Bukan karena marah, tetapi canggung. “Mm, Mas?”


“Ya?” Aksara menelan saliva. “Ada apa, Kin-tan?”


“Pakai mobilku saja.”


“Pakai mobilmu?”


“Mm, begitu. Anu ... mm, kamu bisa antar bekal?”


Dahi Kintan berkerut samar. “Bekal?”


“Aa, mm, lupakan saja.”


“Bisa!” Kintan berdiri dengan segera. “Tentu saja bisa, Mas! Akan aku antar.”


“Hah?! Oke!” Aksara menghela napas. Ekspresi tegas kembali ia pasang di paras manisnya. “Yang enak. Awas saja kalau nggak enak. Aku mau berangkat.”


Kintan berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepala. Ia membiarkan Aksara pergi begitu saja dari ruang makan tersebut. Sementara dirinya kembali beralih pada Gibran.

__ADS_1


Namun ketika mesin mobil Aksara terdengar, Kintan minta izin sebentar pada Gibran. Ia berlari kecil dan sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Kemudian dari balik jendela, ia mengamati mobil suaminya yang keluar dari gerbang rumahnya.


“Sebenarnya, apa yang aku lakukan?” Kintan tertawa kecil. “Aku sudah berhasil mempertahankan Aksara, tentu saja aku nggak perlu berbuat sejauh ini. Tapi, uuh! Kenapa lagi-lagi kami nggak bisa mengendalikan diri tadi malam?”


Kintan mendongakkan kepalanya. “Nila, maafin aku ya? Aku nggak berniat mengkhianatimu, Sahabatku,” ucapnya. Kemudian, ia kembali menurunkan arah pandang. “Oke! Aku harus tenang, hal seperti itu bukan hal aneh bagi kami. Okeee! Ayo balik ngurus bocah tampan itu!”


Kintan berbalik badan. Rutinitas pagi hendak ia lakukan kembali. Tak ada waktu untuk memikirkan sesuatu yang telah terjadi. Akan lebih baik segera terlupakan dan tidak diulangi. Sebab, sekalipun diperbolehkan bahkan sudah kewajiban, Aksara tetap suami dari mendiang sahabatnya. Ia hanya perlu menjaganya serta sang putra seperti amanat istri pertama suaminya.


***


Mata biru milik David itu tertuju pada sebuah mobil yang baru memasuki baseman perusahaan. Tampak pria yang merupakan suami dari mantan kekasihnya muncul dari mobil tersebut. David tersenyum tipis, terkesan meremehkan. Namun, kejengkelan semakin menguat di dalam hatinya.


Pria yang baru David ketahui bernama Aksara dari seorang informan, tampak begitu kumal di matanya. Mobil milik Aksara pun sangat rendahan, bahkan jadul jauh jika dibandingkan dengan miliknya. Namun, dengan segala keterbatasan itu Aksara begitu tega berbuat hal-hal kasar pada Kintan?


“Pria itu benar-benar nggak tahu diri,” gumam David. Matanya masih mengawasi Aksara dari balik jendela mobilnya. Kemudian ia beralih pada sang sopir yang juga sekretaris pribadinya. “Apa kamu sudah atur pertemuan dengan CEO perusahaan ini, Ben?”


“Sudah, Mr. David,” jawab pria bernama Ben tersebut.


“Baiklah. Kita mulai, aku akan menangkap pria itu dan membuatnya sadar akan posisinya.“ Mata David melotot. “Kintan harus bahagia dan aku yang berhak membahagiakannya.”


Bagi David, Aksara yang sudah keterlaluan memperlakukan Kintan memang harus diberi pelajaran. Ia tidak bisa membiarkan wanita itu terjebak lebih lama di dalam rumah tangga yang penuh derita. Kintan masih menggenggam perasaan cinta padanya, bukan Aksara. Memperjuangkan Kintan, meskipun terlarang, adalah salah satu rencana David saat ini.


“Aku akan masuk, Ben,” ucap David sembari membuka pintu mobilnya.


Ben hanya mengangguk. Kemudian, ia mengikuti tindakan sang atasan. Dengan gagah dan tegap, David berjalan sementara Ben setia di belakangnya. Mereka berencana untuk bertemu CEO perusahaan di mana Aksara bekerja. Dengan menggunakan uang dan kekuasaan, David akan menangkap Aksara secara perlahan.


***

__ADS_1


like dan review yaa.


__ADS_2