
Satu per satu rencana mulai mereka lakukan. Tak ada sedikit pun kekurangan dalam penerapannya. Kintan yakin tentang hal itu. Hingga batas waktu keberadaan David di Indonesia tiba, ia bersiap untuk memberikan sebuah kejutan. Gupta dan Aksara menjadi dua orang yang membantu dirinya. Dan hari ini adalah saat yang mereka tunggu. Tinggal satu minggu lagi perjanjian Gupta dan David berakhir, maka dari itu hari ini-lah saatnya.
Pada sebuah ruang kerja, Gupta tengah duduk dan berhadapan dengan David yang sudah datang menemuinya. Malas menjadi perasaan yang mendera diri Gupta. Selain perasaan itu, ia ingin sekali meluapkan emosi dan memukul wajah David dengan keras. Namun apa boleh buat, ia harus bersabar sampai Kintan benar-benar datang.
Tiba-tiba saja, David menyerahkan suatu berkas padanya. Dan tanpa bertanya, Gupta meraih benda itu. Detik berikutnya, ia membaca isinya perihal perjanjian baru yang diajukan padanya.
“Bukankah kamu harus kembali ke New Zealand?” tanya Gupta sembari menaikkan satu alisnya.
David tersenyum tipis. “Aku berencana memperpanjang keberadaanku di sini. Besok aku akan mengajukan perpanjangan visaku," jelasnya.
“Soal ayahmu?”
“Hmm ... kupikir tak masalah. Kerabat ayahku banyak, dan para pelayan juga banyak. Jadi tak masalah.”
“Perusahaanmu?”
Kali ini, David terdiam. Pasalnya, perihal perusahaan yang ia tinggalkan belum terpikirkan. Sudah banyak para dewan direksi perusahaannya itu yang berkoar agar ia lekas pulang. Namun, David tidak bisa sebelum tujuannya mendapatkan Kintan dapat terealisasikan.
David menghela napas. Detik berikutnya, ia menatap Gupta dengan tajam, meski senyum pun terulas di bibirnya. “Aku akan tinggal tiga bulan lagi,” katanya.
Gupta menelan saliva. “Untuk apa? Kintan bahkan enggak mau melihat dirimu lagi, Dav.”
“Kata siapa? Aku yakin dia masih mengharapkanku. Oleh sebab itu, ... tanda tangani saja perjanjian ini dan aku akan investasikan lebih banyak uang.”
“Kurasa ini terlalu berlebihan.”
“Tak masalah.”
Gupta menggertakkan giginya. Rasanya ia tidak bisa menahan gejolak di dalam dadanya terlalu lama untuk menghadapi keangkuhan David. Namun untuk melampiaskannya, saat ini Kintan belum datang. Hanya wanita itu yang bisa menghentikan David. Jika dirinya sendiri yang nekad, mungkin resiko terbesar selain kemarahan David adalah keamanan perusahaannya.
“Kenapa? Ayo, setujui,” titah David bak penguasa dari semua penguasa dan sukses membuat Gupta muak. “Aku jamin danaku lebih banyak kali ini, Gupta. Apa kamu masih tidak tergi—”
__ADS_1
Brak! Suara pintu dibuka dengan paksa tiba-tiba saja terdengar, membuat David dan Gupta tersentak dan lantas menatapnya. Muncul seorang wanita cantik melainkan Nona Kintan. Dari ambang pintu itu itu berdiri tegak penuh kharisma. Tak lama kemudian, muncul Aksara di belakangnya bagai asisten pribadinya sendiri.
“Kintan?” David membulatkan matanya. “Kamu datang? Aku sudah sangat menunggumu, Kin—”
“Jangan sebut nama saya sembarangan, Mr. David Edward Sinclair,” potong Kintan.
“A-apa?” David yang terkejut menatap Kintan tidak percaya. “Bukankah kamu datang untukku, sebelum aku memutuskan kembali ke New Zealand? Kamu nggak mau, 'kan, waktu empat tahunmu sia-sia?”
Kintan tersenyum. Kemudian, ia meraih berkas perjanjian yang David ajukan pada Gupta barusan. Dan tanpa rasa takut atau bersalah, Kintan merobek berkas tersebut menjadi berkeping-keping. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu reflek menganga. Mereka tidak menyangka Kintan lebih gila daripada yang dibayangkan, bahkan bagi suaminya sendiri.
“Saya ingin Anda pergi dari perusahaan ini, sekaligus negara ini, Mr. David!” tegas Kintan.
David terkesiap. “A-apa maksudmu?!” Ia mencoba mencengkeram kedua lengan Kintan, tetapi Aksara begitu gesit mendorong dirinya dengan cepat. “Kamu!" bentaknya pada suami dari mantan kekasihnya itu.
“Beliau suami saya, tak sepantasnya Anda berkata sekeras itu. Jaga sopan-santun, Mr. David.”
“Kintan, kamu? Ah ... Gupta? Apa ini?”
“Apa?!” Wajah David seketika memerah. “Apa maksudmu, Gupta? Kamu mengkhianatiku? Apa-apaan ini? Kamu ingat berapa banyak dana yang telah kuberikan hanya—”
“Aku ingat! Dan sesuai isi perjanjian pertama kita, danamu sudah menjadi hak milikku. Saat ini kamu sudah tidak berhak memintanya kembali, kamu sudah mendapatkan jabatan direktur utama di perusahaanku, dan direktur asli telah kembali karena masa jabatanmu telah habis, David!”
“Kenapa?” David mulai gelagapan. “Ke-kenapa? Kenapa tiba-tiba? Bukannya kamu a-ada di pihakku, Gupta?”
“Awalnya begitu, tapi tidak dengan saat ini. Kamu ... sudah keterlaluan?”
Kintan lantas mengeluarkan ponselnya. Rekaman suara David dari sambungan teleponnya dengan Aksara kala itu ia nyalakan. Terdengar setiap kata dan kalimat yang David katakan perihal Gupta. Tentang bagaimana ia meremehkan Gupta dan menganggap pria itu ibarat pesuruh dan hewan peliharaan. Meski sebenarnya, David bermaksud untuk menggertak Aksara, nyatanya kesalahpahaman sudah ada.
Ketika rekaman itu telah selesai, Kintan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku blazernya. Ia berjalan satu langkah ke depan, diiringi tatapan cemas dari suaminya. Awalnya, Kintan berencana ingin menampar wajah David, tetapi ketika menatap manik mata pria itu yang berkaca-kaca, ia urung.
“Pergilah, kembalilah, David. Aku baik-baik saja di sini, tak perlu khawatir,” ucap Kintan dengan nada lebih lembut.
__ADS_1
David menggeleng cepat. “Enggak ... sebelum aku bisa menyelamatkanmu dari pria itu, aku akan terus berjuang, Kintan.”
“Menyelamatkanku dari apa? Aksara sudah berubah, dia, maksudku kami sudah saling mencintai. Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.”
“Aku tahu itu hanya bohong!” David mencoba meraih tubuh Kintan, tetapi lagi-lagi Aksara mendorongnya. Ia pun mengumpat kemudian berkata, “Aku sudah melakukan banyak hal demi dirimu, Kintan. Aku hampir gila jika setiap hari membayangkan kebersamaanmu dengannya. Aku tak bisa berhenti di sini!”
“Aku sudah hamil, David!” sahut Kintan cepat dan lagi-lagi membuat semua orang tercengang. “Aku sudah hamil anak Aksara. Aku sudah bahagia dengan pernikahanku dan lagi, aku sama sekali tidak pernah memintamu berbuat banyak hal untukku. Aku sudah memintamu pergi dari jauh-jauh hari, David!”
“Kintan?” Kini giliran Aksara yang mengeluarkan suara. “Kamu hamil, Sayang?”
“Itu bohong!” tukas David tidak terima. “Itu hanya akal-akalan kalian untuk mengusirku!”
Bruk! Sebuah amplop Kintan jatuhkan di atas meja Gupta. Karena penasaran, Aksara pun ingin mengambil benda itu, tetapi David menang cepat darinya. Dengan buru-buru, David membukanya. Sebuah lembar kertas dibaca olehnya. Semakin lama mata David tampak semakin melebar, seolah ada sesuatu yang mengejutkan jantungnya.
“Aku sudah benar-benar hamil. Anak ini memberikan bukti bahwa aku sudah benar-benar bahagia dengan suamiku, David. Menyerahlah! Karena aku tak akan pernah membuat anakku hidup sepertimu, David. Kamu tahu, 'kan, rasanya hidup dengan orang tua yang bercerai? Jika tahu pergilah, dan jangan pernah mengharapkan aku lagi,” jelas Kintan.
“David.” Tiba-tiba suara parau seorang pria tua terdengar dari ambang pintu. Ia berparas asing dan berambut pirang, matanya pun tampak biru. “Let's go home. Tak bagus kamu melakukan semua ini.”
“Daddy?” Betapa terkejutnya David melihat sosok ayahnya sendiri. Ia tidak tahu mengapa ayahnya bisa ada di tempat itu.
Namun ketika sosok pria lain muncul, melainkan Diki—kakak Kintan—David mulai menyadari jika dirinya telah dipermainkan. Dari Gupta, Diki, dan ayahnya sendiri sudah memihak pada Kintan. Mereka menjebaknya. Ini benar-benar gila! Hingga pada akhirnya, ia jatuh terduduk dengan pasrah. Ia sudah kalah, benar-benar kalah. Ia sudah termakan obsesi dan melibatkan kebahagiaan Kintan.
“Aku yang kalah, aku yang gila.” Kini, ketika sudah merasa gagal dan tidak berguna, David mulai mengakui kekalahannya.
“Terima kasih, kamu telah mencintaiku sebanyak itu. Kuharap ada wanita yang lebih baik dariku untukmu, Dav,” ucap Kintan. Setelah itu, ia memutuskan undur diri dengan suami dan kakaknya.
Sementara David ditarik paksa oleh dua orang pengawal berkulit hitam yang merupakan anak buah ayahnya sendiri.
***
Mo tamat, tenang ya.
__ADS_1