Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 29-Kamu Cemburu?


__ADS_3

Aksara menghentikan langkah kakinya sebelum memasuki taman perusahaan. Ia celingukan mengawasi keadaan sekitar. Ketika dirasa cukup aman dan tentu saja senyap, Aksara menatap wajah Kintan dengan ekspresi marah. Tak lama kemudian, ia mengusap bibir istrinya itu menggunakan ibu jari dengan sedikit kasar.


“Kamu mau antar bekal apa mau dangdutan sih?!” tanya Aksara dengan tegas.


Kintan mendengkus kesal. Selain karena sikap suaminya yang cukup mengejutkan, liptint cherry di bibirnya menjadi terhapus.


“Memangnya aku salah apa sih, Mas?!” balas Kintan, sengit.


“Bisa enggak dandannya biasa saja? Apa harus full make-up seperti itu, hah?! Kamu mau tebar pesona ceritanya?”


“Si-siapa yang tebar pesona sih? Astaga! Ini cukup natural buat wanita, Mas! Lagian enggak menor kok! Cuma bedak sama liptint doang, apanya yang full make-up sih? Waaaah! Agak-agak ini cowok!”


Kintan tersenyum kecut sembari menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan Aksara. Pria itu sangat berlebihan dalam menilainya, membuatnya benar-benar tidak menyangka. Lagipula hanya sebatas make-up dua jenis saja, tidak lebih dan hanya untuk formalitas sebagai seorang wanita. Baju yang ia kenakan saja cukup sederhana, hanya gaun mekar dengan corak bunga matahari. Lantas, apa yang membuat Aksara menganggapnya sedang tebar pesona?


Sementara dalam kegemingan itu, Aksara diam-diam meneliti wajah Kintan. Dari bulu mata yang lentik alami dan tentunya tidak ada tambahan riasan. Kulit wanita itu yang putih, dengan dua biji jerawat kecil di pipi kanan. Kemudian, lebih menyeluruh lagi ketika Kintan mulai bersedia menghadap dirinya lagi, tampak wajah istrinya itu tak banyak riasan selain dua jenis make-up saja.


“Aku!” Kintan mendorong badan Aksara dengan kesal. “Aku ke sini karena permintaan kamu, Mas! Aku masak makanan kesukaan kamu dan sekarang malah digalakin lagi! Bukankah aku sudah bilang, boleh saja kamu enggak mencintaiku, tapi jangan galak-galak!”


Aksara masih terdiam, menunggu keluhan Kintan selanjutnya.


“Kalau kamu masih asal bicara, bahkan sampai menganggap aku nyaris seperti wanita enggak benar, lebih baik aku kembali sama David saja!”


Aksara terkesiap. “Apa katamu?”


“Ya, daripada lagi-lagi keberadaanku enggak berharga buat kamu. Hanya jadi alat hasrat, dan istri nggak berguna. Bukankah—”


“Maaf!” Aksara menundukkan kepala. “Maaf, aku minta maaf.” Nada suaranya berangsur melembut. “Jangan berencana seperti itu lagi.”


Kintan menghela napas. Nama David ternyata cukup mampu mempengaruhi sikap suaminya itu. Lantas, apakah Aksara benar-benar takut jika ia kembali pada pelukan David? Untuk apa? Bahkan ketika hasrat hadir dan menginginkannya, sudah pasti di benak Aksara muncul wajah Nila, kendati Kintan yang ada di sampingnya.

__ADS_1


Kintan mengusap rambutnya yang tergerai ke arah belakang. Sesaat menunduk, ia berangsur duduk di bangku taman yang panjang. Tak lama setelah dirinya, Aksara mengikuti tindakannya dengan duduk di sampingnya.


“Maaf, lalu terima kasih buat bekalnya,” ucap Aksara cukup lirih.


Kintan mencoba tersenyum. Kata maaf dari suaminya itu cukup untuk meredakan kekecewaan yang sempat muncul. Dan tanpa memberikan jawaban, Kintan mulai membuka satu per satu tempat bekal. Pada kotak nasi, ia tuangkan lauk dan sayuran dari dua kotak yang lain.


“Makan dulu, biar ada tenaga marah-marah lagi,” sindir Kintan.


Aksara pias, merasa malu sekaligus bersalah. “Jangan begitu, aku 'kan sudah minta maaf,” jawabnya.


“Aku belum bilang kalau aku menerima kata maafmu. Lagian, memangnya kenapa sih sampai semarah itu?”


“Hmm ... kamu berhasil menggemparkan para karyawan. Rasanya enggak etis saja.”


“Bukannya wajar? Toh, seperti katamu aku cantik dan kaya. Dengan tampilan sederhana saja, aku sudah cukup memukau.”


“Biar saja!" kata Kintan sembari membiarkan suaminya menelan makanan terlebih dahulu. “Biar wanita yang mengintip di kamar itu tahu kalau istrimu barumu luar biasa! Ck, bahkan di kantor saja masih menempel sama kamu ya, Mas! Dia nggak lebih cantik dariku kok! Tapi kenapa percaya diri sekali, sih?!” gerutunya jengkel.


Aksara menghentikan aktivitas makan siangnya. Kemudian, ia menatap Kintan dengan heran, mengamati setiap ekspresi masam yang dipasang oleh istrinya itu. Tidak ia sangka satu kesalahan yang dilakukan oleh Mergi sangat mempengaruhi emosi Kintan. Tentang bagaimana Kintan masih bersikap kesal, bahkan sampai ingat wajah Mergi yang tentunya saat itu tidak cukup jelas untuk dilihat.


Dia mau pamer? Atau, ... ah, nggak mungkin. Dia 'kan masih menyukai pria bernama David itu. Aksara menggoyangkan kepalanya dengan cepat. Ia tidak mau terjebak sikap narsistik hanya karena respon Kintan terhadap Mergi. Bisa saja, istrinya itu masih perlu berhati-hati karena sempat diintip.


“Mas?” ucap Kintan secara tiba-tiba. Kemudian menatap suaminya. “Tunggu deh, kenapa aku harus tampil sederhana? Bukannya kalangan pria selalu bangga kalau punya istri cantik?”


“A-aku pria yang berbeda!” jawab Aksara.


“Hmm ....” Kintan memicingkan mata kemudian melipat kedua tangannya ke depan. “Kamu ingin aku tampil seperti Nila? Atau ....”


“Atau apa, hah?!”

__ADS_1


“Kamu enggak mau aku dilihat cowok lain, ya? Kamu barusan cemburu ya? Iya, 'kan? Sampai semarah itu, seharusnya 'kan tinggal bilang kalau aku suruh hapus liptint saja, enggak harus diseret dan dikasarin! Iya, 'kan?!”


“Enggak!” Kendati memberikan sanggahan, jantung Aksara justru berdegup lebih cepat. Juga bagaimana ia bersikap yang terkesan sedang salah tingkah. “La-lagian kamu juga kenapa masih mikirin sikap Mbak Mergi? Dan justru mau pamer, menunjukkan kalau kamu lebih cantik dan kaya darinya. Kamu juga sedang cemburu, 'kan?”


“E-enak saja! Itu nggak mungkin!” Kintan menelan saliva. “Meski aku sudah menghabiskan dua malam denganmu, tetap saja cintaku masih ada pada David, si bule tampan itu. Ki-kita 'kan hanya saling membutuhkan, tidak! Tapi, kamu yang membutuhkanku. Dan seperti yang kamu bilang malam-malam seperti itu lumrah untuk terjadi, 'kan?!”


Kintan segera memutar badannya untuk membelakangi suaminya. Ia merasa kali, apalagi telah membawa-bawa insiden tadi malam. Rasanya ia seperti wanita tidak benar dan mengungkit momen terlarang untuk dikatakan.


Juga pada Aksara yang bersikap layaknya sang istri. Ia memunggungi Kintan dengan keadaan salah tingkah. Hendak menghabiskan makan siangnya saja menjadi serba salah dan pada akhirnya, ia tidak kuasa untuk mengunyah.


Sampai beberapa menit kemudian, muncul seorang wanita tak asing di hadapan pasangan suami istri itu. Mergi berdiri di sana dan bersikap sesantun mungkin. Namun alih-alih mengenalkan diri pada Kintan, Mergi justru tersenyum pada Aksara.


“Kamu sudah makan siangnya, Aksa?” tanya Mergi.


Wajah Kintan berubah masam, gurat malu-malu di wajahnya pun seketika menghilang. Ia merasa tidak senang akan kedatangan wanita satu anak itu. Hingga tangan Aksara tiba-tiba saja merengkuh pinggangnya, mendekatkan dirinya, dan bersikap seromantis mungkin.


“Masih setengah jam lagi, Mbak. Saya ingin menghabiskan makan siang ini bersama istri saya. Oh iya, kenalkan ini Kintan Afsheen Chandra,” ucap Aksara sembari berdiri dan memandu sang istri.


“Kintan,” ucap Kintan singkat dan terkesan malas.


“Mergi,” jawab Mergi lirih dengan tengkuk yang seketika kaku. Bagaimana bisa? Itu yang ia pikirkan. Kintan Afsheen Chandra, bukankah?


Kintan yang tidak mau terjebak akan rasa tidak nyaman, mulai menegakkan badan. Ia menatap Mergi sembari tersenyum. “Tak perlu terkejut. Saya memang nona muda dari Tuan Besar Chandra. Saya pikir Anda sudah tahu.”


Benar, Mergi tahu tentang pengusaha besar itu. Pasalnya, mantan suaminya bekerja di perusahaan tersebut. Nama Chandra beserta keluarganya sempat menjadi perbincangan hangat ketika mantan suaminya baru pulang dari bekerja. Tentang bagaimana pengusaha besar itu kehilangan sang istri dan mengurus dua anaknya sendiri. Betapa mantan suaminya saat itu mengagumi sosok Chandra Winata.


***


Like dan komennya, atuh ges.

__ADS_1


__ADS_2