Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 48-Kintan, Suami, Mantan dan Wanita Gila


__ADS_3

“Aksa!” seru Mergi sebelum Aksara melesak ke dalam mobilnya. “Tunggu sebentar!” Kemudian, ia menghampiri pria itu.


Langkah Mergi terayun cepat, terkesan buru-buru. Ia tidak mau pria itu lepas darinya, meski hanya sekedar dalam pandangan mata. Mergi tahu jika sejatinya Aksara merasa tidak nyaman atas kedatangannya. Namun apa boleh buat, ia harus berbuat sesuatu.


“Ada apa, Mbak?” tanya Aksara dengan malas.


Mergi mengeluarkan sapu tangan dari dalam tas jinjingnya. Kemudian, ia mengusap luka di sudut bibir Aksara. “Kamu diapain saja sama Mr. David?” tanyanya.


“Nggak perlu seperti ini, Mbak. Aku baik-baik saja jangan khawatir.” Aksara menurunkan tangan Mergi dari wajahnya. Ia tidak ingin ada orang yang melihat, selain itu memang merasa tak nyaman.


Mergi tersenyum getir. Ia menghela napas setelah itu. Memikirkan perihal Aksara yang mungkin saja terkena masalah karena dirinya, membuatnya gila hampir sepanjang jam kerja yang berjalan. Namun tetap saja, apa pun alasan yang akan ia katakan hanya menjadi kekonyolan bagi pria itu. Apakah Aksara bisa mencintai Kintan karena uang? Apakah karena dirinya bukan orang kaya, yang juga hanya janda cerai, sehingga Aksara tak mau memberikan kesempatan?


Segala sesuatu yang kini muncul di dalam benaknya, sangat sulit untuk Mergi terima. Kecintaannya terhadap Aksara sudah sangat besar. Namun ia kalah kaya dari seorang Kintan. Segala upaya yang ia lakukan, bahkan dengan cara paling kotor—memfitnah Kintan di lingkungan komplek perumahan Aksara—tampaknya tak memberikan pengaruh besar. Ia sudah rela menjadi wanita gila demi menyadarkan diri Aksara tentang betapa mengerikannya hidup bersama wanita kaya. Namun tetap saja, semua usahanya menjadi sia-sia.


“Mbak, aku harus pulang,” ucap Aksara yang kemudian berbalik badan.


Namun sebelum pria itu pergi, Mergi berhasil menahan lengannya lagi. “Jangan bersamanya, Aksa,” ucapnya yang disusul derai air mata.


“Apa?” Aksara kembali menatap Mergi dengan dahi yang berkerut samar, rasa heran pun datang menerkam lantaran sikap si janda. “Jangan konyol, Mbak! Sudah berapa kali kukatakan?”


“Ya! Bagimu aku hanya wanita konyol, Aksa! Aku gila, aku ... aku rela melakukan segala hal untuk menyelamatkanmu. A-aku sudah kehilangan jati diriku. Cintaku padamu sangat besar, membuatku benar-benar frustasi, Aksa.”


Aksara menghela napas. “Terima kasih karena telah mencintaiku, Mbak. Tapi, segala hal yang sudah terjadi di hidupku tak akan berubah. Dan faktanya Kintan sudah berhasil membuatku jatuh cinta lagi. Dia, bukan orang jahat, dia hanya memenuhi amanat istri pertamaku dengan kesabaran atas sikap kasarku selama ini.”


“A-amanat?”


“Benar, Mbak. Jangan salah paham lagi mengenai Kintan. Dia bukan perusak rumah tanggaku dengan Nila, dia hanya korban kekasaranku. Tapi, dia menyelamatkanku dan putraku dari keterpurukan kehilangan orang tersayang.”

__ADS_1


Mergi tercenung. Matanya masih membulat tak lepas menatap wajah Aksara yang berekspresi sendu, tetapi tetap ada pancaran ketulusan dari wajah pria itu. Dan akhirnya, cerita sebenarnya keluar dari bibir Aksara, entah untuk menghentikannya atau pamer kemesraannya lagi.


Namun, di sisi lain dari sekian banyak wanita, kenapa harus Kintan? Bukankah mendiang Nila juga tahu jika Mergi adalah rekan terdekat suaminya dan sering memberikan bantuan? Mengapa Nila harus menyerahkan Aksara pada seorang nona muda yang pasti akan memberikan banyak masalah pada suaminya itu? Seperti kedatangan David misalnya, meski belum tahu ada kaitan apa pria blasteran tersebut dengan Kintan, Mergi sudah meyakini bahwa mereka memiliki hubungan. Pasalnya, belasan foto Kintan terpajang indah di dalam ruangan David.


“Sudah ya, Mbak. Aku harus pula—”


“Tunggu!” potong Mergi menyahut ucapan Aksara sebelum selesai. “Kenapa harus Kintan?”


Aksara menekan rahangnya. “Dia sahabat baik istri pertamaku.”


“Tapi, aku sahabatmu, Aksa!”


“Mbak, tolong jangan mulai deh.”


“Aku sudah sering membantumu, tapi kenapa justru orang itu?”


“Aksara ....” Mergi mencengkeram lengan Aksara dengan sekuat tenaga. “Aku rela dijadikan istri kedua. Kintan itu milik Mr. David! A-aku akan menjagamu!”


Aksara mengumpat di dalam hati lantaran harus terjebak obsesi Mergi terhadapnya. Namun, wanita itu tetap mencintainya, ia menjadi tidak tega untuk mengusir atau bahkan berbuat kasar.


Sampai kemudian, terdengar tapak kaki yang cukup keras. Kintan datang dari arah selatan. Wanita itu memandangi Aksara dan Mergi dengan tatapan nanar. Gurat kemarahan pun tampak di parasnya yang ayu. Ia sukses membuat Aksara menganga lebar, terkesiap, dan mendadak kaku. Pun pada Mergi, tetapi meski takut, ia tidak berencana untuk melarikan diri.


“Ki-kintan?” ucap Aksara dengan bibir bergetar. Sementara, Kintan menatapnya dengan tajam. “Sayang, a-aku bisa jelas—”


Tiba-tiba saja, Kintan menarik tangan Mergi dengan kasar. Ia menghardikkan kakinya ke lantai baseman di hadapan wanita itu. Mergi yang berusaha melepaskan diri, tak ia berikan kesempatan sama sekali.


“Lepas!” ronta Mergi. “Kamu nggak berhak sekasar ini!”

__ADS_1


Kintan tergelak. Kemudian, menghentikan tawanya itu. Ia berdiri dengan tegas, menarik diri Mergi sampai nyaris menghantam tubuhnya sendiri. Tak lama kemudian, Kintan bersedia melepaskan tangan wanita itu. Namun ... sebuah tamparan keras ia berikan di pipi Mergi sampai meninggalkan bekas merah.


Kintan mendekati wajah Mergi, kemudian berbisik di samping telinga wanita itu. “Jangan pernah ganggu suamiku! Tahu batasanmu, gosip yang kamu sebar saja tak aku gubris sama sekali. Aku masih memberikan kesempatan padamu untuk berubah, Nyonya.”


“Aku tidak pernah menyalahkan perasaanmu itu, tapi aku juga tidak akan tinggal diam jika obsesimu sudah keterlaluan! Dengar, aku ini bukan wanita baik-baik. Kamu benar, aku jahat, membuat hidupmu hancur itu bukan perkara sulit,” jelas Kintan sudah terlanjur muak.


Setelah puas memberikan penegasan panjang lebar, Kintan berbalik badan. Ia menghampiri Aksara yang masih berdiri kaku sekaligus tidak menyangka. Ia mengalungkan tangannya di lengan suaminya itu, kemudian berkata, “Tinggalkan mobil ini, aku mau kamu pulang bersamaku, Mas. Aku takut ada stalker gila lagi.”


“I-iya,” jawab Aksara kaku.


Kintan mengajak Aksara cepat-cepat menuju mobilnya di area baseman paling sudut. Sementara Mergi ditinggalkan bersama kesengsaraan batin. Ia tidak menyangka akan diperlakukan sedemikian rupa. Namun, alih-alih sadar, dendamnya semakin kuat saja.


Lalu di bagian lain, David muncul diiringi Gupta dan ajudannya. Mereka berjalan dari arah berlawanan, sehingga bisa dipastikan akan bertemu Aksara dan Kintan.


Benar saja, tatapan mereka semua saling bertaut serta langkah pun turut terhenti di tengah-tengah bidang baseman. Mata David tak lepas dalam menatap wajah sang mantan yang tidak disangka akan muncul. Namun tak sama dengan David, Kintan terbilang cukup tenang. Pasalnya, ia sudah memprediksi momen seperti ini akan terjadi. Sementara Gupta yang senyum-senyum sendiri sembari menikmati, Aksara justru ketar-ketir. Bukan tanpa sebab, lantaran istrinya itu sudah pasti akan kembali merindukan sosok sang mantan.


“Halo, Mr. David,” sapa Kintan sembari tersenyum elegan. “Tak disangka kita bertemu di sini.”


Aksara menelan saliva, merasa cemas sendirian.


David tersenyum. “Sungguh tak terduga ya, Nona,” ucapnya.


“Wuaah. Fantastis! This is your love reunion, Mr. David,” sahut Gupta.


Aksara menggertakkan giginya. Ibarat pasir di antara berlian, keadaan ini sangat membuatnya merasa tidak nyaman. Gupta, David, lalu istrinya merupakan orang-orang besar. Sementara dirinya? Hanya karyawan biasa yang kini telah ditarik sebagai pesuruh rendahan!


****

__ADS_1


Komen dong, (╥﹏╥)


__ADS_2