Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 26-Aku Tetap Seorang Pria


__ADS_3

Aksara menatap wajah ayu milik istrinya yang kini sudah memejamkan mata. Bulu mata yang lentik alami membuat Aksara menelan saliva, apalagi jika menatap bibir tipis yang masih pucat itu. Istri yang cantik dan kaya, Aksara akui soal itu. Namun keberadaan Kintan bukanlah impiannya. Ia hanya bermimpi hidup bersama Nila dan putra-putri dari rahim wanita itu selamanya.


Tak disangka, pernikahannya bersama Kintan sudah mencapai usia tiga bulan. Aksara pikir Kintan hanya akan bertahan satu bulan, atau maksimal dua bulan saja. Kenyataan yang terjadi sekarang justru di luar dugaan. Selain dari pihak istri yang sabar, Aksara justru menahan Kintan agar tetap berada di sisinya. Bahkan, ia sudah meresmikan pernikahan siri dengan wanita itu.


Apa yang terjadi sama aku belakangan ini? Aksara mengubah posisi yang sebelumnya menghadap Kintan, kini menatap langit-langit kamar. Ia memejamkan mata sesaat, menikmati rasa bingung yang menyergap hatinya. Ada banyak hal yang di luar batasan. Entah dari jebakan Kintan, kemudian ia sendiri yang menjebakkan diri pada wanita itu.


“Mas?” Tiba-tiba suara Kintan terdengar, sampai membuat Aksara menggeragap. “Aku nggak bisa tidur,” lanjutnya.


Aksara sedikit terkejut. “Be-benarkah? Jadi, dari tadi kamu ...?” tanyanya ragu-ragu.


“Aku hanya terpejam, bukan terlelap. Kepalaku masih pusing, suka kayak gini kalau dibawa tidur.”


Aksara menghela napas. Pasalnya, sudah tiga hari tiga malam Kintan mengalami flu ditambah demam. Penyakit yang mendera wanita itu berawal dari perbuatan Aksara, sebab telah memaksanya berjalan di bawah guyuran hujan. Rasa bersalah lantas datang pada hati Aksara, ia tidak tega pada istrinya yang terkulai lemas tidak berdaya.


“Mau aku buatin teh hangat lagi?” tawar Aksara sembari menatap mata Kintan yang sayu.


Kintan menggeleng. “Aku nggak haus. Terima kasih,” jawabnya datar.


“Mm ... atau kamu mau makan sesuatu yang berkuah?”


“Enggak. Aku nggak lapar.”


“Ya sudah.” Aksara mengepalkan salah satu jemarinya. “Tidur saja!”


“Aku nggak bisa tidur, Mas!”


“Aiis! Terus mau kamu apa sih, Kintan? Teh, makanan, nggak mau. Terus aku disuruh ngapain?”


Kintan berdeham. “Me-memangnya aku suruh kamu? Perasaan kamu yang menawarkan diri, deh!”


Aksara nyaris menghardik tegas, mendapat jawaban benar dari Kintan. Namun ia terlalu malas untuk berdebat lebih panjang, lantaran waktu pun sudah malam. Akan lebih baik untuk tidur cepat, tanpa menggubris keluhan Kintan yang tidak pasti apa maunya.


Namun sebelum Aksara memejamkan mata, Kintan justru mencubit lengannya. Kejengkelan kembali tumbuh di hati pria itu. Seandainya Kintan sedang tidak dalam kondisi lemah, ia sudah mengusirnya untuk keluar dari kamar tersebut.

__ADS_1


“Tidur!” titah Aksara tegas.


Kintan menghela napas, kemudian tanpa mengindahkan perintah suaminya ia berkata, “Aku masih penasaran cewek itu. Wanita dari kantormu itu.”


“Buat apa? Dia sudah nggak ke sini lagi, 'kan?”


“Enggak sih. Tapi, ... kayaknya dugaanku benar deh, Mas. Dia suka sama kamu.”


“Kalau iya memangnya kenapa?”


Mata Kintan semakin membulat, bahkan ia sampai terlonjak lalu bangkit. Kintan mendekati Aksara dan menekan badan pria itu menggunakan siku serta salah satu lengannya. “Dia beneran suka kamu, Mas? Gimana kamu tanyanya? Kok tahu?”


Aksara yang sempat terkesiap bahkan menggeragap oleh sikap antusias istrinya, berangsur mengendalikan perasaannya yang mendadak berkecamuk. Tanpa menatap wajah Kintan yang selalu cantik, Aksara menjawab, “Itu hanya candaanku saja. Dia seorang ibu, dan sudah berjanji mau menyerahkan sisa hidupnya pada sang putri. Mbak Mergi nggak punya waktu cari pacar lagi, terlebih masih trauma tentang perceraian.”


“Oh. Janda, toh!”


Seperti tidak ada beban, Kintan kembali merebahkan dirinya di samping Aksara. Namun sekian detik hanya terdiam sembari menatap langit-langit kamar, ia menghela napas. Tampaknya ia tidak mempercayai ucapan Aksara secara sepenuhnya. Dalam hal pengakuan Mergi yang hanya akan hidup untuk sang putri tanpa pendamping lagi.


“Mas!” Kintan mengubah posisi menghadap Aksara dan lagi-lagi kedua lengannya menimpa badan pria itu. “Boleh nggak aku sekali-kali kirim bekal buat kamu?”


Kintan mengernyitkan dahi. “Tercemar? Apa maksud kamu?” Ia tergelak. “Soal tiga hari yang lalu? Aku cuma bercanda, Papa enggak bakal terpengaruh sama begituan, kecuali memang ada mata-mata bisnis. Lagian, enggak banyak orang tahu kalau aku anak beliau. Mungkin cuma Nila dan teman-teman kami saja.”


“Waaah! Jadi, kamu sengaja bersikap seperti saat itu?”


“Mm ... enggak juga. Awalnya aku memang terkejut, rasa cemas juga ada. Karena dia tiba-tiba nongol di balik pintu. Tapi, setelah kamu bilang dia teman kamu, aku jadi enggak setakut itu. Hanya saja, ... aku tetap jengkel diintip kayak gitu. Lalu, dia seorang wanita sekaligus ibu kenapa kayak nggak punya sopan-santun?”


Aksara terdiam.


“Kalau saja aku enggak lemas pada saat itu, mungkin bakal aku hardik dan marahi habis-habisan. Enak saja, dia cuma orang luar! Bisa jadi 'kan berniat mau nyuri atau—”


“Kamu bicara terlalu panjang, menjadi bukti kalau kamu sudah baik-baik saja. Jangan-jangan kamu hanya pura-pura sakit selama ini?!”


Kintan tercenung. Namun jika dipikir-pikir responnya pada pembicaraan seputar Mergi memang sangat berlebihan untuk ukuran orang sakit. Sejujurnya, ia masih merasa pusing dan demam, hanya saja mungkin Aksara tidak akan mempercayai ucapannya.

__ADS_1


Kintan membuat keputusan. Ia mengaduh kesakitan sembari menekan-nekan pelipis matanya. Hingga detik berikutnya, ia merebahkan diri lagi dan pura-pura tidak karuan.


Namun alih-alih bersimpati, Aksara justru berdecak. “Aktingmu sangat buruk, Nona,” ucapnya.


Kintan menelan saliva, kemudian menyudahi aksinya. “Kalau aku jelasin kamu nggak bakal percaya, Mas. Aku masih sakit!” jawabnya.


“Kamu tampak sehat, Nona.”


“Hih!”


Kintan jengkel, ia reflek menarik lengan Aksara dilanjutkan dengan kedua pundak pria itu. Kintan menempelkan dahinya pada dahi Aksara tanpa rasa sungkan sama sekali.


Namun ... ketika Kintan menyadari aksinya terbilang cukup ekstrim, ia lantas pias. Wajahnya memerah bersamaan dengan ketegangan yang membuat nyaris sekujur tubuhnya kaku. Terlebih saat mata Aksara begitu dekat dengan matanya. Mereka saling menatap lekat-lekat tanpa suara, selain embusan napas.


“A-aku ... masih demam, 'kan?" tanya Kintan lirih sekali.


“Mm ...,” jawab Aksara singkat.


Kintan menurunkan pandangan, tetapi justru mengarah pada bibir Aksara. Seketika itu juga ketegangan semakin mencengkeram hati dan jiwanya. Apa ini? Perasaan macam apa? Getaran jenis apa yang mendadak muncul pada dirinya? Kintan tidak mengerti sama sekali. Sialnya, Aksara juga tidak bergerak, bahkan justru menarik pinggang Kintan perlahan-lahan.


“Aku ... tetap seorang pria ...,” bisik Aksara.


Kintan menatap mata suaminya itu lagi. “Apa kamu ...?”


“Tentu saja.”


“Ha-haruskah?”


“Sudah kepalang tanggung. Aku ingin ....”


“Mas ...?”


***

__ADS_1


Like yaaa.


__ADS_2