Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 15-Rencana Chandra untuk Kintan


__ADS_3

Aksara, Kintan, beserta si kecil Gibran anak mereka, tengah duduk bersama di ruang makan. Namun, perbincangan kecil hanya berlangsung antara Kintan dan sang putra, tidak dengan Aksara yang sejak tadi memilih diam dan dirinya sudah dipenuhi ketegangan. Pria itu masih tidak percaya akan insiden yang terjadi tadi malam. Ia ingin yakin bahwa Kintan hanya mengada-ada saja.


Di sisi lain, wanita itu masih terus sibuk bersenandung riang, sembari menyuapi Gibran penuh kesabaran. Sesekali nasihat kecil ia berikan pada putra sambungnya tersebut. Tidak ada sedikit pun rasa geli, meski Gibran bukan anaknya sendiri. Bahkan, Kintan sampai mengabaikan dirinya sendiri yang sejak tadi belum menyantap nasi, saking asyiknya mengurus bocah kecil tersebut.


“Sudah kenyang?” tanya Kintan.


Gibran menggelengkan kepala. “Beyum, Bunda!” jawabnya mantap.


“Waaah! Anak bunda makin aktif ya? Makannya juga makin banyak.”


“Iya dong, Bunda. Giblan mau jadi anak pintal!”


“Bagus! Dan harus jadi cowok baik ya? Jangan kayak sama ....” Kintan melirik wajah Aksara dan sukses membuat suaminya itu tersentak.


“A-apa?” tanya Aksara dengan ekspresi tak suka. “Memangnya aku seburuk itu jadi cowok? Jangan sembarangan bicara pada anakku, Kintan!”


Alih-alih merasa tertekan, Kintan justru tertawa kecil bersama Gibran. Mereka merasa ekspresi Aksara yang juga diiringi semu merah muda, justru lucu daripada menakutkan. Dan kenyataannya, ekspresi itu merupakan rasa malu sebab benak Aksara terus membayangkan apa yang terjadi tadi malam.


“Mm ... Kintan?” lanjut Aksara, kaku.


“Ya?” jawab Kintan yang kini acuh. “Mau marah lagi? Jangan marah di depan putraku!”


“Enggak! Hanya ... mm, so-soal tadi malam itu be-beneran?”


Kintan menghentikan gerak tangannya tepat ketika Aksara menyudahi kalimat tanya tersebut. Kemudian, ia menatap pria itu dengan nanar. “Aku sudah malas menjawab, Mas!”


Aksara mendesis pasrah. Entah mengapa kali ini ia tidak mampu berkilah layaknya biasanya, atau marah-marah dengan ekspresi menyeramkan pun serasa tak kuasa. Ia justru seperti kelinci imut yang sedang berada di ambang kecemasan. Hal pertama yang terus ia pikirkan adalah kemungkinan Kintan akan mengandung. Dan pemikiran itu terus saja muncul sejak tadi pagi pasca Kintan menceritakan hal yang terjadi.


Tak lama setelah menyelesaikan sarapannya, Aksara undur diri dari ruangan itu. Ia masih tidak memedulikan Kintan, selain mengecup kening Gibran kemudian berlalu. Namun dapat Kintan pastikan, jika suaminya benar-benar gelisah.


Di ambang pintu utama rumah itu, Kintan berdiri sembari menatap mobil suaminya yang baru keluar dari gerbang sederhana.

__ADS_1


“Maafkan aku, Mas, ini jalan satu-satunya supaya kamu enggak mudah ngomong cerai lagi,” gumam Kintan kemudian mendongak menatap atap teras. “Nila ... apa kamu marah sama aku? Saat ini aku tengah merebut hati suami kamu. Maaf, demi Gibran dan Ibu, Nila. Maafkan aku ....”


Tetes air mata membasahi pipi Kintan.


Ia masih tidak tega pada Aksara yang tengah ia bohongi, pun pada mendiang Nila di atas sana. Namun ia harus tetap mempertahankan rumah tangganya demi dua orang yang lambat laun sudah sangat ia sayangi. Harapan Kintan saat ini hanyalah pengertian dari Nila, itu saja sudah cukup.


Kemudian, Kintan berbalik dan kembali ke dalam rumah. Kintan bergegas melanjutkan kewajibannya sebagai seorang ibu. Mengurus buku-buku Gibran serta mendandaninya, setelah itu mengantarkannya ke sekolah taman kanak-kanak tak jauh dari rumahnya


***


Seorang tamu menunggu dengan setia di aula perusahaan milik Chandra, melainkan Sari—ibu dari mendiang Nila Amanda. Dan di salah satu tangannya tampak menenteng kotak bekal. Tujuan Sari saat ini memang hendak menemui sang pemilik perusahaan. Ia memiliki rencana untuk membujuk pemilik perusahaan tersebut, agar tidak memisahkan Aksara dan Kintan seperti yang sempat ia dengar.


Sudah setengah jam berlalu semenjak Sari sampai di sana, dan Chandra belum menunjukkan lampu hijau agar Sari bisa bertemu dengan pria itu. Sari tahu jika Chandra hendak menguji kesabarannya dan mengusirnya secara tidak langsung. Namun, ia tetap bersikeras ingin bertemu tanpa peduli berapa pun waktu yang akan habiskan hanya untuk melakukan hal itu.


Benar saja, buah dari kesabaran Sari akhirnya datang. Seorang resepsionis mendatanginya, kemudian memandunya untuk menuju sebuah elevator. Wanita cantik penyapa tamu itu, lantas mengantarkan Sari sesuai intruksi Chandra yang baru ia dapatkan melalui sambungan telepon kantor.


Di depan pintu ruangan yang berwarna keemasan sekaligus besar, resepsionis itu meminta Sari untuk berhenti.


“Ini ruangan Tuan Besar, Nyonya,” ucap sang resepsionis dengan lembut.


Sementara sang resepsionis yang berlalu, Sari mulai mengetuk daun pintu. Tak berselang lama, suara berat yang sepertinya milik Chandra terdengar dari dalam, memintanya untuk segera masuk.


Tepat ketika Sari memutar badan, pasang mata tajam langsung menatapnya. Sari menelan saliva karena sikap dari sang Tuan Besar. Dapat dipastikan bahwa Chandra memang benar-benar tidak senang pada kedatangannya ke tempat itu.


Hanya berselang beberapa detik setelah Sari menghampirinya, Chandra mulai berdiri. Ia melemahkan ketajaman dari matanya, tetapi helaan napas berat ia ambil agar wanita itu semakin tahu jika ia tidak senang.


“Saya tidak akan menarik keputusan itu, Nyonya," ucap Chandra seolah tahu apa yang hendak Sari katakan. “Saya tidak tahu Anda mengetahui rencana saya dari siapa, dan saya tidak peduli. Kintan harus tetap berpisah dengan menantu Anda itu, Nyonya.”


Sari terdiam sejenak, kemudian menghela napas panjang. “Kintan memiliki amanat anak saya, Tuan Besar. Menghalangi kewajiban Kintan sama saja membawanya ke dalam dosa besar,” ucapnya.


“Amanat itu sudah dilaksanakan oleh putri saya, saya pun juga berhak memberi amanat padanya. Dan tentu saja setelah ini selesai, Kintan akan saya nikahkan dengan pria yang lebih pantas!”

__ADS_1


“Apa Kintan setuju?” tanya Sari ketus. “Kintan tidak setuju, bukan?”


“Dia akan setuju!”


“Benarkah?”


“Tentu!”


Sari terdiam gamang. Chandra begitu mantap dan yakin mengenai perjodohan berikutnya antara Kintan dengan seorang pria lain. Sementara, ia masih ingin menjadikan Kintan sebagai ibu dari cucunya. Memang benar, dua bulan yang lalu Sari kurang setuju lantaran terkesan memanfaatkan Kintan. Namun, kini keadaan hatinya berbanding terbalik dengan kala itu. Kintan sangat pantas bersanding dengan Aksara sekaligus menjadi ibu dari Gibran.


Hanya saja, sebagai seorang ayah yang sangat menyayangi anaknya, Chandra tetap mau yang terbaik untuk Kintan. Dan selama dua bulan ini, ia tahu jika kehidupan pernikahan putrinya itu benar-benar tidak bahagia. Satu tahun yang ia amanatkan rasanya terlalu lama, sehingga ia mengubahnya dalam waktu secepat mungkin agar Kintan dapat bercerai dengan Aksara.


“Pria yang hendak saya jodohkan dengan Kintan sudah berada di Indonesia. Dia seribu kali lebih pantas ketimbang menantu Anda, Nyonya. Jadi, tolong jangan membuat permintaan konyol seperti itu lagi!” ucap Chandra lagi lebih tegas.


Terdengar pintu terbuka. Detik berikutnya muncul sosok Kintan dari sana. Ia berjalan tegas menghampiri sang ayah dengan tatapan tajam. “Kintan menolak perjodohan, Papa!” ucapnya.


“Kintan akan bahagia, dan kesepakatan kita adalah satu tahun, bukan dua bulan!” lanjut Kintan.


“Kintan!” sahut Chandra geram.


Sementara Sari mendekati sahabat dari mendiang putrinya itu dengan cepat. “Benar, Kintan tidak setuju!” katanya.


Kintan berdeham. “Kalau Papa masih nekat, Kintan enggak mau mengunjungi Papa lagi.”


“Anak ini!”


“Hmm .... atau, mm, memangnya Papa juga akan terima kalau Kintan menjodohkan Papa dengan ....” Kintan melirik Sari. “Mama Sari?”


“Ngaco kamu!” Kedua orang tua yang sama-sama tak punya pasangan itu berkata lantang dan secara bersamaan.


Kekompakan Sari dan Chandra menimbulkan perasaan senang di hati Kintan. Ia tergelak melihat wajah keduanya bersemu merah muda. Dan kalau dipikir-pikir, cocok juga. Sari yang telah menjanda selama dua tahun, sementara ayahnya selama bertahun-tahun. Menyatukan keduanya di usia tak lagi muda, sepertinya tidak terlalu buruk. Dengan begitu mereka akan menikmati usia senja bersama tanpa khawatir perihal kesepian lagi.

__ADS_1


Dan pada akhirnya, perjodohan itupun saling berbenturan.


***


__ADS_2