Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 28-Tercengang


__ADS_3

David tersenyum simpul sesaat setelah menyesap kopi hangat yang disuguhkan oleh CEO perusahaan itu. Meski begitu matanya yang biru tetap memandang tajam pada sang CEO yang sejatinya juga kawan lamanya. Dan sungguh kedatangan David, tidak disangka-sangka oleh atasan perusahaan terkait.


“Sudah lama tidak berjumpa Mr. David Edward Sinclair,” sapa CEO itu dengan sedikit rasa hormat. “Sudah empat tahun lamanya ya? Saya dengar Anda sudah menjadi konglomerat di negara itu. Benarkah?”


David tersenyum. “Rumor tentangku selalu benar, Gupta. Kamu sendiri tampaknya cukup untuk dikatakan sebagai sarjana sukses,” jawabnya.


“Tentu saja, sejak dulu bukankah aku selalu menang dalam segala hal darimu?”


“Tidak.” David menghela napas. “Enggak dalam segi wanita.”


“Yaa, aku tahu. Aku masih kalah tampan.”


David tergelak. “Itu sudah pasti.”


“Menyedihkan. Tapi, Dav. Aku sudah menikah, aku rasa kamu belum, bahkan sudah kehilangan Kintan Afsheen Chandra, bukan?”


Kali ini David terdiam oleh ucapan Gupta yang telah melibatkan nama Kintan. Pria itu sukses menggusarkan hatinya. Mengenai kabar kandasnya hubungannya dengan Kintan empat tahun yang lalu memang bukan hal asing bagi para teman. Kala itu, Gupta justru tertawa paling kencang.


Namun entah bagaimana kabar Kintan saat ini, Gupta sudah lama tidak mengetahuinya. Reuni kecil yang diselenggarakan tiga bulan lalu saja, tidak ia datangi.


Gupta menghela napas. “Mm, aku sendiri enggak mengetahui kabar Kintan. Aku hanya sempat mendengar gosip di reuni akbar empat tahun yang lalu bahwa kalian berakhir kandas,” ucapnya. “Apa Kintan masih sering bersama wanita itu?”


“Wanita itu?” tanya David heran.


“Kalau enggak salah namanya Nila Amanda, gadis lugu yang sedikit bodoh.”


“Hmm ... tampaknya jabatan ini sukses membuat kamu ketinggalan juga, Gupta.”


“Mm? Apa maksudmu, David?”


“Nila Amanda sudah tidak ada?”


Gupta menelan saliva. “Tidak ada? Aaah? Kenapa?”


David menyandarkan punggungnya pada badan sofa yang empuk. Benaknya melayang sekian tahun yang lalu. Ia, Gupta, Kintan dan Nila terlibat dalam satu universitas dengan jurusan berbeda-beda. Juga bagaimana ia bisa mengetahui siapa Nila Amanda, sebab wanita itu sangat dekat dengan Kintan. Sama halnya seperti penilaian Gupta, David menganggap jika Nila merupakan gadis bodoh yang menempuh pendidikan hanya untuk cita-cita sederhana—mendidik anaknya kelak.


Davin menjalin kasih bersama Kintan tepat satu tahun sebelum lulus. Kemudian, dua tahun berjalan dan sampai di momen perpisahan empat tahun yang lalu. Membuatnya harus kehilangan Kintan, lantaran ayahnya sakit keras di New Zealand.

__ADS_1


“Lalu,” celetuk Gupta membuka perbincangan yang sempat terputus. “Kenapa tiba-tiba datang ke Indonesia?”


“Aku ingin meminta tolong padamu,” jawab David tanpa basa-basi.


“Menemukan Kintan? Bukankah hal itu cukup mudah, mengingat siapa Kintan dan keluarganya?”


“Aku sudah menemukannya tanpa bantuan orang lain, seperti apa yang kamu katakan hal itu cukup mudah bagiku.”


Gupta menyesap kopinya, setelah itu bertanya, “Lalu?”


“Aku akan menjadi investor besar di perusahaan yang baru kamu pimpin ini. Tapi, ....”


“Tapi?”


“Aku ingin jabatan direktur utama di divisi terkait. Tempat di mana seorang pria bernama Aksara bekerja.”


Dahi Gupta berkerut samar. “Aksara? Why? Kenapa harus orang itu? Jujur, aku nggak paham siapa Aksara, bukan—”


“Ya, dia hanya karyawan biasa.”


Gupta tercenung. Ia mengamati David dengan rasa penasaran yang mendadak meluap. Perihal Aksara yang bahkan belum ia tahu wajahnya, sekaligus jabatan pria itu di perusahaannya membuatnya sangat heran. Bagaimana bisa seorang David Sinclair yang agung mengenal karyawan dari kasta bawah?


“Lalu, gimana dengan bisnismu di negara itu?” tanya Gupta masih tertarik untuk tarik ulur.


“Tiga bulan.” David menegakkan badannya. “Aku punya waktu tiga bulan untuk di sini. Tiga bulan juga sangat pas bagi direktur asli berlibur, bukan?”


“Hmm, benar. Tapi, Dav, apa alasanmu?”


“Itu masuk privasiku, Tuan Gupta.”


“Aku tahu,” ucap Gupta kemudian tersenyum tipis. “Tapi, aku tetap pemilik perusahaan kecil ini. Aku harus tetap waspada pada orang seagung Anda tiba-tiba datang dan hendak menyelinap ke dalam gedungku.”


Sejenak, David terdiam gamang. Namun kecurigaan Gupta cukup masuk akal. “Kintan.”


“Kintan?”


“Kintan menggantikan Nila Amanda dan menikahi Aksara. Ya, Aksara suami dari sahabatnya itu, dari mendiang Nila Amanda.”

__ADS_1


“Apa?!”


Betapa terkejutnya Gupta mendengar kenyataan yang cukup mencengangkan. Bagaimana bisa Kintan berakhir menikah dengan karyawan kelas bawah? Menggantikan sahabatnya? Lelucon macam apa itu? Gupta sukar untuk mempercayainya. Pasalnya, meski belum mengetahui rupa Aksara, dari jabatannya saja sangat berbanding terbalik dengan David Edward Sinclair.


***


Mata para karyawan terpaku pada sosok asing, tetapi cantik melebihi selebriti berjalan elegan. Sementara gaun wanita itu ikut bergoyang seiring gerak rambutnya yang panjang. Tas branded terkalung di lengan wanita itu, menandakan jika ia bukan orang biasa. Sementara satu tangan yang lain tampak menenteng kotak bekal bersusun tiga. Orang-orang pikir wanita itu ada hubungannya dengan CEO Gupta.


Namun satu pasang mata menyadari akan siapa sebenarnya wanita yang sampai menggemparkan para karyawan yang baru keluar dari ruangan. Mergi langsung memasang ekspresi tidak senang melihat wanita itu. Ia tahu betul paras cantik tersebut. Begitu pula dengan siapa wanita itu.


“Dia mau apa datang kemari? Menyombongkan diri?” gumam Mergi sembari mengepalkan kedua telapak tangannya.


“Ada apa, Mbak?” Suara Aksara yang tiba-tiba terdengar membuat Mergi tersentak.


“I-itu ....” Mergi membatalkan kata yang hendak ia ucapkan. Ide gila muncul di benaknya. Ia tidak ingin Aksara mengetahui kedatangan sang istri. “Aksa, apa aku boleh minta tolong?”


“Minta to—”


“Mas!” Seruan dari suara tak asing sukses membuat Aksara menghentikan ucapannya.


Namun, kedatangan wanita itu sangat menjengkelkan bagi Mergi. Ia terpaksa mundur dan memberikan ruang bagi istri Aksara agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Aksara termangu. Kintan yang benar-benar datang dengan menenteng kotak bekal, membuatnya tidak menyangka. Mata Aksara beralih pada sekeliling Kintan. Banyak pria yang saling berbisik, ada pula yang berdecak, atau takjub pada penampilan istrinya. Pemandangan itu membuat Aksara mendadak kesal. Ia menggertakkan gigi serta mengepalkan telapak tangannya dengan geram.


Aksara kesal dengan kedatangan istrinya? Pikir Mergi. Sikap Aksara sedikit membuatnya lega. Pasalnya, pria itu justru tampak marah daripada senang dengan kedatangan sang istri.


“Ayo,” ucap Aksara sembari menggandeng tangan Kintan dengan sedikit kasar.


Kintan tersentak. “Ke mana?” tanyanya.


“Ke tempat yang nggak ada mata keranjangnya,” jawab Aksara lirih sembari mengajak istrinya itu berjalan sedikit cepat.


Kintan tertawa kecil. Namun, sedikit tersentuh dengan sikap suaminya itu. Sepertinya Aksara tengah melindungi dirinya. Sesuatu yang jarang terjadi, sehingga membuat Kintan tak banyak bicara lagi. Bahkan, ia sampai memberanikan diri untuk merengkuh lengan Aksara.


Mereka berdua langsung menjadi buah bibir para karyawan yang menatap. Sayangnya, Mergi sudah terlanjur pergi dengan hati senang lantaran menganggap Aksara geram pada kedatangan Kintan.


***

__ADS_1


Like dan komennya yaaa.


__ADS_2