
Hari berikutnya, masih sama seperti sebelumnya. Namun kali ini, Aksara menambah semangat dan membangun ketabahan hatinya agar menjadi lebih kuat lagi. Ia tidak ingin membuat sang istri berjuang sendiri. Meski tidak ikut menyokong dana atau ide untuk mengalahkan musuh, kekuatan hatinya menjadi tumpu utama agar mereka bisa lebih tangguh.
Aksara berjalan dengan kepala serta badan yang tegak. Matanya menatap lurus ke depan, nyaris tidak peduli dengan segala hal yang terjadi di sekelilingnya. Setelah melakukan scan masuk, ia membelokkan kaki menuju keberadaan elevator paling sudut.
Aksara menghela napas. Ia merasa lega karena bisa sampai di tempat itu tanpa hambatan. Namun ... tak berselang lama justru ada sekumpulan karyawan yang mendatanginya, tidak, mereka memang akan menggunakan lift yang sama. Hanya saja ... kedatangan mereka cukup mengganggu Aksara.
“Hai, Bro!” ucap Erwin lantang yang kemudian memeluk pundak Aksara layaknya seorang teman. “Sombong sekali dirimu? Mentang-mentang sudah naik pangkat dan punya istri cantik!” sindirnya diiringi gelak tawa ketiga temannya.
Seorang rekan bernama Tora mendekati Aksara dari sisi kiri. Kemudian, sama halnya dengan sikap Erwin, ia memeluk pundak Aksara. “Kupikir dia sudah merdeka, Win,” ucapnya sembari melirik Erwin dari sisi kanan tubuh Aksara.
“Hmm ... hidup dengan banyak rumor, yang penting duit ngalir mah nggak masalah ya, Aksa?” timpal Banu dari arah belakang.
Aksara menghela napas. “Ya, begitulah,” jawabnya ala kadarnya.
“Waaah! Kalau begitu sekali-kali traktir kami, Aksa. Bawa istri cantikmu, kenalin ke kita. Jangan dinikmati sendiri.” Erwin semakin kurang ajar saja dalam berucap.
Sampai Fadil—rekan Aksara yang sedari tadi diam—merasa tak enak hati. “Jangan begitu, Win! Candaanmu keterlaluan.”
“Apaan sih, Dil? Hanya canda doang, lagipula Aksara nggak marah tuh.”
“Nggak marah matamu!” Aksara menghempas tubuh Erwin dan Tora dari kedua sisinya. Ia tidak bisa menahan kegeraman lagi. Kali ini candaan Erwin memang sudah keterlaluan. Pria itu menganggap Kintan seperti wanita tidak baik yang mereka pikir bisa dinikmati seenak jidat!
Fadil yang sejak tadi merasa tidak enak lantas mencengkeram lengan Aksara sebelum berhasil memukul wajah Erwin. Awalnya, ia yang justru terkena pukulan lantaran Aksara tidak ingin berlalu sebelum memberikan pelajaran pada Erwin dan Tora, pun pada Banu yang kini diam-diam melarikan diri.
“Aksa! Ini di kantor, kamu bisa balas dendam pulang nanti. Kumohon!” ucap Fadil berusaha menenangkan Aksara, tetapi ia juga hampir menyerah karena tenaga Aksara sangat besar.
Erwin mengumpat, kemudian berkata, “Tingkahmu kayak perempuan, Aksa! Baperan!”
“Tahu tuh!” timpal Tora.
Sekali lagi, Aksara naik pitam, tetapi Fadil lebih cepat bergerak sebelum terjadi perkelahian.
__ADS_1
“Sudah, Aksa, Erwin, Tora! Ini kantor!” ucap Fadil.
“Cowok suka nyinyir, bukankah dirimu yang kayak perempuan, hah?! Lagipula, kenapa mau menikmati istri orang, apa sudah tak ada perempuan yang mau denganmu? Menggelikan! Nggak laku!” Aksara mencerca Erwin yang sejatinya memang masih lajang.
“A-apa?!” Erwin merasa terhina. “Jangan sembarangan kalau ngomong! Pikir tuh, memangnya siapa sih yang nggak tahu kalau dirimu tukang selingkuh?! Cewek macam istrimu banyak sekali di bar, mungkin juga sama murahnya dengan kupu-kupu mal—”
Ucapan Erwin terpotong dengan pekikannya sendiri, tatkala seseorang tiba-tiba saja menjambak rambutnya dari belakang. Semua orang terkejut, tetapi tidak dengan Aksara. David di sana, yang kemudian menghempas tubuh Erwin ke lantai putih gedung perkantoran itu. Mata birunya menatap tajam penuh kemarahan ke arah Erwin yang kini sudah tidak berkutik.
“Saya harap Anda bisa menjaga mulut Anda, sebelum saya berkenan merobeknya!” tegas David.
Erwin merasakan sesak, nyaris tak bisa menghela napas. Begitupun pada Tora yang terpaku, tubuhnya kaku dalam beberapa saat sampai tidak bisa digerakkan.
Tak lama kemudian, muncullah Gupta yang tampak tergopoh-gopoh. Tuan muda sekaligus CEO perusahaan tersebut menghampiri David. Dan tanpa kata sedikitpun, ia menarik David dari tempat tersebut. Namun, sebelum benar-benar jauh, David menatap Aksara penuh kebencian. Ia menganggap jika Aksara telah melemparkan Kintan ke dalam jurang penderitaan. Sampai kapanpun, Aksara memang tidak bisa memberikan bahagia pada wanita itu. Melindungi nama istrinya saja, Aksara tidak mampu, apalagi sosok aslinya.
“Baik-baik, Aksa,” ucap Fadil sembari menepuk pundak Aksara. Detik berikutnya, ia menghampiri Erwin dan Tora, kemudian mengajak mereka berlalu ke lobby untuk menenangkan emosi terlebih dahulu.
Sepeninggalan Fadil, Erwin, dan Tora, Aksara memutuskan untuk segera masuk ke dalam lift yang sejak tadi sudah terbuka.
“Tunggu!” Mergi menghentikan pintu lift menggunakan tangannya di bawah sensor benda itu. Kemudian, ia menyelinap masuk menyusul Aksara di dalam.
“Kamu dapat masalah sepagi ini?” tanya Mergi.
“Ya,” jawab Aksara singkat, tak berselera.
Mergi menelan saliva, ada rasa sedih menyeruak melesat ke dalam sanubarinya. “Mm ... yang sabar.”
“Ya.”
“Aksara, maafin aku soal kemarin.”
“Sudah dimaafkan.”
__ADS_1
“Tak bisakah kamu bersikap layaknya dulu padaku?”
“Bisa.”
Mergi menggertakkan gigi, kedua telapak tangannya mengepal erat menahan rasa jengkel yang sejatinya sudah tidak bertepi. Namun, demi kembalinya hubungannya dengan Aksara seperti sedia kala, ia tetap menahan kegeraman dengan sekuat tenaga.
Hingga detik di mana, lift sampai di lantai yang dituju, mereka keluar bersama. Namun, Aksara menyadari sesuatu yang membuatnya membatalkan langkah kaki menuju ruang kerja direktur utama. “Kenapa Mbak Mergi menuju lantai ini? Ada urusan dengan Pak Direktur?” tanyanya pada wanita satu anak itu.
“Aku ada urusan sama kamu,” jawab Mergi cepat tanpa basa-basi.
Aksara menghela napas. “Apa lagi?”
“Kemarin, aku datang ke ruang Mr. David atas permintaan ketua tim dan aku melihat banyak sekali foto-foto istrimu. Kamu nggak apa-apa? Dan dia siapa sebenarnya, maksudku Mr. David?”
“Barusan Mbak minta maaf soal sikap Mbak yang kemarin, tapi sekarang kenapa ingin mengulik kehidupanku bersama Kintan lagi?”
“Aku hanya khawatir sama kamu, Aksa!”
“Aku baik-baik saja dan nggak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Tetap saja!” ucap Mergi tegas, kemudian menarik lengan Aksara tanpa izin. “Aku tahu aku nggak bisa bersamamu, tapi aku tetap menyukaimu. Ya, aku sangat menyukaimu. Oleh sebab itu, aku nggak mau kamu terluka, Aksara.”
Aksara tercenung. Sementara dua orang pria baru muncul dari elevator alias lift khusus petinggi tak jauh dari keberadaannya dan Mergi. Siapa lagi jika bukan David dan Gupta yang kini turut terkejut dengan sikap aneh Aksara dan seorang wanita.
Gupta tersenyum tipis. “Hmm ... semakin menarik saja,” gumamnya.
“Pria itu ...!” David menggertakkan gigi. Amarahnya membuncah ketika melihat keakraban suami dari mantan kekasih yang masih ia cintai dengan wanita lain. “Kintan seharusnya kamu sadar, dia bukanlah orang yang baik.”
David melangkahkan kakinya dengan tegas sampai sepatunya menimbulkan bunyi tapak cukup keras. Kedatangannya bersama Gupta sukses membuat Aksara dan Mergi tersentak. Dan tak berselang lama, Aksara menghempas tangan Mergi dengan kasar.
Tepat di hadapan Aksara, David berhenti. Mata birunya menajam menatap manik mata Aksara. Pun pada Aksara yang tak mau kalah, sehingga seolah-olah muncul aliran listrik di antara wajah garang mereka berdua. Kedua pria itu menyimpan ribuan kebencian yang nyaris tidak tertahankan. Andai saja mereka bisa adu hantam dengan leluasa, sudah pasti kebencian itu bisa terlampiaskan.
__ADS_1
***
Jangan lupa like dan komennya yaaa gess.