
Brak!
David menggebrak meja dengan sekuat tenaga. Kemudian, ia bangkit dari tempat duduknya. Langkah kakinya terayun tegas menghampiri keberadaan Aksara. Gurat kemarahan juga muncul di paras blasterannya itu.
Bug! Duag!
Satu pukulan keras David berikan di wajah Aksara, sampai membuat pria itu limbung ke belakang. Aksara terjatuh ke lantai putih, terkapar, sekaligus terkejut. Tak lama kemudian, muncul cairan berwarna merah di sudut bibirnya, membuat kedua tangan Aksara mendadak gemetar.
“Pria tak tahu diuntung!” omel David berapi-api. Ia menarik kerah kemeja Aksara dengan kasar. Satu pukulan lagi hendak ia berikan, tetapi Aksara masih sanggup menepisnya. “Kamuuu!”
Duag!
Aksara yang sudah naik pitam tidak bisa lagi mengendalikan emosi. Meski tidak memukul wajah David seperti yang ia terima, Aksara menghempas tubuh David sampai terdorong ke belakang menghantam meja kerja yang kokoh dan kuat.
“Apa-apaan ini?” tanya Aksara sembari memelototkan mata.
David mencoba bangkit. “Sudah kubilang ceraikan Kintan!” tegasnya diiringi beberapa umpatan dan sebutan tidak mengenakkan teruntuk asisten pribadinya itu.
“Anda tidak pernah memiliki hak untuk memisahkan kami, Tuan! Harus—”
“Apa kamu masih tidak mengerti, Aksara?! Kamu hanya akan membuat Kintan masuk ke dalam lubang derita! Apa kamu tidak mengerti perkataanku kemarin siang, hah?!”
“Derita dalam konteks apa, Tuan David? Untuk apa saya melukai istri saya sendiri?!”
David mengepalkan jemarinya dengan kuat. “Kamu ini bodoh atau hanya pura-pura? Belum sadar-kah kamu jika barusan kamu sudah mengkhianati Kintan, sekaligus membuat Kintan menjadi bahan cemoohan dari para rekanmu! Apa kamu buta dan tuli?! Ceraikan dia, kembalikan dia padaku! Apa harus kuulangi ribuan kali?!”
Aksara tertegun dalam beberapa saat. Sekian detik kemudian, ia justru tertawa. Yang awalnya sangat pelan, lama-lama menjadi keras. Ia menganggap David sangat konyol. Bagaimana tidak, untuk orang yang berpendidikan tinggi, David memiliki pikiran yang sempit. Ataukah hanya sebuah bentuk sandiwara untuk menggertaknya? Atau memang benar-benar bodoh karena cinta? Aksara tidak tahu, yang pasti kali ini David terlihat lucu.
__ADS_1
Melihat Aksara yang justru terbahak-bahak, kegeraman semakin meradang di hati David. Ia merasa baru saja dipermalukan oleh suami dari mantan kekasihnya itu. Hingga kemarahan kembali berada di puncak tertinggi dari piramida emosi. Ia mengambil langkah lebar, lalu menyerang tubuh Aksara dengan satu kepalan tangan.
Aksara nyaris tersungkur lagi ke lantai putih yang mengkilat di ruangan itu. Beruntung, ia masih mampu menahan tubuhnya sendiri. Namun, daripada memberikan balasan, Aksara memilih bersikap tenang. Bukan tanpa sebab ia memutuskan sikap tersebut, ia hanya mencegah adanya resiko setelah ini. Munculnya, wajah Kintan di benaknya juga menjadi faktor lain agar ia bisa lebih bersabar. Bisa saja David hanya memancing emosinya, lalu menjebaknya agar mendapatkan bukti kejahatannya.
Aksara tergelak. “Kupikir semua konglomerat itu pintar. Ternyata sama saja. Orang yang berpendidikan tinggi ternyata memiliki kelemahan juga, ya?” ucapnya santai.
David menggertakkan gigi.
“Tidak sadar-kah Anda mengenai sikap dan spekulasi diri Anda sendiri, Tuan? Mm ... Mr. Edward Sinclair?” tambah Aksara.
David menelan saliva. “Jangan membicarakan omong kosong!"
“Tentu saja tidak. Barusan Anda meyuguhkan bukti, jika diri Anda adalah orang yang berpikiran sempit. Hmm ... saya mengkhianati Kintan? Apa karena sikap rekan wanita saya barusan?”
Gemelutuk gigi David terdengar jelas.
Aksara mengulas senyuman. “Cengkeraman tangan beliau masih belum bisa menjadi bukti kuat, Mr. Sinclair. Konyolnya, kenapa Anda berpikir saya berkhianat dan menunjukkan pengkhianatan saya di depan mata Anda? Saya tidak sebodoh itu dalam bersikap, jika hal itu saya lakukan, sama saja bunuh diri, bukan?”
“Seandainya Anda tidak datang, saya bisa menghajar rekan pria saya itu demi melindungi Kintan, Mr. Sinclair. Namun, ternyata Anda malah sok menjadi pahlawan kesiangan. Dengan kata lain, Anda juga menyelamatkan saya dari sangsi perusahaan. By the way, terima kasih.”
“Ka-kamu?!”
“Saya pikir Anda-lah yang perlu sadar diri dan sadar akan posisi. Berhenti mendesak saya untuk menceraikan Kintan, karena hal itu tidak akan pernah terjadi. Bekerja-lah seperti direktur utama pada umumnya, tanpa membawa masalah pribadi. Untuk segala pekerjaan apa pun, saya akan menuruti sampai Anda puas, Mr. Sinclair. Namun, untuk perintah mengembalikan Kintan pada Anda, saya tak akan sudi!”
Aksara memberikan penekanan di akhir kalimat yang ia ucapkan. Dengan segala keberanian ia harus bangkit dan memberikan penegasan. Ia tidak boleh kalah hanya karena David seorang konglomerat yang banyak uang. Karena jika harga dirinya mudah jatuh, David akan semakin menjadi-jadi.
Bahkan kali ini, atas nama Kintan, Aksara tidak peduli perihal resiko pemecatan karena sudah menentang sang atasan. Lagipula, ia sudah menduga jika David tidak akan berani memberhentikannya, karena ketika ia menjadi seorang pengangguran waktunya bersama Kintan akan bertambah banyak. Selain itu, entah rencana apa yang dipikirkan oleh David, sudah pasti David masih memerlukan dirinya.
__ADS_1
Ketika Aksara meninggalkannya sendiri, David menjatuhkan diri di atas lantai keramik. Napasnya tersenggal, sementara hatinya merasa hambar. Memukul wajah Aksara tidak lantas membuat dirinya merasa lega. Yang terjadi justru ia dipermalukan lantaran berpikiran sempit. Seharusnya, ia lebih tenang dan memikirkan sesuatu dengan luas dan teliti. Setidaknya Aksara memang ada benarnya, pria itu tidak mungkin memamerkan kemesraan dengan sengaja tepat di hadapan ruang kerja musuh sendiri.
“Wanita itu ...?” gumam David mengingat kembali wajah seorang wanita yang sempat memegang lengan Aksara. “Dia menyukai Aksara?”
***
Kintan meletakkan tumpukan berkas dengan sedikit keras di atas meja kerja Chandra. Sikapnya tersebut membuat sang ayah lantas tersentak. Dan ketika Chandra bersedia menatapnya, matanya membulat sempurna. Kintan tengah berada dalam keadaan serius.
“Ada apa lagi? Jangan mencoba melarikan diri dari tanggung jawab lagi, Sayang," ucap Chandra.
“Enggak, Pa,” jawab Kintan. “Kintan ... mau penobatan itu dipercepat.”
“A-apa?” Betapa terkejutnya diri Chandra atas permintaan sang putri. Pasalnya, hal tersebut sangat tiba-tiba, setelah sebelumnya Kintan sering menolak. “Tapi, kenapa?”
Kintan menghela napas. “Kintan hanya mulai menikmatinya saja. Akan lebih baik jika Papa cepat menyerahkan kursi itu.”
“Hanya karena menikmati? Kamu bukan orang yang mudah berubah, Sayang. Katakan apa yang terjadi sebenarnya. Apa Aksara memperlakukanmu dengan kasar lagi? Sehingga kamu memutuskan untuk segera menjadi CEO?”
“Aduh, Papa! Kintan terima salah, enggak juga salah. Dan lagi, Mas Aksara sudah berubah. Nggak ada kaitannya dengan dia. Lagipula, Papa hanya belum sadar kalau Kintan ini adalah orang yang plin-plan.”
Chandra menatap mata Kintan dalam beberapa saat, sampai kemudian ia berpaling. Helaan napas berat ia ambil sampai beberapa kali. Rasanya masih ada yang aneh saja, untuk seorang wanita secerdas putrinya tak mungkin berubah pikiran dalam waktu yang singkat dan beralasan sangat sepele. Jika bukan karena Aksara, lantas apa yang menjadi penyebabnya?
“Papa akan pikirkan dulu, sekaligus mengadakan diskusi dengan para petinggi. Rencana pengangkatanmu masih satu sampai dua bulan lagi, ini bukan keputusan yang bisa Papa ambil sendiri,” jelas Chandra.
“Kintan berharap permintaan Kintan bisa cepat terealisasikan. Percaya sama aku, Pa, aku enggak bakal main-main sama jabatan. Semua orang akan merasa diuntungkan. Lihat saja!”
Karena aku tidak bisa mengorbankan segalanya. Kakak, suami, anak, Papa, dan aku sendiri hanya karena David. Perasaanku tidak nyaman, aku menduga David akan lebih kurang ajar.
__ADS_1
***
Jangan lupa like dan komennya.