
Dengan penuh ragu, Kintan membuka pintu ruang kerja ayahnya di rumah itu. Debaran jantung lebih cepat daripada ketika dirinya sedang berolahraga. Namun demi amanat Nila yang kini sudah jatuh koma, Kintan harus mendapat restu dari orang tua tunggalnya tersebut.
Tampak dari mata Kintan, pria paruh baya yang biasa dipanggil dengan sebutan 'Tuan Besar Chandra' duduk di hadapan laptop mahal. Chandra masih perlu mengurus beberapa pekerjaan, tidak peduli akan waktu yang sudah larut malam. Harapan Kintan adalah meluluhkan hati ayahnya itu demi sebuah tanggung jawab. Kemungkinan besar memang Chandra akan melarang, tetapi mencobanya tidak salah, bukan?
“Papa,” ucap Kintan ketik sudah berada di hadapan ayahnya.
Chandra yang baru menyadari keberadaan putrinya, lantas menoleh. “Kintan? Kamu pulang? Kakakmu bagaimana? Papa belum sempat ke sana," ucapnya.
Kintan tersenyum kaku. “Mm ... ya sehat, Pa. Kakak sama bayinya, cucu Papa perempuan.”
Mata Chandra sontak berbinar-binar. Momen perdana ia akan mendapatkan seorang cucu. Seandainya Kintan sudah menikah, sudah pasti cucunya akan menjadi lebih dari satu. Namun sayang, sampai saat ini Kintan masih saja melajang. Bahkan, putrinya itu tidak tampak sedang menjalin hubungan dengan pria manapun.
Mengingat sesuatu yang berkenaan dengan anak keduanya, Chandra segera menyudahi kegembiraannya barusan. Ia menghela napas, kemudian memundurkan kursi yang ia duduki sampai menimbulkan decitan ketika kaki benda itu beradu dengan lantai. Chandra berdiri, lalu menghampiri Kintan yang masih didera kegelisahan.
“Papa enggak bakal nuntut kamu ni—” Belum sempat Chandra menyudahi ucapannya, Kintan sudah menyahut.
“Pa,” potong wanita itu, kemudian menggigit bibir bagian dalam. “Ki-kintan ... Kintan, Kintan mau menikah.”
“Mm? Apa?!” Awalnya Chandra terkejut, tetapi detik berikutnya ia justru tertawa. Pengakuan dari putri cantiknya itu terdengar seperti banyolan, yang mungkin disebabkan oleh rasa minder lantaran sang kakak, yakni Diki sudah memiliki keluarga kecil yang lengkap.
Kintan merasa sesak. “Pa-papa, Kintan serius! Ki-kintan sungguh-sungguh!”
Kali ini Chandra terdiam, karena ketegasan suara Kintan mampu mempengaruhinya hatinya. Ia lantas menatap manik mata putrinya itu dengan lebih saksama. Chandra masih enggan untuk merasa percaya, pasalnya keinginan Kintan sungguh terlalu tiba-tiba. Lagi pula, Kintan akan menikah dengan siapa? Apakah ada seorang pria yang menjalin hubungan dengan Kintan selama ini dan tanpa sepengetahuan Chandra?
Lalu, Chandra mencengkeram kedua pundak Kintan, tetapi tidak terlalu kuat. Ia menghela napas, mencoba menetralisir keterkejutan dirinya yang masih enggan pergi. Chandra berpikir jika keinginan berkenaan dengan pernikahan tentu bukan sesuatu yang buruk, bahkan telah lama ia harapkan agar Kintan tidak menjadi perawan tua.
“Hmm ... boleh Papa tahu siapa calon suami kamu, Sayang?” tanya Chandra penasaran.
Namun, pertanyaan itu justru membuat Kintan kian gamang. Ia kesulitan mengeluarkan suaranya, untuk bernapas saja berat. Pasalnya, pria yang hendak ia nikahi—meskipun secara terpaksa—merupakan suami Nila. Dan ayahnya itu sangat mengenal Nila, karena Nila benar-benar teman yang paling setia padanya. Sudah dapat dipastikan
__ADS_1
reaksi luar biasa yang tentu negatif akan diberikan oleh Chandra.
“Kintan?” Mendapati putrinya justru bergeming dalam ketegangan, membuat Chandra semakin heran. “Siapa calon kamu, Kintan?”
“A-aksara ....” Mata Kintan terpejam, ia menunduk pasrah setelah mengatakan nama pria itu dengan sekuat tenaga, bahkan sisa-sisa keberanian sudah benar-benar menghilang.
Chandra berangsur melepas cengkeraman tangan di pundak putrinya dan melipat salah satunya, sementara yang lainnya mengusap-usap dagu. Nama Aksara terdengar tidak asing bagi telinga Chandra, seperti pernah mengenal bahkan bertemu. Namun, siapa pria itu? Dan dari keluarga mana?
“Aksara ... Aksara, dia ... su-suami Ni-nila, Pa.” Tubuh Kintan meluruh, ia lemas tidak berdaya. Dalam ketegangan suasana hatinya, ia menunggu respons marah besar dari ayahnya.
Tentu saja, Chandra menjadi terkejut bukan main. Aksara yang merupakan suami Nila? Suami dari seorang perempuan yang sudah seperti saudari putrinya? Yang benar saja!
“Jangan bercanda kamu, Kintan! Ada-ada saja!” Tidak mau termakan emosi, Chandra hanya menimpali dengan menganggap jika Kintan hanya sedang bergurau. Ia berdeham, kemudian bergegas menuju kursi kerja miliknya itu.
Namun, sebelum Chandra melangkah terlalu jauh, Kintan yang sudah terduduk memeluk kaki ayahnya itu. “Nila koma, Pa, dan ... i-itu amanat terakhirnya. Kemungkinan besar Nila enggak bakal selamat, Papa, Pa—”
“Kintan!” Chandra berbalik lagi. Ia menurunkan pandang dan lantas menatap wajah putrinya yang sudah berderai air mata. “Kamu jangan bodoh, bisa saja Nila terbangun lagi dan segera sembuh! Dan tentu saja Papa enggak mau putri Papa satu-satunya nikah sama suami orang! Kamu harusnya juga mikir keluarga kita itu keluarga terpandang, keputusanmu bisa saja menghancurkan, bukan hanya namamu tapi nama Papa dan kakakmu!”
“Tapi kamu masih gadis, Kintan! Masih cantik dan tentu saja banyak yang bersedia menikah dengan kamu! Pria itu juga belum tentu mencintai kamu, Sayang, bahkan jika kemungkinan buruk terjadi pada Nila, kamu enggak akan bahagia!”
Kintan menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara wajahnya terus berselimut harapan. Perlahan, ia berdiri dari duduknya. Ia menatap ayahnya dengan saksama, bermaksud untuk meyakinkan satu-satunya orang tuanya itu. Detik berikutnya, Kintan meraih jemari ayahnya tersebut.
“Kintan ... bersedia hidup tanpa cinta, karena selain Nila, ada Gibran,anak mereka, yang perlu Kintan jaga, Papa.”
Chandra menggeleng. “Enggak, Kintan! Papa enggak kasih restu, Papa enggak bisa memberikan anak kesayangan Papa pada pria itu!”
“Pa! Seenggaknya demi anak kecil itu, Pa, bagaimana kalau suatu saat Aksara menikah lagi dan justru bertemu dengan wanita jahat, Pa? Pa ... Papa juga ingat mendiang Mama, 'kan? Dan sampai saat ini, Papa selalu menjaga amanat Mama?” Kintan terus mendesak, berusaha agar janjinya pada Nila dapat ditepati.
Ucapan Kintan yang membawa-bawa mendiang ibunya yang meninggal sejak ia masih kecil, berhasil membuat Chandra terdiam. Pria paruh baya itu memang selalu menjaga amanat sang istri, bahkan sampai sekarang. Mariam—mendiang istri Chandra—yang meninggal lantaran sakit leukimia—memintanya agar tidak menikah jika pasangannya hanya mengincar harta tanpa menyayangi kedua anaknya.
__ADS_1
Benar saja, sepeninggalan Mariam, ketika Chandra mulai menjalin hubungan lagi, tidak ada satu pun dari wanita-wanita itu tulus mencintainya, pada terutama anak-anaknya. Pada akhirnya—demi amanat mendiang istrinya—Chandra memutuskan untuk hidup sendiri sampai Kintan beranjak dewasa.
“Papa ...?”
Chandra menghela napas setelah Kintan memanggilnya. Kini hatinya yang selalu menyayangi putrinya itu menjadi bimbang. Memilih antara menolak atau memberikan persetujuan, dari kedua pilihan tentu memiliki risiko masing-masing.
Ketika Chandra masih kekeuh menolaknya, tentu putrinya itu akan hidup dalam penyesalan lantaran tidak menjaga amanat dari sang sahabat. Namun, saat Chandra harus memberi restu, kemungkinan besar Kintan akan hidup di dalam rumah tangga yang tidak akan pernah bahagia.
“Papa enggak tahu,” ucap Chandra memilih berlalu untuk duduk di kursi kerjanya lagi. “Hari sudah malam, kamu harus tidur, Kintan.”
“Tapi, Papa? Kin—”
“Tidur, istirahat, besok ... kamu harus bersiap-siap, 'kan?”
Mata Kintan reflek terbuka lebar. “Ja-jadi?”
“Mungkin, Papa ini memang ayah paling buruk. Tapi, melihatmu yang bersikeras, meskipun bimbang, Papa tetap menuruti keinginan kamu.”
Wajah Kintan mendadak cerah. “Te-terima kasih, Papa!”
“Kintan?”
“I-iya, Papa?”
“Pernikahan itu bukan perkara mudah, apalagi pria itu belum mencintai kamu. Papa punya syarat, kamu harus berpisah maksimal satu tahun pernikahan jika Aksara enggak melihat kamu selayaknya seorang istri, Nak. Itu juga salah satu amanat dari Papa.”
Kintan tertunduk diam. Sekiranya ia memang merasa ragu, dalam bayangan keinginan untuk membuat Aksara lantas menatapnya dengan rona cinta. Dan di sisi lain, Kintan tidak mengharapkan hal itu sebab ia memang terpaksa menikah dengan Aksara lantaran keinginan Nila yang jatuh koma.
Sama seperti mendiang ibu Kintan, sahabatnya itu tidak mau memberikan suami terutama sang putra pada wanita yang tidak baik. Lantaran Kintan sangat dekat dan baik hati, membuat Nila memberikan amanat yang bisa jadi menjadi permintaan terakhir.
__ADS_1
Namun, Kintan tetap berharap, semoga ada kesempatan bagi Nila untuk sembuh dan siuman seperti sedia kala. Dan jika harapannya itu terjadi, ia bersedia menceraikan Aksara.
***