Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 49-Kintan Jengkel


__ADS_3

Tiba-tiba saja, David menarik salah satu tangan Kintan. Ia menggenggam jemari wanita itu dengan tatapan mata tak lepas sejak awal. Seperti orang Eropa, David hendak memberikan kecup manis di punggung tangan Kintan sebagai tanda salam. Namun sebelum itu terjadi, Aksara yang sudah terlanjut geram pasca David menarik tangan istrinya, menyingkirkan tangan David dengan kasar.


“Ah ... maaf. Kami orang Eropa biasa seperti itu,” ucap David meski tak ada rasa bersalah sama sekali.


Aksara menggertakkan gigi. “Dia is—”


“Nona Kintan bisakah kita ngopi bersama sebentar saja, ada pekerjaan yang perlu saya bicarakan dengan Anda,” sahut David sebelum ucapan Aksara selesai.


Kintan tersenyum. “Sayang sekali. Saya dan suami sudah ada rencana setelah ini. Mohon maaf, Mr. David dan Tuan Muda. Sepertinya lain kali saja.”


“Oh ... kalau begitu, minggu—” Kali ini giliran David yang mendapat sahutan suara sebelum ucapannya berakhir.


“Kalau begitu kami pamit, anak kami sedang menunggu. Kita masih memiliki beberapa kesempatan untuk bertemu lagi,” potong Kintan kemudian menatap Aksara. “Ayo, Sayang.”


Kintan mengalungkan tangannya di lengan Aksara dengan gerakan lembut dan terkesan manja. Ia sama sekali tidak memedulikan perasaan sang mantan yang masih berjuang mendapatkannya kembali.


Sepeninggalan Kintan dan Aksara yang berjalan penuh kemesraan, sekujur tubuh David mendadak gemetaran. Ia tidak menyangka jika Kintan akan pergi tanpa mau memberikan kesempatan untuk berbincang lebih lama. Wanita itu bahkan tidak peduli jika dirinya tengah terluka. Cemburu, iri, nestapa, serta tidak terima menghujam hatinya tanpa ampun sedikit pun.


“Sabar, Bro! Ini belum berakhir,” ucap Gupta memprovokasi.


“Benar. Ini belum berakhir,” jawab David.


Kemudian, pria blasteran itu kembali melanjutkan perjalanannya untuk sampai di mobil pribadinya.


***


Setibanya di rumah, Kintan segera mengambil kotak obat untuk mengobati luka suaminya. Ia tidak bisa membiarkan luka itu terlalu lama tanpa pengobatan, meski Aksara berkata baik-baik saja. Kemudian dengan telaten, Kintan membersihkan bekas tinju di wajah suaminya itu. Alhasil, Aksara menjadi menyerah dan mengambil kesempatan untuk dimanja sang istri sebelum mengambil Gibran dari rumah Sari.


“Kintan?” ucap Aksara.


Kintan menghentikan gerak tangannya. Dahinya berkerut, sebelum akhirnya berkata, “Kintan?”


“Ah ... mm, Sayang!”


“Hmm ... kalau situasi bahaya baru manggil sayang?” Kintan melanjutkan aktivitasnya.


“Kata siapa? Bukannya kamu yang manggil aku sayang dalam situasi seperti itu? Kan kemarin aku juga sudah—”


“Ih! Jangan banyak omong. Nanti nggak kelar-kelar, Mas!”


“Hmm ... iya, iya.”


Aksara memilih jalan terbaik untuk mengalah. Kintan terlalu berbahaya jika diajak berdebat. Ia teringat insiden beberapa saat yang lalu ketika istrinya menampar pipi Mergi tanpa ampun. Sedikitnya, ia sudah memahami bagaimana Kintan jika sudah terlanjut tersulut emosi.


Dan tiba-tiba saja, entah sadar atau tidak, Kintan memajukan wajahnya. Bagi wanita itu dimaksudkan untuk melihat luka di bibir Aksara lebih jelas. Namun bagi Aksara, sikap Kintan cukup menggiurkan. Sampai kemudian, ia tidak bisa menahan keinginan untuk memberikan kecupan. Ia merengkuh wajah istrinya itu, dengan gerakan lembut dan napas hangat, Aksara mencoba menjatuhkan kecup manis di bibir wanitanya.


“Aau!” pekik Aksara tiba-tiba setelah mengecup bibir istrinya.

__ADS_1


Kintan mundur kemudian tergelak. “Makanya sabar! Tuh bibir masih sakit, lho!” katanya.


Aksara tersenyum malu-malu. “Habis gimana lagi.”


“Hmm ....”


Kintan menyelesaikan pengobatan sederhana itu dengan cepat agar Aksara tidak lagi tergiur atas wajahnya yang cantik. Setelah itu, ia menegakkan badan dan memasang wajah serius. Benar, Kintan sedang berada dalam keadaan tidak bercanda. Ingatannya mengenai dua insiden di baseman kembali muncul.


Mergi, wanita itu seperti hama yang mengganggu. Sebelum menumpas David, Kintan perlu menyingkirkannya terlebih dahulu. Kintan tidak yakin Mergi akan berhenti meski telah ia berikan tamparan. Pasalnya, sebelum ia pergi, Mergi terdengar menggertakkan gigi. Sudah pasti, dengan sikap seperti itu ada dendam yang semakin membuncah di hati janda satu anak itu.


“Kintan?” ucap Aksara tiba-tiba. “Maaf soal Mbak Mergi. Aku ... benar-benar enggak aneh-aneh kok,” jelasnya.


Kintan menghela napas. “Oke, aku percaya. Tapi, kamu masih saja lemah, Mas. Sampai pada akhirnya, dia masih bersikukuh atas dirimu. Dan apa? Istri kedua? Ck, menggelikan!” balasnya.


“Ka-kamu dengar soal itu?”


“Tentu saja! Aku sudah ada di sana sebelum wanita itu menghampirimu. Aku menyelinap dan bersembunyi, mau cari alasan dulu buat hajar dia.”


“Mm ... maaf, ya? Aku cuma nggak tega saja, Tan. Mau gimanapun dia rekan yang banyak membantuku dan memberiku perasaan itu.”


Kintan berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu memang lemah, Mas. Makanya dari dulu juga aku enggak ambil hati kalau kamu marah. Soalnya justru lucu. Aku bilangin ya, Mas, kenapa dia baik dan sering membantumu, ya karena dia menyukaimu. Sama saja dia enggak ikhlas kasih bantuan. Lalu, kalau dia memberimu perasaan, apa kamu akan menerimanya sebagai istri ketiga?!”


“Enggaklah mana ada! Dari mana sih kamu tahu segala hal? Dan lagi, soal Mbak Mergi menyebarkan rumor, itu apa? Kamu tahu dari siapa?”


“Aku nggak tahu. Aku dengar rumorku dari ibu-ibu, agak aneh saja, Ibu 'kan sudah memberikan penjelasan sama mereka soal hubungan kita. Tapi, tiba-tiba ada gosip bilang kalau aku penyebab meninggalnya Nila dan istri simpananmu sejak lama.”


“Aduh, Mas! Kita 'kan punya dua musuh. Satu David, dua Mergi. David nggak mungkin memakai cara itu, apalagi menjatuhkan aku yang masih dia cintai. Oke! Dengan begitu, sudah pasti Mergi-mu yang berbuat. Aku cuma mancing doang, dan ternyata dia nggak berkilah, berarti aku benar, 'kan? Lagian siapa lagi kalau bukan dia? Ibu, Ningsih, dan Mama Sari, mana mungkin! Aduuh! Kamu agak pinter kenapa sih?!”


Kintan berapi-api. Rasa jengkelnya terhadap sikap bodoh Aksara sudah tidak dapat ia tepis lagi. Pasalnya, Aksara hanya kasar secara kasat mata, sementara hatinya cukup lembut bak hello kitty, belum lagi ketidakpekaannya. Bagi Kintan, Aksara justru akan membuat Mergi semakin berani.


Kintan menghela napas. “Aku hidup di lingkungan bisnis. Sejak dulu, Papa mengajariku supaya aku dan Kak Diki lebih cermat dan hati-hati. Ya, meskipun Papa belum lama ini kecolongan oleh David. Pelajarannya buat aku masih menjadi kebiasaan,” ungkapnya.


Aksara terdiam.


“Mas, aku mau kamu lebih tegas dalam bersikap. Sekiranya dia memang temanku, kalau sudah bersikap aneh tolong jauhi. Dan lagi, soal luka ini, gimana bisa kamu mendapatkannya?”


“David, dia melihat Mbak Mergi memegang lenganku pagi tadi.”


“Apa?! Sesering itu dia megang tanganmu?!”


Kintan berdiri tegak penuh emosi. Detik berikutnya ia mengumpat dan hendak mengambil langkah. Namun sebelum itu, tangan Aksara menarik pinggangnya sampai ia terduduk di pangkuan suaminya itu.


“Lepasin, Mas! Aku mau kasih pelajaran lebih dari yang tadi ke wanita itu!” ronta Kintan.


Aksara semakin menguatkan tangannya di pinggang Kintan. “Sudah, Sayang, sudah. Jangan sekarang, tenang dulu,” ucapnya.


“Ais! Ck, aiiis!”

__ADS_1


“Maaf, maaf, habis ini aku bakal lebih tegas kok. Serius!”


“Hmm ... tapi, David kelihatan baik-baik saja? Kamu nggak melawan?”


“Enggak. Kupikir kalau aku melawan akan ada resiko yang lebih berat, aku khawatir dia menjebakku dan merepotkanmu, Kintan. Lalu, gimana soal kamu?”


“Soal aku? Aku kenapa memangnya?!”


Aksara menyandarkan kepalanya di punggung Kintan. Helaan napas berat ia ambil diam-diam, tetapi Kintan masih bisa mendengar suaranya. Rasa cemburu dan cemas yang sempat hilang muncul kembali. Tentang bagaimana David menggenggam tangan istrinya yang bisa saja menimbulkan desiran hati.


Sementara Kintan menjadi heran lantaran suaminya justru bergeming. Dengan posisi seperti itu, ia tidak bisa melihat wajah Aksara, apalagi kedua tangan Aksara di pinggangnya masih sulit dilepaskan.


“Mas?” ucap Kintan.


“Hmm?” balas Aksara seperti mau tidak mau.


“Memangnya aku kenapa, sih?”


“Tadi, ... Mr. David memegang tanganmu, memandangi matamu, mengajakmu ngopi bersama, apa tak ada perasaan gimana gitu?”


“Tentu ada. Munafik kalau enggak ada tuh. Namanya juga mantan, kami pernah melewati banyak hal bersama dan tiba-tiba bertemu kembali menjadi musuh.”


Aksara menelan saliva, kemudian mengangkat kepalanya. Pelukannya di pinggang Kintan pun berangsur mengendur. “Jadi, masih ada sisa cinta?”


“Enggak ada, Mas.” Kintan mempertahankan pelukan Aksara agar tidak benar-benar lepas. “Hanya sekedar rasa miris saja. Tak lebih. Aku sudah nggak mencintainya dari jauh-jauh hari.”


“Tapi, kamu pernah bilang mencintainya?”


“Sekarang aku tahu, saat itu aku bukan masih mencintainya. Tapi, menyayangkan waktu empat tahunku untuk menunggunya. Aku terluka saja, waktuku sia-sia tanpa bisa menghasilkan sesuatu. Kupikir setelah dia memintaku kembali, aku akan setuju. Tapi, Mas, aku memilihmu.”


“Bukan karena Gibran?”


“Aku rasa iya, tapi juga bukan. Saat aku setuju bercerai, tapi kamu justru menahan. Aku merasa ada harapan saja, entah saat itu harapan untuk apa. Yang pasti, setelah melewati malam pertama, jantungku terus berdebar.”


Aksara tersenyum diam-diam. Hatinya bahagia karena Kintan cukup terbuka dan tidak lagi enggan mengatakan segala hal. Sampai kemudian, jari-jarinya mulai nakal. Ia tidak mau melewatkan kesempatan dengan posisi sangat dekat dengan sang istri layaknya sekarang. Dengan cepat, Aksara menyingkap baju Kintan.


“Mas! Masih sore!”


“Makanya ayo mandi, Sayang.”


“Huh!”


“Hehehe.”


****


Scene besok melibatkan Diki dan rencana lanjutan Kintan. Jangan lupa like komennya ya.

__ADS_1


__ADS_2