Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 14-Aksara Terjebak!


__ADS_3

Pendar lampu ruang tamu itu menyorot wajah ayu milik Kintan, menyibak auranya yang selama ini mampu meluluhlatakkan hati para kaum adam. Kintan tengah berdiri di sana, bersama lebatnya kebimbangan yang tumbuh secara diam-diam. Namun, sudah pasti ia merasakannya. Bingung melanda pasca dirinya membuat rencana.


Sementara mata Kintan terus terpaku lurus ke arah pintu kamar Aksara. Membuat wanita itu harus menelan saliva sampai beberapa kali. Enggan rasanya menuju ke sana, tetapi harus! Namun, bagaimana jika Aksara terbangun dan lantas mengusirnya?


Kintan menghela napas. “Aku tetap harus melakukannya demi tujuan mulia,” gumamnya dengan bibir yang gemetar.


Tak lama setelah meyakinkan dirinya sendiri, Kintan mulai melangkahkan kaki. Ia berjalan sangat lambat dalam keadaan tegang dan juga canggung. Namun bukan perkara sulit baginya, untuk masuk ke dalam kamar itu. Suaminya itu memang jarang sekali mengunci pintu. Alasan mengapa pintu kerap tak dikunci tersebut adalah supaya Gibran bisa datang kapan saja ketika ingin bersama sang ayah.


Ketegangan semakin bertambah, ketika Kintan mulai memegang handle pintu. Ia menghela napas dalam-dalam untuk menepis semua kecemasannya. Secara perlahan, tetapi pasti, Kintan membuka benda yang terbuat dari kayu itu.


“Mas ...?” ucap Kintan dengan hati-hati untuk memastikan lelapnya tidur Aksara.


Tak ada jawaban dari pria itu, tetapi justru terdengar suara rintih memilukan. Seketika itu juga, Kintan menjadi cemas. Langkahnya yang sejak tadi terbilang pelan, kini semakin ia percepat.


“Mas?” Kintan mendapati suaminya tengah menggeragap. “M-mas? A-aksara? Kenapa? Ada apa?" tanyanya panik.


Aksara membuka mata perlahan, tetapi keadaannya masih linglung dan gemetar. Ia menatap wajah Kintan dalam keadaan bingung. “Nila ... Ni-nila, Nila sayang,” ceracaunya mengira jika wanita di hadapannya adalah mendiang istri pertama.


Kintan sesak. Namun ia tidak ada waktu untuk memikirkan perasaannya sendiri. Detik itu juga, ia harus menenangkan Aksara yang mungkin mengalami mimpi buruk. Dengan cepat, ia memberikan pelukan, kemudian membelai punggung suaminya itu dengan lembut.


“Iya, aku di sini, Mas. Ternyata kamu mengalami mimpi sesulit ini, ya? Setiap malam-kah?” tanya Kintan.


“Nila, Mas rindu sama kamu. Rindu, sangat rindu ....” Aksara masih belum sadar dari halusinasi. Terlebih dalam keadaan nyaris gelap, karena hanya cahaya lampu tidur di nakas sebelah kanan saja yang berpendar. Matanya yang sendu masih menatap Kintan yang ia pikir adalah mendiang istri pertamanya.


“Nila ....” Aksara menguatkan pelukannya pada tubuh Kintan.


Kintan menghela napas. Berat baginya menerima kenyataan harus hidup bersama suami mendiang sahabatnya. Sementara Nila masih beruntung, lantaran Aksara begitu mencintai Nila mungkin sampai seluas samudera. Berbeda dengan Kintan yang masih saja dianggap tidak ada.


Pelukan itu berlangsung hingga lima menit lamanya, sampai Aksara dapat perlahan Kintan tenangkan. Namun, dalam keadaan yang masih tak sadar itu, Aksara nyaris memberi kecup manis di bibir Kintan sebelum akhirnya didorong keras oleh sang istri. Kintan tak sanggup. Ia tidak bisa menerima perlakuan itu, jika pada kenyataannya Aksara menganggapnya sebagai Nila dan bukan sebagai dirinya sendiri. Rasanya, Kintan tidak pantas mendapatkannya, sebab bisa Nila akan melihat dan cemburu dari atas sana.

__ADS_1


“Nila ....” Aksara bergumam lagi. Kemudian, ia terlelap kembali dalam ketidakberdayaan.


Sementara Kintan masih terdiam dalam balutan ketegangan. Rencana yang sudah tersusun untuk menggoda suaminya menjadi berantakan. Ia menyudahi keadaan itu sekian detik setelah menghela napas.


Di ranjang bagian lain yang sepertinya bekas tempat Nila berbaring, Kintan duduk. Ia memandangi wajah Aksara yang cukup damai dan kontras sekali jika dibandingkan tadi. Seketika itu juga, ia menelusuri lekuk wajah suaminya itu menggunakan jari telunjuknya.


“Kamu memang tampan, Mas, bahkan sangat manis. Tapi, ... kamu terlalu kasar sama aku,” gumam Kintan sembari tersenyum kecut.


Kemudian, setelah puas mencuri kesempatan untuk memandangi wajah Aksara, Kintan berangsur merebahkan diri. Ia memutuskan untuk tinggal di kamar itu lantaran masih merasa khawatir pada suaminya. Mungkin esok hari nanti ia akan mendapatkan hadiah omelan atau bahkan umpatan. Namun tak apa, sudah biasa.


***


Pukul tiga dini hari, Aksara terjaga dari tidurnya. Ia merasa hawa dingin yang menyeruak lewat ventilasi di atas jendela kamarnya, sibuk menusuk-nusuk setiap pori-pori di kulitnya. Rasa kering di tenggorokan juga menjadi salah satu faktor utama penyebab dirinya harus membuka mata.


Pria itu lantas menoleh ke bagian kanan, hendak memastikan waktu di jam dinding kamar terlebih dahulu. Namun ....


“Hei! Ngapain kamu di sini?! Kupikir hantu dari mana!” Aksara mengumpat setelah mengatakan kalimat bernada tegas itu.


Kintan terpaksa membuka mata. Namun alih-alih takut, ia justru menguap sembari merentangkan kedua tangan ke atas. Detik berikutnya, ia baru membangunkan dirinya untuk duduk menghadap sang suami.


“Apa sih, Mas? Masih gelap banget lho!” ucap Kintan.


“Ka-kamu, ngapain di sini? Kan sudah aku bilang jangan pernah ke—”


“Maaas!” Kintan membungkam bibir Aksara menggunakan telunjuknya. Kemudian, ia bergelayut manja dan lantas merebah manis di pangkuan suaminya itu. “Kamu lupa apa yang terjadi tadi malam?” godanya.


“A-apa? A-apa maksud kamu, Kintan?”


“Hmm ... apa yah? Aku enggak bermaksud kayak gitu sih.” Kintan memasang ekspresi memelas. “Tapi, Mas, kamu—”

__ADS_1


“Stop! Itu enggak mungkin, Kintan!”


Kintan tersenyum. Ia membangunkan dirinya lagi. Sembari menatap wajah Aksara, Kintan bergerak menebar pesonanya. Meski sangat malu, ia tetap harus melakukan hal itu. Ide tersebut muncul secara tiba-tiba pasca mendapati kecemasan terpancar di wajah suaminya.


Sementara Aksara yang masih terpaku tegang, Kintan sedikit membuka baju tidur berenda itu di bagian pundak kanan. “Kamu beneran lupa, Mas?” tanyanya.


“I-itu enggak mungkin, Kintan, ma-mana mungkin? La-lagian ka-kamu kenapa bisa ada di sini?” Aksara semakin tidak karuan, ia merasa tidak pernah berbuat aneh-aneh pada Kintan. Namun, wanita itu justru ada di dalam kamarnya dan berpakaian terbuka.


“Oke, Mas. Aku bakal jujur.”


“Ka-katakan.”


“Kamu ....” Kintan menggigit bibir. “Kamu merintih tadi malam, bahkan sampai berteriak. Aku kaget dan khawatir, jadi datang ke sini. Tapi, kamu justru menganggap aku sebagai Nila, Mas, dan setelah itu kamu me—”


“Enggak! Kamu salah, Kintan! Itu salah. Lihat, baju kita masih lengkap!”


“Aku tahu itu salah, apalagi di saat wajahku justru terlihat sebagai Nila di mata kamu, Mas. Tapi, soal itu ... ah, sulit aku jelaskan, Mas. Kamu kembali memakai sendiri baju-baju kamu, lihat saja kancing atas terbuka. Dan aku, memangnya bajuku lengkap? Apa perlu aku buktikan yang di bagian da—”


“Stop!”


Aksara mencengkeram rambutnya dengan kedua tangan sembari menatap ke segala penjuru ruangan. Pengakuan Kintan memang sulit dipercaya, tetapi jika hal tersebut sudah membawa-bawa nama Nila sepertinya ucapan Kintan bukan sebuah kelakar semata. Dengan kata lain, Aksara telah melampaui batasan yang ia buat sendiri untuk tidak menyentuh Kintan karena sudah menganggap wanita itu sebagai Nila.


Ide yang sebenarnya sekadar iseng, justru menjadi sebuah rencana. Apalagi kancing atas baju piyama yang dikenakan Aksara justru terlepas dan hilang entah ke mana. Dengan begitu, Aksara mengira jika dirinya telah menyentuh Kintan. Dan bagi Kintan, hal itu sudah menjadi senjata andalan agar dirinya tak lagi diancam dengan perceraian. Aksara tidak akan pernah lagi menginginkan adanya perceraian.


“Mas, kita sudah menjadi satu,” ucap Kintan sembari meraih tangan suaminya itu dan lantas menggenggamnya.


Aksara masih terdiam. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Wanita itu telah mendapatkan haknya sebagai seorang istri dan ada kemungkinan bisa mengandung bayi darinya. Perceraian yang ia impikan tentu hanya sebatas angan-angan.


***

__ADS_1


__ADS_2