Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 32-Kaget!


__ADS_3

Mergi menatap gambar dirinya di cermin yang terpasang pada almari besar. Betapa cantiknya ia saat ini dengan penampilan yang sungguh berbeda dari biasanya. Rambut yang biasanya terkuncir di belakang, kini terurai indah. Riasan wajahnya pun tampak lebih jelas pada area mata, kulit wajahnya, serta hidungnya yang mancung jambu.


“Aksara, maafin aku,” gumam Mergi sembari tersenyum. Kata maaf yang ia ucapkan dimaksudkan tentang bagaimana ia beralasan dengan menggunakan nama putrinya.


Bahkan, bocah kecil yang bernama Naura itu sengaja Mergi ajak ber-akting. Ia menjadikannya sebagai sebuah permainan kecil agar sang putri bersedia. Sementara Naura sudah berbaring di atas ranjang berwarna pink di dalam kamarnya.


Mergi menghela napas. “Satu kebohongan tak apa demi kebaikan yang lainnya. Naura juga pasti paham, Aksara harus lepas dari jebakan wanita itu,” ucapnya sembari mengubah wajah menjadi lebih datar.


Dan tiba-tiba suara salam serta ketukan di pintu rumahnya terdengar. Sontak saja, Mergi terkejut. Namun alih-alih gugup, ia justru sangat antusias. Sudah pasti Aksara pelakunya. Pria itu telah datang demi mengunjungi putrinya sekaligus menemani dirinya. Sungguh! Momen membahagiakan yang selalu ia impikan. Bersama Aksara hanya berdua saja, mungkin akan bertiga dengan Naura dan lebih sempurna sebagai sebuah keluarga.


Sesaat setelah menarik napas, Mergi mulai menyentuh gagang pintu. Jujur saja, ketika tinggal satu langkah lagi debaran di jantungnya justru semakin kencang saja. Namun tidak ada waktu untuk berdiam diri terlalu lama, sebab Mergi tidak mau membuang kesempatan emas semacam sekarang.


“Aksa—”


Warna wajah Mergi berubah drastis. Dari yang sebelumnya sungguh gembira, kini tampak terkejut. Kedua matanya yang sudah terhias riasan terbuka lebar. Ia benar-benar kaget. Tidak menyangka jika musuhnya akan datang.


Kintan? Mengapa wanita licik itu bisa ada di sini? Mergi menelan saliva, setelahnya menatap Aksara yang justru tersenyum tanpa rasa bersalah. Pria itu tampak ramah, kontras dengan sikap sang istri. Ya, Kintan sedang berlagak. Ia melipat kedua tangannya ke depan, sedikit mengangkat dagunya, menaikkan salah satu alis, dan ia menatap Mergi seolah tengah memberikan hinaan.


”Maaf, Mbak. Aku bawa istri, sebab aku datang ke sini memakai mobilnya. Jadi, ya sekalian saja kami jenguk berdua,” ungkap Aksara.


Mata Mergi beralih pada seonggok mobil mewah berwarna putih mengkilat. Merek yang tertera pada kendaraan roda empat itupun, bukan merek sembarangan. Tentu, dengan kenyataan yang ada sekarang, hati Mergi menjadi benar-benar sakit. Impiannya untuk bersama Aksara, setidaknya tanpa orang lain selain Naura menjadi sia-sia.


“Mbak?” ucap Aksara lagi.

__ADS_1


Kintan menimpali, “Putri Anda sakit, tapi kenapa seheboh ini riasannya?”


“Kintan ...?!” tegas Aksara tetapi dalam nada berbisik.


Kintan memutar bola matanya dengan sinis. Ia mengembuskan napas setelahnya. Awalnya, ia berencana untuk cuek-cuek saja, tetapi justru tergiur akan keseruan mengganggu ketenangan orang lain. Detik berikutnya, Kintan mengulas senyuman sembari menatap Mergi. Ia lantas menyambar pinggang Aksara.


“Maaf, tampaknya saya sedikit berlebihan. Ini efek dari keusilan suami saya barusan di dalam mobil,” ucap Kintan kemudian tersenyum lebih lebar.


Aksara menelan saliva. Sentuhan tangan Kintan sukses membuat jantungnya berdebar-debar. Lucu memang, bahkan ketika ia sudah menghabiskan dua malam penuh kehangatan. Dan sempat pula merengkuh wanita itu. Namun entah mengapa ketika ia yang diperlakukan sedemikian rupa, rasanya sangat berbeda.


Sementara Mergi merasa sesak mendadak menyerang dadanya. Lagi-lagi pasangan itu pamer kemesraan di depan matanya. Terlebih, sang istri yang memulai, membuat Mergi semakin benci. Ia terus saja menganggap Kintan licik dan egois. Kintan tidak meminta izin terlebih dahulu, sehingga Aksara menjadi menggeragap. Sudah pasti pria itu sedang tertekan oleh sikap istrinya.


“Naura sudah sembuh,” ucap Mergi lantaran sudah kehilangan selera untuk menyambut bahagia sosok Aksara. “Tak etis jika anak saya baru sembuh, tiba-tiba didatangi orang asing.”


“I-itu ....”


“Benar, Mbak,” timpal Aksara. “Kintan istriku. Jadi, dia bukan orang asing.”


“Se-seperti kata kamu sendiri, Aksa. Aku cukup asing buat Nona Kintan, sampai-sampai tidak boleh menjenguk beliau.”


Kintan membuka mata lebar-lebar. “Benarkah suami saya melarang seperti itu, Mbak? Waaah! Padahal saya sangat terbuka untuk orang asing, terlebih wanita. Bisa tambah-tambah teman begitu.” Ia tersenyum. “Saya hanya tidak menyukai orang yang sedang mengintip secara diam-diam.”


Bagai setangkai mawar. Bunga yang terlihat indah di awal, terasa sakit ketika mulai tersentuh, ujung tangkai yang tajam seketika menusuk. Dari rasa bahagia yang baru terlihat di wajah Mergi ketika tengah menunggu Aksara. Kemudian hendak menyentuhnya, tetapi duri berupa istri sah ada di sana mengapit lengan suaminya penuh mesra. Sementara sang tangkai yang berujung tajam, seperti ucapan Kintan mengenai sindiran atas apa yang ia lakukan.

__ADS_1


Mergi mati kutu. Kali ini Kintan terlalu kuat. Nona muda itu tampak ramah secara kasat mata, tetapi lidahnya cukup tajam jika berkata-kata. Tentang bagaimana Kintan membahas riasan di wajah Mergi yang seharusnya tidak perlu diamati. Kesengajaan Kintan merengkuh pinggang, lalu berubah mengapit lengan pria yang Mergi sukai menimbulkan spekulasi bahwa wanita itu sangat mengerikan.


“Jadi," ucap Kintan memulai ucapan lagi. “Bolehkah kami menjenguk nona kecil Naura?”


Aksara pun sudah kehabisan kata-kata oleh sebab keberanian istrinya itu. Ia sedikit tidak enak hati pada Mergi. Namun di sisi lain, ia juga memahami apa yang Kintan rasakan. Pasalnya, dalam situasi kurang nyaman lantaran ada anak sakit, Mergi justru terlihat meriah. Sengaja-kah? Lantas, untuk apa? Benarkah Mergi menyukainya seperti apa yang diduga oleh Kintan?


“Mohon maaf, sebaiknya kalian pulang saja. Putriku butuh waktu untuk istirahat. Terima kasih buat Aksara, telah berkenan meminjamkan mobilnya,” ucap Mergi sembari menatap Aksara dengan sendu.


“Pakai saja—” Aksara terpaksa memotong ucapannya.


“Pakai saja!” sahut Kintan cepat dan bernada tinggi. “Kami memang berencana menjual mobil itu. Akan lebih baik jika disedekahkan bagi yang enggak punya. Suami saya sudah menjadi pemilik mobil putih itu.” Ia menunjuk mobil mewahnya.


Aksara terbelalak. Ia gugup dan kalang kabut. Kali ini sikap Kintan sudah sangat berlebihan. Ia tidak bisa menerima keputusan sepihak tersebut. Lantas, ia mengajak Kintan untuk segera undur diri. Mereka berdua meninggalkan Mergi yang tengah merasa terhina oleh semua kalimat angkuh dari Kintan.


“Kamu gila, Tan?” tanya Aksara sesaat setelah ia dan istrinya masuk ke dalam mobil mewah tersebut. “Ini berlebihan!”


Kintan melirik sekilas. “Jalan,” titahnya. “Aku enggak mau janda gila itu melihat kita bertengkar, Mas!”


Aksara terpaksa mengikuti apa yang Kintan inginkan. Ia menyalakan mesin mobilnya, kemudian melaju untuk meninggalkan kediaman Mergi.


Dalam perjalanan itupun, Kintan masih saja berceracau banyak hal mengenai Mergi. Tentang bagaimana Mergi berpenampilan nyentrik dalam situasi yang seharusnya sendu. Lalu, bagaimana Mergi menatap Aksara dengan tatapan manja.


***

__ADS_1


Like dan komennyaa yah. please ....


__ADS_2