
Aksara tertegun melihat pemandangan gemerlap dari ruangan yang baru ia buka bagian pintunya. Ornamen ornamen indah memendarkan cahaya yang mungkin saja berbahan kristal atau bahkan berlian. Jam tangan berjejer di dalam almari kaca berjumlah hingga belasan. Lalu, di sudut lain tampak dua bingkai besar yang memamerkan foto perempuan tak asing di matanya. Kintan!
Aksara menelan saliva sembari menatap foto istrinya terpajang jelas di dinding ruangan itu. Bahkan, ketika ia belum menjalani pekerjaannya, hal-hal semacam itu sudah didapatkan. Sepertinya David memang sedang tidak main-main, sekaligus berencana untuk melangsungkan balas dendam. Pria berparas asing itu seolah hendak memamerkan kekayaan, kekuasaan, serta kecintaannya terhadap sang mantan pacar.
Namun, haruskah sampai sejauh itu David bertindak? Dengan membawa gambar istri orang lain tanpa persetujuan, bukankah sudah masuk ke dalam ranah kriminal?
“Selamat pagi, Pak Aksara.” Sapaan seseorang terdengar dari belakang tubuh Aksara yang masih mematung diam. “Sudah siapkah?” tanya suara berat dan terdengar angkuh itu yang kemudian jelas wajah David ketika Aksara membalikkan tubuhnya.
Aksara mengepalkan kedua telapak tangannya, menahan segala kegeraman yang nyaris meledak pasca mendapati dua gambar istrinya. Namun sebisa mungkin ia harus bersabar. Seperti ucapan Kintan tadi malam, jika bahwasanya David bukanlah orang sembarangan. Dengan kata lain, bule itu bisa menjebak dirinya dan memberikan hukuman tanpa sebab kejahatan.
“Tentu saja sudah siap,” jawab Aksara setelah sekian detik baru mendapatkan kendali atas dirinya. “Sangat siap!”
Dua foto Kintan enggak bisa mempengaruhi hatinya? Sepertinya, memang tak ada cinta dari hatinya untuk Kintan. Dia benar-benar seorang suami yang jahat! David menghela napas, kemudian menggertakkan giginya. Tatapan tajam sarat akan kebencian ia arahkan pada manik mata Aksara yang juga sedang menatapnya. Betapa pria yang menikahi mantan kekasihnya itu sangat tak berperasaan. Pada umumnya, seorang suami akan marah besar, mengamuk, kemudian mengambil sebilah senjata tajam atau pistol curian, lalu menumpas nyawanya karena berani memajang foto sang istri.
Namun tidak dengan Aksara yang justru sangat tenang, nyaris tidak terpengaruh sama sekali dengan kejutan pagi itu. Tak ada sedikit pun kemarahan tampak di wajah manis milik pria itu. Seolah-olah, Kintan memang sama sekali tidak berharga baginya. Itulah yang David tangkap dan simpulkan dari sikap Aksara. Meski pada kenyataannya, Aksara bukan tidak marah. Ia hanya mencoba mencegah keributan, menghindari jebakan David selanjutnya. Aksara berpikir; kadang kala emosi juga akan memperburuk keadaan, apalagi jika sampai merepotkan istrinya.
“Dia.” David menunjuk salah satu pigura itu, kemudian berjalan menuju meja kerjanya. “Wanita yang amat saya cintai, bahkan sampai sekarang.”
Aksara mengangkat satu alisnya. “Benarkah?” tanyanya.
“Benar sekali. Wanita yang saat ini sedang saya perjuangkan.”
Aksara terkikik kecil, meski sebenarnya nyaris kencang. Namun, cepat-cepat ia hapus tawa itu sebelum David menatapnya kembali.
__ADS_1
“Istrimu?” tanya David secara tiba-tiba.
“Dia.” Kali ini giliran Aksara yang menunjuk pigura bergambar diri istrinya itu. “Dia istri saya.”
“Waaah! Benarkah?”
“Benar.”
“Gimana bisa? Seorang tuan putri dinikahi pria ... ah, saya enggan untuk mengatakan hal ini.”
“Pria miskin? Benar, tampaknya saya lebih beruntung daripada raja besar itu sendiri.”
“Maksudmu, diri saya?”
“Apakah Anda seorang raja? Bukankah saat ini tak lebih dari bawahan saja?”
“Anda benar, tak ada yang tahu secara pasti jika hal itu tersembunyi dari penglihatan kita.”
David tercenung dalam beberapa saat, ia mencerna perkataan Aksara barusan. Entah apa yang Aksara maksud mengenai hal yang tersembunyi dari kelihatannya. Namun, David meyakini jika hal tersebut bukan sesuatu yang baik. Bisa jadi, Aksara jauh lebih bengis daripada kabar yang beredar. Benar, sepertinya begitu. Kintan memang hanya akan hidup menderita jika terus-menerus bersama Aksara.
Kegeraman yang meliputi hati David seolah tidak dapat ia tahan lebih lama. Rasanya ingin sekali menghampiri Aksara, menghantam pria itu dengan pukulan tinju yang menyakitkan, memaksanya menceraikan Kintan, sehingga berakhir sudah segala penderitaan wanita itu.
“Jika dia istrimu, bisakah kamu menceraikannya?” ucap David di luar rencananya sekaligus tak diduga oleh Aksara. “Foto ini saya pajang dan ternyata tidak membuat kamu sakit hati. Saya akan memberikan jabatan ini untukmu jika bersedia memberikannya padaku.”
__ADS_1
“Kintan, Nona Kintan bukan seonggok barang yang bisa dibarter dengan jabatan. Dia istri saya, jabatan setinggi apa pun tak akan mampu menandingi betapa berharganya dia,” tandas Aksara merasa kesal.
“Omong kosong! Memangnya saya tidak tahu bagaimana kamu memperlakukan dia di dalam rumah tangga kalian? Kamu tidak pernah menganggapnya, selalu bersikap kasar padanya, mana mungkin kamu bisa menghargainya!”
“Seperti yang Anda katakan, Mr. David, orang tidak akan tahu apa yang terjadi sebenarnya dari situasi yang tak kasat mata.”
“Jadi, ... kamu mencintainya di balik sikap kasarmu, begitu?”
“Urusan hati adalah milik saya dan istri saya. Jika Anda bertanya perihal cinta, maka saya akan menjawabnya dengan gamblang dan jelas, bahwa saya mencintainya dan tidak berkenan memberikan dia pada Anda!”
“Ck, tidak bisa dipercaya. Kamu mahir sekali berbohong, karena harta Kintan-kah? Dengar-dengar Kintan akan menggantikan posisi ayahnya, apa hal itu yang membuat kamu tiba-tiba mempertahankan Kintan?”
Aksara menghela napas. “Sungguh! Ini hari pertama yang menjengkelkan. Pertama, Anda memajang dua foto bergambar istri saya. Kedua, Anda mengakui secara tak langsung hendak merebut istri saya. Ketiga, Anda mendesak saya agar menceraikan Kintan dengan iming-iming jabatan. Dan sekarang, ... Anda mengartikan perasaan saya karena harta keluarga istri saya?”
David bungkam seribu bahasa. Ia kalah tenang dari seorang Aksara. Pengakuan Aksara mengenai perasaan cinta terhadap Kintan justru membuat hati David terasa sakit tak tertahankan. Ia justru berharap jika Aksara akan tetap bersikap kasar. Hal memuakkan yang paling ia benci adalah keinginannya tak kesampaian. Lalu, benarkah ia tidak hanya ingin menyelamatkan Kintan, melainkan demi merebut wanitanya itu kembali?
Jika pada dasarnya memang demi mendapatkan Kintan kembali, maka demi Tuhan! David tidak berencana berhenti. Meski perasaan Aksara yang nantinya merupakan sebuah fakta, tetap saja pria miskin itu tidak pantas untuk Kintan yang seorang nona muda. Belum lagi, tentang bagaimana Kintan terpaksa melepas cinta lama demi pria itu, sudah pasti Kintan tidak bahagia karena cintanya masih ada padanya bukan Aksara.
“Mari bekerja!” titah David pada akhirnya memilih mengalihkan topik pembahasan. Ia perlu menyusun rencana lebih luas dan akurat demi menyingkirkan Aksara dari sisi mantan kekasihnya. Dan sungguh, ia tidak akan menyerah karena sudah sejauh ini sampai mengorbankan banyak dana demi balas dendam. Maka dari itu, meskipun tak ada lagi kekasaran di dalam pernikahan Aksara dan Kintan, David tetap akan bersikeras.
Kemudian, tak berselang lama setelah penyambutan yang buruk itu, David mulai memerintah Aksara dengan banyak pekerjaan. Mulai dari membuatkan kopi untuknya sampai lima kali hingga benar-benar pas di lidahnya, menyalin ribuan berkas dalam waktu terbatas hitungan menit, bebersih ruang kerja, sampai pada tahap menyedihkan yaitu membersihkan ceceran makanan yang sengaja ia tumpahkan.
“Sungguh, ini hari yang panjang serta menjengkelkan. Demi Tuhan! Kalau bukan karena Kintan dan Gibran, aku sudah habisi orang itu!” gumam Aksara setelah keluar dari ruang kerja sang atasan.
__ADS_1
***
Jangan lupa like dan komennya, sangat membantu saya untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan....