
Aksara justru semakin mengencangkan pelukannya di tubuh Kintan, bahkan ketika waktu sudah semakin mendekati jam operasional kantornya. Ingin sekali ia menikmati keindahan romansa itu lebih lama, meski masih banyak waktu setelah pulang bekerja. Namun, begitulah yang namanya kasmaran, berpisah satu menit saja seolah sewindu, apalagi sampai delapan jam mungkin bisa seperti satu abad lamanya.
“Mas, lepas! Malu sama anak ih!” ucap Kintan memperingatinya. “Sudah mau telat kamunya.”
Aksara menggelengkan kepala. “Aku masih ingin seperti ini,” jawabnya.
“Jangan begitu. Sarapan saja belum, kasihan Gibran nanti jadi nggak keurus gara-gara kamu.”
“Kadang bapaknya juga ingin dimanja seperti ibunya manjain anaknya, Kintan.”
“Tapi, ya tahu waktu dong, Mas!”
“Hmm ....”
Dengan berat hati, Aksara terpaksa melepaskan pelukannya dari Kintan dan bergegas keluar dari kamar. Sebenarnya ia sedang berpura-pura untuk marah lantaran Kintan tak mengizinkannya memeluk lebih lama. Padahal, diam-diam ia juga mengawasi waktu dan telah memperhitungkannya.
Kintan hanya bisa menghela napas melepas kepergian sang suami yang mungkin saja hendak ke ruang makan. Setelah itu, ia tertawa kecil dan kemudian memutuskan untuk menyusul suaminya itu.
Benar saja, seperti yang Kintan duga, Aksara ada di ruang bersantap tersebut. Tampak suaminya itu sedang menuangkan nasi dan lauk pauk serta sayurannya sendiri. Sikap Aksara yang sungguh konyol membuat Kintan kembali tertawa. Sampai kemudian tawanya hilang tepat ketika Gibran datang.
“Bunda, lagi apa?” tanya bocah cilik itu yang saat ini merasa heran.
Kintan menggeleng pelan. “Enggak apa-apa, Sayang,” jawabnya. “Ayo sarapan dulu.”
Kemudian sepasang ibu dan anak itu mengayunkan kaki bersama. Mereka duduk di samping Aksara. Perlahan dan sangat telaten, Kintan mulai menyajikan hidangan di piring mereka masing-masing selain suaminya yang masih merengut sejak tadi.
Lagi-lagi tawa kecil keluar dari bibir tipis milik Kintan dan membuat Aksara reflek menatapnya. Kekesalan di hati Aksara semakin bertambah, ia menjatuhkan sendoknya sedikit keras di atas piring.
“Ada yang lucu?” tanya pria itu pada sang istri.
Kintan mengangguk. “Iya, ada. Dan itu kamu yang bahkan kalah sama anakmu sendiri,” jawabnya.
“Hmm ... bukan begitu, Tan.”
“Terus?”
__ADS_1
“Hanya saja kamu terlalu pelit dan ... mm, aku takut kamu masih jijik sama aku.”
“Hahaha, jijik? Kalau jijik mana mungkin aku melewatkan beberapa malam denganmu, Mas! Ada-ada saja.”
“Yah, entah. Namanya khawatir ya tentu bisa terjadi.”
“Justru kalau terlalu khawatir itu enggak baik! Ya sudah, ayo makan lagi, waktunya sudah mepet!”
Aksara memutuskan tak menyanggah lagi, sebab ketika ia melirik waktu pada jam tangannya, waktu memang sudah nyaris mendekati setengah delapan. Kalau sampai hanyut dalam perdebatan manis dengan Kintan, sudah pasti ia terlambat. Begitu pun dengan Kintan yang hari ini memiliki rencana untuk singgah kembali ke perusahaan ayahnya, sebelum itu sudah pasti ia memiliki tanggungan anak sekolah.
***
Setelah melewatkan hal-hal baru pagi ini, sekaligus melepas kepergian suaminya untuk bekerja seharian, pun pada Gibran yang sudah ia antarkan serta titipkan, Kintan telah berada di kantor kerja ayahnya. Karena keputusan yang tidak bisa ia ganggu gugat lagi, akhirnya mau tidak mau ia memulai kembali karir yang sempat vakum selama empat bulan.
Satu per satu berkas penting, Kintan pelajari. Begitupun dengan meeting-meeting penting yang ia hadiri. Dengan adanya pertemuan itupun, ia sudah mulai dikenal oleh beberapa dewan direksi perusahaan ayahnya. Sejujurnya, itu tidak terlalu buruk baginya. Ia sangat lihai dan tentu saja berbakat. Posisi yang hendak ia jabat pun bukan perkara mudah ataupun sulit, atau bisa dibilang ada kalanya dua hal tersebut terjadi.
“Gimana masih enggak tertarik menggantikan Papa?” tanya Chandra pada putrinya itu.
Kintan menelan saliva. “Belum terlalu,” jawabnya.
“Itu hanya formalitas, Papa. Aku masih memiliki pikiran yang aku simpan, suami dan anakku.”
“Memangnya suami enggak setuju, toh, istrinya bakal jadi orang besar?”
“Mas Aksara enggak mata duitan, Papa. Selama ini kami hidup juga memakai uang dia, meski sederhana. Jadi, semisal aku benar-benar ada di posisi itu, Mas Aksara tidak mendapat pengaruh apa pun, selain ketabahan yang bakal diuji.”
“Hmm ... Papa enggak tahu yang kamu ucapkan ini benar atau enggak, tapi Papa tetap akan bersyukur.”
Kintan menghela napas, sementara Chandra melangkahkan kaki lebih cepat darinya. Sesak terasa di dada Kintan, lantaran Chandra belum bisa menerima keberadaan Aksara dengan baik. Chandra belum percaya sepenuhnya tentang perubahan sikap Aksara yang sudah lebih lembut daripada sebelumnya. Mungkin juga akan membutuhkan waktu lebih lama lagi agar ayahnya itu berangsur membuka hati pada suaminya.
Sejenak, Kintan menghentikan langkah kakinya. Ia berdiri tegak di depan elevator yang sebenarnya sudah terbuka. Rasa tak tenang datang menggantikan kesesakan. Pikirannya melayang, khawatir pun juga datang. Jam sepuluh, waktu yang menunjukkan kepulangan Gibran. Namun lagi-lagi ia tidak bisa menjemput putranya itu.
“Maafin Bunda, Nak,” gumam Kintan dengan rasa bersalah. “Semoga Ibu bisa menjaganya dulu.”
“Nona Kintan.” Sahutan yang tiba-tiba terdengar membuat Kintan tersentak. “Selamat sang, Nona,” lanjut pemilik suara itu yang sejatinya adalah Gupta.
__ADS_1
“Gupta?” ucap Kintan sedikit terkejut. “Kamu ada di sini?”
“Tak bisakah Anda menjawab sapaan saya dulu?”
“Aku enggak suka basa-basi apalagi hanya padamu.”
“Hahaha, kamu masih belum berubah, Kintan. Tetap dingin pada orang lain yang bukan pacar atau temanmu.”
“Hmm ... biasa saja.”
Gupta tersenyum, melirik Kintan, seolah ia sedang merendahkan wanita itu. Ya, sedikitnya memang benar. Gupta hanya masih belum percaya jika wanita secantik dan se-berharga Kintan jatuh di pelukan pria biasa. Dan tentu saja ia tahu jika pria tersebut adalah Aksara, seorang karyawan biasa yang jauh di bawah Kintan.
Di detik itu, Kintan mulai merasa tidak nyaman. Tentang bagaimana Gupta menatapnya tanpa berkedip sedikit pun. Karena jengah dan mulai tersinggung, Kintan lantas menjetikkkan jarinya dengan sangat keras di dahi Gupta yang tubuhnya sama tingginya dengannya.
Gupta reflek mengaduh sembari mengusap dahinya. “Apa-apaan kamu?!” tanyanya tegas.
“Tatapanmu sungguh tak sopan!” ucap Kintan.
“Itu hanya sebuah tatapan rindu pada kawan lama, apa yang salah sih?!”
“Kupikir kamu sudah mendengar tentang pernikahanku dengan karyawanmu, dan kurasa kamu sedang merendahkanku, Gupta.”
“Hahaha, kamu terlalu gede rasa, Tan. Bukan seperti itu, aku sungguh merindukanmu.”
“Halah! Aku juga tahu kamu ada di perusahaan ayahku ada kaitannya dengan David dan mungkin saja enggak lama lagi yang berada di sini adalah David.”
“Mm? Iyakah?”
Dugaan Kintan benar, kedatangan Gupta memang salah satu kerja sama dengan David. Berkat pria bule itu, Gupta bisa menjalin hubungan dengan perusahaan Chandra. Bahkan ketika ia ada di tempat itupun karena dorongan dari David. Sudah pasti ada rencana lebih lagi setelah ini.
“Sepertinya aku harus hati-hati,” gumam Kintan, nyaris berbisik, beruntung Gupta tidak mendengarnya.
***
Jangan lupa like dan komennya yaaa
__ADS_1