Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 19-Ajakan Aksara


__ADS_3

Masalah pendaftaran pernikahan siri tampaknya cukup rumit untuk diselesaikan oleh Aksara dan Kintan. Ada beberapa prosedur dalam pengajuan permohonan isbath nikah itu. Namun, beruntung dengan segala upaya dan kesabaran, mereka berdua berhasil menyelesaikannya.


Sementara waktu kembali bergulir. Kini pernikahan Aksara dan Kintan sudah resmi secara agama maupun hukum. Dari pihak keluarga besar Aksara, lalu Sari, merasa gembira. Mereka turut andil dalam pengajuan permohonan itu, sehingga Aksara dan Kintan tidak terlalu kesulitan. Namun, di lain sisi, pihak Chandra sama sekali tidak senang. Pasalnya ia menilai jika Aksara masih belum dapat memberikan bahagia atas hidup putrinya.


“Maaf,” ucap Kintan. “Papaku belum setuju.”


Aksara yang sejak tadi hanya diam sudut ruang tamu, berangsur menatap istrinya itu. “Aku mengerti, semua salahku,” jawabnya.


“Ya! Tentu saja. Itu sudah pasti dan nggak perlu dipertanyakan lagi.” Kintan melipat kedua tangannya ke depan. “Jadi, ini saatnya kamu merasakan penderitaanku, Mas!”


Aksara berdecak. “Wanita macam apa kamu? Aku pikir kamu bakal kasih semangat dan dukungan, ternyata kamu lebih picik dari yang aku duga.”


“Dih! Enggak mau-lah, situnya yang jahat kok. Ini saatnya hukum karma berlaku.”


“Ais! Karma?” Aksara tergelak. “Aku cukup santai untuk menghadapinya, Tan. Bahkan, nggak merasa menderita sama sekali. Memangnya kamu, baperan!”


Kintan menggertakkan gigi, kemudian menghela napas dalam. Sudah saatnya ia kembali ke dalam kamar dan tidur dengan pulas, tidak perlu menanggapi ucapan Aksara lagi. Dengan begitu perdebatan ini akan usai, tanpa perlu diperpanjang dengan pendapat-pendapat baru dan tentunya berbeda.


Kintan menghentakkan kaki dengan maksud mempertegas sikapnya. Tanpa kata pamit atau sekedar basa-basi, ia memutar badan. Detik berikutnya, Kintan mulai berjalan tanpa mau menoleh ke arah Aksara. Sementara pria itu berangsur memicingkan mata. Ia menatap punggung istrinya dengan hati yang bimbang.


“Ck, haruskah?” Aksara mendesis. Lalu, tak lama kemudian, ia memutuskan bangkit. Diayunkannya pasang kaki panjang itu untuk menyusul Kintan menuju kamar tamu. “Kintan!" serunya sebelum Kintan menutup pintu ruangan itu.


Mendengar seruan Aksara, Kintan mengembuskan napas secara kasar. Dengan gerak malas, ia berbalik badan. Bola matanya diputar, kemudian kedua tangannya terlipat lagi ke depan. “Apa lagi, Mas? Aku capek mau tidur,” katanya.

__ADS_1


Aksara memalingkan wajah, menatap sisi lain kemudian menjawab, “Pi-pindah kamar sana.”


Kintan mengernyitkan dahi. “Pindah kamar? Memangnya kamar rumah ini ada berapa? Ada empat doang, tamu, kamu, Gibran dan gudang. Jadi, maksud kamu aku pindah ke gudang, begitu?”


“Ck, itu lho!” Aksara menunjuk sebuah ruangan yang selama ini hanya untuk dirinya sendiri. Sesaat setelah menurunkan lengannya, ia menunduk. “Aku ... aku ingin mengakhiri mimpi buruk itu. Jadi, pindah dan tinggal di ruang yang sama denganku. La-lagian, kita sudah meresmikan pernikahan kita.”


Rona merah mendadak meliputi wajah ayu milik Kintan. Matanya pun turut mengerjab beberapa kali, lantaran salah tingkah. Meski sempat menghabiskan dua malam bersama Aksara, tetapi ajakan tiba-tiba membuatnya tidak tahu harus bersikap apa. Kecanggungan pun merayap di antara mereka berdua. Bahkan, sudah beberapa kali mereka hendak bergerak, tetapi justru batal dan berakhir diam.


Pilihan paling tepat adalah sama-sama melarikan diri dari hadapan masing-masing. Dan benar saja, entah Kintan ataupun Aksara seketika berlari menuju kamar pribadi mereka.


Debaran jantung yang begitu cepat turut mengiringi perasaan tak nyaman semacam sekarang. Membuat Aksara tak berdaya dan akhirnya meluruhkan badan di balik pintu kamarnya sendiri.


“Kenapa seaneh ini rasanya ngajak satu kamar istri sendiri?” gumam Aksara. Matanya terpejam rapat mengingat insiden barusan. Ia sangat malu. Ia tidak tahu apa yang akan Kintan pikirkan.


Aksara menghela napas dalam-dalam. Namun kegelisahan masih sangat sulit dihempaskan. “Gimana kalau Kintan salah paham? Menganggapku minta sesuatu? Aduuuh! Nila, bantu aku menghadapi sahabatmu, Sayang,” ucapnya lagi.


“Haruskah? Aku belum siap? Aku tahu sih malam itu, mm, aduuuh! Mau pakai baju apa dong?!” ucap Kintan tidak menentu. Ia bangkit kemudian berjalan mondar-mandir. “Masuk nggak, ya? Ta-tapi, kalau di sana berantem lagi gimana? Kalau aku nggak datang, dia bisa mimpi buruk lagi. Kasihan ....”


Dalam kebimbangan itu, Kintan tetap bertindak. Ia menghampiri almari kayu yang tidak terlalu besar yang berisi pakaiannya. Ada beberapa macam gaya pakaian, dari kaos berlengan panjang, pendak, atau model you can see.


Kintan menghentikan gerakan pada saat matanya menemukan kotak hadiah pemberian adik iparnya, Ningsih. Ia menelan saliva menatap benda yang sudah terbuka, tetapi belum pernah ia kenakan sama sekali. Kemudian, ia meraih benda itu dan mengeluarkan isinya. Sebuah gaun malam berwarna merah lengkap dengan renda cantik di bagian bawah sungguh memikat mata. Hanya saja ....


“Nggak, nggak! Kalau aku pakai ini, Aksara bisa anggap aku sebagai wanita penggoda. Yang ada pria itu bisa merendahkanku lagi.” Kintan mengembuskan napas. “Terserah deh! Pakai kaos panjang, celana panjang dan jaket saja!”

__ADS_1


Keputusan itu benar-benar Kintan ambil. Beberapa jenis pakaian yang ia katakan, telah diraih dari dalam almari tersebut. Detik berikutnya, Kintan memakainya. Dengan penampilan seperti saat ini, keamanan harga dirinya dapat terjamin. Setelah selesai dan yakin, Kintan berangkat menuju kamar di mana Aksara berada.


Ketukan pintu yang terdengar membuat Aksara terkejut dan terlonjak. Ia berdiri dengan keadaan tubuh gemetar. Beberapa kali ia sudah memutuskan untuk membuka pintu itu, tetapi selalu batal lantaran ragu. Hingga si tamu kamar menjadi tidak sabar dan lantas membukanya sendiri.


“Kamu ngapain sih? Lama banget!” omel Kintan, tamu kamar tersebut.


Aksara terpaku. “I-itu, ta-tadi—”


“Ck, aneh!” Kintan mulai memasuki ruang kamar. “Untungnya malam ini Gibran menginap di tempat Ibu, jadi rasanya kalau kita bertengkar di kamar ini, Gibran nggak tahu.”


“Bertengkar?”


“Terus apa? Bukankah pertengkaran sudah menjadi makanan kita setiap hari?”


Aksara berdeham. “Entahlah. Tapi, aku nggak berharap bertengkar sama kamu. Aku menyuruh kamu pindah ke sini, karena sudah resmi dan sebagai perawatku jika mimpi itu datang.”


“Tidurku lebih pulas dari dugaanmu, Mas. Mungkin, aku nggak bisa menjalankan tugasku sebagai seorang perawat.”


Muncul ide iseng di benak Aksara. Ia memajukan kaki, dan mendekatkan diri di depan Kintan. “Tapi, kamu bisa menjalankan tugasmu sebagai istri, bukan?”


Kintan mengerjabkan matanya dengan cepat. “A-apa maksudmu? Aku datang bukan untuk itu dan nggak berniat memberimu i-itu ....”


“A-aku juga nggak meminta itu. Enak saja! Memangnya tugas sebagai istri hanya itu saja? Dasar!”

__ADS_1


Penyesalan muncul di hati Aksara, lantaran Kintan langsung mengarahkan ucapannya pada hal yang tidak diinginkan. Ia berdeham keras, kemudian menghampiri sebuah almari. Dari benda itu, Aksara mengambil dua helai pakaian yang sepertinya baju tidur miliknya. Detik berikutnya, ia keluar dari kamar, hendak menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian. Ia tidak mau ada aroma tidak sedap dari tubuhnya, yang bisa saja membuat Kintan memberikan ejekan.


***


__ADS_2