
Sampai pukul dua dini hari, Kintan memutuskan untuk tidak terlelap. Meski ia berpura-pura tidur, nyatanya tetap tak menggugah rasa kantuknya. Pasalnya, ia harus melakukan sesuatu di malam ini. Perbedaan waktu antara Indonesia dan New Zealand membuatnya terpaksa ambil keputusan untuk bergadang.
Setelah memastikan suaminya terlelap dalam tidur, Kintan beranjak turun dari ranjangnya. Ia berjalan menuju ruang tamu yang tentu saja sudah senyap dan gelap. Sebuah ponsel berada di genggamannya, dengan menggunakan alat itu ia ingin terhubung dengan Diki di luar negeri sana.
Kintan menghela napas, sembari mencengkeram kuat tubuhnya sendiri. Hawa dingin menyeruak masuk melalui ventilasi jendela yang terbuka. Di luar tampaknya sedang gerimis, karena selain jangkrik terdengar suara rintik.
Tak lama kemudian, Kintan mengangkat ponsel sampai bisa terlihat oleh mata indahnya. Jari-jarinya mulai bergerak untuk menekan beberapa fitur di benda tersebut. Sebuah nomor kontak bertuliskan 'My Bro' menjadi incaran Kintan, yang kemudian ia menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan suara.
Bunti 'tut' terhenti berganti suara seorang pria yang berkata, “Halo, Kintan.”
“Halo, Kak. Selamat ...?” Ucapan Kintan terhenti ketika ia melupakan akan perbedaan waktu antara kedua negara itu.
“Pagi, Dek. Malam untukmu yang di sana,” sahut Diki.
“Ah, ya. Benar.”
“Kamu belum tidur?”
“Ada yang aku sampaikan pada Kakak. Jadi, aku sengaja belum tidur.”
“Ada apa, Kintan? Kata Papa kamu sudah setuju untuk mengganti posisi itu?”
“Aku setuju, aku juga ingin mempercepat masa pensiun Papa. Tapi, setelah David pergi, aku ingin Kakak mengambil alih perusahaan lagi.”
“Kenapa memangnya? Apa kamu enggak tergiur jabatan itu?”
“Aku tergiur. Tapi, enggak untuk sekarang. Aku nggak bisa meninggalkan keluargaku hanya demi jabatan, Kak.”
“Hmm ... itu mengapa Kakak enggak setuju dengan cara Papa agar kamu bercerai dengannya, meski jujur Kakak sendiri kurang suka. Kamu adikku satu-satunya, ada banyak pangeran di dunia ini. Tapi, Kakak juga sangat tahu betul tentang dirimu, Kintan. Kamu pasti memiliki sejuta alasan untuk mempertahankan pernikahan itu, selain sebuah amanat.”
“Enggak, Kak. Untuk kali ini Kakak salah, sebab aku hanya memiliki tiga alasan. Pertama, amanat tersebut. Kedua, karena anak. Ketiga ... aku sudah mencintai suamiku.”
Terdengar gelak tawa yang dilakukan oleh Diki. Mungkin ia merasa cukup aneh dan tidak menyangka jika adiknya yang berkharisma akan jatuh pada seorang pria biasa.
Kata 'biasa' yang Diki maksud bukan dari segi materi dan fisik, tetapi tentang bagaimana seorang Aksara hidup. Ia tahu karena tanpa sepengetahuan Kintan, ia mencari informasi seputar mereka sebelum memutuskan untuk pergi ke New Zealand menggantikan adiknya itu. Karena Diki bukan orang yang bodoh, apalagi buru-buru, langkah tersebut ia ambil untuk mencegah adanya masalah lebih lanjut. Selain itu, ia memang sangat mengenal Kintan sekaligus peragai adik kesayangannya tersebut.
“Kenapa tertawa, Kak? Aku serius! Memangnya ada yang salah kalau aku mencintai suami sendiri?!” tanya Kintan sedikit tersinggung.
Diki berdeham. “Tak ada, hanya saja cukup jauh dari bayangan Kakak selama ini. Suamimu bukan kriteria yang kamu inginkan selama ini.”
“Hal seperti itu wajah kok! Manusia adalah makhluk yang mudah berubah. Ag! Sudahlah! Aku menelepon Kakak untuk merundingkan sesuatu. Aku ingin Kakak membatalkan kerja sama itu.”
“Hmm? Apa kamu yakin? Ini cukup menguntungkan? Dan lagi, posisimu dan suamimu harus aman dulu, Kakak baru bisa ambil keputusan.”
__ADS_1
“Buat surat pembatalan kerja. David di negara ini, kupikir kerja sama itu nggak akan berjalan dengan lancar.”
“Kamu benar, Kintan. Mr. David selalu mangkir dalam pertemuan. Seolah dia sudah tidak menggubris proyek yang sedang dikerjakan. Dan fakta baru Kakak dapatkan, Mr. David belum resmi menjabat sebagai petinggi perusahaan ayahnya. Dia akan benar-benar resmi menjadi pimpinan setelah ayahnya benar-benar tiada.”
“Hmm, menarik!”
“Satu fakta yang lain adalah, dikarenakan Mr. David sudah bukan warga negara Indonesia, dia nggak bisa berlama-lama di sana. Yang Kakak dengar, ada kemungkinan dia menggunakan visa liburan sebatas tiga bulan. Tapi, dia bisa mengubahnya dengan visa bekerja yang akan memperpanjang keberadaannya di sana.”
“Tiga bulan? Aku tahu, bahkan tanpa adanya visa dia bisa bolak-balik ke Indo. Tunggu!” Kintan mengangkat satu alisnya. “Kalau saat ini dia memiliki waktu hanya tiga bulan, berarti ....”
“Ada apa?”
“Mm ... enggak, Kak. Terima kasih atas informasinya. Love you, Brother!"
Kintan mematikan panggilannya tanpa kata pamit selain kalimat sayang berbahasa Inggris teruntuk kakaknya itu. Selepas meletakkan ponsel di atas papan meja, mata Kintan menatap penuh ambisi pada kaca jendela yang tertutup gorden. Semakin lama pun, bibirnya yang manis melengkungkan sebuah senyum tipis beraura sinis.
Jika hanya tiga bulan keberadaan David di Indonesia, maka suaminya tak perlu menderita terlalu lama. Bahkan sebelum tiga bulan, ia harus mengambil alih diri Gupta dengan sebuah perjanjian. Kintan tidak akan tinggal diam, meski ia tahu David melakukan segala hal untuk mendapatkannya kembali, tetap saja sikap David sudah keterlaluan seperti sebuah obsesi yang menggila. Lagipula, salah siapa yang memutuskan hubungan dan selama empat tahun tak memberi kabar padahal sudah ditunggu-tunggu dengan merelakan usia pernikahan.
Tiba-tiba saja sebuah tangan kekar menyentuh bahu Kintan dan membuatnya terlonjak kaget. Ia mengelus dadanya dan hampir saja mengumpat keras. Beruntung, ketika mendapati sang pelaku adalah suaminya sendiri, kata terlarang tak sempat Kintan lontarkan.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Aksara heran.
“Cari angin,” jawab Kintan singkat.
“Ada sesuatu yang aku urus, Mas.”
“Soal?”
“Sesuatu yang akan menyelamatkan kita.”
Aksara langsung bungkam. Rasa minder dan malu muncul di dalam hatinya. Pasalnya, untuk segala masalah yang menerpa, Kintan-lah yang menyelesaikan. Entah dari Mergi dan saat ini istrinya itu sedang berupaya mengusir seorang pria yang pernah masih mengharapkannya. Lantas, apa yang ia lakukan selama ini selain diam dan cemburuan? Mengapa ia tidak bisa berbuat setidaknya satu langkah saja untuk membantu Kintan? Apa hanya bertahan dan menunggu hasil yang bisa ia lakukan?
“Mas?” Melihat Aksara tiba-tiba berwajah muram, Kintan merasa heran. Namun tak menunggu waktu lama, ia lantas mengerti apa yang tengah dipikirkan oleh suaminya itu. Tentu saja sebuah harga diri. Seharusnya ia tidak perlu bertindak sebagai pahlawan dalam posisi yang hanya sebagai istri, sementara suaminya justru diberikan posisi serba diam yang tentu saja merusak martabatnya. Di sisi lain, Kintan juga tidak bisa hanya diam, pasalnya dirinya yang memiliki banyak senjata.
Demi menenangkan diri Aksara dan mengembalikan senyumannya, Kintan memberanikan diri untuk merengkuh tubuh suaminya itu. “Aku ... sedang ingin dimanja,” ucapnya.
Aksara yang terkejut hanya bisa menelan saliva.
“Aku tetap wanita biasa yang membutuhkan perlindungan suamiku,” tambah Kintan sembari menatap wajah suaminya dengan pancaran mata yang sendu.
“Ta-tapi, aku terlalu lemah untuk melindungi wanita setangguh dirimu. Aku nggak punya daya sama sekali.”
“Aku nggak tangguh, aku masih tetap cewek yang cengeng. Aku ingin menangis saat ini, bolehkah?”
__ADS_1
“Mm? Memangnya bisa?"
Mata Kintan mengerjab cepat. “Enggak ....”
“Hmm ... kamu bersikap kayak gini agar aku nggak insicure?”
“Enggak! Aku memang benar-benar lemah, kok! Aku pernah menangis saat bertemu terakhir kali dengan Dav ....” Kintan menggerakkan matanya ke sana kemari. “A-anu, Mas—”
Aksara mendengkus kesal. “Ck, jadi kamu lemah di hadapan bule itu?! Daripada nangis aku kasarin? Kenapa? Se-berharga itu dia untukmu? Sementara, pada saat bertengkar dengan suami sendiri kamu justru melawan bahkan tak sedih sama sekali?! Waaah! Benar ... cinta memang mengalahkan segalanya.”
Aksara yang sudah kesal dan cemburu lantas melepaskan tangan Kintan dari pinggangnya secara paksa. Ia memutar badan, kemudian berlalu menuju kamarnya. Sikapnya itu sukses membuat Kintan kelabakan untuk menjelaskan sembari berlari mengejarnya dan terus mengatakan rayuan.
Semakin lama, Aksara goyah. Muncul senyum mengembang di bibirnya tepat ketika sampai di hadapan pintu kamar. Ia berhenti seketika dan membuat Kintan menabrak tubuhnya dengan keras.
“Aduuuh!” pekik Kintan sembari mengusap dahinya lantaran terasa sakit karena terbentur tulang punggung Aksara. “Kalau mau berhenti ngomong, dong!”
“Tuh melawan lagi.” Aksara berkacak pinggang sesaat setelah menghadap sang istri.
“Bu-bukan seperti itu. Aku hanya kaget saja.”
“Alasan!” Aksara menghela napas. “Jadi, apa jaminannya kalau kamu sudah tak mencintainya? Jika suatu saat ada masalah yang lebih besar dan membuat kita berpisah, apa kamu akan menangisiku seperti padanya?”
“Tidak akan!”
“A-apa?!”
“Tidak akan, Mas. Aku nggak akan pernah menangis karenamu, sebab kita nggak akan pernah berpisah. Bahkan ketika masalahnya sebesar gurun sahara, aku ingin kita tetap berjuang.”
Aksara tersenyum. “Ya, tentu saja.” Ia merengkuh tubuh istrinya ke dalam dekapan hangatnya. “Kintan?”
“Mm?”
“Mari buat acara resepsi pernikahan ketika semua masalah sudah selesai. Aku akan mencari dana dengan usahaku sendiri untuk membuat pesta itu, dan kamu cukup duduk manis di rumah saja. Ya, meski aku tahu kamu jauh lebih kaya.”
“Baiklah, akan aku tunggu pesta kejutan darimu, dan atas usahamu sendiri, Mas.”
Mereka saling melepaskan diri, kemudian memutuskan untuk kembali ke dalam kamar. Tak pernah lepas sedikit pun tangan Aksara di jemari Kintan, bahkan setibanya di ranjang tidur. Dan dengan genggaman itu, mereka berdua mulai memejamkan mata demi menikmati mimpi indah dini hari ini.
Nila, aku akan membahagiakan sahabatmu. Izinkan kami saling mencintai ....
***
Jangan lupa like dan komen, ya.
__ADS_1