Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 23-Rasa Hati Mereka


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu, tepatnya ketika Aksara berada di dalam perusahaan milik ayah mertuanya, ketegangan melanda dirinya. Meski sudah diizinkan untuk masuk ke ruang kerja Chandra, Aksara sama sekali tidak dapat bergerak dengan leluasa.


Aksara merasa ciut nyali di hadapan sang ayah mertua. Rasanya ingin menyusul keluar sekretaris dari Chandra dan menghilang dari balik pintu. Detik itu merupakan kali pertamanya bagi Aksara berhadapan dengan Chandra tanpa adanya orang lain, terutama Kintan. Ia merasa serba salah, merasa canggung untuk bertatap muka dengan Chandra yang notabene bukan orang dari kalangan biasa.


Mungkin sudah terhitung lima menit lamanya, Aksara berdiri. Tubuhnya bak terpaku tanpa bisa digerakkan. Sementara Tuan Besar itu masih tidak mengubah sikap, kedua tangan terutama fokus matanya terarah pada monitor laptop bermerek mahal.


Ketika merasa jengah dan perlu mempercepat langkah, akhirnya Aksara menghela napas. Ia berusaha mengumpulkan sejumlah keberanian untuk membuka suara agar keberadaan Kintan dapat ia temukan.


“Papa?” ucap Aksara masih lirih, nyaris tidak terdengar. “Mo-mohon maaf sebelumnya karena sudah mengganggu.”


“Cepat katakan maumu dan pergi, saya sedang banyak kerjaan,” sahut Chandra ketus. “Kalau mau uang sebutkan saja nominalnya.”


Aksara merasa sesak, ia sedikit tersinggung karena kedatangannya dianggap sebagai pengemis. Namun melawan meski sekedar sanggahan, ia masih tidak berani. Mau bagaimanapun, Chandra adalah mertuanya. Sekalipun tidak mencintai Kintan, ia harus menghormati Tuan Besar itu.


“Begini, Pa, saya datang untuk menjemput Kintan,” lanjut Aksara.


Nama sang putri yang disebut oleh menantunya, berangsur mempengaruhi Chandra. Kedua tangannya berhenti bergerak. Tak lama kemudian, ia baru bersedia menatap wajah Aksara.


“Menjemput Kintan katamu?" tanya Chandra dengan heran.


Aksara mengangguk. “Benar, Pa. Boleh saya tahu di mana Kintan sekarang?”


“Kamu pikir saya tahu dan sengaja menyembunyikan Kintan? Justru saya yang harus bertanya padamu, Nak! Di mana putri saya? Selepas bertemu saya, anak itu pamit pulang!”


“I-itu, ... sa-saya 'kan tadi sedang berada di kantor, Pa.”


“Kamu ini gimana sih?! Kamu 'kan suaminya, masa' sampai kehilangan istri? Apa jangan-jangan kalian habis bertengkar lagi?” Chandra naik pitam. Ia beranjak berdiri, kemudian berjalan menghampiri Aksara. “Kamu nggak punya hak untuk merendahkan putri saya, Aksara!”


Aksara memilih diam. Ia merasa setiap ucapan yang akan dikatakan hanya berujung sia-sia. Orang yang sudah terlanjur membenci, tidak akan menerima dengan baik apa pun fakta yang dikatakan oleh sang korban kebencian. Itu sudah menjadi hal mutlak.


Ketika Chandra sudah sampai di hadapannya, Aksara menggertakkan gigi. Ia menyiapkan dirinya untuk menerima sebuah tamparan keras.


“Cepat ceraikan Kintan, Aksara, dan biarkan dia terbang bebas tanpa derita darimu,” ucap Chandra kali ini lebih lembut. “Kamu enggak akan bisa membahagiakannya.”


Aksara menatap sang mertua dengan nanar. Tak disangka, sebagai seorang ayah, Chandra justru mengharapkan putrinya mengalami perceraian. Namun di sisi lain, Aksara juga sadar bahwa ia tidak bisa memberikan bahagia pada Kintan.

__ADS_1


“Saya tetap akan mempertahankan Kintan, Pa. Saya minta maaf.” Aksara menjawab setelah akhirnya bergegas pergi dari ruang kerja Chandra, tanpa menggubris sedikit pun ucapan mertuanya itu. Harga dirinya sudah terinjak, menyetujui ucapan Chandra hanya akan membuatnya semakin hina saja.


Kemudian, waktu bergulir. Setelah ia menelepon Kintan beberapa kali dan baru mendapatkan respon, Aksara bergegas ke sebuah restoran di mana istrinya itu berada. Sama seperti dugaannya, juga ucapan Kintan sendiri, wanita itu bersama seorang mantan yang Aksara ketahui bernama David.


Sekian menit berlalu setelah melaju kendaraannya mengarungi panjangnya jalan raya, Aksara sampai di tempat yang dituju. Kintan sudah duduk menunggunya di meja paling sudut dengan wajah berekspresi datar. Aksara menghela napas. Meski sebelumnya ia marah-marah di telepon, perasaan lega tetap muncul tatkala menemukan wanita itu dalam keadaan baik-baik saja.


Aksara berdeham, kemudian menarik salah satu kursi di hadapan Kintan. Kintan tak banyak mengubah sikap, selain menatapnya lalu beralih pada tempat lain.


“Di mana David?” tanya Aksara tanpa basa-basi.


“Pulang,” jawab Kintan singkat.


“Pulang?”


“Tentu saja, kalau ada dia mungkin bakal kamu hantam, Mas!”


Aksara mengerjabkan mata. “Itu memang niatku. Tapi, nggak buat sekarang.”


Kintan menghela napas. Hatinya masih terasa perih ketika mengingat atau membicarakan tentang David. Ia masih ingin kembali ke kafe, berharap dapat menatap pria itu untuk terakhir kali. Namun, Aksara sudah datang, seorang pria yang sudah memenangkan keputusannya.


“Aku sudah memutuskan bersamamu, Mas,” ucap Kintan dengan ekspresi datar. “Aku sudah mengusir David.”


Napas Aksara sempat tersendat, sampai ia bisa menurunkan pandangan. Lagi-lagi, Kintan telah mengorbankan perasaan lagi demi pernikahan tak bahagia bersamanya.


“Apa kamu benar-benar belajar menerima keberadaanku, Mas?” tanya Kintan.


Aksara menelan saliva. “Aku berniat seperti itu, Kintan. Tapi, ... aku belum bisa melupakan Nila,” jawabnya.


“Aku tahu. Tadi malam pun kamu masih menganggap aku sebagai Nila.”


“Be-benarkah?”


“Tak apa. Aku paham, aku nggak melarang, Mas. Aku cuma berharap kamu nggak galak-galak lagi. Itu saja kok!” Wajah Kintan berubah sengit, perkataan terakhirnya pun diucapkan dengan nada tinggi.


Sebelumnya, Aksara tersentak. Namun ketika menyadari Kintan sudah kembali berekspresi seperti itu, ia merasa lega. Setidaknya Kintan tidak terlalu aneh untuk dilihat. Lebih baik memang marah-marah, daripada datar tanpa tahu apa yang dipikirkan.

__ADS_1


Aksara memutar mata setelah menatap wajah istrinya itu. Paras masam Kintan benar-benar menggemaskan, tetapi justru menyebalkan bagi Aksara. Namun sejujurnya, kecanggungan masih ia rasakan karena tak ada topik pembicaraan. Aksara juga masih gengsi untuk bertanya pada Kintan, meski hanya sebatas makan apa belum.


“Mm ... tadi kamu beneran ke kantor Papa?” tanya Kintan penasaran.


“Benar! Dan aku diomeli!” sahut Aksara cepat dan antusias.


“Aku 'kan sudah bilang ini hukuman buat kamu, karma atas sikapmu padaku selama ini.”


“Ya, ya, sekarang aku akui. Beliau masih menginginkan perceraian kita, karena aku nggak bisa membuat kamu bahagia.”


“Terus kamu jawab apa?”


“Nggak setuju. Aku masih membutuhkan tenagamu, Tan.”


“Dasar! Bilang saja sudah menyukaiku.”


Aksara hanya berdecak. Kemudian ia memilih memanggil seorang pelayan yang tidak sengaja lewat di sampingnya. Ia memesan dua porsi ayam goreng beserta nasi, tak lupa dua gelas air minum sesuai kesukaan Kintan selama ia bersantap bersamanya.


***


Di bagian lain kota Jakarta di mana Mergi duduk sendirian. Wanita itu tengah berada di sebuah kafe dekat dengan tempat kerjanya. Meski ia tahu jika Aksara meninggalkan ruang kerja sejak tadi, tetapi keyakinannya jika pria itu akan datang tetap ada.


Namun ketika dua puluh menit sudah berlalu, Mergi berangsur merasa kesal. Pasalnya, Aksara belum menampakkan batang hidungnya, bahkan kabar melalui pesan saja tidak ada. Ia mengepal kedua telapak tangannya serta menekan papan meja dengan keras.


“Kamu benar-benar nggak datang, Aksa? Kamu mengabaikanku?” gumam Mergi geram kemudian menggertakkan gigi.


Mergi tidak terima dengan perlakuan Aksara. Rasa penasarannya tentang siapa istri kedua dari pria itu membuatnya gelap mata. Rencana untuk menyelidiki sendiri siapa wanita itu muncul di benak Mergi.


“Aku akan cari tahu sendiri, Aksa. Aku akan mengembalikan dirimu seperti dulu dan menyelamatkan kamu dari wanita itu.”


Mergi meyakini jika pernikahan Aksara tidak biasa dan aneh, membuat keputusan itu ia ambil secara sepihak. Pasalnya, di sisi lain Aksara juga berubah dalam segi sikap dan temperamen.


***


Like yaaa.

__ADS_1


__ADS_2