Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 17-Setuju Bercerai


__ADS_3

Kedatangan David benar-benar membuat hati Kintan menjadi kacau. Pun pada pikirannya yang kembali dipenuhi perihal kenangannya bersama pria itu. Suasana hatinya itu membuat Kintan enggan dan malas bergerak lebih aktif layaknya biasanya.


Selepas menidurkan Gibran, Kintan sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Rutinitas memasak makan malam serta bebersih rumah menjadi terbengkalai. Entah apa yang akan dipikirkan oleh Aksara saat ini. Mungkin pria itu akan marah-marah seperti biasanya.


Benar saja, suara Aksara terdengar sesaat setelah Kintan menghela napas. Suara yang lantang dan penuh nada kekesalan.


“Kintan!” Tak lama berselang, Aksara menyerukan nama istrinya. Langkah kakinya pun terdengar semakin dekat dengan posisi kamar di mana Kintan terdiam.


Kintan bergerak lemah, membangunkan diri dari posisi tiduran sejak tadi. Tak ada semangat sama sekali. Masalah David belum selesai, kini Aksara akan menambahi beban pikirannya.


“Kintan!” Sembari membuka pintu kamar itu, Aksara kembali berseru. “Kamu lagi apa sih? Rumah berantakan dan belum ada makanan? Kamu bisa enggak sih jadi istri?”


Kintan menghela napas. “Memangnya sejak kapan kamu anggap aku sebagai istri?” balasnya ketus.


Hati Aksara terenyak. Matanya pun turut bergerak-gerak, lantaran merasa malu pada dirinya sendiri. “Setidaknya, kamu 'kan tinggal gratis di sini. Dan sebagai pengganti Nila, kamu harus mengerjakan apa yang selalu dikerjakan oleh Nila. Bukannya aku sudah jelaskan sejak dulu?”


“Aku tahu,” jawab Kintan kemudian menatap Aksara dengan ekspresi lelah. “Aku sangat tahu, Mas. Tapi, tolong, kasih waktu aku istirahat. Aku capek dan pusing, kamu punya uang jadi bisa beli makan dulu sekali ini saja.”


Penuturan Kintan membuat Aksara berangsur merasa iba. Pasalnya, keadaan wanita itu tampak tidak baik-baik saja. Biasanya Kintan akan membalas segala ucapan kasarnya, tetapi kali ini tidak dan justru menghindari pertengkaran. Lalu, di sisi lain Aksara mengira jika Kintan tengah mengalami beberapa tanda kehamilan.


Saat dugaan itu muncul, ekspresi Aksara bahkan tubuhnya menjadi tegang. Bagaimana kalau Kintan sedang hamil? Aksara berharap hal itu tidak terjadi di saat ia ingin menceraikan istrinya itu.


“Ki-kintan?” ucap Aksara sembari melangkahkan kakinya memasuki kamar yang tidak pernah ia singgahi pasca Kintan tinggal di sana. “Kamu ... kamu enggak apa-apa?”


Kintan yang sejak tadi hanya menunduk, kini berangsur menatap wajah sang suami dengan perasaan heran. “Memangnya aku tampak baik-baik saja? Tumben nanya keadaanku? Salah makan apa kamu?” balasnya sengit.


“Aku cuma tanya, itupun jika kamu mau jawab. Kalau enggak ya enggak apa-apa.” Aksara menghentikan langkah kaki sembari memalingkan pandangan ke langit-langit kamar. “Tapi, ... mm, a-apa kamu merasa mual selain pusing?”


“Ya. Aku mual, sangat mual. Apalagi kalau ada kamu di depan mataku.”


“Mulutmu terlalu jahat, Kintan.”


“Kamu yang mengajari, Aksara!”


“Aksara lagi?!”

__ADS_1


“Kenapa? Nggak terima?”


Aksara mendengkus kesal. Ia tidak menyangka jika Kintan akan seketus itu. Tentu sifat dan sikap wanita itu sangat kontras jika dibandingkan dengan mendiang istri pertamanya, sangat jauh! Namun, sejujurnya Aksara menilai Kintan lebih cantik dan pintar.


Perlahan, Aksara mengambil langkah kaki lagi. Untuk saat ini ia berusaha agar tidak terpancing emosi. Ada beberapa hal yang perlu ia cermati dari istrinya itu. Dan tentu berkaitan dengan rasa pusing dan mual yang mendera diri Kintan.


“Mas?" celetuk Kintan sampai membuat Aksara tersentak. “Ada sesuatu yang mau aku sampaikan.”


Aksara menggigit bibirnya, kemudian celingak-celinguk mencari tempat duduk yang nyaman. Sampai matanya menemukan sebuah kursi rias, ia memutuskan untuk mengambil benda itu dari pasangannya berupa cermin besar. Detik berikutnya, ia duduk tepat di hadapan Kintan dengan jarak satu meter.


“Apa?” tanya Aksara masih ketus.


Kintan menatapnya. “Kamu masih mau bercerai dariku?”


“Te-tentu! Bu-bukannya itu sudah aku bilang sejak dulu?”


“Ayo lakukan.” Kintan menghela napas. “Mari kita lakukan, aku bersedia. Asal, jangan halangi aku bertemu putraku ketika kamu sedang bekerja.”


“A-apa maksud kamu, Kintan?”


“Kenapa bertanya? Bukankah itu yang kamu mau? Sepertinya aku sudah menemukan masa depan baikku, Mas. Tak baik juga jika mempertahankan rumah tangga tanpa cinta, di atas sana Nila juga akan sedih melihat kita berdua yang selalu bertengkar.”


Apa ini karma? Mungkin. Namun, karma untuk apa? Aksara masih belum mencintai Kintan. Sementara hatinya justru terasa sakit seperti menghadapi kepergian Nila pada saat itu.


“Aku ....” Kintan menghela napas. “Aku dijodohkan oleh Papa, Mas. Dan pria di perjodohan itu adalah mantanku sendiri. Orang yang selama empat tahun aku tunggu sampai aku memutuskan enggak menikah,” ungkapnya.


Aksara menurunkan pandang menatap lantai keramik berwarna putih dengan sendu. “Kamu masih menunggunya? Masih ada rasa sama dia?” tanyanya.


“Ya. Aku masih sangat mencintainya. Tapi, sebelumnya aku masih menolak lamaran David karena memikirkan Gibran.”


“Karena Gibran?”


“Tentu. Dia memang putramu dan Nila. Tapi, sungguh, aku tulus menyayanginya, Mas. Aku berharap dia menemukan ibu yang lebih baik nanti, aku bersedia merawatnya ketika kamu bekerja.”


“Tunggu, Kintan! Kamu bilang sebelumnya menolak lamaran dia, tapi kenapa sekarang berubah?”

__ADS_1


“Bukankah hati manusia mudah berubah, bahkan dalam hitungan menit saja? Perihal hati mungkin aku kurang konsisten, Mas.”


“Kintan ...?”


“Lagian, kamu juga masih enggan hidup bersamaku. Kita enggak saling menyukai, kalau dipikir-pikir kedatangan David adalah cara Tuhan untuk menyelamatkanku dari penderitaan ini.”


Aksara tidak pernah merasa seburuk ini ketika sedang menghadapi ceracau dan perlawanan dari Kintan. Seingatnya, ia selalu menyepelekan apa pun yang dikatakan oleh wanita itu, menganggapnya bodoh menjadi istri pengganti. Tentang bagaimana ia merasa kesal untuk apa pun yang dilakukan oleh Kintan. Namun detik ini, Aksara justru tak berdaya dengan kenyataan yang diungkapkan oleh Kintan.


Perceraian yang Aksara impikan justru menjadi mimpi buruk saat ini. Ia menginginkan, tidak, lebih tepatnya membutuhkan Kintan. Untuk alasan apa pun, yang mungkin karena Gibran. Atau sebab lain lantaran ia sempat menghabiskan malam itu bersama Kintan. Jika ia bercerai dan melepaskan Kintan pada pria lain, maka kemungkinan adanya bayi di rahim wanita itu akan menjadi anak orang lain.


“Enggak!" tegas Aksara sembari berdiri. “Kita nggak boleh bercerai, Kintan. Mari kita daftarkan pernikahan secara resmi!”


Kintan mendesis. “Kamu salah makan apa sih? Aku sudah setuju, kok malah ajak daftarin pernikahan resmi sih?” tandasnya.


“Aku orang yang lebih nggak konsisten daripada kamu. Lalu, ...." Aksara menelan saliva. “Kita berdua pernah menghabiskan malam bersama. Kalau kamu sampai hamil, anak itu akan salah menganggap ayahnya.”


“Jadi, kamu membatalkan perceraian karena takut kalau aku hamil?"


“Te-tentu saja! Apa lagi memangnya?”


“Hmm ... terus kalau aku enggak hamil?”


“Ka-kamu bisa mendapatkan perceraian secara terhormat.”


“Waaah! Ngaco nih cowok! Gila ... perceraian terhormat? Astaga ....” Kintan berdecak. “Enggak mau, pokoknya aku sudah setu—”


Ucapan Kintan terpotong ketika tiba-tiba saja Aksara merengkuh wajahnya. Pria itu langsung menyerbu bibirnya yang pucat. Mata Kintan melebar seketika itu juga, pun pada jantungnya yang seolah hendak keluar dari dalam tubuhnya. Apa yang Aksara lakukan padanya dalam keadaan seperti saat ini?


“Aku ... bersedia melalukan apa pun untuk mempertahankanmu di tempat ini, Kintan!”


“Mas ...?”


“Aku nggak akan mengatakan kata cerai lagi, maka jangan pernah bermimpi untuk kembali pada bekas pacarmu.”


Secara naluriah seorang pria, Aksara tidak tinggal diam atas tubuh ramping di hadapannya. Sementara Kintan menjadi tidak berdaya. Apa pun yang dilakukan oleh suaminya, ia hanya diam tanpa bisa mengelak sama sekali. Perihal David pun bisa terlupakan untuk saat ini. Dan malam pertama pasangan itupun menjadi terlaksana, dibalut perasaan yang masih samar. Antara cinta atau hanya membutuhkan.

__ADS_1


***


Jadi, maunya Aksara ini apaan coba ya?


__ADS_2