Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 30-Kesimpulan Sepihak Mergi


__ADS_3

Suara gebrakan terdengar begitu keras, bahkan sampai membuat benda apa pun di atas meja bergetar. Sementara sang pelaku tampak begitu geram. Matanya terbelalak, wajahnya memerah, urat-urat hijau pun turut muncul.


Ya, Mergi tidak menyangka bahwa wanita itu benar-benar bukan orang biasa. Belum lagi tentang bagaimana Aksara justru pamer kemesraan di depan matanya. Lantas, apakah mereka saling mencintai? Ataukah hanya sekedar akting untuk menutupi kerusakan rumah tangga?


“Aksa, aku yakin kamu dijebak oleh wanita itu,” gumam Mergi sembari mencengkeram benda apa pun yang tergapai oleh jari jemarinya. “Iya, iya, aku sangat yakin. Wanita itu, dia kaya dan pasti kecelakaan istrimu juga merupakan sabotase darinya. Agar dia bisa memilikimu, Aksa.”


Mergi semakin gemetar. “Dia jahat, dia benar-benar wanita licik.” Ia tersenyum sinis. “Tiga bulan terlalu cepat dan konyol, terkesan enggak wajar bagimu melupakan mendiang istrimu, Aksa. Aku tahu, aku paham, kamu sudah dijebak oleh wanita itu.”


“Aku akan menyelamatkanmu, Aksara. Lihat saja!” lanjutnya antusias.


Dengan kesimpulan yang Mergi buat sendiri, segala rencana untuk menyingkirkan Kintan pun muncul di benaknya. Saat per satu akan ia pilah dan memilih mana yang tepat dan aman. Namun sebelum melakukan hal-hal itu, Mergi perlu memastikan perihal siapa Kintan. Wanita itu bisa saja hanya mengaku sebagai putri dari Tuan Besar Chandra. Bisa jadi hanya wanita dari bar yang gemar tebar pesona.


Memikirkan kemungkinan itu, Mergi lantas mengambil ponselnya dari dalam kantong blazer. Ia mencari nomor ponsel mantan suaminya. Detik berikutnya, ia menekan tombol panggil dan meletakkan benda persegi panjang itu di samping telinganya.


“Halo? Apa? Uang buat Naura sudah aku kirim, Mer!” Sahutan tak mengenakan terdengar dari kejauhan pasca panggilannya diterima oleh mantan suaminya itu.


Mergi menghela napas. “Aku nggak butuh uang kamu, Fery. Aku mau tanya sesuatu sama kamu,” tandasnya.


“Soal?”


“Kamu masih bekerja di perusahaan Chandra Winata?”


“Tentu saja!” sahut Fery antusias. “Bahkan, aku sudah naik jabatan semenjak berpisah denganmu, Mer. Membuktikan bahwa kamu hanya menjadi penghalang rezekiku kala itu.”


Rasa hati Mergi yang sudah terlanjur dipenuhi emosi, kini semakin tak kacau balau. Fery tidak pernah berubah, pria itu terus saja menghinanya dan menganggapnya wanita tak punya hoki. Benar-benar berbeda dengan Aksara. Pria itu selalu sayang pada keluarganya, tentang bagaimana Aksara tak pernah ketinggalan dalam menyebut nama Nila di setiap cerita. Kasih sayangnya terhadap sang putra, juga istrinya itu yang nyaris sempurna.


Sifat Aksara tersebut yang membuat Mergi benar-benar menyukainya. Yang awalnya hanya sebatas kagum, kemudian lebih dari itu. Dulu, ia masih menghormati sosok Nila sebagai istri sah dan wanita yang dicintai Aksara. Namun tidak dengan istri baru pria itu. Kintan hanya wanita yang menjebak Aksara!


“Terserah kamu mau ngomong apa, Fer! Aku cuma mau dapat jawaban atas pertanyaanku darimu, itu saja!” ucap Mergi sesaat setelah mengendalikan gejolak emosi.

__ADS_1


Terdengar helaan napas yang dilakukan oleh Fery. Tak berselang lama, pria itu bertanya, “Bilang saja. Akan aku jawab jika tahu, Mer.”


“Ini tentang putri pemilik tempat kerjanya. Seorang wanita yang memilih bekerja dari bawah seperti ceritamu kala itu, siapa namanya?”


“Nona Kintan?”


Mergi menelan saliva. Rasa sesak mulai menyerang dadanya lagi. “Na-nama panjang, nama asli, Fer.”


“Memangnya ada apa? Kenapa tanya soal Tuan Putri itu? Kamu bikin masalah?”


“Bukan urusanmu, kamu hanya perlu menjawabnya, Fer!”


“Baiklah. Tapi kusarankan jangan pernah mencari masalah dengan keluarga konglomerat, Mer! Mereka punya kuasa yang bisa menghancurkanmu! Namanya ... kalau enggak salah Kintan Afsheen Chandra, entah hanya sekedar Chandra atau ada Winatanya aku lupa.”


Mergi menurunkan ponsel dari sisi telinganya tanpa mengindahkan lagi ucapan peringatan dari mantan suaminya itu. Harapannya jika Kintan adalah wanita tidak benar menjadi lenyap. Kintan, wanita itu tidak berbohong. Ia merupakan seorang putri dari salah satu pengusaha besar di Indonesia. Ia bukan orang sembarangan. Namun, meski begitu Mergi tidak berniat untuk mundur.


“Mau sekaya apa pun dia tetap manusia, bahkan hanya wanita lemah. Dia hanya bocah kemarin sore. Nggak bakal aku biarin dia menjebak Aksara dalam kurun waktu yang lama,” gumam Mergi setelah mengumpulkan ceceran asa.


Di sisi lain, tepatnya lobby perusahaan tersebut, Kintan dan Aksara saling menghadap satu sama lain. Namun, kecanggungan justru masih mendominasi ketimbang keakraban. Kintan masih merasa malu sebab Aksara sempat pamer kemesraan di hadapan Mergi. Ia hanya terlalu terkejut dengan sikap langka suaminya itu.


“Kamu pulang hati-hati,” ucap Aksara malu-malu.


Kintan mengangguk pelan. “Baik, Mas. Kamu ... mm, kamu kerjanya se-sema— hati-hati, ya!” jawabnya.


“Iya, terima kasih.”


“A-anu, Mas? Soal tadi, kenapa ...?”


“Itu yang kamu mau, 'kan? Kenapa tanya?”

__ADS_1


“Mm ... yang aku mau?”


“Kamu menganggap Mbak Mergi menyukaiku, dan kamu masih saja jengkel padanya. Kemesraan seperti itu yang kamu inginkan untuk membalas dendam, 'kan?”


Dahi Kintan berkerut samar. “Ya! Jadi, kamu melakukannya untukku?”


“Tidak!” sanggah Aksara. “Untuk diriku sendiri. Aku kepala keluarga, aku suamimu. Aku wajib melindungi martabatku, agar orang tahu kalau aku suami dan pria yang baik serta bertanggung jawab.”


“Aiis! Ck ck ck, kamu memang egois, Mas.”


“Biar saja, kalau mau melindungi diri. Urus dirimu sendiri! Aku mau kerja lagi, pulangnya hati-hati.”


“Iya!”


Aksara meninggalkan Kintan sendiri tanpa kecupan manis sebagai tanda terima kasih. Namun, Kintan memang tidak pernah mengharapkan aksi manis itu. Sikap Aksara beberapa saat yang lalu saja, ketika Mergi datang sudah cukup baginya. Meski terkesan egois, Aksara tetap memberikan keuntungan baginya.


Sementara Aksara terus berjalan melewati lorong-lorong perusahaan, memasuki elevator untuk mencapai ruang kerjanya di lantai atas. Ia menghela napas kemudian bersandar pada dinding elevator tersebut. Sekian detik hanya diam, tiba-tiba saja muncul senyuk tipis yang lambat laun semakin lebar. Jika dipikir-pikir, diri dan sikap Kintan memang sangat menggemaskan. Apalagi ketika sedang meluapkan rasa cemburu.


Pada saat hendak keluar dari elevator tersebut, Aksara mendapati seorang pria berdiri tegak di depan pintu elevator. Pria bermata biru dan berparas bule itu tampak tersenyum padanya. Tentu saja Aksara merasa heran dan lantas bertanya-tanya tentang siapa pria itu.


Aksara hanya menundukkan sedikit kepala sebagai sikap santun. Setelah itu memutuskan untuk melanjutkan langkah kakinya. Namun ....


“Pak Aksara?” Pria berparas bule itu menyebut nama Aksara.


Aksara reflek menghentikan langkah kakinya. Sesaat tertegun, ia memutar badan. Rasa heran semakin pekat menyelimuti hatinya.


“Siapa?”


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya ya gess.


__ADS_2