
Aksara masih asyik menatap diri Kintan yang hanya terbungkus selimut tebal. Tak peduli akan waktu yang sudah menjelang dini hari, ia tetap melakukan hal itu. Aksara mengulas senyumnya, mempelajari setiap lekuk wajah Kintan yang cantik bak boneka. Kedamaian menyusup ke dalam hatinya karena paras ayu milik istrinya itu. Ia tidak salah, sejak awal sudah ia akui jika Kintan memang benar-benar cantik. Tubuhnya pun ramping, sementara kulitnya putih bersih bak orang Korea.
Namun entah mengapa, baru kali ini Aksara merasa takjub. Ia tidak bisa menyangkalnya lagi. Bahkan, kenangan bersama istri pertamanya saja tak bisa mengusir rasa takjubnya pada diri Kintan. Sepertinya benih-benih cinta memang sudah tumbuh di hatinya. Dan malam inipun ia kembali melewatkan malam bernuansa hangat yang penuh dengan hasrat. Berakhir pada rasa letih yang menyebabkan Kintan lantas terlelap.
“Banyak masalah datang, tapi kuakui kali ini lebih tenang saja. Aku ingin enggak peduli, tapi ... tampaknya kamu sudah menarik hatiku, Kintan,” gumam Aksara. “Kalau dipikir-pikir aku memang kerap kesal dan marah ketika kamu membawa-bawa nama mantan kamu. Sejak saat itukah aku jatuh hati padamu?”
Aksara menghela napas. “Tapi gimana tentang kesetiaanku pada Nila? Bolehkah aku merasa jatuh cinta, bahkan dia belum ada setengah tahun meninggalkan dunia ini? Ataukah perasaan ini muncul karena dorongan Nila dari atas sana?”
“Sungguh! Sepertinya aku sudah enggak kuat menyangkalnya lagi, membuat kamu berada pada situasi sulit. Membuat kamu terancam kembali pada Mr. David. Sepertinya perasaanku padamu lebih dari sekedar membutuhkan dan aku rasa sudah hadir semenjak kamu menyetujui tentang perceraian.”
Aksara memejamkan mata sejenak. “Maaf ... sampai saat inipun aku harus menyulitkanmu, Kintan.”
Gerimis yang lambat laun menjadi rintikan hujan lebih deras tiba-tiba saja muncul. Membuat Aksara lantas memeluk dirinya karena dingin yang menyerang. Syahdu rasanya, suasana muram bercampur dengan kesenduan. Di atas kebimbangan antara mempertahankan cinta lama pada mendiang istri pertamanya, atau justru membuka lembaran baru untuk cinta istri kedua.
Aksara mulai melentangkan tubuhnya lagi, kemudian mengarahkan pandangan mata pada langit-langit kamar. Pikirannya jauh menerawang, menyusuri setiap memori di dalam otaknya yang sempat terekam. Dulu, ia sangat mencintai Nila nyaris sempurna. Ia bersedia mengorbankan segalanya atas Nila, meski pada akhirnya tetap kecolongan lantaran lebih mementingkan pekerjaan dan berakhir pada kehilangan istrinya itu. Dan kini, bisa dikatakan tak masuk akal, baru masuk rentang waktu empat bulan ia sudah jatuh cinta pada wanita lain, melainkan Kintan—istri kedua yang diperoleh dari amanat sang mendiang.
“Gimana ini?” gumam Aksara dan diam-diam mulai merasa gelisah. Sesekali ia melirik pada Kintan yang masih asyik dalam mimpi indahnya. “Haruskah aku mengakuinya? Sementara Nila pasti masih menungguku di alam sana.”
“Tapi, aku juga enggak bisa kehilangan Kintan lagi. Berbagai masalah datang dan mungkin bisa saja memisahkan kami berdua.” Kedamaian hati yang sempat Aksara rasakan justru berangsur menjauhkan diri. Kebimbangan yang kini mengisi dirinya.
Hingga tiba-tiba kilatan petir tampak dari jendela bergorden putih tipis, dan menimbulkan suara menggelegar sampai mengejutkan Kintan. Wanita itu kaget bukan kepalang, matanya langsung terbuka bahkan melotot, sementara tangannya reflek mencengkeram lengan suaminya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Aksara sembari mengubah posisi tidurnya untuk menghadap sang istri.
Kintan menggeleng dengan wajah linglung. “En-enggak,” jawabnya, tetapi cengkeraman tangannya semakin menguat.
“Kamu takut petir?”
“Enggak. Cuma kaget saja.”
“Benarkah? Tapi, ini kuat banget lho.”
“Ah ... maaf.” Kintan melepaskan jerat tangannya itu dari lengan Aksara. “Aaa!” Ia terpekik lagi lantaran selimut yang menutup tubuhnya tak sengaja turun.
__ADS_1
Aksara tertawa kecil. “Kenapa sih? Aku juga sudah lihat,” godanya.
Kintan mempererat kain tebal itu dengan kedua tangannya. Kemudian, ia memilih memalingkan wajah dari Aksara karena malu. Sampai kilatan petir beserta suaranya kembali menggelegar. Lantaran terkejut, lagi-lagi ia mencengkeram lengan suaminya itu.
Aksara tergelak karena tingkah Kintan yang tiba-tiba ciut, tak lagi elegan apalagi garang. Wanita itu tampak ketakutan oleh suara petir yang benar-benar keras. Namun kendati menertawai, ia tetap memberikan pelukan perlindungan pada istri dari pernikahan keduanya itu.
“Ngomong kalau takut,” ucap Aksara masih diiringi tawanya.
Kintan mendengkus. “Aku bilang enggak, hanya kaget. Lagian sering terjadi kok!” tandasnya.
“Masih berkilah? Seingatku jarang terjadi tuh, semenjak musim hujan tiba, belum ada petir sekeras ini. Kupikir kamu memang benar-benar takut, kenapa? Ada fobia?”
“Enggak, Mas! Beneran! Aku ‘kan posisinya lagi tidur, ya kaget dong! Ngeyel banget sih! Lepasin, aku mau—“
“Mau ke mana?”
“Mau pakai baju, dingin!”
“Pelukanku enggak hangat?”
Aksara hanya berdecak, tetapi tidak lantas melepaskan pelukannya pada istrinya itu. Yang ada, ia justru mempererat dan nyaris membuat Kintan sesak napas. Sementara suaminya yang tiba-tiba bersikap manis, Kintan berangsur merasa heran. Ada apa dengan Aksara? Mengapa tiba-tiba bersikap bak pahlawan kesiangan? Apalagi tidak cepat-cepat melepaskan dirinya yang biasanya pria itu hindari. Tak ada kecanggungan yang tampak dari diri Aksara, seolah pria itu telah terbiasa dengannya. Apakah kali ini Aksara juga masih menganggapnya sebagai Nila?
Kintan tak bisa menjawab pertanyaan yang muncul satu per satu di benaknya. Ketika diskusi sore tadi saja, masih ada kecanggungan di antara mereka berdua, pun pada sikap tak mau mengalah di antara satu sama lain. Mungkinkah karena tiga masalah yang tiba-tiba datang, sehingga Aksara sudah membuat rencana untuk mempertahankan diri Kintan?
“Mas, lepas! Aku enggak bisa napas!” pinta Kintan.
Aksara menggeleng. “Aku sedang ingin seperti ini, Tan,” jawabnya.
“Kenapa tiba-tiba sih? Biasanya kamu malu-malu tuh?!”
“Pria jauh lebih berani daripada kelihatannya dan lagi, aku sudah pernah bilang sama kamu kalau aku bukan orang yang konsisten.”
“Berarti kamu bukan cowok setia dong?”
__ADS_1
“Konsisten dan setia itu dua hal yang berbeda. Buktinya, aku tetap setia pada Nila meski dia sudah tiada. Tapi, ... akhir-akhir ini aku melampaui batas kesetiaanku gara-gara kamu.”
“Kok aku?! Aku salah apa lagi?”
“Kali ini kamu nggak perlu tahu, dan tolong, berhenti banyak tanya. Tidur lagi, aku di sini, jangan takut.”
“Si-siapa yang takut, sih?!”
Aksara tidak menjawab lagi. Ia masih mendekap erat tubuh istrinya seolah takut kehilangan. Mungkin memang benar, ia takut akan hal itu. Kehilangan Nila sudah cukup menghancurkan
hatinya kala itu, membuatnya enggan menatap Kintan layaknya istrinya, dan terus saja meluapkan kesalahan pada Kintan atas kepergian Nila.
Aksara hanya tidak mau lagi kehilangan seorang istri lagi, meski mengakui perasaan yang baru ia sadari masih sangat enggan. Apalagi ketika bayangan Nila masih membelenggu dirinya dalam hal kesetiaan.
“Besok kita akan mulai menghadapi berbagai permasalahan, mungkin malam ini bisa menjadi malam tenang yang terakhir sebelum kita berjuang,” ucap Aksara.
Kintan menelan saliva, kemudian mendongak menatap wajah suaminya. “Kamu benar. Tapi, apa kamu benar-benar mau menjadi asisten Mr. David?” tanyanya dengan cemas.
“Iya, aku menerima tantangan itu.”
“Dia bukan orang biasa. Bisa jadi semua masalah yang datang adalah idenya, Mas.”
“Bisa saja. Tapi, aku sudah enggak mau melarikan diri,” jawab Aksara sembari menurunkan arah pandangnya untuk menatap Kintan. “Aku enggak mau kehilangan lagi. Kalau aku melarikan diri, Mr. David bisa merebutmu secara paksa. Cara licik yang lain bisa dia lakukan.”
“Tapi, ... David sebenarnya enggak seperti itu kok. Dia orang baik, mungkin aku bisa menjelaskan kebenaran dan dia bisa berhenti.”
“Jangan membelanya, Kintan!”
“Enggak kok. Aku bersamanya selama tiga tahun, aku hapal dia orang seperti apa. Mungkin dia hanya ingin melihatku bahagia.“
Sesak meliputi hati Aksara, membuatnya bergegas melepaskan pelukan dari diri Kintan. Kemudian, ia sedikit menjauh, bahkan membelakangi Kintan tanpa peduli segala ucapan istrinya itu lagi. Rasanya sangat kesal, mendengar pembelaan atas David yang Kintan ucapkan. Sikapnya itu sukses membuat Kintan bungkam sekaligus heran. Kintan bertanya-tanya, mengapa Aksara tiba-tiba saja menjauh darinya setelah memaksakan pelukan yang tidak ia inginkan?
“Mas?” Kintan menyentuh lengan suaminya itu. “Kamu kenapa?”
__ADS_1
***
Jangan Lupa Like dan Komennya yaaa.