Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama
Episode 52-Aksi Aksara dan Kintan


__ADS_3

Seperti biasa yang mulai menjadi rutinitas baru, Aksara menghadapi sikap David dengan segala kekuasaannya. Hari ini pun ia bertekad untuk menjalankan suatu rencana.


Kini, ia telah berada di hadapan David. Pria berparas Eropa itu tetap dingin dan semena-mena terhadapnya. Baru saja, ia pun dipinta untuk membuatkan kopi dan merevisi beberapa proposal. Sepertinya, setelah ia menyelesaikan semuanya, David sudah kehilangan akal untuk menyiksanya lagi.


“Saya akan kembali ke tempat kerja, Mr. David,” ucap Aksara mulai memancing ucapan David. Ia tahu betul jika pria itu tidak suka jika dirinya mengambil keputusan tanpa perintah. “Sepertinya sudah tak ada pekerjaan.”


“Enak saja!” Benar, David lantas marah. Ia tidak akan membiarkan Aksara pergi sebelum suatu pekerjaan sulit terselesaikan. “Bahuku pegal, sepertinya kamu mampu memijat sebentar, ah,. maksudku dalam satu jam.”


“Saya rasa pekerjaan itu tidak berkaitan dengan jabatan saya.”


“Memangnya jabatan kamu apa? Hanya seorang pesuruh saja.”


“Tapi, saya tetap seorang karyawan tetap di perusahaan ini. Atasan saya adalah Tuan Gupta.”


David mulai curiga. Matanya memicing, sampai kemudian ia memutuskan untuk bangkit. Langkahnya memang sangat pelan, tetapi bisa dikatakan tegas. Ia merasa ada keanehan pada diri Aksara yang biasanya hanya menurut, meski menyanggah dengan kata-kata. Namun, kali ini Aksara tak hanya menolak dalam segi ucapan, tetapi tindakan.


Setibanya di hadapan Aksara, David melipat kedua tangannya ke depan. Saat ini ia berlagak bak penguasa negeri dengan segala kewenangan atas diri Aksara. Namun, kendati begitu, pria yang hendak ia injak sama sekali tidak menunjukkan ekspresi ketakutan.


Keras kepala! Sudah hampir tiga bulan, tapi dia tak pernah tumbang atas sikapku. Bahkan, masih enggan menyerahkan Kintan padaku. Sementara waktuku sudah tak banyak, kalau aku meninggalkan Indo untuk memperpanjang keberadaanku di sini, dia bisa mencari celahnya dan semua rencanaku akan sia-sia.


Aksara mengembuskan napasnya, kemudian tersenyum. “Saya tidak bersedia memijat bahu Anda, Mr. Ini sudah sangat keterlaluan,” ucapnya.


“Kamu pikir kamu siapa? Tak lebih dari seorang pembantu, lantas, kenapa berlagak sok berkuasa?” pungkas David.


“Bukankah Anda yang berlagak seperti seorang penguasa? Padahal jelas-jelas jabatan Anda di sini hanya sebagai direktur, bukan CEO?”


David tertawa kecil. “Asal kamu tahu, Pak Aksara. Aku sudah membayar mahal atas jabatan ini, bahkan Gupta yang sejatinya adalah CEO perusahaan ini saja bisa tunduk pada diriku!”

__ADS_1


“Oh, berarti Tuan Gupta juga tak lebih dari pesuruh Anda, begitu?”


“Ya!” sahut David cepat dan mantap. “Kamu sadar, bukan? Seorang CEO saja bisa menjadi hewan peliharaanku, apalagi hanya dirimu. Oleh sebab itu, ceraikan istrimu. Jangan permalukan dirinya. Bahkan, jika perlu aku akan meng-akusisi perusahaan ini agar menjadi milikku, dan kamu benar-benar akan resmi menjadi pesuruhku. Bukan milik Gupta lagi!”


David sudah terlanjur geregetan dengan keangkuhan Aksara yang tiba-tiba saja berani menentang perintahnya. Juga, faktor waktu yang semakin sempit membuatnya tak bisa berpikir luas. Dengan serta-merta, ia meminta Aksara cepat-cepat menceraikan Kintan. Ia pun sudah tidak peduli pada Gupta yang barusan ia jelek-jelekkan, lagipula jika ia memang hanya memanfaatkan pria itu.


Lalu, tiba-tiba saja Aksara cekikikan. Pasalnya, selain panik, David sudah masuk ke dalam perangkapnya. Sebenarnya ... ponselnya memang sudah terhubung dengan Kintan. Istrinya itu sudah ada di ruangan Gupta, meminta pertemuan kedua belah pihak pimpinan secara paksa.


Karena Gupta yang terus saja memberikan penolakan, Kintan nekad untuk datang. Yang Aksara tahu, Gupta selalu menolak bertemu dengan Kintan karena mengetahui jika istrinya itu tidak memihak David, sementara jika Chandra sudah pasti akan mementingkan bisnis. Dan tugas Aksara selesai, ia tidak hanya berhasil menahan David di dalam ruangan, tetapi juga memancing isi hati David perihal Gupta.


Di ruangan lain, tepatnya lantai lebih atas dari tempat kerja David, Kintan dan Gupta tampak bersama. Namun suasana di antara mereka cukup mencekam dan dipenuhi kabut kemarahan. Benar, Gupta memang tengah dirundung api amarah karena mendengar ucapan orang yang ia percayai melalui sambungan telepon di ponsel Kintan.


Gupta tidak menyangka jika selama ini David hanya memanfaatkannya. Mungkin timbal balik memang ada, tetapi David justru menjelekkan namanya. Ia dianggap pesuruh dan hewan peliharaan, bukan lagi orang terpandang atau sahabat di mata David.


“Jadi, kamu nekad datang ke sini karena hal ini, Kintan?” tanya Gupta mencoba menenangkan dirinya.


Kintan menghela napas. “Benar, setidaknya meski tak akrab, kamu tetap teman satu kampusku, Gupta. Aku ingin kami sadar,” jawabnya.


“Tidak!” tandas Kintan. “Oke, baik ... kamu boleh berpikir seperti itu. Tapi, ingat satu hal, Gupta. Kamu pun juga tahu gimana sifat David ketika sedang memiliki keinginan. Kamu ingat, gimana dia menginginkan satu buah mobil sport? Dia rela menjual satu unit rumah dari ayahnya di negara ini. Apa kamu nggak dengar ketika dia bilang jika perlu akusisi dan menyerangmu demi aku, maka dia akan melakukannya?”


Gupta tercenung. Napasnya sesak sekali. Sulit baginya untuk mempercayai Kintan setelah merasa dikhianati oleh David. Namun, sebagian besar dirinya membenarkan ucapan wanita itu. David bisa gila jika sedang menginginkan sesuatu. Bahkan, dana yang diinvestasikan padanya sangat banyak, akan ada kemungkinan David bisa menjadi bumerang baginya jika tidak mendapatkan Kintan sebelum waktunya habis.


“Aku nggak mau gara-gara aku, kamu pun turut rugi. Aku bisa membantumu. Tapi, jika enggan, maka bersabarlah sampai batas waktu perjanjian kalian habis. Saat itu, jangan beri peluang bagi David untuk masuk ke dalam perusahaanmu lagi,” usul Kintan.


Gupta menghela napas. “Itu mudah. Tapi, aku sudah ingin menghajarnya habis-habisan.”


“Tidak, jangan!” Kintan panik, sebab jika Gupta mendatangi David dengan segala amarah, mantan kekasihnya itu bisa mempengaruhi Gupta lagi. Pria di hadapannya itu adalah CEO bodoh yang mudah tergiur uang, bisa jadi David kembali mendapatkannya. “Tidak sampai satu bulan, kamu bersabar. Kalau kamu nekad, David bisa saja berbuat lebih parah. Karena saat tersudut, semua orang bisa melakukan hal gila, Gupta.”

__ADS_1


“Hmm ....”


“Percaya padaku, bergabung denganku.”


“Apa aku bisa mempercayaimu. Lalu, dia kan pria yang pernah kamu gilai, kenapa kamu berambisi mengusirnya dari hidupmu, Kintan?”


Kintan menunduk. “Dia meninggalkanku, membuatku menunggu selama empat tahun. Kamu pikir mudah bagiku? Dan ketika aku sudah menikah, dia ingin menghancurkan pernikahanku. Kamu pikir aku akan tinggal diam?”


“Tapi, Kintan, dia melakukan semua itu demi dirimu. Kamu disiksa oleh Aksara, 'kan?”


Kintan tersenyum. “Kata siapa? Itu hanya rumor. Aksara nggak pernah siksa aku, mungkin memang dulu belum mencintaiku. Dan asal kamu tahu, Gupta, aku lebih berkuasa daripada Aksara. Apa mungkin, aku yang sehebat ini bisa disiksa oleh orang macam Aksara?”


Gupta terdiam. Ia mencerna kalimat Kintan secara diam-diam. Ucapan wanita itu memberinya kesadaran atas kewajaran daripada rumor yang sempat beredar. Seharusnya ia tidak mempercayai David kala itu, sebab Kintan benar. Orang sehebat Kintan tak mungkin bisa dilawan, apalagi hanya seorang karyawan biasa seperti Aksara. Tipikal wanita itu juga sangat keras, selama mengenalnya, Gupta tidak pernah melihat Kintan kalah dari orang lain.


“Baiklah, aku akan bergabung denganmu. Dengan satu syarat,” ucap Gupta.


“Syarat?” tanya Kintan.


“Beri aku saham perusahaanmu, setidaknya 2% saja.”


Kintan termenung, ragu dan bimbang. Namun tak apa, ia akan mempertimbangkannya. “Akan aku pertimbangkan. Lagipula, apa yang aku lakukan saat ini cukup menguntungkan bagi perusahaanmu. Sekalipun aku tak memberi saham padamu, kamu tetap akan menerima manfaatnya, Gupta.”


“Hahaha, aku hanya bercanda, Nona. Aku tidak semiskin itu, kerja sama antar perusahaan juga sudah cukup.”


Meski kesal, setidaknya Kintan merasa lega. Permintaan Gupta hanya sebatas gurauan yang tidak perlu ia pusingkan. Lalu, pria itu benar-benar memihaknya sekarang. Dengan begitu, David tak akan ada lagi kesempatan untuk berada di negara ini setelah waktu perjanjiannya dengan Gupta habis.


...Mas, kita berhasil....

__ADS_1


***


Kintan tinggal 2-3 bab lagi tamat.


__ADS_2