
Setelah selesai menyantap hidangan sarapan, Kintan mengantarkan suami dan putranya sampai ke depan rumah, sebatas teras. Kini ia tidak lagi mengendap dan mengintip diam-diam dari balik jendela untuk melepas kepergian Aksara. Setelah kesepakatan yang mereka buat di hari kemarin, keduanya kompak memperbaiki sikap. Meski belum ada perubahan yang signifikan, setidaknya tak ada lagi genderang perang, adu argumen, atau saling menyalahkan.
“Aku nggak apa-apa bawa mobilmu dulu?” tanya Aksara pada Kintan.
Kintan mengangguk, kemudian mengalihkan tatapan pada Gibran yang sudah siap dengan balutan seragam TK.
“Hari ini Gibran diantar Ayah dulu, ya?” ucap Kintan pada putra sambungnya tersebut.
Gibran mengangguk antusias. “Iya, Bunda,” jawabnya. Kemudian ia menghampiri sang ayah dengan mimik wajah yang riang.
“Kami berangkat dulu, ya? Mm, uangnya ...?” Aksara teringat akan uang bulanan yang belum ia berikan, sehingga memutuskan membatalkan langkah yang sudah hampir ia ambil.
“Masih ada, Mas, yang bulan kemarin.”
“Benarkah?” Aksara tersenyum kecut. “Kamu banyak memakai uang kamu sendiri, ya?”
“Enggak kok! Memang masih ada, lagipula beli sayur di pasar tradisional lebih murah. Jadi, ya, masih sisa. Kamu berangkat dulu saja. Nanti masalah itu dibahas kalau waktunya lebih leluasa.”
“Ya sudah kalau begitu. Jangan memakai uang sendiri buat keperluan rumah, aku nggak mau. Aku memang enggak sekaya kamu, Tan, tapi aku masih mampu. Rasanya lebih bangga saja, jika aku bisa diandalkan oleh tuan putri seperti kamu.”
Hati Kintan terenyak mendengar ucapan Aksara. Sementara suaminya berlalu dengan sang putra, Kintan menatap sendu punggung kedua prianya itu. Rasa sendu yang telah bercampur dengan keharuan. Masih tidak ia sangka momen semanis ini akan ada. Tadinya, ia pikir selamanya akan menjadi bayang-bayang saja bagi Aksara. Namun, secara perlahan Kintan mendapatkan haknya layaknya istri pada umumnya.
Kintan memutuskan kembali ke dalam rumah. Suasana yang mendung kelabu juga sedikit mengganggu. Hawa dingin menerpa kulitnya dari ujung rambut hingga kaki. Sepertinya merenungkan beberapa hal sembari menyeduh kopi bisa menjadi pilihan yang tepat.
***
Setibanya di ruang kerjanya, Aksara sudah dihadang oleh Mergi. Wanita itu nyaris tak berekspresi, kecuali datar. Tatapan matanya bersorot dingin, tetapi memancarkan ambisi dan dendam. Dari cara Mergi berjalan menghampiri Aksara yang masih mematung bingung, seolah hendak menunjukkan jika dirinya begitu kuat dan mendominisi.
__ADS_1
Mergi berhenti tepat setengah meter dari pria yang ia sukai itu. Tatapan matanya masih sama seperti sebelumnya, tetapi senyum tipis telah ia pasang di bibirnya. Tak lama kemudian, Mergi meraih salah satu tangan Aksara. Sebuah kunci ia letakkan pada tangan kekar pria itu.
“Aku enggak semiskin itu, Aksara. Bilang pada istri kayamu itu. Aku bukan pengemis. Terima kasih atas pinjamannya,” ucap Mergi tanpa basa-basi.
Aksara tidak banyak mengubah sikap, kecuali menurunkan arah pandangnya.
“Aksara, apa kamu enggak menyadari sesuatu?” tanya Mergi melanjutkan ucapan yang sebelumnya telah ia lontarkan.
Aksara kembali menatap manik mata wanita itu. “Sadar tentang apa, Mbak?” tanyanya.
“Tentang istri kamu. Dia wanita jahat. Dia hanya memperdaya kamu, Aksa.” Sikap Mergi berubah agresif. Dari yang sebelumnya cukup tenang, nyaris elegan, saat ini justru berubah agak berhasrat.
Aksara reflek mundur, sekaligus menepis tangan Mergi dengan kasar. Ia tidak mau menjadi pusat perhatian para rekannya, meski ruang kerja itu baru ada dirinya dan Mergi saja.
Mendapat perlakuan sedemikian rupa, Mergi terkejut. Kedua matanya terbuka lebar. Seketika itu juga, ia menatap Aksara dengan ekspresi tidak percaya. Mengapa Aksara menghindarinya? Padahal, saran yang ia sampaikan demi menyelamatkan pria itu dari jerat wanita jahat!
Aksara mendesis. “Mbak Mergi ini kenapa sih sebenarnya? Ada apa? Enggak biasanya lho. Dan apa ini? Kintan enggak seperti itu, dia baik, Mbak. Sungguh!” tandasnya.
“Enggak! Kintan itu jahat, dia memanipulasi dirinya layaknya bidadari. Bisa saja ketika kamu bekerja, dia menyiksa putramu, Aksa! Kamu harus segera sadar. Please ... kamu enggak boleh kayak gini. Kamu harus balik kayak dulu, saat almarhum istri baikmu masih ada.”
Aksara maju, mendekati Mergi dengan tegas. Setelah itu ia mencengkeram kuat kedua pundak wanita itu. Matanya menatap nanar, memancarkan kemarahan. Pasalnya, Aksara memang tidak terima dengan segala fitnah yang dilontarkan oleh Mergi pada istrinya. Semua itu tidak benar, ia yang lebih paham akan Kintan, bukan Mergi!
“Aku tegaskan sekali lagi, Kintan itu wanita baik! Dia istriku! Kalau saja kamu bukan rekanku, bukan pula orang yang aku anggap sebagai sahabat, tanganku bisa melayang pada pipimu, Mergi!” tegas Aksara.
Mergi terkesiap. Ia pun tidak terima. Segala hal yang ia lakukan demi Aksara, justru menjadi sia-sia. Ia dihina, ia tidak lagi dihormati, dan justru dianggap pihak penjahat oleh Aksara. Padahal, jelas-jelas Kintan-lah yang salah. Wanita kaya itu hendak menguasai Aksara.
Tidak mungkin salah, sudah pasti benar! Mergi sangat yakin. Kalau saja Aksara bukan pria yang ia sukai, mungkin saja ia tidak peduli. Namun itu Aksara, pria yang sudah menarik hatinya sejak lama. Rasanya seperti gila, kalau memikirkan kemesraan Aksara dan sang nona muda.
__ADS_1
“Aksara!” seru Mergi sembari mengejar Aksara yang sudah menempati bilik kerjanya. “Aku yang lebih pantas berada di sisimu. Kita satu kasta. Tidak dengan dia, semua orang kaya itu jahat!”
“Tutup mulutmu!” balas Aksara sengit. Bahkan, ia sampai berdiri dari duduknya. Matanya melotot seram. Amarah yang sempat redup, kembali meluap.
Tak lama kemudian, Aksara menyeret Mergi untuk keluar. Ia mencari tempat yang tepat untuk berdebat. Dan sepertinya tangga darurat cukup aman dari pantuan orang-orang.
Di tempat itu, Aksara mendorong tubuh Mergi sampai punggung wanita itu menghantam dinding. Aksara segera mundur. Rasa jijik mulai muncul teruntuk wanita penuh obsesi itu. Namun sebisa mungkin Aksara tetap bersikap lebih tenang. Ia tidak mau jika sampai berbuat kasar pada orang lain.
“Tadi malam aku pikir semua ucapan istriku hanya sebatas dugaan karena rasa kesal. Ternyata, semua itu memang benar. Kenapa? Kenapa Mbak Mergi sampai berbuat seperti ini? Ada apa?” tanya Aksara.
Mergi mengabaikan rasa sakit di punggungnya, kemudian memilih maju satu langkah mendekati Aksara. Mata Mergi kembali melebar di detik selesainya kalimat Aksara.
“Dia menduga apa? Dia menghasutmu tentangku?” Mergi kembali mencengkeram lengan Aksara. “Itu, itu salah satu bukti kalau dia jahat, Aksa. Dia ingin menjauhkan kita berdua. Kita ini dekat sejak lama. Karena ada dia, rasanya kita semakin menjauh saja.”
“Memangnya kenapa? Toh, kamu juga bukan siapa-siapa bagiku.”
“A-apa? Aku Mergi, Aksara. Teman dekatmu, kita sudah—”
“Cukup, Mbak! Berhenti bersikap konyol seperti ini. Kalau memang Mbak Mergi menyukaiku, lebih baik sudahi saja perasaan itu. Jangan sampai terlahap obsesi. Bahkan, sampai memfitnah istriku. Sebesar apa pun usaha Mbak Mergi, aku tetap akan bersama dan membela Kintan.”
“Enggak boleh! Dia jahat! Kamu harus sadar, Aksaraaa!”
“Mbak yang harus sadar. Dari segi posisi, status, dan sebagai ibu dari Naura. Jangan menjadikan anak sebagai alat pencari perhatian. Kemarin sempat aku tepis anggapan itu, tapi kini sudah terbukti. Kembalilah seperti dulu, sebagai rekan, teman, serta ibu yang baik. Bukan wanita hina yang kalah akan obsesi.”
Aksara menghempas kasar tangan Mergi yang belum terlepas dari lengannya. Tanpa mengindahkan rintihan wanita itu, ia kembali masuk. Kejutan pagi ini benar-benar mengguncang jiwanya. Aksara masih belum percaya bahwa Mergi bisa bersikap seperti itu. Wanita itu berubah drastis dalam waktu satu malam, tidak, mungkin sudah lama, hanya saja Aksara kurang peka.
***
__ADS_1
Like dan komennya yaaa.