
Aksara melemparkan tas kerjanya dengan kasar pada ranjang tidurnya yang tampak rapi. Kemudian, ia memekik geram melampiaskan rasa kesal. Helaan napas juga terdengar dilakukan oleh pria itu. Suasana hatinya memang sedang tidak bagus, setelah sebelumnya mendapatkan perlakuan buruk dari sang atasan.
Ya, David, pria blasteran itu kembali memperkerjakan Aksara layaknya pembantu rumah tangga. Belum lagi deretan foto-foto Kintan yang tengah bersamanya dipajang dengan sengaja. Aksara rasa foto-foto tersebut adalah sisa kenangan ketika mereka masih berpacaran.
“Dia istriku!” seru Aksara kemudian memukul dinding kamarnya dengan keras, tetapi amarahnya itu mampu menghempas rasa sakit di punggung telapak tangannya. “Dia nggak berhak untuk mendapatkan Kintan!” lanjutnya kemudian mengumpat.
Ingatan Aksara kembali membayangkan bagaimana wajah David berekspresi. Pria bule itu mengatakan jika Aksara hanya seperti ajudan atau bahkan sopir rendahan bagi Kintan. Tak selayaknya ia berada di sisi wanita itu, terlebih menjadi suaminya. Belum lagi tentang siapa dirinya yang tak lebih dari suruhan David. Bahkan, harga dirinya bisa dibeli dengan kekuasaan yang dimiliki oleh David.
“Kamu tahu, bahkan deretan jam tanganku jauh lebih mahal daripada harga dirimu, Pak Aksara. Seharusnya dengan status seperti itu kamu bisa melepaskan Kintan dengan sukarela,” ucap David siang tadi selepas memintanya untuk membuatkan kopi.
Saat itu, Aksara hanya mampu menggertakkan gigi, sampai David begitu percaya diri untuk kembali berkata, “Kamu itu hanya pesuruh. Memangnya tidak kasihan pada istrimu, jika dia benar-benar akan menjadi pimpinan perusahaan. Kalau kamu enggak melihat Kintan dari segi materi dan kekuasaan, seharusnya kamu paham betul tentang keamanan hidupnya dong!”
“Dan pernikahan kalian itu hanya akan menjadi penghambat kesuksesan Kintan. Dia akan dicap sebagai wanita rendah yang tidak berkualitas karena bersedia menikahi pria yang bukan seorang pengusaha, ah, benar, hanya kacung saja!” David tersenyum dengan puas karena berhasil melontarkan beberapa kalimat pedas dan tentu saja jahat itu.
Dan hingga detik di mana jam kerja habis, Aksara tidak mampu memberikan perlawanan apa pun. Aksara merasa ciut, kesadaran diri akan posisinya sedikit memberikan pengaruh pada emosinya. Lantaran hampir semua yang David ucapkan adalah kebenaran. Jika nanti Kintan sudah menjabat sebagai pemilik perusahaan, nama baik wanita itu akan tercoreng karena keberadaannya.
Aksara menelan saliva, lalu mengendurkan tatapan matanya yang sempat memancar garang. Hingga detik berikutnya, ia kehilangan daya atas tubuhnya dan berakhir duduk lemas di atas lantai putih yang sudah retak. Benar, memperbaiki satu keramik retak saja sulit sekali ia realisasikan, apalagi memperbaiki rumah tangganya dengan sang nona? Bisakah?
“Apa aku mampu menyamai kedudukanmu, Kintan? Aku hanya pria rendahan yang enggak setara dengan dirimu apalagi keluargamu,” gumam Aksara dengan sepenuh hatinya yang terisi nestapa.
Ia sampai menekan dan memukul dadanya sendiri karena nestapa itu. Sesak dan sedih yang bercampur membentuk kolaborasi rasa yang memilukan. Mendadak keminderan juga turut muncul dan semakinmengoyak-oyak hatinya. Aksara tidak tahu harus bagaimana menghadapi kekacauan dirinya itu. Ia juga tidak yakin apakah sanggup berada di sisi Kintan dalam rentang waktu yang lama.
Sampai akhirnya, Aksara mengeluarkan buliran air matanya lantaran terlalu lelah untuk menahan kesabaran. Bayangan wajah Kintan yang ayu memenuhi benaknya saat ini. Ia sudah benar-benar jatuh cinta pada wanita itu. Dan sehancur itulah perasaannya ketika ancaman perpisahan terus saja menghardiknya. Melalui orang-orang hebat dan tentu saja memiliki banyak bahagia yang bisa diberikan oleh Kintan, ancaman tersebut bisa saja menjadi sebuah kenyataan.
“Aku nggak bisa,” gumam Aksara sembari mengusap air matanya yang nyaris membanjiri seluruh pipinya. “Aku nggak bisa kehilangan istri lagi. Seharusnya aku nggak boleh selemah ini. Dia, David, tidak memiliki hak untuk memisahkan kami!” lanjutnya kemudian berdiri tegap kembali dan berusaha mengumpulkan sejumlah asa yang sempat berceceran, bahkan nyaris hilang.
Tepat ketika Aksara hendak menuju pintu kamar yang sengaja ia tutup rapat, seseorang mengetuknya dari luar. Tentu saja, ia segera memperbaiki sikap dan penampilan agar terlihat baik-baik saja. Ia tidak mau jika si pelaku pengetuk pintu yang kemungkinan adalah Kintan, merasa khawatir padanya.
“Mas?” ucap Kintan sesaat setelah pintu tersebut dibuka oleh suaminya. “Kamu sudah pulang? Kenapa mengunci diri?” tanya heran.
Aksara tersenyum. “Aku lagi ganti baju barusan,” jawabnya.
“Ganti baju? Apanya yang ganti? Seragammu masih sama seperti pagi tadi.”
__ADS_1
“I-itu, mau ganti baju, Sayang! Haha, dan belum sempat.”
“Sayang? Menggelikan!”
“Hmm ....”
Aksara langsung menarik pinggang Kintan yang akhirnya ia rengkuh tubuh wanita itu. Ia mendekapnya dengan erat untuk melampiaskan segala kerinduan yang tertahan seharian. Apalagi hari ini ia merasa ketakutan sendiri jika Kintan sampai hilang dari sisinya atau bahkan pandangan matanya hanya karena David.
Kintan tersenyum malu-malu, tetapi ia membalas pelukan Aksara dengan suka rela. Hatinya menghangat. Seperti inikah rasanya dicintai oleh suaminya sendiri? Aksara memang sudah berubah drastis. Pria itu tidak lagi menyembunyikan perasaannya karena gengsi ataupun alasan mendiang istri pertama. Kintan bahagia, meski ia juga sadar diri jika ia tidak akan mampu menandingi sosok Nila. Namun bukan itu fokus utamanya, sebab ia sendiri tidak berencana menyingkirkan nama Nila dari hati suaminya.
“Kamu kelihatan lelah, Mas,” ucap Kintan sembari melepaskan diri. Detik berikutnya, ia menyentuh wajah Aksara. “Hari ini masih sama?”
Aksara menekan rahangnya. “Ya, masih sama,” jawabnya kecut.
“Maaf ....”
“Kenapa kamu minta maaf?” Kini giliran Aksara yang menyentuh pipi Kintan, membelainya dengan lembut. “Aku yang salah, seperti katamu waktu itu semua memang salahku dan ini adalah karmaku.”
“Aku enggak serius mengatakannya. Keberadaan David ‘kan berkaitan denganku.”
“Aku nggak bakalan kasih izin buat kamu ninggalin aku. Entah hal semacam apa yang bikin kamu tiba-tiba ngomong kayak gitu, yang pasti apa pun itu aku tetap ingin bersamamu. Jadi, jangan bicara omong kosong lagi. Aku ini Kintan dan kamu juga tahu gimana keras kepalanya seorang Kintan, Mas!”
Aksara tertunduk, ada senyum tipis yang mengembang di bibirnya. Kintan benar, di dalam rumah itu Kintan-lah yang saat ini berkuasa. Kintan bisa memutuskan untuk tinggal ataupun pergi suatu saat nanti. Sikap keras kepala wanita itu tidak bisa Aksara tandingi. Bahkan kata perceraian tidak pernah berhasil membuat Kintan berangsur pergi, apalagi hanya ancaman dari luar. Ancaman suaminya sendiri saja, ia tidak merasa gentar sama sekali.
Tak berselang lama, Kintan berangsur melangkahkan kakinya menuju ranjang kamar tersebut. Ia menghela napas panjang kemudian duduk di tepian tempat tidur itu. “Hari ini aku ketemu atasanmu, Mas,” katanya.
“Mm?” Aksara menoleh pada sang istri. “Atasanku? David enggak ninggalin kantor sama sekali, Tan. Gimana bisa?”
“Bukan dia, tapi Gupta. Aku bertemu dengannya. Sepertinya dia ada pertemuan khusus dengan Papa.”
“Papa? Ada kerja sama dengan Tuan Muda?”
“Aku nggak tahu, tapi kurasa memang begitu. Dan pasti ada kaitannya dengan David, dia bisa saja terhubung dengan Papa karena David.”
__ADS_1
“Hmm ... aku mengerti.” Aksara duduk di samping Kintan. “Papamu juga pasti mau.”
“Kalau ada embel-embel keuntungan, siapa pun pasti mau. Papa selalu mengesampingkan masalah pribadi jika hal itu berkaitan dengan bisnis.”
“Benar ....”
“Ada kemungkinan kedatangan Gupta hanya sekedar diskusi kerja sama saja dan suatu saat David bisa mewakili kedatangannya. Salah satu rencana cadangan dari David, sebab aku nggak berangkat ke New Zealand seperti kemauannya. Pasti dia sudah mendengar kabar adanya pergantian CEO di perusahaan Papa, dengan menggunakan Gupta, David ingin terhubung lagi denganku. Dia bisa menemuiku dengan alasan pekerjaan.”
Aksara tercenung. Namun matanya tak lepas menatap wajah Kintan yang tampak serius. Benar, Kintan memang sedang berada dalam kondisi tidak main-main. Ia memprediksi adanya kemungkinan yang baru saja ia katakan. Jika dipikirkan lagi, semua masalah yang datang secara tiba-tiba masih saling berhubungan dan dalang di balik kesulitan itu mungkin saja adalah mantan pacarnya sendiri.
“Aku pernah bilang sama kamu kalau David adalah orang yang baik. Tapi, Mas, saat itu aku lupa kalau dia adalah orang yang memiliki ambisi kuat. David bisa melakukan apa pun demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan aku tahu, dia sangat mencintaiku, dia menginginkanku,” ungkap Kintan.
Aksara terdiam menyimpan kegamangan.
“Aku akan naik tahta, aku akan menjadi CEO baru dan menyambutnya.” Mata Kintan melebar penuh ambisi kuat. “Aku akan memutus kerja sama antara Kakak dan David, membuat Kakak dan keluarganya kembali di Indonesia. Sekaligus menyelematkan rumah tangga kita.”
“Kintan ...?”
Kintan menatap wajah Aksara. “Maka dari itu bantu aku dengan bertahan menjadi asistennya sebentar saja. Aku akan menyelesaikan semuanya dengan cepat.”
“Tak bisakah kamu temui dia dan menjelaskan semuanya saja, seperti idemu malam itu?”
Kintan menggeleng. “Enggak, Mas, sudah terlambat. David tetap enggak akan menyerah, sebab jika diamati dari ucapan Papa sekaligus masuknya David ke perusahaan Gupta, sepertinya David sudah melakukan banyak hal dan mengeluarkan banyak biaya. Dan aku sudah muak padanya, dia bukan lagi David yang aku cintai. Dia musuh kita!”
“Kintan ...?”
“Bantu aku dengan kesabaranmu, Mas.”
Kintan menggenggam jemari Aksara yang mulai gemetar. Mungkin suaminya itu tengah terkejut mendapati sikap yang baru muncul setelah selama ini hidup bersama. Namun tak perlu menunggu lama, akhirnya Aksara bersedia. Ia membalas genggaman tangan Kintan menggunakan salah satu telapak tangannya. Ia baru sadar jika segala sesuatu memang wajib diperjuangkan. Rasa minder, apalagi putus asa hanya akan berakhir menjadi sebuah penderitaan.
***
Hai semua, apa kabar? jangan lupa like dan komennya ya setelah membaca.
__ADS_1
besok ada scene Mergi, biar pada naik pitam. ngamuk2lah di kolom komentar, tapi sama karakternya bukan authornya ya hahaha