
Kintan menatap manik mata ayahnya yang kini juga menatapnya dengan gusar. Tak berselang lama, ia menundukkan kepala kemudian berkata, “Kintan enggak bisa gantiin posisi Papa. Jadi, Kintan mohon Papa batalin kerja sama dengan David, dan membuat Kakak balik lagi ke Indonesia.”
“Nggak bisa, Sayang. Papa sudah mengadakan meeting soal itu dan semua setuju, tinggal menunggu kamu balik lagi ke kantor. Dan lagi, kakakmu beserta keluarganya sudah berangkat ke New Zealand. Malahan, Papa mau kamu balik juga ke rumah, Papa kesepian,” ucap Chandra dengan jelas bahkan sedikit tegas.
Kintan menghela napas. Sepertinya memang sudah tidak bisa mundur lagi dari posisi yang hendak ia dapatkan itu. belum lagi rasa iba justru berangsur hadir manakala ayahnya mengaku jika merasa kesepian pasca Diki berangkat ke New Zealand bersama anak dan istri.
Sebagai seorang putri yang dibesarkan dengan sepenuh hati oleh ayahnya itu, tentu saja Kintan merasa tidak tega. Namun kembali lagi pada statusnya yang sudah menjadi istri orang. Kintan tidak bisa membuat keputusan sendirian.
“Aku tadi lihat Mama Sari keluar dari lobby,” ucap Kintan kemudian menegakkan tubuhnya yang sempat terkulai di sandaran kursi. “Kurasa, Papa enggak se-kesepian itu.”
Chandra menelan saliva. Tampak sekali ia sedang terkejut, sekaligus tidak menyangka. Apa yang ia sembunyikan dengan meminta Sari bergegas pergi sebelum Kintan datang tampaknya menjadi sia-sia.
“Gimana perkembangan hubungan Papa dan Mama Sari?” tanya Kintan lagi memancing fakta yang mungkin tersembunyi dari balik paras gelisah ayahnya itu.
“I-itu, ma-maksud kamu hubungan apa sih, Kintan? Bukannya semenjak kamu menikah dengan pria itu, Mama-mu itu sering datang ke sini untuk membujuk Papa?” tandas Chandra.
“Mamaku? Waaah! Rasanya sedikit aneh sekali, apa itu? Dan ini terlalu sering, bahkan aku sudah menikah secara resmi dengan Mas Aksara. Mana mungkin Mama Sari masih ingin membujuk Papa?”
“Bukannya kamu selalu memanggilnya mama? Apa yang aneh? Soal itu, y-ya berarti memang dia ingin berterima kasih saja.”
“Berterima kasih? Kenapa harus ke Papa, harusnya ke Kintan langsung, ‘kan? Jujur saja, Pa, Papa ada hubungan apa sama mamaku?”
“Jangan ngawur kamu, Kintan. Mana ada hubungan macam-macam di antara kami!”
“Hmm ....” Kintan mengusap dagunya yang tirus. “Hubungan macam-macam Kintan enggak pernah bilang seperti itu, ‘kan siapa tahu kalian sudah berteman. Tapi kalau macam-macam berarti ....”
Chandra menggebrak meja kerjanya karena sudah kehilangan daya atas kecerdasan serta ketelitian putrinya. Membohongi Kintan adalah sesuatu yang cukup membahayakan. Bahkan, meski ia merupakan ayah dari wanita itu, tetap saja sang putri jauh lebih di atas dalam memprediksi sesuatu menggunakan logikanya.
__ADS_1
Chandra memutuskan untuk duduk kembali setelah tawa Kintan terdengar mengejeknya secara terang-terangan. Ingin sekali ia meneriaki putrinya itu sebagai anak durhaka yang keterlaluan. Namun, jika ia melakukannya, kemungkinan besar Kintan akan lebih hebat dalam memberikan sanggahan dan berujung pada kekalahannya.
“Hmm ....” Chandra mengedarkan pandang ke segala penjuru ruangan. “Kamu berbakat jadi pengacara,” lanjutnya.
“Harusnya, tapi ada seseorang yang memaksa Kintan buat jadi pengusaha. Bahkan, sebagai ratu di kerajaannya. Kintan tak pernah sudi,” balas Kintan sembari melipat kedua tangannya ke depan. “Kintan hanya ingin menjadi ibu rumah tangga saja, Papa.”
“Apa yang hebat dari seorang ibu rumah tangga dengan suami yang tak mencintaimu?”
“Seorang ibu itu sangat berharga, Papa. Kami bisa menjadi guru yang hebat, istri yang baik, intinya banyak sekali hal indah.”
“Itu jika wanita yang menyandang sebagai seorang ibu dan istri berada di dalam kehidupan rumah tangga yang normal.”
Kintan mendengkus kesal. “Memangnya Kintan enggak normal? Suami Kintan juga normal kok! Lagian, cinta bisa tumbuh dari kebiasaan dan Kintan yakin tentang hal itu.”
“Kamu terlalu cerdas untuk bersikap lugu, Sayang. Laki-laki itu sudah membuang kamu sejak pertama kali kalian menikah.”
Bosan dengan pemandangan kota tersebut, Chandra membalikkan badan. Kali ini paras putrinya menjadi objek pengamatan. Sejujurnya, ia masih menyimpan segala kekhawatiran mengenai kehidupan Kintan dengan pria yang tidak bisa memberi cinta. jika segi materi mungkin ia masih bisa membantu, tetapi jika soal cinta, Chandra mana bisa? Herannya, Kintan justru memilih bertahan. Kintan memilih menolak cinta lama yang telah dinanti selama empat tahun lamanya hanya demi Aksara dan putranya. Dan hal itu cukup mengesalkan bagi Chandra.
“Kamu harus menggantikan Papa dan pulang ke rumah,” ucap Chandra.
“Papa, jangan begitu!” rengek Kintan. “Kami ... aku dan Mas Aksara benar-benar sedang berusaha. Kami juga sudah sering menghabiskan malam bernuansa hangat dan—“
“Kintan!” tegas Chandra. “Pantaskah begitu? Membicarakan hal tabu di depan ayah kandungmu?”
“Ini fakta, Papa! Kintan sama Mas Aksa sampai—“
“Cukup!”
__ADS_1
Kintan terdiam. Ia menunduk sembari menyimpan bibirnya di balik tangannya yang halus.
Setidaknya ada pengaruh yang merasuki hati Chandra. Mau bagaimanapun ia tetap seorang ayah yang tidak tega jika terus-menerus membuat putrinya kesulitan. Lagipula, Kintan sampai berkata sejauh itu yang mungkin akan mengarah pada hal tabu. Seingatnya, Kintan akan nekat meskipun memalukan jika ada alasan besar yang perlu putrinya itu perjuangkan.
“Kakakmu, Diki, dari dulu selalu mengalah.” Chandra mendudukkan dirinya lagi. “Dia memang lebih penurut daripada kamu, tapi, hal itu nggak bisa membuat Papa terus menuntutnya, Sayang. Lagi-lagi dia rela ke New Zealand daripada kamu yang disuruh ke sana. Dan apa kamu masih tega setelah kakakmu berkorban? Hidup di negara orang itu nggak mudah, meskipun banyak uang. Apalagi mereka punya anak kecil.”
Kali ini Kintan tidak bisa berkilah lagi. Chandra benar, Diki mengorbankan diri demi kesepatakan kerja dengan David di luar negeri. Sepertinya David juga ada kaitan lain dengan kerja sama itu, bisa saja demi menarik dirinya ikut ke New Zealand dan meninggalkan Aksara.
“Ini salah Papa. Papa terlalu terburu-buru mengambil jalan dan terlalu berhasrat pada bisnis. Kala itu, rencana kerja sama dengan Mr. David adalah demi menyelamatkanmu dari pernikahanmu. Itu faktor utamanya,” ungkap Chandra. “Tapi, Kakakmu enggak ingin jika kamu mengalami yang namanya perceraian. Dia mundur dari calon pewaris dan memenuhi perjanjian dengan Mr. David menggantikanmu, Sayang.”
Chandra menghela napas. “Papa enggak akan meminta kamu bercerai lagi. Papa hanya berharap kamu bisa memenuhi permintaan ini, itu saja. Setidaknya, Papa masih bisa melindungimu sampai pernikahanmu dengan pria itu sedikit lebih harmonis.”
Kintan sadar, dengan fakta apa pun yang ada saat ini, sejatinya Chandra hanya ingin membuatnya bahagia. Apalagi, namanya orang tua tidak selamanya sempurna. Kesalahan yang Chandra buat dengan membuat kesepakatan dengan David mungkin hanya pemikiran spintas kala itu. Demi melepaskan jerat Aksara darinya, lantaran pria itu sering bersikap kasar padanya.
“Baiklah,” ucap Kintan kemudian menegakkan badannya. “Kintan akan menerima posisi itu. Dan Kintan juga akan melindungi pernikahan demi pengorbanan Kak Diki. Lagipula, Kintan dan Mas Aksara juga sedang berusaha menjadi lebih baik. Sejujurnya, ... Kintan juga enggak bisa kehilangannya, terlepas dari alasan adanya putra kami.”
“Kamu ... mencintainya?” tanya Chandra, agaknya ia sedikit terkejut.
“Kintan belum tahu, tapi ... mungkin memang perasaan itu sudah ada, Papa.”
“Duh!”
Chandra menepuk jidatnya. Ia menyesalkan perasaan Kintan yang mungkin bisa menjadi kesalahan ataupun kekalahan. Seharusnya, yang jatuh cinta duluan adalah Aksara bukan putrinya!
***
Jangn lupa like dan Komennya yaaaa.
__ADS_1