
Aksara masih bimbang. Hatinya menimang-nimang pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh rekan terdekatnya itu, apakah perlu dijelaskan setiap kenyataan yang sudah terjadi sejauh ini. Sementara di sisi lain, Mergi masih menunggu dengan tegang, dan lantas membuat Aksara merasa tak nyaman.
“Mbak.” Aksara mulai membuka suara, bersamaan dengan suara riuh para karyawan yang menghambur keluar lantaran sudah waktunya pulang.
“Y-ya,” jawab Mergi cepat. “Ba-bagaimana?”
“Kabar itu ... kabar itu benar, Mbak. Aku sudah menikah lagi,” ungkap Aksara kemudian menghela napas.
Mata Mergi reflek terbelalak. Jawaban yang Aksara berikan sukses mengguncang hatinya, harapannya pun menjadi pupus detik itu juga. Kalau saja tidak malu, Mergi sudah terduduk lemas lantaran terlalu terkejut.
Kebenaran itu menjadi bukti bahwa Aksara sama sekali bukan tipikal pria yang setia. Mergi salah, Aksara sama saja dengan pria lain bahkan mantan suaminya sendiri. Entah, apakah sikap seperti itu sudah lumrah bagi kaum adam? Mengapa di zaman sekarang nyaris tidak ada kisah seperti Habibie dan Ainun?
“Se-sejak kapan, Aksa?” Mata Mergi bergerak cepat menatap wajah manis pria itu. “Kenapa kamu enggak mengundang aku? Kupikir kamu masih mencintai mendiang istrimu. Tapi, ....”
“Aku masih sama, hatiku mencintai mendiang istriku, Mbak. Bahkan sampai kapan pun akan tetap seperti itu.” Aksara terdiam sejenak, menahan kesedihan yang kembali menyeruak. “Ceritanya cukup panjang, dan merupakan privasi keluargaku.”
“Tapi, itu pernikahan, Aksara! Lambat laun juga akan terbongkar, kalian nikah siri, 'kan? Siapa wanita itu? Apa kamu dijebak?”
Aksara tersenyum sembari menggeleng. “Tentu tidak. Aku bukan siapa-siapa, kenapa harus dijebak olehnya? Dia ... dia wanita yang baik.”
“Ta-tapi, ini salah, Aksara.”
“Mbak,” ucap Aksara lembut, tetapi memberikan penekanan melalui matanya. “Ada hal yang enggak bisa aku jelaskan pada orang lain mengenai hal ini. Dan aku enggak peduli dengan omongan orang lain mengenai aku. Aku enggak setia? Selingkuh? Mungkin sebutan itu telah disimpulkan oleh mereka, ya? Tapi, aku enggak peduli.”
“Tapi, Aksa!” Mergi mencengkeram lengan Aksara. “Aku bukan orang lain, aku mengganggap kamu sebagai sahabat baik. Bisakah kamu sedikit menjelaskan apa yang terjadi?” desaknya.
“Terima kasih, Mbak, karena sudah memperhatikanku dan menjadi teman yang baik. Tapi, ini privasi keluarga kami.”
Mergi melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan pria itu. “Aku enggak yakin kamu seperti kabar beredar itu, Aksara. Juga, di saat kamu mengakui kabar itu, aku pun masih enggak yakin kamu bahagia dengan istri barumu.”
“Intinya enggak ada yang perlu dicemaskan lagi, Mbak. Ah, mari kita segera pulang saja.”
Aksara merunduk sedikit, kemudian memutuskan untuk berlalu. Sementara Mergi masih terpaku menatap punggung lebar Aksara yang kian menjauh. Hati wanita tanpa suami itu kini serasa sedang dicabik-cabik menggunakan cambuk besar. Sakit dan perih. Sebab ia tidak hanya menerima kenyataan bahwa gosip yang beredar ternyata memang benar, tetapi juga kesempatan untuk berada di sisi Aksara pun menjadi hilang.
Lantas, sebenarnya siapa sosok wanita yang kini menjadi istri pria itu?
Kemudian, Aksara menghentikan langkah kakinya tepat berada di samping sebuah mobil bermerek standar. Pria itu masih terpaku menatap dirinya pada pantulan kaca gelap kendaraan itu. Rasa getir menyeruak menyiksa batinnya tanpa bisa ia hempas dengan cepat. Dan akhirnya, pria itu memutuskan untuk menghela napas. Setelah merasa sedikit lega, ia baru memasuki mobilnya dan bergegas pulang.
__ADS_1
“Aku gila.” Aksara berdecak. “Aku membenci Kintan, bukannya seharusnya aku menjelek-jelekkan namanya saja?”
Aksara tidak menyangka pada dirinya sendiri. Jawaban yang ia berikan pada pertanyaan Mergi dan rasa bencinya pada Kintan justru saling berbenturan. Entah bagaimana ia bisa memutuskan jawaban bak orang bijak. Bukankah seharusnya ia memperburuk situasi Kintan agar wanita itu lekas pergi?
“Ais! Lebih gilanya, sekasar apa pun sikapku, wanita itu masih bertahan. Hatinya terbuat dari apa sebenarnya? Apa dia menikmati pernikahan paksa seperti ini? Apa dia bahagia?” ceracau Aksara sembari menggeleng-gelengkan kepala, sementara kedua tangannya masih memegang kendali setir. Dan pergummulan hatinya itu terus saja terjadi sepanjang jalan yang ia arungi.
Hingga, sekitar lima belas menit menempuh perjalanan, akhirnya Aksara sampai di depan rumah bergerbang hitam. Pria itu turun sebentar untuk menggeser pintu gerbang tersebut. Detik berikutnya ia kembali masuk ke dalam mobil dan segera membawanya bergegas ke pekarangan.
Ketika Aksara membuka pintu utama rumahnya yang selalu dibiarkan terbuka oleh Kintan, lantaran enggan saling bertatapan dengannya, tampak wanita itu sedang bercanda ria bersama Gibran. Seketika itu juga, denyut jantung Aksara berdetak lebih cepat. Matanya bergetar dan hatinya mendadak tak karuan.
Sekian detik terpaku, Aksara segera memasuki rumah itu. Kemudian, tiga meter dari keberadaan Kintan dan Gibran, Aksara berkata, “Kintan ... mari bicara.”
“Ayaaaah!” sahut Gibran girang. Bocah mungil itu segera bangkit dan berlari menghampiri ayahnya.
Kintan melakukan hal serupa dengan putra sambungnya, tetapi cukup berjalan pelan. “Kamu sudah pulang. Ada apa? Kenapa tiba-tiba langsung mengajak bicara?” tanyanya.
Aksara menggendong Gibran sebentar, mengecup keningnya, kemudian menurunkannya lagi. “Gibran ke kamar dulu, yah. Ayah mau bicara sama Tante.”
“Bunda!” tegas Gibran tak senang.
“Sejak saat ini,” sahut Kintan cepat. “Gibran anakku.”
Sekali lagi, Aksara meminta Gibran agar masuk ke dalam kamarnya. Setelah anak itu menuruti permintaannya, Aksara menghampiri Kintan dengan raut tak suka. Sementara Kintan masih berdiri tegak tanpa rasa gentar sama sekali. Tak ada sedikitpun ketakutan, sebab ia memang sudah terbiasa dengan amarah suaminya.
Tatapan pasangan tanpa cinta itu saling bertaut. Seolah-olah, aliran listrik merambat di tengah-tengah jarak mata keduanya. Kintan menduga suaminya itu akan meledakkan amarah lagi lantaran Gibran telah memanggilnya dengan sebutan 'bunda'.
“Kamu lancang, Kintan!” Benar saja, satu kalimat menusuk telah Aksara lontarkan. “Hanya Nila yang boleh mendapat gelar ibu dari putraku.”
Kintan menyeringai. “Itu maumu, bukan mau Gibran, Aksara!” tegasnya.
“Ak-aksara? Kamu makin kurang ajar, ya?”
Kintan melipat kedua tangan ke depan dengan santai. “Memangnya yang boleh kurang ajar cuma kamu saja?”
“Iya!” Aksara menggertakkan gigi. “Kabar pernikahan siri kita sudah mencuat, aku ingin bercerai denganmu.”
Napas Kintan seolah tersendat di tenggorokan. Permintaan itu kembali diinginkan suaminya setelah sekian lama tidak muncul. Namun segetir apa pun perasaannya, Kintan tetap berdiri tegak. Ia tidak mau terlihat lemah, apalagi sampai menderita.
__ADS_1
Perlahan, Kintan memajukan posisi untuk mendekati suaminya itu. Kemudian, ia menyentuh kerah baju suaminya dengan lembut. Detik itu juga, Aksara mundur dan menepis tangan istrinya.
“Mari bercerai, Kintan!” ucap Aksara lebih tegas.
“Aku enggak mau,” sahut Kintan cepat.
“Aku ingin!”
“Aku tidak!”
Aksara berdecak. “Apa kamu gila? Apa kamu bahagia dengan rumah tangga kayak gini, hah?!”
“Tentu, enggak. Aku enggak bahagia.”
“Lalu, kenapa kamu enggak mau berpisah denganku? Apa kamu mencintaiku?”
Kintan mencibir. “Mana ada!" katanya kemudian mendesis. “Aku punya anak, aku seorang ibu, Aksara.”
“Gibran bukan putramu, Kintan!”
“Ya, bukan kandung, tapi aku tetap ibunya. Kamu enggak akan bisa mengusirku dari rumah ini, karena Gibran enggak menginginkannya. Apa kamu tega memisahkan anak dan ibu ini? Enggak, 'kan? Jadi, aku ... enggak mau bercerai denganmu.”
Kintan tersenyum. Sementara Aksara merasa jengkel. Namun, meski kekesalan itu semakin besar, Aksara tidak dapat berkata-kata. Bibirnya membisu karena ucapan Kintan. Ya, istri keduanya itu sudah memiliki hati Gibran.
Dan membuat Gibran kehilangan sosok ibu untuk kedua kalinya, Aksara tidak akan mampu. Di saat putranya itu menyebut Kintan dengan sebutan 'bunda', sudah dapat ia pastikan jika Gibran telah menerima keberadaan sang ibu sambung.
“Kamu sudah kalah, Aksara. Aa ... enggak, Mas Aksara.” Kintan tersenyum sangat manis. “Kini aku yang berkuasa.”
Aksara menggertakkan gigi. “Kamu licik, Kintan. Aku heran, kamu kaya dan ...” Ia menelan saliva. “... cantik. Apa kamu enggak ingin mencari pria yang lebih baik dan lebih kaya, hah?!”
“Kamu benar,” kata Kintan. Ia berjalan ke samping Aksara, berhenti kemudian menyentil hidung pria itu. “Aku kaya dan cantik. Dengan begitu, aku punya senjata lain untuk menggodamu, Sayang. Lagi pula, buat apa aku menggoda pria lain kalau aku sendiri punya suami semanis ini? Ck ck ck, ada-ada saja.”
Setelah itu, Kintan berlalu bersama senandung merdunya. Tak ia pedulikan lagi Aksara yang masih terpaku di sana. Ia lantas memasuki kamar tamu yang sudah menjadi kamar pribadi. Tentu, selama dua bulan ini ia sama sekali tidak diperlakukan seperti seorang istri. Dengan kata lain, tidak disentuh sama sekali oleh sang suami.
Kintan meluruhkan badan di balik pintu kamar yang sudah ia tutup kembali. Ia menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gejolak di hati. ”Kamu melakukannya dengan baik, Kintan,” gumamnya pada diri sendiri.
***
__ADS_1